THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
NEW HOPE(3)


__ADS_3

PERHATIAN!


Pada chapter ini mengandung r kekerasan, vulgaritas bahasa, dan unsur-unsur R-18 yang dapat mengganggu para pembaca. Diharapkan untuk melewati chapter ini apabila merasa tidak nyaman membaca konten pada chapter ini.


Dibalik pintu yang tertutup rapat itu, terdapat sepasang pria dan wanita yang terlihat berbaring di kasur. Mata mereka masih terbuka dan keduanya dalam diam hanya menatap langit-langit kamar.


Kedua orang itu sama-sama memiliki rambut pirang, kulit putih pucat, dan wajah sedap dipandang. Mungkin pada pandangan pertama, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sempurna.


Namun pada kenyataannya mereka tidaklah demikian.


Lebih tepatnya itu tidak akan terjadi.


Wanita yang awalnya merebahkan diri terlentang kini berbaring menyamping menatap pria yang terlentang di depannya.


"Aku ingin memainkan sesuatu yang baru," ucap wanita itu dengan serius.


"Hmm ... ya lakukan saja, Sayang," balas pria itu yang juga langsung menatap wanita.


"Jangan panggil aku sayang."


Pria itu tertawa kecil mendengar suara ketus wanita itu.


"Baiklah, Ryana, lakukan apa pun yang kamu mau. Tubuhku sepenuhnya adalah milikmu."


Wanita itu adalah Ryana dan pria yang bersamanya adalah Bryan. Keduanya saat ini berada di semua kamar yang hanya diterangi oleh cahaya lentera.


Tak lama, Bryan dapat mencium sesuatu yang enak dan membuat nafsu seksualnya meningkat tajam. Ia tahu aroma ini berasal dari wanita yang ada bersamanya saat ini. Sayangnya ia tidak tahu aroma apa itu tetapi yang jelas, jika aroma ini telah muncul, Bryan kini tak lebih akan menjadi seperti seekor anjing jantang yang kebelet kawin.


Ryana mengangkat tubuh bagian atasnya. Ia dengan kasar menarik kerah Bryan sehingga membuat pria itu bangun.


Dengan tangan lain, Ryana memaksa mulut pria itu terbuka. Ia secara mendominasi melakukan french kiss.


Itu lah awal bagi keduanya untuk melakukan foreplay panas.


Pakaian mereka telah berserakan di lantai. Keduanya kini tidak lagi terpisah oleh seutas benang pun di tubuh. Mereka telah melakukan foreplay panas dan liar.


Merasa tidak puas,  Ryana bangkit dari kasur. Ia berjalan ke arah sebuah lemari kayu berukuran besar.


Bryan dengan santai melihat wanita itu membuka lemari kayu itu.


Melalui cahaya lentera yang tidak terlalu terang, Bryan dapat melihat isi dari lemari itu.

__ADS_1


Lemari itu berisi mainan-mainan dan benda-benda sebenarnya dapat membuat orang yang pertama kali melihatnya terkejut. Terdapat cambuk, tali, hingga beberapa 'mainan' yang digunakan untuk kegiatan dewasa.


Ryana mengambil cambuk, tali, dan sebuah kain hitam dari lemari itu. Ia lalu berjalan kembali ke kasur.


Tanpa banyak bicara, Bryan tahu apa yang harus dia lakukan ketika Ryana memberikan kain hitam kepadanya.


Ia mengikat kain itu ke wajahnya sehingga ia kini tidak lagi dapat melihat apa pun. Kemudian dengan menggunakan tali yang ia bawa, Ryana mengikat lengan Bryan ke belakang.


Bryan kini terlentang dengan tubuhnya yang terikat dan wajahnya yang ditutupi kain. Ia menarik napas panjang seolah bersiap untuk sesuatu.


Setelah semua persiapan selesai, suara cambuk yang mengenai kulit dapat terdengar.


"Argh!"


Beberapa detik kemudian, bekas merah dan noda darah akibat cambukan dapat terlihat di kulit Bryan yang putih.


