
Sementara itu di mansion, Alex dan Merry sedang menjalani hidup mereka yang damai.
Tidak hanya Merry sebenarnya yang pergi dari pedesaan kembali ke mansion, tetapi juga Justin dan Erline.
Sementara untuk di pedesaan itu hanya menyisakan Francess, Rain, dan Alven. Francess sendiri sedang menjadi seorang intern di kebun Alex, ada pun Rain dan Alven sedang sibuk berlatih.
Terutama Alven. Semua buku tentang sihir yang dikumpulkan Alex berada di villa jadi akan sangat merepotkan jika harus memindahkan buku-buku itu di mansion.
"Ayah ... suap."
Merry yang sudah lama tidak bertemu dengan Alex, pada akhirnya melampiaskan kerinduannya dengan terus bermanja.
Dia saat ini sedang duduk di pangkuan Alex dan dengan nyamannya disuapin oleh ayahnya.
Sebuah cake dengan balutan coklat lengket adalah makan yang sedang mereka nikmati.
Yup, keduanya sama-sama menyukai makanan manis, jadi tidak salah jiak ada yang mengatakan bahwa mereka adalah ayah dan anak kandung.
"Ayah, apa Merry nanti harus sekolah?"
"Hmm ... siapa yang mengatakan itu?"
Merry sedikit malu mengatakannya.
"Merry tidak sengaja mendengar ayah dan nenek berbicara tentang Merry."
Alex teringat bahwa ketika Clara sedang berkunjung di villa-nya, Clara sempat menyinggung tentang pendidikan Merry kedepannya.
Alex sebagai archdeus yang tidak hanya memegang kuasa atas neraka dengan gelarnya sebagai God of Unlife, ia juga memegang hak mutlak sebagai penguasa alam hampa dengan gelarnya sebagai dimensioner. Dimensioner tidak hanya bertanggung jawab dengan barrier yang memisahkan setiap dunia tetapi ia menjadi sumber pengetahuan. Semua dewa yang menyatakan diri mereka sebagai dewa pengetahuan mestilah bersujud kehadirat Sheol (Alex) untuk mendapat rahmatnya.
Jadi secara pribadi Alex sangat mendukung Merry untuk mengenyam bangku pendidikan. Apalagi dirinya yang telah menjadi bangsawan, Merry tidak hanya boleh mengandalkan latar belakang Alex seorang. Bagaimanapun tujuan Alex untuk mengadopsi Merry adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya sehingga apabila Alex ingin untung, dia harus meningkatkan kualitas produknya atau dengan kata lain membuat Merry memiliki nilai lebih agar dapat menjadi produk investasi yang menjanjikan.
"Iya benar, Merry harus masuk sekolah."
Sekolah pada dunia Midgard khususnya di Kerajaan Artchania tidak memiliki aturan administratif yang ketat. Pertama, sekolah ini memiliki batas umur yang fleksibel artinya selama seorang anak sudah bisa berjalan dan berbicara, dia mendaftar ke sekolah tanpa takut batas umur terlepas apakah dia sudah dewasa atau tidak. Kedua tidak ada jenjang pendidikan yang kompleks, jadi setelah seorang anak melewati pendidikan tingkat sekolah yang dimana dikategorikan tingkat pendidikan dasar, dia dapat langsung mencoba mendaftar di jenjang perguruan tinggi atau setingkat universitas.
Merry yang mendengar perkataan Alex kehilangan semangatnya. Alex menyadari itu kemudian bertanya.
"Ada apa nak?"
Merry menggenggam lengan alex yang besar dan hangat.
"Ayah, bisakah Merry tidak masuk sekolah?"
"Mengapa?"
Alex tidak marah, tetapi dia ingin tahu mengapa anaknya tidak mau sekolah.
Merry sebenarnya ingin menjawab dia malas tapi entah mengapa jika dia mengatakan itu, dia akan merasa terlalu kasar pada ayahnya.
