THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
YOUR HELP(1)


__ADS_3

"Sudah berapa lama kita melakukan ini?"


Seorang wanita berbisik kepada temannya dengan penuh kebingungan.


Wanita lain tidak dapat berbicara akibat mulutnya masih dipenuhi sebuah benda. Ia hanya mengangkat dua jarinya yang berarti sudah dua puluh menit.


Waktu terus berlalu ....


"Sudah berapa lama?"


Kembali sang wanita bertanya kepada temannya dengan wajah lelah.


Temannya tidak menjawab akibat mulutnya yang masih penuh. Ia hanya mengangkat tiga jarinya yang menunjukkan sudah 30 menit berlalu.


.


.


.


.


"Sudah berapa lama? Hoam ...."


Kali ini sang wanita bertanya sambil menguap akibat kelelahan. Baik dia dan kedua temannya yang lain kini duduk di lantai sambil bersandar di tepi ranjang.


Salah satu temannya hanya mengangkat lima jari tanpa mengeluarkan suara. Itu bukan karena mulutnya sibuk tetapi kali dia terlalu lelah dan malas.


"Sungguh ... dia tidak bangun?" bisik seorang wanita kepada teman-temannya.


"Bahkan aku tidak merasakan sedikitpun denyutan," bisik wanita lain.


ketiganya bersamaan memandang ke atas ranjang, memandang sosok pria yang terikat di sana. Namun sebanyak apapun mereka melakukannya, pria yang dipanggil tuan muda itu tidak memiliki respon yang diharapkan. Sebaliknya, monumen excalibur yang seharusnya ada pada setiap pria masih tetap offline.


"Hah ...."


Ketiga wanita itu menghela nafas lelah. Mulut mereka sudah sakit tetapi tidak ada hasil yang diharapkan. Bahkan salah seorang wanita harus mengalami mati rasa pada lidahnya.


Alex yang hanya memandang langit-langit kamar diam tak bergerak. Semenjak menit ke-30, semangat para pecabul itu mulai meredup. Alex juga bukan orang yang suka membuang tenaga. Menyadari dia tidak akan dilepaskan bahkan jika dia berteriak sudah membuatnya menjadi diam seperti sosok patung.


Namun sekarang para pecabul hanya duduk di lantai sambil memegang rahang masing-masing.


Hah ... sudah kuduga ....


Sebanyak apapun gaya dan pose ketiga orang itu tidak membuat Alex kecil bangun.


Sekarang bagaimana?


Keempat orang itu diam sambil merenung dengan putus asa.


"Hiks ... hiks ... lidahku."


Kini seorang wanita yang sebelumnya sempat mengejutkan Alex menangis. Wanita itu terus menangis sambil mengeluarkan lidahnya yang bengkak. Dia berusaha mengipasi dengan tangan kosong tetapi itu tidak menimbulkan efek apa pun.


Untuk sesaat korban dan pelaku telah berganti.


"Ada apa ini? Mana adegan panasnya!"


Teriakan marah tiba-tiba mengagetkan keempat orang itu. Bahkan Alex yang memiliki skill pendeteksi tidak menyadarinya. Lebih tepatnya dia tidak memikirkan bahwa di ruangan ini terdapat selain mereka berempat. Penyebabnya ia tidak dapat berpikir jernih karena penuh kemarahan pada para wanita itu sebelumnya.


"Alen?"


Alex kaget ternyata raungan marah itu milik kepala pelayan mansion.


Siapa sangka Alen yang merupakan assassin bersembunyi di balik bayangan telah menonton dari awal sampai akhir. Bahkan ia sangat serius mendambakan rencana B dari Harol. Itu dibuktikan bahwa ia telah jauh hari membeli cemilan ringan untuk menambah kenikmatan tontonan.


Namun hanya ini saja? Dia hanya menonton tiga wanita tanpa busana hanya duduk di lantai seperti kucing bunting, dan seorang pria tanpa busana yang terikat di atas kasur tak bergerak atau pun bersuara layaknya ikan asin yang dijemur?! Yang benar saja!

__ADS_1


Mana semangat muda kalian?!


Alen ingin meneriaki keempat orang ini. Sayangnya ia ingat posisi Alex adalah tuan mudanya. Sehingga ia menahan suara ketidaksenangannya.


Gagang pintu bergerak, kemudian orang ke-6 muncul. Ia adalah pemilik mansion, siapa lagi kalau bukan count.


