THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
PROLOGUE (VOLUME 3)


__ADS_3

Namaku adalah Camellia Anaira Hoverd, aku adalah seorang prajurit yang berasal dari satuan Royal Majestic Guarder. Aku bisa dibilang sebagai anggota elit yang dimiliki oleh negara. 


Aku dan timku yang disebut sebagai tim Falcon sedang mendapat misi untuk melakukan investigasi di Canadia. Ada isu bahwa penguasa daerah itu telah menggunakan kekuatan militer asing untuk menyerang wilayah tetangganya.


Selama kami datang ke sini, cukup banyak hal aneh yang kami temukan. Pertama adalah penampilan sang marquess, kemudian penyakit aneh yang entah dari mana telah menjadi wabah bagi kota ini dan terus menyebar ke seluruh wilayah Canadia dan wilayah tetangga. Terakhir, kami menemukan orang aneh yang sepertinya sepertinya melakukan sesuatu yang berbahaya.


Pada awalnya kami percaya dengan kemampuan yang kami miliki terutama karena kami adalah orang-orang kepercayaan raja dan yang terbaik di antara yang terbaik di kerajaan ini.


Namun kini, itu seolah tiada artinya.


Aku saat ini sedang dibantai habis-habisan oleh seorang monster wanita. Pada malam ini, terjadi invasi besar-besaran yang dilakukan oleh para  undead dan munculnya penyakit aneh di seluruh Kota Hadalon.


Aku dan semua anggota kelompokku telah menghadapi berbagai musuh tetapi ketika monster itu yakni wanita yang saat ini aku lawan, atau lebih tepatnya yang saat ini membantaiku.


Tubuhku penuh luka, sementara ia tidak. Padahal jika dilihat dari fisik, monsterini betul-betul seperti remaja perempuan yang rapuh. Ia memiliki rambut pirang yang pendek dan ia menggenggam pisau di kedua tangannya. Secara penampilan memang dia sama sekali tidak terlihat sebagai monster tetapi seperti seorang gadis kecil. Bahkan yang tidak kalah mengejutkan adalah dia membatani kami hanya dengan sepasang pisau.


Pisau ingat, pisau, bukan pedang. Ini semua pasti hanya mimpi. Sayangnya ini adalah realita.


"Arrr ...."


Aku tidak lagi dapat berdiri tegap. Tulangku terasa remuk. Darahku keluar di setiap luka sobek di tubuhku. Sial!


Monster itu berjalan mendekatiku. Ia melewati mayat para petualang dan para prajurit yang menjadi rekan seperjuangan dalam menghadapi monster ini.


Sial, apa ini akhirnya?!


Ia tersenyum bengis kepadaku. Matanya mengeluarkan cahaya merah darah dan kudengar tarikan nafasnya seakan ingin segera menghabisiku.


Aku takut ... aku tidak ingin mati.


Dia terus mendekat, setiap langkah kakinya seakan membuat nyawaku terus berkurang. Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku bangkit. Tepatnya merangkak dan segera menjauh darinya dengan sekuat tenaga seperti seorang bayi.


Tolong! Siapa saja, tolong aku!!


Aku berusaha menjauh tapi monster itu tidak mempedulikanku. Ia tetap berjalan santai ke arahku. Lalu senyum bengisnya terasa jauh lebih sadis dari sebelumnya. Ia mengangkat tangannya yang sedang membawa pisau, lalu melempar pisau itu ke arahku.

__ADS_1


"Aaarrhhh!"


Pisau itu menancap di lengan kananku. Aku merasakan kalau pisau itu menyerap sisa stamina dan mana yang kumiliki. Aku merasa lemas. Jantungku terasa akan berhenti berdetak, aku terus berusaha menjauh. Memaksa tubuhku untuk kabur sehingga keringat dingin mengalir lebih deras dari sebelumnya. Namun itu semua tidak memberikan hasil apa pun.


monster itu telah berada di tempatku. Ia menekan pisau yang telah menusuk di lenganku sehingga tancapannya seakan lebih dalam.


"Arrrhhh!"


Aku merintih kesakitan.


"Kumohon hentikan!"


Namun iblis itu tak menjawab.


"Aaaaaaarrrhhhh!"


Ia memutar-mutar pisau yang tertancap itu. Rasanya dagingku seperti adonan kue yang sedang diaduk. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi ketika ia menyentuh kepalaku, tubuhku tak dapat bergerak. Tubuhku lumpuh, tidak salah lagi, ini adalah sihir.


