
.
.
Dave menyeret lengan Wawan untuk mendekat pada Fano dan Yoshi, sementara Wawannya sendiri cemberut entah karena apa, dia terlihat sangat terpaksa.
“Kok kalian bisa disini sih? Gak main lagi?” tanya Fano.
“Kita semua pengen jalan-jalan juga, kita sama kak Bima, Kak Chrys, sama Abel juga, tapi mereka melipir ke cafe, Wawan mau ikutan tapi aku seret sampe sini” jawab Dave, dia hanya tersenyum manis tidak merasa bersalah pada Wawan sama sekali.
“Padahal aku kan pengen ke cafe juga!” protes Wawan.
“Kamu udah banyak makan lho pagi ini, perutmu udah kayak gentong aja, semua bisa masuk” sahut Yoshi, lalu dia menepuk-nepuk perut Wawan yang datar-datar saja, padahal dia banyak makan, mungkin bocah itu rutin memakai bathbomb.
Tapi memakai bathbomb sekarang tidak semurah dahulu yang hanya berapa juta saja harganya.
Semuanya sekarang sudah naik drastis dari yang harganya dua juta saja di awal-awal promo, sekarang sudah menjadi 20 juta. Bahkan mereka menjual paket kecantikan, agar lebih hemat. Isinya ada bath bomb, krim, cusion, lip tint, sunscreen, yang semuanya jika membeli satu-satu ditotal bisa sekitar 80 jutaan, jika membeli paket itu mereka hanya akan membayar 50 juta.
Akan tetapi paketnya hanya dijual jika ada event saja, itu pun kuotanya dibatasi.
Meski semahal itu, nyatanya penjualan dalam sehari saja rata-rata laporannya ada paling tidak 500 ribu pembelian, itu di negara Indonesia saja, belum negara lain. Apalagi produk kecantikan Fano sudah semakin banyak dan semakin lengkap, tidak ada yang bisa meniru produknya juga. Kalaupun meniru palingan hanya desain wadahnya, jika isi dan kualitasnya tidak mungkin dapat ditiru.
Tapi karena Wawan banyak uang, jadi bisa saja dia rutin memakai tiap minggu tanpa takut makan banyak. Makanan adalah nomor satu bagi Wawan, yang lain nomor sekian.
“Kayak kantong doremon” sahut Dave.
“Dari kak Dave, banyak makan tapi masih kecil aja, gak gede-gede” timpal Wawan.
“Kok kalian malah ribut sih?” Fano.
“Kalo dibandingin sama kamu sama kak Fano ya aku kecil lah, tapi kalo sama kak Yoshi dan Kak Bima aku lebih gede!” protes Dave.
Memang sih, Dave tingginya itu 178 cm, tapi kelihatan kecil karena kurus, kadang dia juga tenggelam jika meminjam jaketnya Fano. Akan tetapi Yoshi dan Bima juga sama, tinggi sih, tapi kurus, jika dibandingkan dengan Dave, Dave masih terlihat lebih besar.
Yang penting jangan dibandingkan dengan Wawan, Fano, dan Andy. Eh, Andy gak ada kabar ya, gak pernah author munculin, kasihan.
Andy masih kerja kok di perusahaan Fano, dia bahkan dibantu Surya juga mengawasi cabang di kota lain. Saat ini mereka berdua sedang berkunjung ke cabang di Semarang, Dave dan Wawan berharap ada oleh-oleh saja.
“Udah-udah, gak usah ribut, aku aja deh yang paling kecil – tadi itu gimana, ceritanya si Lily, aku kan masih penasaran” sahut Yoshi.
Kemudian Fano menarik Dave agar duduk bersamanya, dari pada ribut terus dengan Wawan hanya perkara postur saja.
Wawan menarik potongan kayu yang bisa dipakai mejadi kursi ke dekat mereka, karena bangkunya hanya bisa untuk tiga orang. Kalau mereka kecil-kecil sih, harusnya bisa empat orang, tapi ada Fano yang duduk, jadi tidak muat.
__ADS_1
“Kan papaku, sama Om Randy kan temenan, jadi waktu kecil om Randy sering membawa Lily ke rumahku, kadang Lily juga diperiksa oleh ayahku, seperti cek up rutin begitu. Kadang juga giginya diperiksa sama mama” cerita Dave, jadi ibunya Dave itu dokter gigi.
“Terus?” desak Yoshi.
“Ya udah, kita sering main bareng, sampe umur sekitar delapan tahunan, setelah itu Om Randy jarang main karena selain orangtuaku makin sibuk, Om Randy juga hampir bercerai dengan istrinya, yang kemudian Lily dibawa ibunya. Hubungan mereka mulai baik lagi setelah Lily berumur 13 tahunan, itulah kenapa dia teman kecilku” tambah Dave.
“Hampir dijodohin juga?” tanya Fano.
“Itu cuma papa mau nakut-nakutin aku aja, aku gak mau dijodohin ama dia, ini kan jaman moderen, mending nyari sendiri lah” sahut Dave.
“Jadi kak Fira sama papanya tadi gimana?” tanya Wawan.
“Lily tidak menyukainya, dia hampir melukai Fira tadi” jawab Fano.
“Pantesan kak Fira kak mau ikut jalan-jalan, dia mau di dalam villa saja tadi” sahut Dave.
“Ngomong-ngomong, kita kan keluar buat nyari Lylac, tapi dia gak kelihatan dimana-mana tuh” kata Yoshi.
Oh iya, Lylac dimana ya? Fano jadi khawatir deh.
Fano kembali berdiri “Ayo kita cari lagi”
***
Mereka menemukan Lylac duduk tenang di salah satu cafe yang menyediakan beberapa rumah pohon dan Lylac menikmati makanannya di atas salah satu rumah pohon, sendirian.
