THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
KIDNAPPING(5)


__ADS_3

Di balik jeruji besi yang kokoh, sosok seorang gadis kecil berlutut sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ruangan ini gelap, tidak ada sumber cahaya apa pun di sini. Ruangan ini terletak di bawah tanah dan merupakan salah satu dari sekian banyak jeruji besi yang mengurung percobaan-percobaan lain. Walau cuaca terlihat cerah dan indah di luar tetapi hanya tangisan yang terdengar di sini.


Sudah tiga hari Merry ditahan oleh pencuri-pencuri itu. Selama itu, ia ketakutan setengah mati  terutama ketika melihat ruangan yang menjadi tempatnya terkurung. Tempat ini gelap, kotor, dan hening. Terutama ketika malam, tidak ada sumber cahaya apa pun yang muncul, bahkan lilin atau obor pun tidak ada. Selama tiga hari itu, dia harus berada di ruangan menyeramkan tanpa sosok yang menjadi pelindungnya.


"Hiks ... hiks ... Ayah ... hiks ...."


Mata Merry telah amat bengkak dan merah serta ditambah dengan suaranya yang serak akibat terus menangis.


"Hiks ... Kak Al, kenapa Ayah tidak datang ... hiks ...."


Mungkin ini suatu keberuntungan bahwa Alpha dikurung di ruangan yang sama dengan Merry. Jadi setidaknya Merry tidak akan terlalu kesepian.


"Tenang Tuan Putri, Tuan Alex akan segera menyelamatkan kita."


"Tapi kapan?! Hiks ... Ayah! Aku mau Ayah!"


Alpha bahkan tidak bisa tersenyum masam. Ia sebenarnya tidak percaya bahwa Alex mampu menemukan tempat ini. Ia sangat murung bahkan kini selain dikurung, mana-nya telah disegel.


Alpha mengenakan kalung besi raksasa yang mencengkram lehernya. Ini adalah item dengan kategori middle class yang berfungsi untuk menyegel dan menekan penggunaan mana pemakai. Selain itu, terdapat dua gelang besi dengan kategori low class item yang memiliki fungsi serupa.


Alpha yang juga merasa tertekan karena setelah deviasi mana-nya sembuh, cepat atau lambat dia akan segera menjadi objek percobaan lagi. Saat ini deviasi mana-nya telah diobati tetapi masih dibutuhkan beberapa pengobatan tambahan untuk betul-betul menyembuhkannya.


Alpha menarik Merry ke dalam pelukannya. Ia memeluk Merry untuk memenangkannya tetapi juga sebenarnya untuk menenangkan dirinya sendiri.


Alpha dan Merry memiliki umur yang hampir sama tetapi sebagai anak laki-laki, Alpha memiliki tubuh yang lebih besar. Merry yang berada di pelukannya terasa sangat rapuh dan lemah seolah-olah dapat hancur hanya dengan sedikit kekuatan.


"Tuan Putri, tenang jangan menangis. Tuan Alex akan menemukan kita. Tuan Putri, aku juga akan selalu melindungimu."


"Hiks ... hiks ... Ayah, Merry takut! Hiks ... Ayaaah!!"


Walau telah berulang kali dihibur oleh Alpha tetapi Merry masih tidak bisa berhenti menangis. Ia masih tetap berharap bahwa Alex akan datang dan menyelamatkan mereka.


Merry memeluk Alpha dengan lebih kencang. Ia membenamkan wajahnya di dada Alpha.


"Hiks ... Kak Al, hikss ... jangan pergi. Hiks ... jangan tinggalkan Merry. Hiks ... tetap bersama Merry. Hiks ... Merry takut hiks ...."


"Iya, tentu Tuan Putri. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan melindungimu dari orang-orang jahat itu."


Alpha berusaha tersenyum agar dapat menghibur Merry. Namun dalam hatinya sendiri ia meragukan ucapannya. Bahkan ia tidak dapat melindungi dirinya sendiri bagaimana dia bisa melindungi orang lain. Akan tetapi setidaknya ia akan tetap mencoba melindungi Merry bahkan bila harus mempertaruhkan nyawanya. Toh, Merry adalah orang yang menyelamatkannya dan membawanya ke mansion. Kedua orang itu terus berpelukan hingga setidaknya Merry sedikit tenang.

