
Plot Cerita mundur sebelum Alex pergi berburu.
Merry duduk dengan linglung di kursi yang sering ia gunakan. Ia berada di halaman belakang mansion di tengah kumpulan orang-orang yang bergembira. Ia duduk sendirian, hanya ditemani oleh pelayan setia ayahnya, Justin. Ngomong-ngomong Alex sedang pergi dengan Harol untuk memilih senjata yang akan mereka gunakan pada saat berburu. Alex tidak memiliki magic sword ataupun magic armor. Itu bukan karena Harol pilih kasih, tetapi Alex sendirilah yang terlalu malas memintanya. Ini sangat berbeda dengan Jared dan Hazel yang bahkan masih-masing sudah memili 1 set senjata kelas High Class. Bahkan rencananya ketika Jared telah resmi berumur 15 tahun, ia akan meminta satu lagi High Class Item berjenis aksesori yang digunakan sebagai buff item. Alex bukannya tidak mendapat penawaran itu ketika ia berusia 15 tahun tetapi bukannya senjata, ia lebih memilih meminta kepada Harol untuk memberinya 200 koin emas.
Alex tidak mengizinkan Merry ikut. Selain itu, ekspresi Harol memperlihatkan ia tidak ingin gadis ini ikut. Akibatnya, Merry hanya duduk diam dan ditemani oleh Justin yang berdiri seperti patung.
Biasanya ia mungkin akan mengisi waktu dengan berkeliling dan mencari makanan prasmanan. Namun sekarang, dia sudah kenyang akibat ia memakan terlalu banyak kue dan buah di pesta bersama dengan Alex.
Merry hanya duduk dengan menghela napas. Justin yang berdiri di sampingnya tidak dapat membantu. Ia belum pernah merawat anak-anak dan tidak punya pengalaman menghibur seseorang. Bagaimanapun ia adalah seorang yang melayani seorang tuan muda yang pemalas dan tidak memiliki emosi, jadi ketika ia melihat Merry sedih, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Hei, kamu ... siapa namamu?"
Tiba-tiba seorang anak gadis berambut pirang mendatanginya. Ia seusia dengan Merry dan terlihat sangat ceria.
Merry yang nyaris tidak pernah berbicara kepada siapapun kecuali Alex dan Erline serta sesekali dengan Justin dan Clara sehingga ia menjadi gugup. Ia dengan malu-malu menyebut namanya.
"M-merry."
"Nama yang bagus! Namaku Emily. Ayo berteman."
Emily tersenyum cerah sambil merentangkan tangan kanannya kepada Merry.
Merry hanya mengangguk dan bersalaman dengan Emily.
"Kamu lagi bosan kan? Ayo kita main bersama."
"T-tapi."
Merry yang tidak tahu apa pun berusaha untuk menolak. Namun ia ragu sehingga menatap Justin seolah ingin meminta pertolongan.
"Benar sebaiknya Nona Muda dan Nona Muda Emily bermain bersama selagi menunggu Tuan Alex kembali."
Justin tentu saja memanfaatkan momentum ini. Dia tidak tega melihat anak tuannya merasa galau dan sedih. Jelas bermain bersama teman akan menghilangkan beban pikirannya.
Tanpa menunggu respon Merry, Emily menarik dan menuntunnya.
Mereka pergi ke tempat anak-anak gadis lain berkumpul. Tempat ini seperti lokasi piknik dengan aneka kue kering dan jus disediakan.
Tempat ini masih berada di wilayah mansion tetapi hanya beberapa orang dewasa yang berada di sini. Mereka adalah pelayan yang ditugaskan untuk menjaga anak-anak ini. Bagaimanapun mereka harus menjaga para tamu count, jika sampai ada kejadian yang tidak terduga terjadi pada anak-anak bangsawan ini jelas akan menodai citra House of Fertiphile di mata para bangsawan.
"Emily, kamu darimana saja? Eh ... siapa itu, Emily?"
