
Erau melihat 6 manusia yang saat ini berada di depannya. Dia mengerang lapar, giginya yang runcing bergetar hebat dan pupil matanya menajam melihat keenam manusia itu.
Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging. Daging.
Pikiran Erau terisi oleh doktrin-doktrin dari otaknya. Tanpa menunggu aba-aba, Erau melesat secepat kilat. Ia melata menghasilkan gerakan zig-zag yang indah.
Hanya berjarak beberapa meter, Erau melompat secepat kilat ke arah enam manusia itu. Gigi taring yang runcing menghiasi mulutnya, menunggu daging dan darah segar yang akan dilumatnya.
Manusia-manusia itu melompat menghindari serangan ular itu. Erau marah, sekali lagi ia menyerang, tetapi kembali manusia-manusia itu menghindar. Keenam manusia itu mengelilingi Erau. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Erau, yang menganggap dirinya raja ular merasa direndahkan karena dua serangannya berhasil dihindari. Ia pun mengeluarkan salah satu skill-nya.
[Sephentes Order's]!
Sebagai magic beast, Erau mengaktifkan magic skill-nya yaitu [Sephentes Order], sihir tersebut dapat disetarakan sebagai sihir tingkat tiga.
Dalam gelapnya ruangan, mata Erau mengeluarkan cahaya merah darah. Siapapun yang melihatnya akan terhipnotis, karena [Sephentes Order's] adalah sihir bertipe hipnotis yang aktif ketika korban dan pengguna saling bertukar pandang. Erau yakin dengan sihirnya, ia menatap seorang pria yang dia anggap sebagai yang terkuat dari mereka. Manusia pria itu juga melihat mata Erau, sihir pun bekerja, tetapi ....
"[Hallow Eyes]!"
Atlya mengaktifkan mantra tingkat dua, [Hallow Eyes]. Mantra itu adalah mantra bertipe AoE yang membuat pengguna dan sekutunya terlindung dari mantra serangan non-elemen. Sayangnya tingkatan mantra itu masih di bawah tingkat sihir si ular, sehingga walaupun kesadaran mereka terjaga, tetapi tubuhnya tidak.
Karena dia merasa sihir ini lebih tinggi dari sihir tingkat dua, Atlya membaca sihir lain yaitu [Greater Hallow Eyes] yang merupakan sihir tingkat 4. Memiliki efek yang sama dengan sihir sebelumnya tetapi dengan efek yang jauh lebih kuat.
Urien berlari dan mencoba menebas ular raksasa itu.
"Dasar cacing besar Alaska!!"
Cilvy juga memberi serangan bantuan dari belakang. Ia meregangkan tali busurnya dan mengarahkan serangan panah yang telah berisi skill, yaitu [Archery art: Fire Dawn].
Panah itu melesat lurus dan menancap di mata kiri Erau, lalu ....
Panah yang berisikan sihir itu bersinar sesaat. Sinarnya semakin membesar lalu perlahan menyusut.
*Boom
Walaupun serangan itu terlihat cukup menakutkan tetapi tidak ada luka yang muncul di wajah ular itu. Erau hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mungkin dia merasa kesal dengan serangan lemah itu.
Ketika Urien mencoba menyerangnya, Erau menggunakan kepalanya untuk mendorong Urien layaknya serudukan banteng.
"Kepala ular itu sangat keras."
Ketika Urien mencoba menusuk kepala si Ular, pedangnya yang telah dialiri aura tidak dapat menancap lebih dalam.
Tidak adanya, serangan lagi, Erau mencoba memberi serangan balasan. Dia bergerak dengan cepat mendekati manusia-manusia itu. Namun ketika dia sampai pada sebuah titik, lantai yang ia lalui mengeluarkan cahaya dan rune tiba-tiba muncul.
Ini adalah jebakan
Ternyata alasan Lilac cukup pasif ketika kelompoknya bertarung dengan Erau adalah karena jebakan itu. Dia membuat sebuah jebakan sihir dengan menyembunyikan talismannya di dalam tanah. Kemudian dia mengaktifkan mantra 4, [Explosion].
