
.
.
Keesokan harinya Fano terbangun di pagi hari, dia terbangun jauh lebih pagi karena mendengar suara rengekan yang begitu dekat di telinganya.
Setelah nyawanya terkumpul dengan sempurna baru dia membuka mata lalu menoleh ke sebelahnya, pada arah suara rengekan itu terdengar.
Ternyata Abel, dia menangis di sebelah Fano sambil memeluk lengannya. Bukan hanya Abel, ada Yoshi juga di sebelah yang lain, tertidur pulas.
Apa yang terjadi?
Fano berusaha mengingat-ingat kejadian di malam sebelumnya, kemudian dia tersadar jika ada sesuatu yang aneh terjadi. Setelah Aron mengajaknya ke ruangan aneh, dia mulai merasa tenaganya tersedot.
Kemudian Fano tertidur.
“Abel..” panggil Fano dengan hati-hati.
Abel buru-buru menghapus airmatanya dengan lengan piyama yang ia kenakan.
“Kak Fano baik-baik aja?” tanya Abel.
“Aku baik” Fano turut mengusap airmata Abel dengan ibu jarinya, lalu dia tersenyum “Kau khawatir padaku?”
Setelah itu Fano bangkit duduk, Abel juga ikut duduk.
Abel terbangun sangat pagi lalu mengingat Fano yang tidak baik-baik saja karena kakaknya, Aron, jadi Abel pergi ke kamar Fano lalu menangis disana. Dia tidak tau kenapa dia merasa sangat sedih, tau-tau dia sudah menangis saja.
“Aron memang sangat aneh, sejak kecil dia diasuh oleh paman Sky, paman Sky sangat aneh dan menyebalkan, karena itu Aron menjadi seperti itu” kata Abel, kemudian dia memeluk Fano erat.
Fano sendiri berusaha menenangkan Abel, bocah itu sepertinya mau menangis lagi.
“Maksudmu Angkasa?” tanya Fano.
Abel mengangguk “Iya, paman Sky – kok kak Fano tau?” Abel menatap Fano dengan mata birunya yang basah karena habis menangis.
Fano mengalihkan pembicaraan, tadi dia keceplosan mengatakan nama asli Sky yang tidak banyak orang ketahui. Setahu Fano, Sky menikah dengan putri dari kakak mertuanya Albert, namanya Rin.
“Tapi kenapa Aron diasuh oleh pamanmu?” tanya Fano, agar Abel melupakan pertanyaan sebelumnya.
“Aku tidak tau, aku sendiri diasuh oleh paman Sam dan bibi Xia – orangtuaku sibuk dengan sesuatu, aku masih kecil jadi tidak mengerti” jawab Abel.
Pantas saja, sekarang Fano tau kenapa Abel bisa bertingkah kekanakan seperti ini. Dulu Albert paling anti dengan Sam dan Xia, mereka sama-sama kekanakan dan berisik. Persis seperti Abel sekarang.
“Bukankah kau sekarang juga masih kecil?”
“Abel udah gede!”
“Ssshh nanti kak Yoshi bangun, ini masih terlalu pagi”
Fano dan Abel menoleh pada Yoshi yang masih tertidur pulas.
“Hehe, kak Yoshi ganteng banget” gumam Abel.
Fano menatap Abel sambil memincingkan matanya “Kau menyukainya?”
Abel mengangguk antusias “Iya! Kak Yoshi ganteng, baik banget, terus perhatian sama Abel” bisik Abel.
Fano tersenyum lalu mengusak kepala Abel gemas “Abel mau olah raga bareng kak Fano? Lari-lari di jogging track di bawah sana” tanya Fano.
Abel mengangguk “Mau! Kita beli bubur ayam juga?”
“Hmm, boleh aja.. ayo! Tapi cuci muka dulu ya”
***
Fano memeriksan statusnya di layar sistem setelah selesai menyelesaikan misi paginya bersama Abel, sekarang Abel sudah menunggu bubur ayam yang mereka pesan selesai dibuat.
...--*--...