Setelah makan siang Lylac mengajak Fano jalan-jalan, hanya berdua.
Fano sudah curiga Lylac ingin membicarakan sesuatu yang penting.
“Ada yang ingin ku bicarakan denganmu” kata Lylac.
“Sudah ku duga, apa yang ingin kau bicarakan? Aku sendiri memiliki banyak pertanyaan untukmu” kata Fano.
Mereka berjalan sampai jauh, melewati tempat yang tadi Fano dan Yoshi kunjungi, terus masuk ke dalam hutan dan Lylac berhenti, Fano ikut berhenti juga.
Kemudian Lylac memulai atraksi sihirnya, membuat semacam ayunan besar yang bisa dipakai oleh dua orang, ayunan itu terbuat dari kristal berwarna biru transparan, di sekeliling tiang ayunan terdapat hiasan mawar rambat. Mawarnya kecil-kecil berdiameter sekitar dua centi.
Setelah itu Lylac duduk dan meminta Fano duduk juga disana.
“Hanya untuk berbicara, kau sampai membuat seperti ini?” tanya Fano.
“Bacot Fano, diam dan lihat saja” Lylac.
__ADS_1
Fano yang masih bingung hanya memilih diam saja.
Setelah itu ayunan diselimuti kabut transparan, seperti mereka sedang berada di dalam kapsul. Setelahnya kapsul yang membawa ayunan serta Fano dan Lylac itu perlahan naik dan terus naik hingga berada diatas hutan.
Dari atas Fano bisa melihat villa miliknya, cafe-cafe, Fano juga bisa melihat Abel yang berlarian mendekati rumah pohon yang ditempati Yoshi, Dave dan Wawan.
“Ayo kita bicara, mereka tidak akan bisa melihat kita sekarang” kata Lylac.
“Aku dulu apa kau dulu?” tanya Fano.
“Ada yang ingin kau tanyakan? Apa itu?” Lylac.
“Tentu saja ada, pertama, tentang sistemku yang menurutmu sedang rusak itu, aku merasa kau sengaja melakukannya, iya kan? kau sengaja membuatku terus melakukan kebaikan meski tidak ada hadiahnya” kata Fano.
Lylac menghela nafas lelah “Begini Fano, sebenarnya itu benar, kau berkembang jauh lebih cepat dari yang kami duga, jadi aku memutuskan semakin mempercepatnya saja. kau tidak lupa kan sistem itu ada bukan untuk membuatmu bersenang-senang, namun untuk merubahmu menjadi seseorang yang lebih baik. Setelah itu, jika kau sudah banyak berubah, tentu saja menjadi orang baik, maka kau bisa dikatakan lulus, tidak perlu menunggu sampai level 30, saat ini levelmu ada di level 17 bukan? Untuk ukuran level 17 kau terlalu hebat sampai sudah seperti level 30” kata Lylac.
“Aku tidak mengerti patokan yang membuatku terlihat terlalu hebat untuk ukuran level 17 itu, maksudnya apa?” tanya Fano.
“Patokan perkembanganmu adalah hatimu, kau harusnya sudah bisa merasakannya kan? kau masih mau membantu Lily meski dia sudah jahat pada Fira, meski tidak ada hadiahnya, kau tetap melakukannya, untuk apa? Agar hatimu tenang?”
Fano menudukkan kepalanya, benar juga, Fano sudah banyak berkembang sejak pertama kali datang. Hadiah uang dan harta hanyalah selingan saja, Fano sudah tidak terlalu membutuhkan hadiah juga sebenarnya, dia hanya sudah terbiasa dengan hadiah.
“Aku hanya ingin membantunya, aku merasa kasihan” gumam Fano.
“Sejak kapan kau bisa memiliki rasa kasihan pada orang lain? Dulu yang kau kasihi hanyalah keluarga,
kau tidak pernah mengasihani orang lain apalagi yang seperti Lily, dia bukanlah gadis lemah lembut, dia suka membuat sensasi, dia juga hampir menyakiti Fira, kakaknya sendiri hanya karena iri dengannya. Tapi kau masih berniat membantunya – itulah yang kubilang, perkembanganmu pesat. Dan iya, kau benar, aku memang sengaja. Aku ingin tau, apakah kau akan tetap membantu orang meski tidak ada hadiahnya?”
Kemudian Fano hanya diam tidak menjawab apapun, hingga Lylac meraih wajah Fano, agar menatap padanya.
“Untuk saat ini hiduplah dengan tenang, ingat untuk tidak membuat onar, tidak membunuh orang sembarangan, tidak berbuat dosa sembarangan, maka levelmu akan naik dengan sendirinya. Hadiah masih ada, itupun jika aku sudah yakin kau berhak mendapatkannya. Yang masih aktif adalah panel sihir, makanya aku bilang kan, untuk segera menyelesaikan misinya, bukankah sekarang sudah ada misi untuk selanjutnya?”
“Tapi misi selanjutnya adalah mengalahkan monster di dungeon pelangi, aku takut dan khawatir, aku tidak mengerti meski telah membaca penjelasannya berkali-kali.”
Kemudian Lylac menjewer telinga Fano, Fano mengaduh kesakitan tapi Lylac masih tidak mau melepasnya “Bodohnya, masih ada aku, harusnya kau bertanya padaku! Selama sistemmu berubah seperti ini, aku akan selalu ada disampingmu dan merepotkan mu.”
“Sungguh? Kau akan tinggal denganku selamanya?”
“Iya lah, kakak ipar.”
“Hey!”
.
__ADS_1
.
.