Ketika meledak, tubuh depan Erau terhempas ke belakang karena shock wave yang dihasilkan oleh jebakan itu. Dia kembali harus menerima hit yang membabi-buta dari serangan sihir tingkat empat itu.
Benar saja, akibat sihir itu, tubuh bagian bawah Erau melepuh.
"Jadi dia tidak dapat melakukan resistensi sihir tingkat 4 keatas."
__ADS_1
Barnard yang hanya mengamati kelompoknya bertarung dengan monster itu setidaknya mendapat beberapa informasi.
Pertama, ular ini kemungkinan besar dapat diklasifikasikan sebagai magic beast tingkat Legacy Class. Kedua, dia lemah terhadap serangan elemen api.
"Bagaimana, apa kalian bisa menghadapinya?" tanya Barnard dengan santai.
Sebagai petualang orichalcum kemungkinan besar dia dapat melawan monster ini tetapi untuk melatih agar party-nya lebih kuat, dia membiarkan mereka melawan monster ini.
"Sepertinya makhluk ini lebih kuat daripada Nero Archaeopteryx," ucap Lilac.
Nero Archaeopteryx adalah magic beast dengan tingkat Legacy Class dengan wujud menyerupai dinosaurus archaeopteryx tetapi memiliki aliran lava dan kobaran api di tubuhnya. Makhluk ini memiliki elemen lava dan api, dan salah satu skill terkuatnya adalah [Nero's Song} merupakan skill yang menggunakan mana. Jika diukur, skill tersebut sebanding dengan sihir tingkat 5.
Nero Archaeopteryx merupakan magic beast terkuat yang mereka lawan pada false dungeon yang mereka masuki sebelum raid ini.
"Hmm ... begitu, apa kalian butuh bantuan?" tanya Barnard.
"Tidak Ketua, kami yakin bisa melakukannya."
Sebelum Lilac bisa berbicara, Urien duluan menjawab.
Erau telah kembali sadar dari kepanikannya. Dia menyerang kembali. Namun kali ini, dia menyemburkan cairan dari mulutnya ke arah para manusia.
Ini adalah skill yang disebut sebagai [Sephentes Acid]. Sebuah skill yang setara dengan skill tingkat lima menghasilkan asam cair yang mampu melelehkan apa saja.
Atlya dengan cepat memberikan mantra pelindung tingkat 4,[Shield of the Holiness]. Perbedaan level sangat terasa, walaupun pelindung yang dihasilkan oleh mantra [Shield of the Holiness] adalah perisai transparan tetapi [Sephentes Acid] seolah dapat melelehkannya. Dengan cepat semua orang pergi menjauh. Tak berselang lama, seperti yang diduga perisai itu hancur.
"Teman-teman, itu batasku."
Atlya memberi senyum canggung. Dalam party ini dengan role-nya sebagai magic caster tepatnya dengan kelas sebagai Supporter. Dia selalu berperan sebagai pemberi mantra pendukung seperti buff dan pemberi sihir pelindung bagi para vanguard. Untuk tingkatan sihirnya, dia bisa menggunakan sihir hingga tingkat 4.
"3 sihir tingkat 4. Itu batasanku," jawabnya.
Urien kemudian bertanya berkata kepada Lilac.
"Jadi, dia dapat diserang menggunakan mantra tingkat 4 ke atas. Lilac, bisa kamu menggunakan mantra tingkat 5. Kita harus segera menghabisinya sebelum mana para magic caster habis."
"Yah, tapi kau tahukan sihir tingkat 5 adalah batasanku. Kemungkinan aku hanya dapat menggunakan dua sihir tingkat 5 sehari."
"Kalai begitu kami mengandalkanmu sebagai eksekutor. Arlenne, Cilvy, serang ular itu bersama-sama! Kita harus memberikan waktu kepada Lilac untuk mengaktifkan mantranya!" teriak Urien.
"Akhirnya, waktuku tampil!"
Arlenne berteriak marah. Dia dan Urien memberi serangan dari dua arah berbeda. Kemudian Cilvy menggunakan serangan panahnya untuk mengganggu konsentrasi ular itu.
"[Iron Fist]!"