Harol melihat anaknya yang terlentang di kasur. Perasaan riang di wajah Harol tidak dapat disembunyikan. Dia tak dapat menahan tawanya dan bertanya kepada Alex.


"Hahahaha ... kenapa sangat sepi? Bagaimana Alex, apa kamu seperti mendapat hidup yang baru? Benar, benar, pria seharusnya seperti ini."


Namun, hanya wajah murung ketiga wanita dan Alen setelah mendengar ucapan Harol.


"Ayah, kenapa aku di sini? Kenapa aku diikat? Kenapa kalian melakukan hal seperti ini padaku?"


Alex sama sekali tidak memahami maksud tersirat dari ucapan Harol sehingga dengan ekspresi kesal, ia masih tetap bertanya.


Harol tidak memperdulikan kondisi Alex tanpa busana. Harol pergi mengelus rambut anak tertuanya.


"Kamu sekarang sudah besar, sudah seharusnya kamu dapat melakukan itu. Lihat sekarang dia sudah bisa bangun kan? Selamat menjalani kehidupan dewasa."


"!!!"


Kali ini Alex menyadari apa maksud dari ucapan Harol. Ternyata penyebab semua ini adalah ucapan Alex sendiri yang mengatakan bahwa ia mengalami impotensi.


Jadi dia menggunakan para wanita untuk mengobati impotensi? Apa itu berarti obat di teh tadi adalah semacam viagra?


Alex kini menyadari kekeliruannya. Akibat ucapannya, dia telah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan para wanita sialan ini. Semakin lama ia memikirkannya, semakin ia marah.


Sejak kapan impotensi diobati dengan kegiatan seksual?


Ia menyadari bahwa pemikiran seperti ini memang tidak dapat dilepas pada peradaban Midgard yang masih belum memahami konsep fisiologi dan psikologis dari ilmu kesehatan.


"Ayah! Kenapa ayah melakukan ini padaku?! Ayah, karenamu aku sudah tidak suci lagi, aku hampir kehilangan keperjakaanku!"


Alex berteriak marah kepada Harol. Sayangnya Harol yang masih dalam suasana riang dan malah mengangguk.


Harol menggaruk telinganya ketika memutar perkataan Alex di benaknya.


Hampir? HAMPIRRRRR!!?


"Alen!"


Harol berteriak kepada kepala pelayan yang dari tadi hanya diam untuk meminta penjelasan.


"Tuan, Tuan Muda benar. Dia hampir kehilangan keperjakaannya. Sayang sekali dia tidak bisa melakukannya."


Harol seakan ditimpa oleh batu besar setelah mendengar perkataan Alen. Dia linglung dan hanya duduk lemas di kursi kayu yang tak jauh dari tempat sebelumnya berdiri.


Kini suasana kembali murung bahkan lebih dari sebelumnya.


Suasana ini masih bertahan bahkan ketika Alex dibebaskan.


Alex mengenakan celananya dan mengambil bajunya. Ia sama sekali tidak berbicara. Namun wajahnya yang murung telah menunjukkan mood-nya saat ini berada dalam kondisi buruk.


Setelah memakai celana, ia segera keluar dan membanting pintu dengan kuat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia bahkan tidak melirik ayahnya ataupun ketiga wanita yang berdiri ketakutan di sana.


Harol yang termenung melihat pintu yang telah tertutup akhirnya bertanya kepada Alen dengan lemas.


"Apa obatnya belum cukup?"


Padahal dia sudah memberikan ramuan yang langsung diracik oleh High Priestess Feodora. Bahkan ketika Alex pingsan, Harol memerintahkan Alen untuk memberikan bubuk afrodisiak kepada anaknya. Namun ternyata ini masih belum mampu menghilangkan impotensi anaknya.


"Tuanku."


Alen juga merasa tertekan ketika melihat kondisi tuan mudanya.


"Tuan Muda memiliki fisik yang sangat baik, bahkan walaupun excalibur-nya masih tertidur, itu jauh lebih besar dari rata-rata ukuran yang dimiliki para pria. Sangat disayangkan jika itu tidak bisa digunakan."

__ADS_1


Alen menatap tali di tangannya. Tali ini adalah item magic dengan kategori High Class. Ini adalah salah satu harta berharga milik county. Biasanya digunakan untuk menaklukkan orang dengan kemampuan mengerikan tetapi kini digunakan untuk hal seperti ini.


