THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
HIS DAUGHTER(1)


__ADS_3

Seorang gadis terlelap dalam tidurnya, ia dengan wajah damainya tidak memerdulikan mentari yang telah bersinar terang menembus kaca jendela kamarnya.


Tok tok tok ....


Kesadaran gadis itu perlahan pulih setelah mendengar ketukan pintu kamarnya. Ia mengumpulkan semua energinya dan merentangkan seluruh anggota tubuhnya. Sudah lama dia tidak tidur selelap ini.


"Nona Muda Merry, tolong bangun. Tuan Alex telah menunggu kedatangan Anda."


Merry? Siapa Merry?


Gadis itu terpanah sesaat dengan nama asing yang dipanggil oleh seseorang dari balik pintu.


Ah ... benar, itu namaku.


Gadis itu teringat ketika tuannya memberinya nama. Itu terasa seperti mimpi. Mimpi yang tidak terlihat buruk.


Ini nama dari tuan-tidak, sekarang dia ayahku?


Merry tidak pernah mengharapkan mendapatkan ayah angkat sebelumnya terutama ayahnya itu adalah tuannya.


Kebingungan Merry tersisihkan akibat ketukan sabar dari pintu. Ia bergegas turun dari kasurnya. Kamarnya kali ini berbeda dengan kamar berdebu dan kecil sebelumnya. Setelah tuannya mengatakan statusnya sebagai anak angkat, Merry mendapat kamar baru yang berada di lantai dua mansion. Kamar Alex juga berada di lantai dua dan jarak kedua kamar tidak terlalu jauh. Kamarnya memiliki lebih banyak dekorasi dari kamar sebelumnya, ranjangnya memiliki kanopi berwarna emas dan lampu sihir yang digunakan untuk sumber cahaya pada malam hari bergelantung di langit-langit. Serta terdapat juga tanaman hias, lukisan, dan beberapa lampu sihir hias berwarna-warni di mejanya. Walau para pelayan menyusun kamar ini dengan  buru-buru tetapi semuanya cukup rapi dan indah.


Merry membuka pintu dan dia melihat orang yang telah lama mengetuk dengan sabar berdiri di depannya dengan memberi senyum ramah. Dia adalah seorang pria dengan rambut perak dan orang terpercaya Alex, yaitu Justin.


"Nona Muda Merry, Tuan Alex telah menunggu Anda. Mari ikut saya, Nona."


Merry tidak terbiasa dipanggil dengan panggilan kehormatan dan ia juga jarang berinteraksi dengan orang asing sehingga ia menundukkan kepalanya dan mengikuti Justin dari belakang.


Justin berjalan pelan untuk mencegah Merry ketinggalan. Setelah sampai di depan pintu kamar Alex, dia mengetuknya dan meminta izin untuk masuk.


"Silahkan masuk Nona Muda Merry," ucap Justin sambil  membuka pintu.


Merry masuk dengan malu-malu. Perlahan ia mengangkat pandangannya dan ia melihat seorang pria tampan duduk sambil membaca sebuah buku. Pria itu megetahui kedatangan Merry dan ia menatapnya sambil memberi senyum.


"Merry, apa kamu tidur nyenyak?"


Merry mengangguk dan menjawab.


"Iya, A-ayah."


Semenjak Alex menetapkan Merry sebagai anak adopsinya, ia meminta Merry untuk memanggilnya ayah. Namun Merry masih ragu dan tidak terbiasa memanggil orang di depannya sebagai ayah.


Merry telah sadar bahwa Alex adalah tuan yang baik tidak seperti mantan tuannya sebelumnya. Namun ketika Alex menjadi ayahnya, itu menjadi hal yang berbeda. Dia tidak pernah memiliki ayah sebelumnya sehingga ia tidak tahu perbandingan dan bagaimana ia harus memperlakukan ayah barunya ini.

__ADS_1


Tentu saja Alex memaklumi itu. Baru dua hari gadis ini di sini tidak mungkin dia bisa langsung beradaptasi dan memanggil Alex sebagai ayahnya dengan singkat.


Alex berdiri dan meletakkan bukunya di meja. Ia berjalan ke Merry dan mengacak-acak rambut anak itu.


"Kamu tahu, ini pagi yang indah. Apa kamu mau sarapan dengan ayah?"


Gadis itu masih malu-malu  dan hanya menganggukkan kepalanya.


"Bagus tetapi kita harus mandi dulu oke?"


"Mandi?"


Merry mengingat semua adegan kegiatan yang disebut sebagai mandi. Itu pertama kalinya ia melakukannya. Bagi Merry, ia hanya tahu air digunakan untuk minum dan membersihakan alat makan serta baju.


"Iya benar. Kamu tahu, kita harus sering mandi jika tidak, kita akan mudah sakit."


Tanpa menunggu respon Merry, Alex memegang tangan gadis itu dan menariknya.


"Ayo."


Merry hanya mengikuti ayahnya ke sebuah ruangan kecil yang masih berada di dalam kamar ini. Ruang kamar para tuan dan nyonya memiliki kamar mandi dalam yang disebut Garderobe. Namun hanya garderobe milik Alex yang aktif digunakan sebagai tempat mandi dan toilet karena ia mandi setiap hari. Adapun garderobe para tuan dan nyonya lainnya di rumah ini hanya berguna sebagai toilet pribadi saja. Kamar Merry juga memiliki garderobe tetapi belum ada persiapan mandi yang disusun di sana.


