
.
.
“Halo, Fano? Ada apa?”
Fano mengernyit mendengar suara Suho yang mengangkat telfonnya, padahal yang dia telfon kan manager.
“Kenapa kau yang mengangkatnya, Suho?” tanya Fano.
“Oh, manager sedang ke toilet, jadi aku yang memegang ponselnya, apa ada yang penting?” tanya Suho.
“Tidak, itu ... aku ingin bertanya, apakah Noa bisa dipulangkan ke mansion ku saja?” tanya Fano.
“Eh, kenapa? Apa ada yang penting?” Suho balik bertanya.
“Eum – aku hanya ingin berbicara dengan Noa, yah ... bisa dibilang penting sih” kata Fano.
“Ah, begitu? Tenang saja, aku akan bicara pada manager nanti, ku rasa Noa bisa pulang ke mansion mu, karena jadwal untuk besok mulai di siang hari” balas Suho.
Fano tersenyum lega mendengarnya “Bagus kalau begitu, Aku akan menunggu Noa” kata Fano, sebelum kemudian menutup telfonnya.
Setelah itu, Fano menghela nafas berat.
“Fano.”
Suara panggilan itu sedikit mengejutkan Fano, dia segera menoleh pada asal suara, kembali dia terkejut melihat Chris yang datang menemuinya. Seperti biasa, Chris tersenyum pada Fano dengan senyuman yang lembut.
“Kenapa kau ada disini? Dimana Yoshi dan Abel?” tanya Chris, hampir saja dia berjalan menuju ruangan kerja, namun Fano dengan cepat beranjak dari duduknya dan menahan Chris.
“Yoshi sedang bekerja, itu – ada apa ke – kemari?” tanya Fano dengan sedikit terbata. Chris terkekeh mendengar perkataan Fano, Fano juga terlihat gugup. Akhirnya Chris memilih untuk duduk di sofa ruang tengah bersama Fano.
“Aku ingin bicara sebentar denganmu, aku mendengar cerita dari dua pihak tentangmu” kata Chris.
“Tentangku?” tanya Fano.
Chris tersenyum kecil lalu mengangguk “Iya, ini tentang masalahmu dan Kaisar, atau – ayahmu? Maaf tapi, Felix tidak bisa menyembunyikan apapun dariku, apa kau keberatan aku mengetahuinya?” tanya Chris.
Fano menggeleng pelan “Aku tidak keberatan, grandpa.”
“Boleh aku memelukmu sebentar?” pinta Chris.
Fano terlihat bingung dengan permintaan Chris, namun kemudian Fano mengangguk pelan. Chris memeluk Fano sebentar lalu menepuk-nepuk punggungnya “Jadi kau kesepian dan menginginkan sosok ayah?”
“I – iya” jawab Fano.
“Dan ternyata Kaisar adalah reinkarnasi ayahmu?”
“Iya” jawab Fano lagi.
Chris melepaskan pelukan mereka, senyuman lembutnya masih terukir di wajah tampannya. Fano takjub melihat wajah Chris dan bagaimana sifatnya yang lembut, dia hampir tidak mengerti bagaimana bisa Chris yang seperti ini memiliki cucu perempuan seperti Chrystal? Kalau Peter sih masih mending, dia tampan, berkharisma dan terlihat tenang. Tapi adik Peter yang bernama Chrystal itu – yah ... begitulah.
“Nasibmu kurang beruntung ya, nak. Kau kembali mendapat kesempatan hidup, namun ternyata orangtuamu telah meninggal. Tapi, tidak apa – jangan terlalu bersedih hati, semua kejadian pasti ada hikmah di baliknya. Buktinya, kau sekarang bisa bertemu dengan kedua orangtuamu, meski dalam tubuh lain dan dalam nasib yang berbeda. Apa kau sedih, atau senang, saat mengetahui orangtuamu dari kehidupan sebelumnya menikah lagi?”
Fano menundukkan kepalanya, kemudian menjawab “Aku awalnya tidak menyangka, aku sedih, aku berpikiran buruk, namun kemudian aku sadar, setelah mendengar cerita lady Lydia tentang bagaimana ayahku dulu” kata Fano.
“Apa yang kau sadari, Fano?”
