
.
.
Fano menuangkan cola ke dalam gelas berisi es batu miliknya, setelah hampir penuh dia berhenti, mengangkat gelas itu dan menyesapnya sebentar. Fano jarang minum minuman seperti cola, dia baru sadar jika cola rasanya enak juga. Kemana saja dia selama ini ya?
Dengan tatapan malas, Fano menatapi teman-temannya yang berisik. Mereka sedang makan-makan setelah selesai acara, di salah saru restoran milik Fano sendiri, salah satu yang terbaik di Seoul.
Fano mengosongkan restoran hanya untuk merayakan comeback dari grupnya Noa. Fano hanya senang membuat mereka bahagia, terutama Noa. Meski hanya sepupu, Fano sudah menganggap Noa seperti adiknya sungguhan, lagipula Fano juga merupakan walinya Noa di negara ini – tidak, untuk saat ini. Memang secara hukum wali Noa masihlah orangtuanya, namun Fano sudah mendapat ijin untuk menjadi walinya Noa, mengingat ayahnya Noa dan kakaknya tidak memperlakukan Noa dengan baik.
Ibu Noa adalah wanita yang baik, namun tentu saja kalah dengan pendapat suaminya, jadinya Noa tidak bisa bersandar pada ibunya.
Karena itu, sekarang hanya Fano tempat bersandar Noa. Jika bukan Fano, siapa yang akan mengingatkan bocah itu, menegurnya dan mengarahkannya dengan baik.
Fano mulai bersyukur karena selama ini dia diarahkan untuk menjadi orang baik. Meski awalnya dia harus mendapat hukuman dulu atau diiming-imingi dengan hadiah. Fano rasa, Lylac sudah berhasil membimbingnya.
Karena saat ini meski Fano tidak mendapat hukuman, juga tidak mendapatkan hadiah, dia tetap tidak melakukan hal buruk. Yah – bisa dibilang, Fano sudah terbiasa berbuat baik, berkelakuan baik, bergaul dengan orang-orang baik.
Pelan namun pasti.
Jadi, Fano bersyukur, karena dengan begitu dia dapat memberi contoh yang baik untuk Noa.
Ah, apakah benar begitu?
Tiba-tiba Fano jadi kepikiran, bagaimana jika Fano belum cukup baik untuk memberi Noa contoh? Bagaimana jika Yoshi benar tentang Dave dan Wawan yang meniru kelakuannya, itu artinya Noa bisa saja melakukan itu juga.
“Fano – hei, FANO!!”
Fano tersentak dari lamunannya, kemudian dia menoleh, kemudian tersenyum kecil melihat raut kesal Queen. Queen berdecak kesal “Tsk! Aku sudah memanggilmu beberapa kali, tapi kau terdiam – apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Queen.
“Aku hanya berpikir, cola ini enak sekali” kata Fano.
Oh iya, cola itu adalah hadiah dari penggemar Leon, bersama dengan hadiah lain, berupa ramyeon. Leon bocah yang aneh, dia memang contoh anak sultan yang tidak pernah tau makanan orang biasa, jadi setelah dia merasakan makanan instan dari supermarket seperti ramen, ramyeon, indomie, dan semacamnya dia langsung menyukainya, dan dengan pede menyebarkannya dikalangan fans.
Leon bahkan baru beberapa bulan belakangan mengetahui jika ternyata apartemen bisa disewa juga, dia pikir hanya bisa dibeli langsung.
Kadang jika mendengar cerita tentang Leon dari Noa atau Suho, Fano geleng-geleng kepala sendiri, ternyata keluarga Raynold tidak separah itu, ada yang lebih parah lagi, yaitu keluarga Leon.
Jadi ya begitulah, Leon memiliki banyak cola.
Padahal ya, jika Leon mau membeli pabriknya, bocah itu pasti mampu. Tapi biar sajalah, lagipula sekarang ada faedahnya, Fano jadi bisa merasakan cola juga.
“Kau bercanda kan Fano?” sahut Angel.
“Tidak?” Fano jadi bingung, kenapa Angel dan Queen, serta yang lainnya menatap Fano seolah Fano sedang melucu.
“Aku memang tidak pernah melihat Fano meminum cola, fanta, sprite atau semacamnya, ku rasa dia serius” sahut Yoshi. Sebenarnya Yoshi tidak salah, tapi entah kenapa jika Yoshi yang mengatakannya, itu terdengar seperti ejekan bagi Fano.
“Oh, baiklah, sekarang Fano tau cola itu enak – itu bagus, nah, sekarang kita sedang ingin bermain game” kata Queen.
“Eh? Game? Game apa?” tanya Fano. Mereka ini baru saja makan-makan, sekarang desserts sedang di sajikan, ada puding, parfaits, ice cream dan lain-lain.
Lalu sekarang tiba-tiba bermain game?
__ADS_1
Fano mengedarkan pandangannya, dia melihat wajah-wajah antusias mereka. Tentu saja Fano tidak
akan tega untuk menolak mata berkilat-kilat penuh harapan itu, meski Fano tidak mengerti game apa yang ingin mereka mainkan.
“Kak Fano, ayo main game, pasti seru” sahut Abel antusias.
“Ugh – baiklah? Game apa?” Fano tentu saja setuju.
“Aku tau!” Jehyuk mengangkat tangannya.