__ADS_1


Di tempat ini kedua anak berumur kurang dari 10 tahun dikurung dalam gelapnya dunia.


***


Eldnest  Claudert adalah seorang penyihir veteran dan menjadi pemimpin semua eksperimental di laboratorium ini.


Eldnest awalnya sangat marah ketika satu-satunya percobaan sukses yang berhasil hidup sampai sekarang, A-25 telah kabur. Dia tidak tahu jika eksperimen sukses itu masih belum ditemukan, mungkin dia sudah menghancurkan lab ini.


Dia telah 37 tahun bergabung di organisasi. Dimulai ketika ia hanya seorang magang sampai akhirnya dipercaya menjadi pemimpin lab cabang. Dengan umurnya yang telah  75 tahun agaknya cukup sulit untuk dapat dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi.


Walau demikian Eldnest sangat senang ketika akhirnya A-25 berhasil didapatkan kembali. Walau eksperimennya itu kembali dengan kondisi menyedihkan, setidaknya itu masih bisa diselamatkan.


Selain itu ....


"Pak, apa yang akan kita lakukan dengan gadis itu?"


Salah satu alchemist bertanya kepada Eldnest. Dia tahu bahwa bossnya ini kadang terlalu ambisus sehingga sering melakukan percobaan berlebihan kepada objek eksperimen. Sayangnya dari yang ia dengar bahwa gadis ini adalah seorang bangsawan. Jika mereka melakukan hal-hal buruk kepada gadis ini bukankah itu berarti mengundang konflik terhadap bangsawan?


Eldnest juga mengetahuinya tetapi ia tidak terlalu peduli. Sudah 10 tahun lab ini berdiri, sampai sekarang masih belum diketahui oleh otoritas terkait. Selain itu dia tidak tertarik dengan uang tebusan. Ia jauh lebih tergiur dengan segala ilmu sihir yang ada.


"Jadikan saja dia spesimen berikutnya."


Eldnest sebenarnya tidak terlalu berharap banyak. Seingatnya gadis ini berasal dari Rumah Fertiphile yang merupakan swordmaster of aura sehingga kemungkinan dia tidak terlalu berbakat dalam ilmu sihir.


"Maaf Pak, kami belum memeriksanya."


Alchemist muda ini takut dengan kemarahan Eldnest. Mereka tentu saja tidak bisa sembarangan kepada Merry. Disebabkan statusnya dan belum adanya kebijakan dari boss, mereka lebih memilih untuk mengurung anak itu bersama dengan A-25 sambil menunggu kebijakan lebih lanjut.


Jika ini hari biasa, Eldnest pasti akan sangat marah. Namun ia masih dalam mood yang baik karena A-25.


"Lakukan saja, kita tidak pernah peduli apakah itu bangsawan atau pendeta. Selama mereka cocok, lakukan saja."


"Baik, Pak!"


Setelah pertemuan itu, Alchemist muda itu kemudian pergi.


Eldnest yang hanya seorang diri di ruangan tertawa bahagia.


"HAHAHAHAHAHA ...."

__ADS_1


Salah satu gigi depannya yang kuning memantulkan cahaya dari magic lamp.


"Iblis-iblis sialan, kalian akan segera tamat. Ini adalah kemenangan umat manusia!"


Eldnest sesaat mengingat masa lalu kelamnya. Dulunya, dia adalah seorang warga negara yang tinggal di perbatasan Negara Teokrasi Yizantin Agung yang berbatasan langsung dengan Perserikat Negara Evilten.


Terdapat gelombang invasi iblis yang berhasil masuk di tempat tinggalnya. Demonoid itu membunuh bahkan memakan para penduduk. Rumah-rumah terbakar, anak-anak menangis, orang tua  tergeletak tak bernyawa di tanah.