Emily yang masih menggenggam tangan Merry dan menariknya berhenti. Ia kemudian memperkenalkan Merry kepada yang lain.
Semua anak di sini masih polos terutama mereka adalah para gadis sehingga mereka sama sekali tidak tahu dengan seluk-beluk dan konflik pada rumah bangsawan lain. Pandangan patriarkis masyarakat terhadap hampir semua kegiatan sangat mempengaruhi peran wanita. Itu sebabnya bahkan wanita bangsawan memiliki keterbatasan terhadap hak dan mereka sangat didiskriminasi dalam lingkaran politik. Bagi masyarakat di Kerajaan Artchania, wanita hanyalah anak-anak yang memiliki tubuh dewasa sehingga tidak perlu bagi para wanita untuk mendapat pendidikan dan hak yang setara dengan para pria.
Para wanita bangsawan hanya perlu memiliki tubuh yang bagus, bisa menari, bisa membaca, dan bisa bernyanyi tidak perlu yang lain. Secara implisit para wanita bangsawan hanyalah objek politik yang digunakan untuk memperoleh kekuasaan melalui perkawinan.
Itu sebabnya bahkan jika para gadis ini tahu bahwa Merry memiliki nama keluarga yang berbeda dengan Alex, mereka tidak akan terlalu peduli. Kecuali jika mereka tahu bahwa gadis ini dulunya adalah budak jelas mereka akan memberi tampang jijik. Itu karena mereka sudah dididik sejak kecil bahwa bangsawan adalah golongan mulia di atas golongan lain. Jadi selama identitas lama Merry tidak ketahuan, maka dia tidak akan di-bully.
__ADS_1
Emily dan Merry bergabung ke perkumpulan anak-anak itu. Setidaknya sekarang ada enam anak. Mereka semua gadis berumur 6 hingga 8 tahun. Semuanya adalah anak bangsawan rendah dan hanya Merry yang merupakan anak bangsawan agung.
Awalnya mereka masih membahas hal-hal remeh dan Merry terlihat cukup dapat berbaur. Para gadis mulai bertanya pada Merry mengenai Alex yang mereka temui saat berada di ruang pesta.
"Jadi, ayahmu yang tinggi itu?"
"Sungguh? Yang tampan itu? Ibuku bilang dia baru pertamakali melihat lelaki yang sebening itu."
"Benar! Benar! Dibandingkan kakak laki-lakiku yang bau dan dekil, ayahmu seperti pangeran yang menaiki kuda putih. Kalau sudah besar aku mau menikah dengannya."
Merry terkejut dengan semua penilaian teman-teman barunya terhadap ayahnya. Ia hanya bisa bangga bahwa pesona ayahnya memang sangat kuat tetapi di waktu yang bersamaan ia merasa takut karena dengan pesona ayahnya yang besar itu, cepat atau lambat ayahnya akan sangat mudah menikah. Bukankah itu artinya Merry tidak akan lagi disayang oleh ayahnya?
Namun Merry menutupi kegelisahannya itu dengan senyuman sehingga tidak ada yang menyadarinya.
"Ah ... benar, apa kalian sudah selesai buat sapu tangan?" tanya Emily.
" aku sudah memberikan ke ayahku."
"Aku dan nenekku sudah buatkan untuk kakek."
"Aku juga udah selesai. Aku mau ngasih ini ke kakek dan ayah."
"Tidak, aku tidak mau. Untuk apa ngasih ke orang bau itu. Jelas aku tidak mau."
Hampir semua terlihat antusias. Namun Merry tidak menjawab. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud semua orang ini.
"Merry, apa kamu sudah buat juga?" tanya Emily.
"Sapu tangan. Kamu belum buat?"
Merry menggelengkan kepalanya dengan polos. Ia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya.
"Astaga, kenapa kamu tidak buat? Jika kamu tidak memberikan ke ayahmu, nanti ayahmu bisa hilang di hutan. Dan tidak akan pernah muncul lagi."
"Hah! Sungguh?!"