Alex punya kebiasaan untuk tidak membiarkan para pelayan membantunya mandi. Jadi setelah pelayan selesai mempersiapkan semuanya, mereka akan bergegas keluar.


Alex menutup pintu kamar mandi dan membuka baju Merry. Gadis itu tidak seimprovisasi sebelumnya. Ia berdiri tenang membiarkan bajunya ditanggalkan. Alex juga melepas bajunya tetapi ia masih mengenakan celana pendek untuk mencegahnya telanjang bulat.


Otot-otot tubuhnya tidak terlalu mengembang, tetapi karena dia saat ini berada pada usia produktif dan nutrsinya terpenuhi ditambah dengan pelatihan militer yang ia terima di barak, Alex memiliki tubuh yang tergolong ideal. Dadanya sudah mulai memperlihatkan bidang dan susunan otot perutnya terbentuk dengan rapi.


Adapun Merry memiliki tubuh yang terlihat lebih kurus dari anak seusianya. Itu karena makanan yang ia konsumsi selama menjadi budak tidak memiliki gizi yang baik. Selain itu, di beberapa area kulitnya masih terdapat bekas lecet dan luka.


Alex mengecek suhu air hangat itu. Setelah dianggap pas, dia masuk terlebih dahulu dan baru membawa Merry ke dalam bak. Mereka berdua berendam. Merry berada di pangkuan Alex, tentu saja ia menggenggam pinggang anak itu agar dia tidak tenggelam.


Setelah selesai mandi, dia mengeringkan dirinya dan Merry dengan handuk. Kemudian Alex mengenakan jubah mandinya. Adapun Merry hanya ditutupi handuk. Di luar, para pelayan telah siap memasangkan baju untuk keduanya.


Keduanya pun mengenakan pakaian baru tentu saja Justin juga telah lebih dahulu mandi. Jika tidak, Alex pasti tidak akan pernah mengizinkannya mendekat.


Alex dan Merry sarapan di kamar. Pada hari sebelumnya, Alex sudah mengatakan tentang masalah adopsi kepada Harol dan Clara. Tentu saja Harol meledak penuh amarah dan nyaris mengusir Alex dari rumah jika tidak dihentikan oleh Clara. Jadi lebih baik bagi Alex untuk tidak sarapan di ruang makan sementara waktu. Selain itu, jika Alex mengajak Merry sarapan di ruang makan keluarga, kemungkinan cercaan dari Liana dan dua saudaranya pasti akan keluar. Itu pasti akan menekan mental Merry.


Sarapan mereka ini tidak telalu banyak, hanya omlet dan potongan daging.


"Apa makanannya enak?"


"I-iya."

__ADS_1


Merry masih malu-malu tetapi ia kini sudah mulai berani menatap Alex.


"Benar, jangan malu. Aku ini ayahmu, kamu tidak perlu takut, oke?"


"Iya A-ayah."


Merry masih tidak terbiasa menyebut kata ayah tetapi kali ini dia memberi senyum senang kepada Alex.


Alex juga tersenyum kepadanya dan mengacak-acak rambutnya.


Kedua sarapan dengan riang. Walau hanya sehari bertemu tetapi ikatan perasaan antara keduanya sudah tumbuh secara eksponensial. Setelah keduanya sarapan, Alex menggendong Merry dan membawanya mengelilingi taman. Merry walau agak ragu, ia melingkari leher Alex dengan kedua tangan kecilnya dan keduanya melihat pemandangan taman.


Pada pagi hari, seluruh bunga dengan segala warna telah bermekaran. Selain itu kupu-kupu menari dengan riangnya ditambah burung-burung berkicau dengan semangat.


Kini angan-angan kecil Merry untuk menjadi puteri telah terwujud. Tidak ada lagi baju kumuh, tidak ada lagi kelaparan, tidak ada lagi tidur di kandang kuda. Merry telah mendapat hidup barunya, dirinya sebagai budak telah mati, kini ia adalah seorang puteri! Anak dari seorang bangsawan agung yang tampan dan baik hati.


Kebagiaan Merry ketika ia bisa hidup dengan layak kini meluap.


"Hiks ... hiks ... hiks ...."


Merry tidak bisa menahan tangisannya.


"Merry ada apa?"


Alex terkejut dengan tangisan tiba-tiba Merry.


"Apa kamu sakit? Apa kamu baik-baik saja? Dimana yang sakit?" tanya Alex.


"Hiks ... hiks ... Ayah ... hiks."


Merry yang masih melingkari leher Alex dengan kedua tanganya tiba-tiba ia memperkuat pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di atas dada Alex. Air mata kebahagian terus jatuh dan membasahi pakaian Alex.


Alex mengelus-elus punggung putrinya dengan pelan dan hati-hati. Gaun puterinya sangat halus dan Alex takut akan membuat pakaian putrinya kusut.


"Jangan takut oke? Ayahmu ada di sini. Ayah akan selalu melindungimu."


"Hiks ... ayah hiks ayah hiks ..."


Merry terus mengucap kata ayah berulang-ulang. Ia tidak ingin lagi merasa canggung ketika memanggil kata ayah. Ia ingin berubah. Ia ingin menjadi lebih baik karena kini ia mempunyai ayah. Dimanapun, kapanpun, Alex akan menjadi ayahnya.


Ayah, terimakasih  ....


 

__ADS_1


 


__ADS_2