Bryan adalah seorang pengguna mana. Sebagai seorang calon priest, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan daripada tempat pelatihan Itu sebabnya tubuhnya kurus dan terlihat lemah layaknya seorang sarjanawan pada umumnya.


Kini dengan tubuh lemah itu, ia harus menanggung rasa sakit akibat cambukan yang dilakukan oleh seorang wanita kepadanya.


Ini adalah sebuah permainan SM yang sebenarnya merupakan tema yang memiliki resiko tinggi dalam kegiatan seksual. Bisa saja kesalahan kecil dapat berakibat fatal. Namun kedua orang ini yang masihlah anak muda berumur 20-an tidak mengerti dan tidak mau tahu mengenai itu semua. Keduanya hanya menuruti nafsu yang ada di kepala mereka.


Setelah puas melihat Bryan yang sengsara akibat cambukannya, Ryana membuang cambuknya lalu ia naik ke atas kasur.


Ia menggunakan kedua lututnya untuk mendarat di atas perut lemah pria itu.


Rasa sakit yang luar biasa segera muncul di perut Bryan, seolah isi perutnya dipaksa keluar oleh benturan tadi.


"Argh! T-tunggu ... ini berlebihan!"


Kedua orang ini pernah melakukan permainan SM sebelumnya tetapi ini pertama kalinya Bryan merasa permainan kali ini terlalu jauh dan menyakitkan.


Ryana tidak mendengar keluhan pria itu. Dia duduk di atas perut pria itu dengan kedua kakinya mengunci pinggul pria itu.


Ryana tanpa pandang bulu menjambak rambut Bryan sehingga pria itu berteriak. Namun di menit berikutnya, teriakan Bryan terendam akibat invasi ciuman basah dari wanita itu.


Ryana melepas ciumannya lalu berbisik kepada Bryan.


"Sebaiknya kamu pelankan suaramu jika tidak ingin ada yang mendengarkan," ucap Ryana dengan senyum sadis.


Kini dari balik pintu kayu yang terkunci itu, jika seseorang meletakkan telinganya di pintu itu, dia dapat mendengar rintihan seorang pria yang terus terisak nangis dan suara napas seorang wanita yang terlihat sangat menikmati kegiatan mereka.

__ADS_1


Siapa sangka, di balik kegelapan yang menyelimuti lorong, saat ini seseorang telah berdiri di depan pintu itu.


Orang itu tidak perlu meletakkan telinganya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di balik pintu terkunci itu. Orang itu berjalan mendekati pintu tetapi walaupun ia sudah berada tepat di depan pintu, ia tak kunjung memegang gagang pintu.


Faktanya, orang yang sedang berdiiri di depan pintu  itu pada kenyataannya bukanlah orang sembarangan. Ia adalah seorang wanita tua bernama Feodora Angela Lucydire sang High Priestess of Presbhenon of Fertiphall. Ia merupakan satu dari sedikit orang yang mengetahui 'penyakit' yang diderita oleh Ryana.


Sebenarnya hubungan antara Bryan dan Ryana terjadi karena kecelakan dan tentu saja penyebab kecelakaan itu karena Ryana. Untungnya Feodora dengan cepat menangani hal ini.  Dia menyadari ketidakstabilan Ryana yang membuatnya memohon kepada pontifex untuk menyediakan ruangan 'pemuas' bagi wanita muda itu. Sehingga pontifex pun menyediakan sebuah kamar khusus bagi Ryana dan Bryan di sebuah ruang bawah tanah yang jauh tak diketahui di bawah Pontheum.


Secara umum Pontifex telah berusaha mengidentifikasi penyakit Ryana. Ia telah melakukan observasi langsung dengan mata kepalanya sendiri dan dengan bantuan dari penjelasan dari Feodora Angela Lucydire sang Hight Priestess of Presbhenon of Fertiphall yang merupakan orang yang banyak membantu Ryana dalam menyembuhkan penyakitnya.