"Merry masih ingin bermain dengan Ayah dan Kak Al."
"Kamu masih bisa bermain dengan ayah dan Kak Al. Kak Al juga nanti akan bersekolah bersama Merry."
Jika dibandingkan dengan Merry, Alex sebenarnya jauh lebih menyayangi Alven. Itu karena Alven memiliki potensi yang sangat besar sebagai seorang penyihir, sementara Merry ketika pertama kali Alex mengadopsinya, itu tidak lebih dari sifat impulsif belaka. Walau seiring dengan waktu Alex tetap menghargai Merry sebagai alat investasi, tetapi jika dibandingkan Alven, maka Alex tetap akan memilih Alven. Walaupun pada beberapa bulan terakhir gadisnya ini telah mendapatkan percobaan untuk menjadi seorang vampire, tetapi sampai sekarang kecuali keinginan gadisnya yang ingin meminum darah, gadis kecilnya tidak memiliki kekuatan vampire apa pun.
Alex juga bingung. Dia tidak menemukan vampire dewasa yang mampu menjadi guru Merry. Dan Alex juga terlalu sibuk, walaupun dia tahu anatomi dan psikologi vampire karena Alex sendirilah yang menciptakan makhluk yang bernama vampire, tetapi posisinya sebagai manusia saat ini tidak mendukungnya melakukan pendidikan empiris sebagai seorang vampire.
Sementara kedua orang itu sedang asik berbagi cinta keluarga, Clara yang duduk tak jauh dari mereka hanya dapat menggigit sendoknya dengan iri.
Alex-ku ... ibu juga mau ....
Clara melihat Alex mencium pipi Merry dengan penuh cinta seorang ayah.
__ADS_1
Clara semakin menangis dalam hati. Dia sudah lama tidak pernah mendapat ciuman anaknya.
Eh sebentar, apa aku pernah dicium Alex sebelumnya?
Clara mengingat masa ketika Alex masih batita dan seterusnya.
Astaga!! Dia tidak pernah menciumku!
Ingatan Clara tidak salah. Alex tidak pernah mencium ibunya. Justru selama ini hanya Clara lah yang secara sepihak mencium dan mencubit pipi Alex.
Clara dapat merasakan seolah-olah awan mendung sedang berada di atas kepalanya. Dia sedang dihujani oleh hujan kecemburuan.
Clotildy yang sedang duduk di samping Clara hanya tersenyum canggung.
Dia dapat merasakan kecemburuan Clara hanya dengan berada di dekatnya.
Setelah Clara dan bawahannya bertemu dengan Alex, mereka pun diundang untuk menginap di mansion. Clara tidak bisa menolak permintaan itu, jadi dia dan bawahannya check out dari penginapan lalu menginap di mansion hingga saat ini.
Clotildy yang tidak mau terikut dalam arus emosi Clara pun mencoba tidak memperdulikannya.
Dia menatap Alex dan Merry yang saling suap-menyuapi.
Clotildy tidak pernah menyangka, seorang pria yang sangat serius ketika dia bekerja dapat selembut ini dengan anak gadisnya.
Clotildy tiba-tiba teringat sesuatu.
Jika Alex sudah memiliki anak, bukankah artinya Alex sudah menikah? Tidak hanya itu, anaknya juga kelihatan sudah cukup besar yang berarti pernikahannya sudah cukup lama.
Sesaat muncul gelombang emosi dari hati Clotildy.
Entah mengapa dia merasa kecewa dan sedih ketika memikirkan Alex yang tidak melajang.
Suara ketukan pintu membuat Clotildy mengalihkan fokus pikirannya.
Dia melihat Alen membungkuk hormat kepada mereka.
"Begitukah? Dimana dia?"
"Tuan Muda Tertua Morhust sedang menunggu Anda di ruang tamu, Tuanku."
Alex menurunkan Merry dari pangkuannya. Kemudian dia pergi bersiap untuk menemui Regis.