...Nama: Farelino Adhitama / Alberto Maverick...
...Umur: 18 tahun / -...
...Level: 5 (450/550)...
...Koin: 10.850...
__ADS_1
...Skill:...
...Skill bertarung level 10...
...Skill kecerdasan level 8...
...Skill memasak level 8...
...Skill kharisma level 8...
...Skill mengemudi level 10...
...Skill berkebun level 2...
...Skill pemain level 7...
...Skill senjata level 8...
...Skill fast change...
...Skill bisnis level 5...
...Skill teknologi level 6...
...Skill Imaginary gun...
...Skill keberuntungan level 3...
...--*--...
Daftar skill Fano makin panjang saja, levelnya sebagian juga sudah naik. Tapi ada dua skill yang tidak memiliki level, karena penggunaannya dengan energi sihir.
Energi sihir ya?
Semalam, sistem menyarankan untuk meminum ramuan penyembuh sebelum tidur, katanya untuk memulihkan tubuh dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Rupanya jika energi sihir tersedot cukup banyak akan mempengaruhi kesehatan tubuh.
Tapi Fano tidak mengerti apa maksud Aron menyedot energi sihirnya hanya untuk menyalakan bola kristal. Apakah dia tau jika hal itu cukup berbahaya?
Tidak heran jika Abel mendatanginya dan menangis.
“Kak Fano buburnya udah!”
Fano mendongak, menatap Abel yang datang membawa bubur ayam yang mereka pesan, Fano berdiri dari duduknya dan membantu Abel membawakan bungkusan bubur.
“Aku hari ini harus sekolah, Abel dan Aron bagaimana?” tanya Fano.
“Abel mau ikut kak Fano”
“Gak boleh Abel... oh iya, Abel gak sekolah? atau sekolah di rumah saja?”
“Biasanya ada guru yang datang, beberapa hari ke depan tidak datang, gurunya mau nikah”
Ah, jadi Abel libur karena gurunya ada acara. Tapi kenapa dititipkan ke Fano sih?
“Mama mu pergi kemana Bel? Apa dia sangat sibuk?” tanya Fano lagi.
Abel mengangguk “Iya, mama, om Lino, tante Luna, om Randy.. semuanya sibuk, papa juga sibuk, Aron kemari karena sedang liburan, tapi aku tidak suka” kata Abel
“Kau tidak suka dengan Aron? Kenapa? Dia kakakmu”
Abel menggeleng “Gak suka! Aron menyebalkan, dia juga jahat”
“Jangan menyebut kakakmu jahat, mungkin dia hanya suka mengerjaimu saja” balas Fano, mereka masuk ke dalam lift.
“Justru itu Abel gak suka! Aron jahat sama Abel!”
Fano menghela nafas berat, mengurus anak-anak memang berat ya. Yang satu jahilnya minta ampun, yang satu cengengnya minta ampun. Orangtuanya juga sangat sibuk, tapi apa sih yang mereka kerjakan? Sepertinya Felly mengerjakan sesuatu dengan Lino, tapi apa?
Ah, sudahlah, itu bukan urusan Fano.
“Oh iya Abel, pamanmu punya anak tidak?”
Abel mendongak menatap Fano lalu menjawab “Paman yang mana? Kalau paman Sky punya dua anak, Chrystal dan Peter, kalau paman Lino punya anak Kaisar, Raja dan Queen, kalau paman Subin punya anak Dojun dan Yua, Abel punya banyak paman.. paman yang mana?”
“Sebutkan saja semua anak dari paman dan bibimu”
__ADS_1
“Baiklah, lalu Paman Sam punya anak seumuran Abel, namanya Joanna. Paman Darko punya anak juga, namanya Hendery.. lalu.. apalagi ya? Tante Vivian belum punya anak. Oh! Saudara kembar papanya Abel juga punya anak, tapi gak tau anaknya dimana, kalo Abel gak salah dulu papa bilang anaknya tante Reina sedang dicari”
“Kalau tante Reina ada dimana sekarang?”