Berdasarkan hal tersebut, Pontifex dan para priest maupun high priest yang bertugas meneliti penyakit Ryana pada akhirnya  berada pada satu kesimpulan. 'Penyakit' Ryana pada kenyataannya merupakan penyakit baru dan mereka pun memberi nama penyakit itu sebagai Peter-gigolette Complex. Nama penyakit itu terinspirasi dari madonna-whore complex yang sebenarnya beberapa kali tercatat dalam sejarah medis. Walaupun keduanya sebenarnya adalah kasus yang berbeda karena madonna-whore complex merupakan murni fenomena psikologi, sementara penyakit Ryana dipercaya tidak hanya dilihat dari kacamata psikoanalitik tetapi juga dianggap sebagai penyakit yang disebab oleh kekuatan supranatural. Walaupun pada beberapa pengobatan menunjukkan hasil bahwa apa yang diderita oleh Ryana bukanlah kutukan tetapi baik itu pontifex dan para pendeta meyakini bahwa apa yang sedang dialami oleh Ryana adalah sebuah penyakit yang belum teridentifikasi.


Secara singkat, persamaan antara madonna-whore complex dan peter-gigolette complex adalah keduanya membedakan orang-orang berdasarkan dua kelompok. Jika madonna-whore complex membuat seorang pria yang mengalami kompleksitas psikologi yang membuatnya mengkategorikan wanita sebagai seorang 'madonna' (wanita baik-baik) dan seorang pelacur rendahan, maka peter-gigolette complex adalah keadaan seorang wanita yang mengidap kondisi tersebut mengkategorikan pria sebagai seorang 'peter' (pria baik-baik) dan seorang gigolo.


Namun jika Ryana yang saat ini sedang 'menunggangi' Bryan mengetahui apa yang dipikirkan sang pontifex dan Feodora, ia pasti akan sedikit menambahkan. Berkat penyakitnya ini pula, dia mengalami masalah dalam kehidupan romansanya. Ryana tidak bisa mencintai pria yang membuatnya bergairah dan ia justru bergairah dengan pria yang ia tidak cintai. Atau dengan kata lain, berkat penyakit Ryana, ia justru  seolah menimbulkan cinta platonik dalam kehidupan asmaranya. Akan tetapi terdapat perbedaan antara kedua kondisi itu, peter-gigolette complex membuat nafsu seksual wanita itu tidak stabil dan biasanya dia akan melampiaskannya kepada pria dari kategori 'gigolo' itu sebabnya semakin ia bernafsu, semakin ia menjauhi pria dari kelompok 'peter'.


Dan itulah yang terjadi antara dia dan Alex. Sebuah hubungan yang tidak mungkin terjadi. Entah itu karena penyakitnya atau karena rasa inferioritasnya.


Suara geraman kedua itu semakin kuat.


Feodora kini sedikit penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana. Walaupun dia sudah menjadi nenek-nenek tua tetapi ia juga hanyalah manusia yang tak sempurna dan kadang salah.


Ia diam-diam membungkuk dan mengintip dari lubang kunci kuno yang ada di pintu itu.


Walaupun di dalam kamar itu hanya diterangi oleh cahaya lentera yang redup tetapi sudah cukup baginya untuk melihat kondisi kedua orang itu.


Tiba-tiba mulu Feodora menganga karena terkejut dengan apa yang terjadi di dalam sana.


Kepalanya menjadi sakit dan ia berdiri tegap dan tidak mau mengintip lagi. Namun ingatannya tentang kedua orang itu masih cukup segar.


Sepertinya anak zaman sekarang semakin liar, pikir Feodora .


Feodora mengambil sebuah amplop surat yang ia simpan di dalam jubahnya. Ia menghela napas setelah menatap amplop itu.


Pada akhirnya ini hanyalah satu-satunya cara.


Feodora berpikir sambil memegang kalung yang memiliki simbol hexatheisme di lehernya.


"Argh! Tolong pelan-pelan."


Suara tangisan seorang pria dapat terdengar dari balik pintu yang membuat pikiran random Feodora kembali bermunculan.

__ADS_1


T-tapi darimana mereka belajar hal gituan?


__ADS_2