Ia tersenyum bahagia ketika melihatku sangat kesakitan. Ia kemudian memegang kedua pergelangan tanganku lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, sehingga tubuh atasku pun ikut terangkat.


monster itu seakan tak puas dengan siksaan yang ia berikan sebelumnya. Ia melucuti bajuku yang compang camping akibat serangannya ketika kami bertarung. Ia lalu melepas pisau yang tertancap di lenganku kemudian dengan pisau itu ia mulai mengkulitiku hidup-hidup, dimulai dari kulit dada dan perutku.


Tolong hentikan! Kumohon hentikan!


Ia terus mengkulitiku.


Aku tak sanggup lagi. Aku ingin mati! Lebih baik aku mati daripada harus menerima semua ini. Namun ia bahkan tak membunuhku.


Aaaarrrrrhhhh!!


Aku hanya dapat berteriak dalam pikiranku. Namun kurasa teriakanku seakan mampu terdengar di seluruh dunia.


monster itu tersenyum melihatku. Ia kemudian menjilati pisaunya yang telah dilumuri oleh darahku.


Kemudian ia mengarahkan pisaunya ke mataku. Ia mau mengorek bola mataku!

__ADS_1


Aku tak mampu melakukan apa pun. Ini adalah akhirnya, aku akan mati.


Namun Dewa belum meninggalkanku. Tiba-tiba sebuah serangan dari ledakan energi menyerang monster itu.


Ia terhempas berpuluh-puluh meter akibat serangan itu. Akibatnya aku terjatuh telungkup. Kemudian dari arah serangan itu berasal, langkah kaki terdengar.


Siapa?! Apa itu tim bantuan? Tapi kenapa hanya terdengar satu, ehh ... dua langkah kaki? Hanya dua orang?!


Pupus sudah harapanku. Kumohon siapapun engkau, larilah. Kalian tidak bisa melawan monster itu. Karena telungkup, aku tidak dapat melihat orang itu. Namun untunglah orang itu berjalan ke arahku.


Ia kemudian mengangkatku. Ia membaringkan tubuhku dan menahan kepala belakangku dengan lengannya. Namun ketika aku menatapnya, rasa khawatir justru semakin kuat.


Kenapa harus kamu!


Tubuhku lumpuh dan tak sanggup melakukan apa-apa. Namun sebenarnya, aku ingin menangis ketika melihat orang itu. Dia adalah seorang bangsawan yang cukup menarik bagiku. Kami belum lama bertemu tetapi aku masih dapat mengingat namanya dengan jelas. Ia adalah Alexander Ivanov Fertiphile.


"Kamu ...?"


Alex memanggil namaku. Namun aku tidak dapat membalasnya karena tubuhku lumpuh. Seakan kini aku telah mati.


Kulihat di matanya kekhawatiran yang amat dalam. Kemudian ia mengambil sesuatu dari saku bajunya.


Sial! Jangan kasihani aku!


Aku sejak lama diberi gelar sebagai wanita es. Itu karena aku adalah wanita yang sangat dingin kepada para pria dan tidak pernah jatuh cinta. Namun kini, apakah gelar itu akan hilang karena ditatap oleh orang seperti dia? Yang benar saja!


Dari saku bajunya, ia mengambil sebuah potion berwarna merah pekat. Aku tak tahu bagaimana saku itu dapat menyimpan benda sebesar itu tanpa menonjol sedikitpun. Karena salah satu tangannya menahan kepalaku, ia membuka potion itu hanya dengan satu tangan lainnya. Kemudian ia menuangkan potion itu ke mulutku. Rasanya sangat pahit. Aku merasa mual, tetapi efek dari obat itu tidak sepahit rasanya.


Semua lukaku sembuh. Namun efek dari mantra pelumpuh itu tidak hilang.


"Kamu, aku tidak ingin kamu di sini lebih lama lagi. Di sini akan sangat berbahaya. Aku akan membuatmu pergi."


Ketika ia mengatakan itu, seorang pria berambut coklat mendekatiku. Dia terlihat seperti seorang remaja muda dengan wajah polos yang mengikuti saudaranya, betul-betul tidak cocok dengan suasana kota yang suram.


Alex memberikanku pada anak muda itu. Ia menggendongku layaknya seperti seorang superhero. Kami pun pergi menjauh meninggalkan Alex yang hanya berdiri di sana.

__ADS_1


Tunggu! Kenapa kau tidak ikut?! Bahkan jika itu kau, kau tidak akan mampu mengalahkan monster itu sendirian.


Sayangnya, aku tidak dapat bicara. Kami pun tetap pergi dan meninggalkan Alex dari tempat itu.


__ADS_2