Abel kembali mendongak menatap Fano “Gak
ada di dunia ini”
“Maksudnya sudah meninggal?”
Abel menundukkan kepalanya, lalu mengangguk pelan “Sepertinya begitu”
Fano membelai kepala Abel yang terlihat sedih “Sudah.. maaf jika pertanyaanku membuat Abel sedih”
Abel menggeleng “Tidak apa, aku juga tidak tau jelasnya, tidak ada yang mau membicarakan hal itu”
Bohong jika Fano bilang tidak sedih, dia juga sedih.. tidak ada kejelasan apakah memang Reina sudah meninggal atau masih hidup, tetapi tidak berada di dunia ini. Entah mana yang benar, tapi Fano berharap Reina bahagia disana.
Berarti saat ini tinggal Alfred.
Dimana anaknya sekarang?
Apakah benar bersama Gio?
Kalau begitu Fano harus menyebarkan nama Alfred lebih dari sekarang.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka bertemu seorang pria dengan postur tinggi dan memiliki wajah yang tampan dan bersih, wajah itu terlihat awet muda seakan masih berumur dua puluh tahunan.
Ayahnya Dave.
“Oh Fano, aku baru saja akan ke apartemenmu, Dave ada di tempatmu kan?” tanya ayahnya Dave, namanya Zeus. “Eh ada Abel... kamu baik-baik saja?” tambah Zeus, dia mengusak kepala Abel pelan.
“Abel baik om dokter! Karena ada kak Fano yang jagain Abel” jawab Abel dengan nada yang ceria.
Zeus terkekeh melihat semangat Abel “Abel sangat menyukai kak Fano ya?”
Abel mengangguk antusias “Suka! Kak Fano kayak kakaknya Abel sendiri, gak kayak Aron”
Fano hanya terkekeh mendengar ucapan Abel, dia segera menggandeng Abel untuk segera memasuki apartemen “Ayo masuk om Zeus...” Fano mempersilahkan Zeus masuk apartemennya.
“Silahkan duduk om, om sudah sarapan?” tanya Fano dengan sopan.
“Kebetulan belum, sebenarnya saya kemari bukan menemui Dave, tapi mamanya Abel memintaku untuk menjemput Abel, nak Fano kan mau sekolah..” kata Zeus.
“Abel mau sama kak Fano!” bantah Abel, dia kemudian memeluk lengan Fano erat-erat.
Dengan sabar Zeus tersenyum pada Abel, dari pada ayah Zeus lebih terlihat seperti kakaknya Dave, keduanya tampan dan manis.
“Kak Kaisar bilang akan mengajak Abel dan Aron memancing di laut, katanya mau memancing gurita, lagipula Abel tidak bisa ikut kak Fano sekolah kan?” bujuk Zeus lagi.
Tapi Abel masih menggeleng “Aron aja yang pergi, Abel mau sama kak Fano sama kak Yoshi aja!”
Zeus kelihatannya sudah menyerah membujuk gadis berumur 14 tahun yang lebih seperti bocah umur 5 tahun ini.
“Abel.. coba aja ikut mancing, kali aja dapet banyak ikan dan gurita, terus kita masak bareng nanti, gimana?” kata Fano, ikut membujuk Abel.
“Kak Fano suka gurita?”
Fano mengangguk pelan “Suka dong, kak Fano, kak Yoshi, kak Dave sama kak Angel suka seafood”
“Kalo gitu Abel bakal ikut mancing sama Kaisar dan Aron!”
“Kenapa kau tidak memanggil mereka kakak?”
Abel menggeleng “Gak mau, yang pantes dipanggil kakak cuma kak Queen, kak Raja, kak Chrissy sama kak Yua aja”
Fano hanya tersenyum maklum, mungkin Abel hanya memanggil kakak pada yang dia suka saja.
“Ya udah, Abel banguin yang lain, kak Fano mau masak buat sarapan – Om Zeus ikut makan disini ya?” tawar Fano.
“Apa tidak merepotkan?”
“Tentu saja tidak Om”
.
__ADS_1
.