Hah ... dunia sudah berubah


Bagi Alen yang telah berkepala tujuh dan seorang yang kolot, tentu ia sangat terkejut dengan perubahan dunia saat ini.


"Alen."


Harol tiba-tiba berdiri. Kali ini wajahnya menjadi acuh tak acuh. Ia mengalihkan pandangannya kepada ketiga wanita yang masih berdiri kaku tak jauh dari mereka.


Ketiga wanita ini adalah pelacur dari rumah bordil. Ketiganya berbakat dalam dunia seperti ini. Namun mereka gagal ....


Harol tidak ingin berita mengenai impotensi anaknya keluar dari dinding mansion. Ia harus menghilangkan semua saksi mata.


"Lenyapkan mereka."


Suara Harol kali ini sangat menindas dan tak memiliki perasaan apa pun.


Ketiga wanita itu ketakutan. Pada detik berikutnya sebelum ketiganya berteriak, garis cahaya bersinar di leher mereka.


Tiga kepala telah puntung dan jatuh di lantai, menodai kamar ini dengan genangan darah.


***


Alex berjalan cepat di sepanjang lorong. Hanya kemarahan dan kebencian yang dapat tergambar di matanya.


Nafasnya menjadi berat karena harus menahan gejolak kemurkaan yang berada pada dirinya. Dia ingin sekali setidaknya meninju Harol dan menginjak-injak semua orang yang terkait dengan pelecehan yang ia alami.


*DOBRAK


Alex menendang pintu hingga menyebabkan daun pintu itu hancur.


Justin yang masih tertidur terbangun oleh suara pintu kamarnya yang hancur. Ia kaget dan langsung menekan saklar untuk menghidupkan magic lamp.


"Justin!"


Justin melihat tuan mudanya masuk ke kamarnya. Kemudian kesadarannya langsung kembali ketika mendengar tuannya meneriaki namanya dengan raungan kemarahan.


Justin melihat tuannya berjalan ke ranjangnya dengan wajah yang sangat menyeramkan. Ia semakin ketakutan ketika melihat tuannya sama sekali tidak mengenakan baju. Otot-otot tuannya yang mengembang menjadi sangat terlihat.


Ketika tuannya semakin dekat, ia dapat mendengar suara nafas tuannya yang berat.


"!!!"


Bulu kuduk Justin langsung terangkat ketika memikirkan yang tidak-tidak.


Entah kenapa dia teringat novel dewasa yang ia baca tak lama sebelumnya. Novel itu menceritakan mengenai seorang gadis dari desa yang bekerja di kebun seorang bangsawan. Setiap malam bangsawan pria yang menjadi tuan dari gadis itu masuk ke kamar sang gadis dengan nafas berat dan melepas semua pakaiannya.


Justin menggigil ketika melihat tuannya yang sebaya kini terlihat seperti bangsawan ojisan itu. Namun Justin adalah laki-laki, bukan gadis desa. Ini semakin membuatnya ketakutan.


"T-tuan."


Suara Justin menjadi serak akibat kepanikannya. Ia takut memprovokasinya tapi lebih dari itu, dia takut malam ini harus mengucapkan selamat tinggal pada bokongnya.


"Justin, air. Siapkan air mandiku segera!"


"Hah?"


Justin tidak bisa langsung memproses perintah sang tuan di otaknya. Akibat perintah tiba-tiba, dia menjadi blank beberapa detik.


"Justin, cepatlah! Aku sudah tidak tahan lagi."


Alex mengerutkan keningnya dengan sangat tidak nyaman. Ia memiliki sensitivitas indra yang jauh lebih baik dari manusia biasa. Akibatnya ia sampai sekarang masih dapat mencium aroma liur di tubuhnya, ditambah tubuhnya juga terasa lengket. Belum lagi perasaan ciuman tidak steril yang terjadi di mulutnya. Dia tidak tahu apakah wanita yang menciumnya sudah menggosok gigi atau tidak. Hal ini semakin membuat Alex menjadi sangat jijik.


"B-baik!"


Perintah kedua Alex akhirnya membuat Justin tersadar. Ia langsung bangkit dari ranjangnya dan bergegas berlari ke area dapur untuk memanaskan air. Di belakangnya Alex mengikuti dengan sangat murung.

__ADS_1


Ia harus menunggu Justin membawa air dari sumur kemudian memanaskannya di tungku. Proses ini terlalu lama, mungkin Alex sudah muntah duluan sebelum akhirnya ia bisa mandi.


__ADS_2