
Sekelompok orang berjubah berkumpul di sebuah ruangan gelap. Mereka terlihat layaknya seperti penyihir pada umumnya. Namun ada beberapa orang yang tidak memenuhi kriteria itu. Orang-orang tersebut hanya beberapa dan alih-alih menggunakan jubah penyihir yang pengap, mereka memakai pakaian yang lebih santai atau mengenakan armor yang menunjukkan bahwa terdapat warrior di kelompok ini.
Seorang pria tua berjubah hitam, salah satu gigi depannya berwarna kuning, dan mata kirinya yang putih menunjukkan kebutaan. Pria itu memiliki kulit pucat dengan beberapa helain rambut putih yang tersisa di kepalanya.
Pria tua itu terlihat sangat marah dan meneriaki semua orang yang ada di ruangan.
"Bagaimana kalian menjaga tempat ini?! Kenapa seorang anak bisa melarikan diri!"
Pria tua itu tidak bisa tidak lebih marah lagi. Dia kehilangan hasil eksperimennya yang berharga.
"Bukan beta atau gamma, kita kehilangan seorang alpha! Kau tahu, alpha! Apa kalian ingin membunuhku?!"
Hasil eksperimennya memiliki beberapa kelompok berdasarkan tingkat kesuksesannya dengan alpha adalah hasil yang dianggap sempurna dan zeta yang dianggap sebagai hasil eksperimen gagal.
Pria tua ini menggertakan giginya. Di laboratorium ini hanya ada satu alpha yang berhasil hidup. Alpha itu memiliki codename A-25 yang berarti spesimen no-25 dari 100 yang berpotensi sebagai alpha.
"Sialan!"
Pria tua itu memancarkan gelombang mana-nya. Itu membuat semua orang di ruangan ini langsung menggigil ketakutan. Bahkan orang-orang yang terlihat sebagai warrior kehilangan ketenangan mereka.
Para petinggi tahu bahwa orang tua ini tidak hanya seorang alchemist yang bersarang di dalam lab doank tetapi ia memiliki class sebagai seorang wizard yang mampu menggunakan sihir hingga tingkat 5.
Jika pria tua itu betul-betul murka, maka tidak ada orang di sini yang mampu menghentikannya.
"Tuan! Kami berhasil menemukannya! Dia di sana!"
Seorang pria tua lain yang memakai jubah merah darah berteriak kepada pria tua sebelumnya. Pria tua berjubah merah itu memiliki tato di sekujur tubuhnya. Alih-alih sebagai hiasan, tato-tato ini terlihat sebagai bagian dari suatu kepercayaan supranatural.
Pria tua itu berlari ke tempat pria tua berjubah hitam berada. Ia membawa sebuah bola kristal putih kemudian meletakannya di meja.
Pria tua berjubah hitam bertanya dengan sangat antusias.
"Dimana?! Apa yang terjadi padanya?!"
"Tuan, ini dia. Dia saat ini berada di rumah yang sepertinya dimiliki oleh bangsawan. Mungkin orang-orang ini menyelamatkannya."
__ADS_1
Pria tua berjubah merah itu menunjuk ke arah bola kristal yang menampilkan gambar visual seorang anak berambut hitam yang ditemani anak gadis berpakaian mewah. Sayangnya gambaran visual itu sanga bersemut sehingga sulit di ketahui dengan jelas. Namun pria tua ini sangat yakin.
Pria tua berjubah merah adalah satu-satunya oracle di kelompok ini. Dia telah menggunakan beberapa helaian rambut dan darah dari A-25 untuk mencari keberadaan hasil eksperimen yang kabur. Dia bisa dibilang beruntung bahwa keberadaan A-25 masih berada di bawah area deteksinya selain itu tempat A-25 berada saat ini tidak memiliki pelindung sihir.
"Siapa bangsawan di tempat ini? Ah ... bukankah itu count Fertiphile?" ucap pria tua berjubah hitam.
"Iya, Tuan. House of Fertiphile adalah keluarga swordmaster ortodoks. Dalam sejarahnya, mereka tidak pernah melahirkan generasi penyihir atau pengguna mana jadi itu sebabnya kediaman mereka sama sekali tidak memiliki barrier yang menghalangi sihir pengamatan dan sejenisnya. Kita sangat beruntung," jawab pria tua berjubah merah.
Pria tua berjubah hitam setuju dengan pernyataan itu. Jika A-25 diselamatkan oleh bangsawan dengan latar belakang penyihir, kemungkinan besar kediaman mereka akan memiliki barrier yang menghalangi semua sihir pengamatan. Jika itu terjadi, maka kesempatan untuk menemukan A-25 sudah dipastikan tidak mungkin.
Namun masalahnya sekarang adalah bagaimana mengambil A-25 di kediaman seorang swordmaster? Sudah dipastikan itu sangat sulit terutama jika itu adalah seorang swordmaster sekelas orang-orang Fertiphile.
"Simon!"
Pria tua itu berteriak.
"Iya, Pak!"
