
Alex menyadari perubahan hati Merry yang tiba-tiba memburuk. Namun ia tidak tahu alasannya. Dia awalnya ingin mengajak Merry ke taman untuk bermain, tetapi melihat sikap gadisnya yang sepertinya tidak menyukai tempat ini maka Alex pun mencari tempat lain.
Lokasi yang tidak akan pernah ditolak oleh wanita terlepas dari usia, tidak kotor, dan tentunya aman. Apalagi kalau bukan butik?
Tentu saja sebagai bangsawan, Alex tidak mungkin pergi ke butik yang murahan. Apalagi kali ini dia ingin membeli baju untuk gadis kecilnya. Ini haruslah butik eksklusif dan berkelas.
Alex dan Justin belum pernah ke ibukota sehingga ia tidak tahu di mana lokasi butik yang ia cari. Untunglah mereka membawa Erline. Walau wanita ini cukup tomboy tetapi ia bukannya tidak pernah pergi berbelanja riang dengan teman-temannya ketika masa-masa di akademi dulu.
Dengan dituntun oleh Erline, kelompok itu bergerak meninggalkan taman. Alex berjalan sambil menggendong Merry. Dia tidak mau gadis kecilnya ini kelelahan berjalan sehingga tidak punya energi untuk mencoba baju-baju di butik. Walau Alex tidak bisa merasakan kelelahan tetapi tubuh biologisnya tetap mengeluarkan keringat.
Justin yang berjalan di sebelahnya hanya bisa menatap tuannya dengan prihatin. Bagi tuannya yang sangat pemalas dan tidak menyukai hal yang bau dan pengap, tuannya pasti akan mandi setelah semua ini.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai. Gedung butik ini memang terlihat cukup mewah. Terdiri dari dua lantai dan memiliki tiang-tiang kokoh dengan berlantaikan marmer putih.
Mereka masuk ke pintu dan disambut dengan lembut oleh seorang pelayan wanita. Alex menurunkan Merry dari tubuhnya tetapi ia masih menggenggam tangan kecil gadis itu.
Merry walau ia merasa kusut di hatinya, dia masih melihat baju-baju yang di butik. Beberapa baju yang terlihat indah dari yang lain berada di etalase. Selain itu terdapat sepatu dan tas beraneka model.
"Merry, cari pakaian yang kamu mau."
"Ayah?"
Merry awalnya bingung dengan perkataan ayahnya. Dia sekarang tidak memiliki kekurangan pakaian justru masih ada beberapa set baju yang tersimpan di lemarinya dan masih berlabel.
Namun ayahnya tidak memerdulikan kebingungan anaknya. Dia meminta Erline dan seorang pelayan wanita untuk membantu anaknya itu memilih pakaian. Walau mungkin pelayan itu berusahan mensugesti Merry untuk membeli baju yang mahal, Alex tidak peduli. Dia punya banyak uang saku.
Alex duduk di kursi sambil menyeduh teh hangat ke tenggorokannya. Dia bersama dengan Justin yang juga duduk di sebelahnya menunggu dengan sabar.
Selama waktu berlalu, jumlah pengunjung butik semakin banyak. Jelas kebanyakan dari mereka berasal dari kelas sosial atas. Apakah itu bangsawan, pendeta, ataupun pedagang tajir, semua tentu saja menginginkan pakaian terbaik.
Namun seperti yang diharapkan dari Alex. Seseorang yang sering mandi dan membersihkan tubuhnya jelas sangat menonjol bahkan di antara orang-orang cantik dan tampan sekalipun. Berkaki jenjang, kulit mulus dan putih, ekspresi yang terlihat kalem, dan bentuk tubuhnya yang ideal tentu saja menjadi daya tarik serta sumber rasa iri.
Walau banyak pria tampan di butik ini, tetapi tidak ada yang terlihat sepesolek Alex. Setidaknya salah satu penyebabnya adalah kulit mereka yang terlihat kusam, berminyak, atau kering.
"Halo."
Seorang wanita berambut purple yang ditemani oleh dua wanita lain menyapa Alex dengan berani.
"Halo."
Alex membalas menyapa tetapi ia tidak berniat melanjutkan pembicaraan dan kembali meminum tehnya.
Wanita itu merasa sedikit tersinggung. Biasanya banyak pria yang akan mencoba untuk berbicara dengannya. Dia tahu kalau dia itu cantik dan memiliki oppai di atas rata-rata jadi tidak mungkin tidak ada yang tidak menyukainya. Dia tidak mengharapkan pria yang ia ajak berbicara malah mencuekan dirinya seolah tidak tertarik.
Well ... sepertinya dia cukup sombong.
__ADS_1
Wanita ini tidak menyerah. Dia berniat untuk sedikit menggoda pria bermata merah ini.
"Apa kamu menunggu seseorang?"
"Iya."
"Apakah itu pacarmu?"
"Tidak ... aku menunggu anakku."
Eh ... anak? Dia sudah menikah?