“Eum – ternyata keluargaku dulu memiliki nasib yang sangat buruk. Ayahku dikejar hutang oleh rentenir, kemudian meninggal karena mereka, kemudian ibuku juga memiliki nasib yang sama, sementara aku – aku dulu akhirnya bisa menjadi orang kaya dan banyak uang, meski dari hasil yang buruk, akan tetapi, pada akhirnya aku meninggal dalam keadaan yang sama mengenaskan nya. Jadi, ku pikir kami sedang mendapat kesempatan kedua” kata Fano.
Chris mengangguk pelan “Ku rasa juga begitu, setelah mendengar ceritamu ini, aku juga jadi mengerti, apakah menurutmu kalian berdua sudah memanfaatkan kesempatan kedua dengan baik?” tanya Chris.
Fano menggeleng “entahlah, tapi ku rasa Lady mendapatkan kebahagiaannya, lalu Kaisar juga kali ini menjadi orang yang baik, menurut Queen, dia adalah kakak yang baik. Dulu aku tidak terlalu menyukai Kaisar, namun setelah berbicara dengannya beberapa kali, aku bisa mengerti dengannya, kenapa dia bisa terlihat dingin dan menyeramkan, padahal dia sangat tampan, aku juga jadi tau jika dia memiliki ketakutannya sendiri, hampir sama saja denganku” kata Fano.
“Itulah kenapa jika kau tidak menyukai seseorang, cobalah kenali dia lebih lanjut, bisa saja kalian berubah jadi teman” Chris menepuk bahu Fano, “Apa kau tidak ingin memberitahu hal ini pada Kaisar atau Lady? Ku rasa, mereka berhak tau” lanjut Chris.
__ADS_1
Fano hanya terdiam menunduk, beberapa saat kemudian baru dia menjawab “Sepertinya aku belum siap untuk itu.”
“Tidak apa, pikirkan saja dulu” kata Chris.
Tanpa mereka ketahui, seseorang yang mereka bicarakan saat ini sedang berada di tengah tangga, dia mendengar pembicaraan mereka berdua.
Iya, dia Kaisar, tentu saja dia.
Awalnya, Kaisar hanya ingin ke ruangan Fano, ingin tau bagaimana Fano bekerja, dia kan juga sedang mendekati Fano. Kaisar juga ingin membicarakan lebih lanjut mengenai pembicaraan sebelumnya di taman.
Namun, mana Kaisar tau jika dia akhirnya mendengarkan sesuatu yang membuatnya terkejut sekaligus bingung.
Kaisar mundur perlahan, berbalik untuk kembali ke lantai dasar, setelah itu dia duduk di sofa ruang tengah yang ada di lantai satu. Masih memikirkan tentang apa yang Chris dan Fano bicarakan di ruang tengah lantai dua.
Sekarang Kaisar mengerti kenapa Fano bertingkah aneh terhadapnya.
Rupanya seperti itu.
Ini aneh, konyol, menggelikan, namun juga tanpa Kaisar sadari, dia menyukai fakta itu. Ternyata Kaisar adalah ayah Fano, sekaligus suami Lady dimasa lalu. Tentu saja Kaisar sudah mendengar kisah Lady dan suaminya yang dulu.
Tadinya Kaisar sangat cemburu, dia tidak menyukai bagaimana Lady selalu membicarakan suaminya dulu dengan nada bahagia dan mata berbinar-binar.
Ternyata itu Kaisar sendiri.
Ini konyol.
Kaisar cemburu dengan dirinya sendiri.
Lalu – Fano, ya?
Ternyata Fano anaknya di kehidupan sebelumnya.
Apakah Kaisar harus senang? Ataukah merasa canggung? Kaisar tidak tau.
Jadi, saat Chris sudah ada duduk di sampingnya, Kaisar baru sadar.
“Grandpa? Sejak kapan
–”
“Baru saja, kamu baik-baik saja, Kaisar?”
Kaisar mengangguk “Aku baik” jawab Kaisar singkat.
“Aku tau, kau mendengar pembicaraanku dengan Fano, kan?”
Mendengar itu, Kaisar terkejut, dia menoleh pada Chris dengan tatapan tidak percaya “Bagaimana grandpa bisa tau?”