Seorang pria dengan rambut, kumis, dan jenggot pirang muncul di tengah kerumunan. Dia memakai armor dan sebuah pedang yang selalu siap sedia di sisinya. Pria yang disebut Simon adalah kepala penjaga lab. dan swordman terkuat di sini.
"Baik, Pak!"
Setelah Simon memberi salam, dia pun bergegas pergi dari ruangan pertemuan dan segera memanggil semua bawahan terbaiknya.
***
Halaman House of Fertiphile sangatlah asri. Banyak jenis bunga dan bebuahan yang dirawat di sini. Mereka semua tumbuh sehat dan cantik. Walau Keluarga Fertiphile adalah keluarga warrior, bukan berarti mereka tidak memiliki cita rasa terhadap seuatu yang indah.
Alpha berdiri dengan tenang di dekat sebuah pohon apel yang berbuah. Sudah lima hari berlalu setelah ia bangun. Selama waktu itu, ia mendapat semua hal yang tidak pernah ia gapai. Sulit dipercaya kini ia berasa mendapat kehidupan baru.
"Kak Al, apa Kakak betul bisa mengambilnya?"
Gadis cantik yang berusia setahun lebih muda darinya bertanya dengan khawatir. Gadis ini bernama Merry. Ia sering menemaninya untuk bermain atau makan bersama.
Alpha menganggap Merry adalah gadis yang sangat baik dan penuh perhatian. Namun terkadang ia sering melakukan hal yang memalukan dan penuh kelakar.
__ADS_1
"Iya, tentu saja Tuan Putri. Jangan khawatir."
Alpha memberikan senyuman kepada Merry. Ia kemudian memeluk batang pohon apel lalu memanjatnya.
Merry yang berada di bawah terus menatap sosok yang memanjat pohon. Ia sempat berpikir bahwa Alpha memiliki beberapa kemiripan dengan ayahnya terutama warna rambutnya. Namun tentu saja Alpha tidak bisa disamakan dengan ayahnya.
Alpha sudah berada di dahan, dia dengan pelan terus bergerak kemudian menjulurkan tangannya untuk mengambil sebuah apel merah yang besar.
Alpha memetik satu apel, kemudian memetik apel lain. Sayangnya ia tidak membawa keranjang sehingga ia hanya bisa membawa maksimal dua apel ketika turun. Ia memberikan apel terbesar dan termatang kepada Merry.
"Terimakasih, Kak."
Merry mengambil apel merah menyala itu dengan gembira. Senyuman manis anak itu membuat Alpha terkejut.
"Tidak masalah, Tuan Putri."
Ini bukan pertama kalinya dia mendapat ucapan terimakasih. Walau Alpha tidak pertama melakukan interaksi dengan masyarakat, dia setidaknya pernah memiliki beberapa teman yang merupakan spesimen percobaan seperti dirinya. Mereka adalah teman-teman seperjuangan tetapi sayangnya semua orang kecuali dia telah tewas dalam eksperimen.
Alpha memakan apel yang ada di tangannya. Rasa manis langsung memenuhi mulutnya. Apel merah berair ini sangat segar dan ia sangat menyukainya.
Alpha sangat berterimakasih kepada Merry yang merupakan orang yang menyelamatkannya. Walaupun ia tidak mengingatnya, berdasarkan cerita dari Alex, dia menyadari bahwa adik ini adalah seorang yang berhati lembut dan penuh dengan kasih sayang.
Alpha sebenarnya iri dengan Merry. Usia mereka hanya berjarak setahun tetapi kehidupan yang mereka alami sangat berbeda. Dalam diri Alpha, dia sangat ingin mendapat perasaan hangat dari sesuatu yang disebut keluarga. Dia tidak ingat ayah atau ibunya, ini semua karena obat-obatan yang diberikan oleh para penyihir itu yang menyebabkan Alpha kehilangan ingatannya.
Memang menggunakan anak-anak sebagai objek eksperimen jauh lebih baik daripada menggunakan orang dewasa. Itu karena anak-anak tidak memiliki kekuatan untuk melawan ditambah mereka masih berada pada golden age sehingga mudah bagi mereka untuk mencuci otak para objek percobaan.
Alpha yang hanya mengingat masa-masa kelam ketika menjadi kelinci percobaan hanya bisa sedih. Setidaknya dia masih bisa selamat dan tetap hidup sampai sekarang. Namun setelah ini apa yang harus dia lakukan? Dia tidak punya keluarga dan tidak memiliki arah atau tujuan. Jika orang-orang ini akhirnya mengusirnya, ia tidak tahu harus pergi kemana.
"Kakak Al?"
Suara Merry kembali menyadarkan Alpha. Dia sudah terlalu lama tersesat dalam pikirannya.
"Kak Al, apa kakak mau menemaniku bermain?"
Alpha memberikan senyuman kepada Merry. Tidak perlu untuk mengkhawatirkan hari esok, cukup nikmati hari ini dengan baik.
__ADS_1
"Tentu Tuan Putri."