Wanita ini semakin bersemangat mengetahui pria di depannya telah menikah. Mata yang penuh napsu menatap intens ke pria itu. Dia membayangkan bagaimana dia bisa merusak pria pendiam ini, bagaimana dia bisa mencuri hati pria ini dan menghancurkan rumah tangganya.
"Apa aku boleh bergabung?"
Pria itu hanya mengangguk. Wanita ini pun memanggil pelayan untuk membawa tiga kursi tambahan. Dia dan kedua temannya duduk semeja dengan pria ini. Walau di sebelah pria bermata merah ini terdapat pria tampan berambut silver, dia lebih tertarik dengan pria bermata merah yang memancarkan perasaan mendominasi.
"Apa kamu berasal dari ibukota?"
Pria bermata merah itu menggelengkan kepalanya.
Hoh? Apa mungkin dia anak seorang lord? pikir sang wanita.
"Apa kamu bangsawan?"
Wanita ini merasa napasnya semakin berat.
Tampan dan kaya. Hmm ... dia terlihat semakin menarik.
Wanita ini pura-pura membuat gerakan canggung karena dia tahu para bangsawan ingin dihormati.
"A-anu ... maaf, apa aku mengganggumu?"
"Tidak."
"Ah ... benar juga, aku belum memperkenalkan diriku. Kamu bisa memanggilku Lilac."
"Alex ...."
Wanita bernama Lilac tidak memerdulikan Justin ataupun kedua temannya ini. Dia hanya terfokus pada pria bernama Alex. Dia sangat menyukai pria yang sulit diraih karena semakin sulit didapat, semakin jinak pula pada akhirnya.
Lilac adalah orang yang paling semangat berbicara. Kedua temannya terkadang mengikuti pembicaraan tetapi pada akhirnya mereka akan diam.
"Ayah!"
__ADS_1
Dari jauh, Merry berlari ke arah Alex dengan semangat. Di belakangnya Erline dan pelayan toko sebelumnya membawa set pakaian di kedua tangan mereka.
Merry membeku sesaat setelah melihat tiga sosok asing di dekat ayahnya. Dia pun berhenti berlari kemudian berjalan sambil mengawasi ketiga wanita asing itu.
"Merry, kemari," panggil Alex.
Merry mendatangi Alex kemudian Alex mengelus kepala gadis itu.
"Dia anakmu? Cantik sekali."
Lilac tersenyum kepada Merry tetapi gadis kecil itu hanya melihatnya dengan tatapan kosong. Melihat respon Merry yang acuh tak acuh, Lilac hanya bisa tersenyum pahit.
"Merry bagaimana pakaiannya?" tanya Alex.
"Ayah, Merry mau ayah melihatnya."
Merry kembali bersemangat dan seolah melupakan orang-orang asing itu.
"Hoh? Begitukah, maka cobalah."
Alex tersenyum.
Hoh ... Male God! Dia bisa tersenyum?!
Lilac dan kedua temannya terpanah melihat senyuman cerah itu. Namun mereka kemudian memalingkan wajah, tidak ingin wajah tomat mereka terlihat oleh pihak lain.
Merry pergi ke ruang ganti. Sebelumnya dia memang sengaja tidak mencoba baju yang ia pilih karena dia ingin ayahnya melihatnya.
Merry muncul dari balik tirai berulang-ulang dengan memakai pakaian beraneka warna dan model.
Dia memakai gaun merah muda kembang dengan rumbai dan disertai fascinator menyerupai mawar pink di kepalanya. Gaun ini adalah gaun yang cocok digunakan untuk pesta. Selain itu terdapat tiga set gaun berwarna biru, hijau, dan putih. Masing-masing memiliki motif dan design tersendiri. Namun untuk terakhir adalah sebuah jubah yang sesuai dengan warna rambutnya dan pada kerudung jubah tersebut terdapat telinga kucing yang cukup imut.
Semua orang yang melihat tampilan imut berteriak histeris seolah mereka ingin menjubit atau pipi gadis kecil itu. Bahkan Justin cukup terpesona dengan keimutan anak tuannya kali ini. Namun wajah Alex tidak terlalu menunjukkan perubahan selain senyuman seperti biasa.
Alex mengangguk. Tidak ada yang buruk semua terlihat bagus dan menarik. Alex membeli semua set pakaian yang dipilih Merry. Semua berjumlah enam set. Setelah dibungkus dengan rapi, dia meminta Justin membawa semuanya.
"Nona Lilac, saya rasa ini saatnya kita berpisah."
Alex bangkit dari kursinya.
"Ah ... ya benar, sayang sekali. Aku harap kita bisa berjumpa lagi."
Alex hanya mengangguk pelan. Kemudian dia pergi sambil memegang tangan Merry. Kali ini mereka memutuskan untuk menyewa kereta kuda dengan tujuan kembali ke mansion.
Lilac terus nengawasi kepergian Alex. Dia bergumam pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ayah yang protektif.
Lilac membengkokkan ujung mulutnya ke atas. Dia mendapatkan calon mangsa yang sempurna.