Eldnest muda kehilangan orangtuanya akibat iblis-iblis itu.


Ia tidak akan pernah melupakan dendamnya. Seumur hidup dia telah mengabdikan dirinya pada ilmu sihir khususnya ilmu alchemy dan arcane.


Ia juga bergabung dengan organisasi demi dendamnya itu. Baginya, manusia harus bisa bangkit dari keterpurukan. Walau sebesar apa pun biaya dan sebanyak apa pun nyawa yang menjadi taruhannya, asalkan itu demi umat manusia dan dendamnya, ia tidak tidak akan keberatan.


***


Di kantornya, Harol masih tidak bisa tenang. Walau sudah tiga hari semenjak penyerangan berlalu, tetapi entah kenapa ada perasaan yang tidak nyaman di hatinya.


"Apa karena anak itu?"


Harol memang mengutuk tindakan penyerangan tetapi secara implisit dia merasa mendapat manfaat. Bukankah dia sudah lama menginginkan agar Merry keluar dari rumah? Tetapi kenapa dia merasa tidak nyaman?


Tidak hanya itu, bahkan ketika para penyusup itu kabur, Harol memerintahkan Alen untuk mengikuti mereka. Tindakan ini seolah menunjukkan adanya ketidaksepahaman antara pikiran dan batinnya.


"Tidak, itu demi penangkapan bukan untuk anak itu!"


Harol berusaha menyangkal tetapi di waktu bersamaan dia merasa gugup ketika mengingat gadis itu dibawa kabur oleh para penyusup.


Apa aku merasa kasihan? Ini pasti perasaan kemanusiaan bukan yang lain. Jelas aku tidak akan pernah menerimanya sebagai anggota keluarga. Namun bukan berarti aku bisa melihat seorang anak diculik di depan mataku.


Harol merasa ini lebih menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang lord bukan sebagai partriark. Bukankah lord memiliki kewajiban moral untuk melindungi segenap warganya.


Ya benar! Pasti itu!


Bukankah membiarkan pencuri kabur dan membiarkan penyanderaan adalah perbuatan yang salah? Jadi Harol merasa perasaan bersalah dan mengganjal di hatinya adalah perasaan sebagai seorang lord yang gagal melindungi warganya dan moralitas kemanusiaannya sebagai manusia.


"Huh ... hah ... kenapa aku bisa sebegitu jahatnya. Bahkan walaupun aku menolaknya sebagai bagian keluarga, bukan berarti aku bisa membiarkannya mati! Sial! Harol, kau bodoh sekali!"


Harol memukul-mukul kepalanya karena kebenciannya terhadap Merry telah membutakannya terhadap semua kebenaran dan kebaikan dunia. Bagaimanapun Merry adalah manusia, Merry adalah seorang anak, Merry adalah warganya yang harus ia lindungi. Hanya karena egonya, dia  membiarkan Merry dibawa kabur di bawah ancaman.

__ADS_1


Seharusnya pada malam penyerangan itu, saat Merry disandera, Harol dapat menggunakan kemampuan berpedangnya untuk menyelamatkanya. Dia memiliki Estoc of Nightmare yang terkenal dengan ketajamannya dan kecepatannya yang luar biasa. Harol yakin dia bisa menyelamatkan anak itu jika dia turun tangan. Namun dia membiarkan semua itu berlalu begitu saja seolah tidak ada yang terjadi.


Ini bukan seperti diri Harol yang biasanya logis dan menjauhi segala emosi yang mampu mempengaruhi kebijakannya. Harol malu pada Alex, Jared, dan Hazel yang selalu ia didik untuk menjadi pemimpin yang cerdas, bermoral dan tidak membawa masalah pribadi pada pemerintahannya. Namun dirinya sendirilah yang justru menjadi seorang immoral yang memanfaatkan musibah untuk menghilangkan nyawa orang yang ia benci. Harol merasa bahwa satu-satunya penebusan untung menghilangkan rasa bersalahnya adalah dengan menyelamatkan Merry hidup-hidup.


__ADS_2