Jehyuk, Jungyu dan Fira sudah bergabung dengan mereka, tidak mungkin mereka melewatkan waktu makan-makan bersama gratis seperti ini.
Melihat Jehyuk yang mengangkat tangan, Fano sudah berdecak malas, dia tau jika itu Jehyuk, pasti akan jadi aneh-aneh. Fano menyesal telah menyetujuinya.
Kemudian Jehyuk berdiri untuk menjelaskan permainan yang ingin dia usulkan.
“Kita semua akan melakukan suit, setiap yang kalah akan mendapatkan pertanyaan yang random, jika dia dapat menjawab berarti dia aman, namun jika tidak dapat menjawab dia akan tereliminasi. Siapapun yang bertahan sampai akhir adalah pemenangnya dan mendapat hadiah” kata Jehyuk.
“Hadiahnya apa?” tanya Leon, dia sangat bersemangat. Well – hampir semuanya bersemangat, kecuali Fano dan manager Ether yang tidak mau ikutan, manager hanya memotret mereka untuk dokumentasi atau mungkin untuk diposting di medsos.
“Hadiahnya akan diberi oleh Fano” jawab Jehyuk enteng.
“YESS!!”
Fano membelalakkannmatanya, menatap menatap Jehyuk kesal. Sejak kapan dia setuju untuk memberi hadiah? Mereka semua suka seenaknya sendiri!
“Kak Fano yang bakal ngasih hadiah?” tanya Wubin, dengan tatapan penuh harapan.
Ugh – jika begini bagaimana bisa Fano menjawab ‘tidak’?
Hitung-hitung menghabiskan uang.
Fano melirik pada Lylac, dia duduk diantara Xiao Kun dan Noa, menolak untuk menatap Fano, dia juga jadi lebih diam dari biasanya.
‘Lylac?’
Sepertinya percuma, sama seperti Fano, Lylac juga banyak melamun.
Maklum saja, Fano dan Lylac memiliki sifat dan kelakuan yang hampir identik. Sama seperti Fano, mungkin Lylac juga banyak pikiran.
Fano harus bicara dengannya, sama seperti Fano bicara dengan Noa. Fano pikir, dia belum selesai juga dengan Noa.
“Baiklah, ayo kita mulai, eum – Fano? Lylac?” Suho yang memimpin permainan menatap Fano dan Lylac,
keduanya sama-sama terdiam dan seperti banyak pikiran.
“Karena aku yang memberi hadiah, aku tidak mau ikut, kan tidak lucu jika aku yang menang nanti” kata Fano, alasan, sebenarnya dia hanya malas saja ikut main game.
“Ah, Fano gak asik!” sahut Yoshi.
“Lylac?” tanya Suho.
Lylac menggeleng dan tersenyum kecil “Aku sedang tidak mood, mungkin lain kali” ucapnya.
__ADS_1
“Oh, baiklah, ayo kita mulai!”
Mereka memulai permainan, suit batu gunting kertas, cukup lama mereka melakukannya, sampai kemudian Yoshi yang kalah.
“Ini menyebalkan, belum apa-apa aku sudah kalah” keluh Yoshi.
“Siapa yang memberi pertanyaan?” tanya Angel.
“Biar aku saja, sebutkan satu hal yang biasanya dimiliki orang lain, tapi Fano tidak punya” kata Queen.
Yoshi mengernyitkan dahinya, jika itu tentang Fano, tentu saja Yoshi yang paling tau, dia paling dekat dengan Fano.
Eh, tapi, apa itu? Yang biasa dimiliki orang lain, namun Fano tidak punya.
“Satu ... dua....” Suho.
“Oh aku tau! Yang Fano tidak punya!” teriak Yoshi percaya diri.
“Oke, apa itu? Jika salah kau akan tereliminasi” kata Queen.
“Akhlak” Yoshi.
“Yoshi, kita bercerai sekarang!” Fano.
“Ku rasa itu benar juga” sahut Suho.
“Kau ingin ku jewer sekarang?” Fano.
“Hehe – memang apa jawabannya? Aku juga tidak menemukan apapun, kau memiliki segalanya” kata Suho.
“Jawabannya adalah orangtua” kata Fano enteng, kemudian kembali meraih gelasnya dan meminum isinya sampai kandas.
“Queen, kenapa kau mengajukan pertanyaan seperti itu?” omel Angel.
“Bagaimana lagi, aku hanya bisa memikirkan Fano saja” sahut Queen tidak terima disalahkan.
“Astaga aku kalah! Sekarang ayo lanjutkan!” kataYoshi. Permainan kembali berjalan, kali ini lebih seru, mereka tertawa dan bersenang-senang.
Sementara itu, Fano, Yoshi dan Lylac jadi diam dan hanya menyimak saja.
Yoshi sengaja tidak menjawabnya dengan benar, dia hanya merasa tidak enak saja dengan Fano.
“Fano, maaf” bisik Queen.
“Aku tidak marah, kau benar juga kok” kata Fano.
“Maafkan aku” Queen memeluk Fano, Fano hanya tersenyum kecil lalu terkekeh “Tidak apa, kenapa kau minta maaf sih?”
“Queen pasti sengaja agar bisa manja-manja sama Fano” sahut Angel, melirik Queen jengkel.
“Apa sih, aku gak sengaja!” Queen.
.
__ADS_1
.