Merry sedikit tidak nyaman ketika harus keluar dari pangkuan ayahnya. Namun dia tidak berani mengatakan apa pun.
Ketika Alex pergi untuk menemui Regis, dia dikejutkan oleh teriakan kesal orang itu.
"Alex apa yang kau pikirkan! Kau belum pernah pergi perang, dan sekarang, kau akan ke pergi pertempuran dengan penampilanmu saat ini ...."
Regis tiba-tiba terdiam ketika melihat Alex.
"Kamu ... kamu Alex?"
Alex tidak menjawab.
Regis pun mendekati Alex dan mengamati orang ini.
"Hmm ... mengapa kau kehilangan kulit putihmu?"
Regis memegangi kedua tangan Alex.
"Hmm ... banyak kapalan dan cukup kasar."
Dia lalu memegang lengan atas Alex, mencoba memegang otot lengannya.
__ADS_1
"Sangat keras."
Dia lalu membandingkan tingginya dan Alex.
"Apa ini?! Sejak kapan kau setengah kepala lebih tinggi dariku?!"
Alex yang hanya dijadikan objek observasi memberikan tatapan acuh tak acuh.
"Alex ... sejak kapan kamu ... berubah?"
"Mengapa? Aku tidak boleh menjadi seorang warrior?"
"Tidak ... tidak, bukan itu. Tapi ... bukannya kamu malas?"
"Aku tidak malas lagi."
"Hah? Sungguh?"
Alex hanya mengangguk.
"Jadi ... kamu akan pergi ke tempat fief war."
Alex tidak menjawab. Dia justru menanyakan satu hal kepada Regis.
"Berapa banyak orang yang kau bawa?"
"Maaf?"
Regis tidak mengerti pertanyaan Alex.
"Aku bertanya, berapa banyak prajurit yang kamu bawa untuk membantu fief war Nona Otilia?"
"Hah? Alex, aku tidak membawa satupun. Kau tidak memintaku untuk bergabung."
"Aku sudah mengirimimu surat."
"...."
Kau hanya menuliskan kau ikut perang! Itu saja!
"Hah ... sial, bahkan temanku masih belum mengerti alur pikiranku."
Seolah sambaran petir meledak di telinga Regis ketika mendengar kata itu.
"Apa ... bisa kau ulangi lagi? Teman? Kita temankan?!"
Ini untuk pertama kalinya Alex mengkonfirmasi hubungan pertemanan mereka.
"Alex temanku! Sudah kuduga, hatimu tidak selumpuh wajahmu!"
Regis ingin memeluk Alex. Namun Alex menahannya.
"Kamu belum pernah mandi kan? Jangan peluk aku. Kau itu bau dan berkutu."
Perkataan itu seolah menjadi tamparan tidak hanya bagi Regis tetapi orang sekitar yang mendengarkan.
Sebagaimana tingkat kesadaran sanitasi yang rendah, tingkat kebersihan pribadi yang disebabkan oleh pandangan masyarakat yang rendah terhadap kewajiban mandi setiap hari menyebabkan mereka tidak terlalu ingin melakukan kegiatan mandi. Selain karena berdasarkan pandangan kesehatan, itu juga disebabkan oleh pandangan teologis yang terlalu dipolitisasi oleh para pendeta yang menganggap mandi adalah hal yang tabu.
Jadi tidak hanya Regis, orang-orang seperti Clotildy, Clara, dan Alen yang ikut mendengar perkataan Alex hanya terdiam sambil menundukkan kepala mereka karena malu.
"Regis, kamu tidak membawa seorang pun. Jadi bagaimana kamu bisa membantu kami?"
Regis yang kehilangan semangatnya akibat perkataan Regis sebelumnya kini memikirkan pertanyaan itu.
__ADS_1
Regis tiba-tiba mendapat sebuah ide.
"Bagaimana jika menyewa petualang?"