Arlenne menggunakan skill martial art-nya. Skill ini menggunakan aura. Dia melompat tinggi dengan target dapat memberikan pukulan di rahang bawah ular.
"[Tiger Slash]!"
Tidak mau kalah, Urien melompat dari belakang ular. Dia bersiap menancapkan pedang yang telah dialiri aura. Sama halnya dengan skill Arlenne, ini juga adalah skill yang menggunakan aura. Targetnya adalah daerah antara kepala dan badan ular yang dimana tidak dilindungi oleh tengkorak.
Ketiganya melakukan serangan bertubi-tubi dan terus berlanjut.
__ADS_1
"SSSSSTTTSSSS!!"
Erau mendesis kesakitan.
Walaupun ular ini memiliki sisik yang kuat dan kepala yang keras, tetapi diserang terus seperti tentunya memberikan efek destruksi yang cukup besar. Belum lagi tubuh bawahnya yang masih terluka akibat jebakan sebelumnya. Tentunya hal tersebut dimanfaatkan oleh Arlenne dengan memberikan tinju dan pukulan di area itu.
"Semua, minggir!"
Mendengar teriakan Lilac, serentak Arlenne dan Urien menjauh.
Lilac melempar gulungan setidaknya berisi 10 talisman ke arah Erau.
"[Whirlfire]!"
Dengan cepat sebuah pusaran api menelan tubuh Erau.
Ular itu mendesis kesakitan. Sisik yang sebelumnya dapat menahan serangan dari Arlenne dan Urien kini hangus terbakar. Dengan cepat Erau hanya bisa memikirkan satu hal.
Menuju danau!
Erau begerak dengan cepat ke danau. Walau demikian [Whirlfire] masih tetap mengikuti. Sihir itu tidak akan hilang sebelum korbannya hangus terbakar.
Namun Erau dengan sisa kekuatannya dapat masuk ke dalam danau.
[Whirlfire] masih berkobar di atas danau yang menunjukkan ular itu masih hidup.
"Sepertinya kalian kehilangan dia."
Barnard mendekati kelompoknya. Tak lupa memberi elusan kepada istri tercintanya, Atlya.
"Apa kita harus masuk ke dalam danau, Paman?" tanya Lilac.
"Aku rasa itu sangat berbahaya. Dia adalah ular yang pasti sangat lincah di air. Sementara kita akan kesulitan di dalam air," jawab Barnard.
Anggota lain mengangguk setuju.
"Jadi apa kita harus menunggunya keluar? Sial, jika dia tidak mati kita tidak bisa menyelesaikan misi," ucap Urien dengan kesal.
"Yah, benar. Ini misi menaklukkan bukan menghancurkan," gumam Barnard.
Seperti yang dijelaskan Barnard, quest yang mereka terima adalah menaklukkan dungeon bukan menghancurkan. Artinya, tugas mereka adalah memusnahkan semua bahaya di dungeon tetapi tetap membiarkan false dungeon ini survive.
Jika mereka masih membiarkan satu monster pun hidup, terutama monster sekuat Legacy Class, artinya misi mereka gagal sehingga mereka tidak akan mendapatkan bayaran.
BOOM!!
Ledakan dari bawah danau mengalihkan perhatian mereka.
[Whirlfire] yang seharusnya masih berada di atas danau kini menghilang akibat ledakan air itu. Air di danau yang aturannya tenang kini bergelombang layaknya badai.
Kemudian, sosok makhluk panjang dan bersisik kembali muncul.
Ini adalah Erau tetapi berbeda dengan wujudnya yang telah terluka, dia muncul kembali dengan tubuh mulus tanpa luka sedikitpun.
__ADS_1
Namun apa yang paling mengejutkan adalah setelah Erau berada di tanah, tak lama sebuah gundukan yang menyerupai gundukan batu muncul dari dalam danau. Gundukan itu bergerak mendekati daratan.
Lalu sebuah kaki reptil raksasa naik ke atas tanah diikuti oleh sosok kepala raksasa. Yah, apa yang muncul bersama dengan Erau adalah sosok kura-kura raksasa yang setidaknya berukuran 20 meter.