Chris terkekeh pelan “tentu saja aku tau, bagaimana menurutmu?”
“Apanya?”
“Pendapatmu tentang kau ayahnya Fano.”
Kaisar menggelengkan kepalanya “Tidak tau, aku tidak mengerti.”
Chris menepuk-nepuk bahu Kaisar “Tidak apa, kau memiliki banyak waktu untuk merenungkannya, setelah itu, mungkin kau akan tau apa yang harus kau katakan pada Fano” kata Chris.
Kaisar menatap Chris sebentar, kemudian menundukkan kepalanya lagi.
Mereka hanya terdiam, sampai kemudian suara makanan yang Fano pesan telah sampai.
Chris yang datang untuk melihatnya, ada dua pelayan yang membantu menerima pesanan tersebut.
“FANO!! PESANANMU DATANG!!” teriak Chris.
__ADS_1
“AKU AKAN KE BAWAH!” balas Fano, juga dengan berteriak.
Chris hanya terkekeh mendengar teriakan Fano dari lantai dua.
“Apa yang Fano pesan?” Kaisar sudah ada di dapur untuk melihat pesanan Fano.
“Ada pizza, mie hitam? Apa ini? Ayam – ku rasa? Lalu boba, apa ini rasa matcha?” Chris memeriksa pesanan Fano.
“Dan cola? Kenapa Fano memesan cola?” gumam Kaisar, dia tidak menyangka Fano akan memesan dua botol cola ukuran masing-masing satu liter.
“Bukankah kau juga suka cola, Kaisar?” tanya Chris.
“Tidak juga, aku lebih suka air mineral” kata Kaisar “dan juga nektar, nektar putih, yang tidak terlalu manis” tambahnya.
“Yang terbuat dari madu putih ya? Apa itu namanya nektar? Ku rasa bukan nektar namanya” sahut Chris.
“Aku tidak tau namanya, tidak peduli juga, yang penting minum” balas Kaisar.
“Dasar!” Chris.
Fano sudah sampai bersama Yoshi dan Abel.
“YEAY!! Makanan!” teriak Abel senang, dia langsung duduk di kursi lalu menarik box pizza dan membukanya dengan tidak sabar.
“Ini masih jam tiga sore dan kalian sudah makan lagi” komentar Kaisar.
“Abel kelaparan” sahut Fano.
“Ih, kok nyalahin Abel? Kak Fano bilang tadi, jadi tergoda pengen makan jjajjangmyeon!” sahut Abel, yang diangguki oleh Yoshi.
“Tapi kan aku bener, kamu duluan yang bilang kelaperan Bel, apa aku salah?” sahut Fano.
“Kalian kenapa jadi ribut sih? Tidak apa-apa kok, kalian bisa makan” kata Chris.
“Kalian mau makan bersama kita?” tawar Fano.
“Eum...” Kaisar terlihat berpikir, namun Fano sudah mengambil sepotong pizza lalu memberikannya pada Kaisar “cobalah” paksa Fano.
Chris hanya tersenyum melihat interaksi mereka, apalagi Kaisar tidak menolak dan memilih memakan pizza tersebut.
“Tumben Kaisar suka pizza keju?” tanya Abel, kemudian Yoshi menyenggol lengannya dan meminta Abel untuk diam saja.
“Aku suka keju kok” sahut Kaisar.
“Bukannya kau bilang waktu itu – mmm” Abel berhenti bicara saat Yoshi menyuapinya pizza.
“Abel, biarkan saja, jangan ganggu mereka, kamu makan saja yang banyak okay?” desis Yoshi.
“Kenapa sih?” tanya Abel sambil menguyah pizzanya.
“Jadilah anak baik, Abel” kata Yoshi.
“Kalo aku jadi anak baik, kakak mau cium Abel lagi?” tanya Abel, Yoshi sudah pucat mendengar pertanyaan polos Abel.
“Uhuk – apa kau bilang tadi Bel?” Kaisar hampir tersedak, untuk setelahnya Fano memberi minum.
“Aku salah bicara kok, hehe” Abel.
“Abel?” Chris.
Nyawa Yoshi baik-baik saja kan setelah ini?
.
.
__ADS_1