Merry panik, mulut dan tubuhnya gemetaran ketika memikirkan ayahnya akan tersesat di hutan dan tidak akan pernah kembali.
"Iya, benar. Kamu harus buat sapu tangan supaya ayahmu baik-baik saja," ucap Emily.
Penjelasan Emily membuat Merry seolah terkena siraman air dingin. Tubuhnya gemetar ketakutan. Wajanya menjadi sangat pucat dan ia bahkan hampir menangis.
"T-tapi, t-tapi, kenapa hiks kenapa tidak ada yang memberitahuku ... hiks ...."
Tiba-tiba Merry berdiri kemudian berlari sambil berteriak.
"AYAH!!"
Semua teman-temannya terkejut dengan kepanikan Merry. Mereka juga berlari mengikuti Merry.
__ADS_1
Dimana? Ayah Dimana?!
Di kerumunan orang, Merry hanya berdiri diam. Matanya berusaha mencari lokasi ayahnya di antara semua orang. Namun ia tidak menemukan apa pun.
"Ayah ... Hiks ... hiks .... ayah ... hiks ...."
Merry putus asa dan ia kemudian berjongkok sambil menangis. Isakan air matanya terus menderu. Ia terus berulang kali mengatakan "ayah, ayah, kamu dimana?". Semua orang yang melihatnya bingung dan satu per satu mulai mengerumuni Merry untuk menenangkannya.
"Merry, kamu kenapa?!"
Emily dan anak-anak lain akhinya berhasil menyusul Merry. Terutama Emily, dia sangat khawatir dengan Merry yang tiba-tiba menangis.
Merry tidak menjawab. Ia terus menangis sambil menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.
"Emily, apa yang kamu lakukan?"
Ryana muncul di antara kerumunan itu.
"Kakak, aku tidak tahu. Dia tiba-tiba menangis."
Emily dan Ryana adalah adik-kakak. Mereka sama-sama berasal dari House of Rayself. Emily Viontince Rayself merupakan nama panjang Emily.
Hanya sekali lirik, Ryana sudah dapat mengetahui bahwa gadis kecil yang menangis itu adalah Merry.
"Merry, kamu kenapa?"
Merry mendengar suara yang familiar. Ia mengangkat pandangannya dan melihat sosok Ryana yang berdiri di depannya.
"Kakak!"
Merry bangkit dan langsung memeluk Ryana sambil tetap menangis.
Ryana menenangkan Merry. Ia mengelus punggung Merry. Itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Merry menjadi lebih tenang.
Setelah Merry lebih stabil, Ryana dan Emily membawanya ke tempat yang lebih tenang. Merry menceritakan beban di hatinya kepada kedua orang itu.
"Jadi kamu belum membuat sapu tangan untuk ayahmu?" tanya Ryana.
"Iya.".
"Jangan khawatir, kita akan membuatnya bersama. Kamu mau?"
Merry merasa ia menemukan secercah cahaya yang mampu menebus kesalahannya. Tentu saja ia sangat senang memikirkan solusi agar ayahnya tidak tersesat di hutan.
"Bagus. Amel, panggil Lacey. Kalau tidak salah dia masih punya bahan untuk menjahit."
"Baik, Kak. Merry, jangan khawatir, kakakku sangat pandai menjahit. Ayahmu pasti selamat!"
Merry mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
Emily pergi lalu beberapa waktu kemudian, dia kembali bersama Lacey yang membawa beberapa gulungan benang dan jarum. Lacey sudah mendengar semua masalah itu dari Emily. Sehingga ia sudah membawa semua bahannya.
Merry di lubuk hatinya yang terdalam merasa sangat tersentuh. Prosesifnya kepada ayahnya sedikit melonggar kepada kedua wanita ini. Lacey dan Ryana adalah orang yang baik dan mau menolongnya bahkan ketika ia masih seorang budak hingga sekarang. Dia memikirkan jika Lacey atau Ryana menikah dengan ayahnya, itu mungkin tidak masalah.