
Almadeus Elyuden Heliohine sang Kaisar Para Dewa dikenal pula sebagai sang Pencipta. Ia adalah penguasa Surga dan salah satu dari tiga archdeus.
Saat ini dengan segala kebesarannya dia sedang menjelma sebagai seorang avatar berwujud Aesir[1]. Ia memiliki penampilan dewasa berusia 20-an dengan bentuk tubuh kaukasoid, berambut pirang, dan mata biru laut. Seperti biasanya, Almadeus duduk di singgasana berwarna putih bersih miliknya. Singgasana ini terbuat dari salah satu batu terkuat di alam immortal yakni Adneum. Warna dari batu mulia ini adalah putih dan itu sebabnya takhta dan seluruh ruangan ini berwarna serupa.
Aesir: Dewa dengan tubuh seperti manusia. Contohnya: Zeus dan Odin
Sebenarnya, ini bukanlah wujud aslinya. Wujud asli archdeus jauh lebih besar tetapi entah mengapa dia sedang ingin menggunakan wujud ini.
Selain dia, terdapat dua orang lain di ruang takhta ini. Namun berbeda dengan dia, kedua orang itu berdiri patuh di dekat tangga takhta. Salah satu di antara mereka adalah Ayah Para Dewa Olympus sekaligus sebagai Ruler Overseer, Zeus. Ia memiliki tampilan seperti kakek-kakek manly dengan jenggot, kumis, dan jambang putih panjang yang menutupi dagu dan rahangnya.
Sama halnya dengan Underworld, Heaven juga memiliki tujuh tingkatan dan jika dimulai dari tingkat terendah maka terdiri dari Hyksos, Shambala, Holiheim, Agartha, Atlantis, Asgard, dan Olympus. Adapun untuk pemimpin di setiap tingkat Surga bergelar Ruler. Sementara Ruler Overseer adalah gelar yang diberikan kepada pemimpin para ruler dan sekaligus pengawas Olympus.
Sementara pihak terakhir adalah seorang archangel dengan tiga pasang sayap putih di punggungnya. Wajahnya yang maskulin, kulit putih bersih dan rambutnya pirang serta tubuhnya yang ideal. Dia adalah pemimpin para angel dan archangel, Michael.
Walau keduanya hanya berdiri, tetapi diam-diam mereka melirik tuan mereka untuk melihat suasana hatinya. Ada kalanya tuannya ini akan merasa kesal sendiri atau senang sendiri. Itu bukan karena dia gila, tetapi karena dia saat ini mengawasi seluruh teritorinya dan makhluknya yang ada di Surga maupun di Univorsum.
Seperti yang mereka antisipasi, Almadeus tiba-tiba tersenyum. Namun sedikit berbeda adalah senyuman terlalu dalam kali ini. Michael dan Zeus bingung dengan senyuman aneh ini, mereka sesaat merasa sang tuan memberi senyum cabul.
TIDAK-TIDAK ITU TIDAK MUNGKIN!
Merasa frustasi dengan keanehan tuannya, Zeus tidak bisa menahan untuk bertanya.
"Tuan, apa ada hal yang membuat Anda tertarik?"
Almadeus langsung menatap Zeus tetapi senyum itu masih belum hilang. Dia kemudian menjawab dengan riang.
"Hahaha ... tidak terlalu. Tapi apa kalian tahu apa ramalan astrologi paling gempar saat ini?"
Zeus dan Michael tentu saja tidak mungkin tidak tahu. Ini adalah berita panas di keempat Alam (Heaven, Underworld, Hereafter, Empty) yaitu mengenai bangunnya sang Maharaja Kematian.
Namun sangat aneh, setiap kali Maharaja Kematian bangun, sang Pencipta tidak akan sebahagia ini. Apakah mungkin ada hal lain? pikir Zeus.
"Tuan, apa ini ada kaitannya dengan Bangunnya sang Maut?"
Tidak seperti diharapkan, Almadeus justru semakin riang.
"Ya! Benar! Sudah lama aku tidak melihatnya. Kalian tahu, selama kami (Archdeus) hidup, kami tidak pernah berubah, terutama Sheol. Dia tidak pernah berubah! Selalu serius dan sering membuat orang salah paham dengan wajahnya. Maksudku, sifatnya dan wajahnya seperti langit dan bumi. Dia tidak pandai mengungkapkan ekspresinya! Terlalu kaku!"
Sangat aneh mendengar cuhatan Pencipta yang tiba-tiba. Zeus dan Michael melirik karena bingung dengan ini.
" ... dan ketika kami masih kecil, ketika aku waktu itu nangis, dia berusaha menghiburku. Tapi kalian tahu? Dia malah memberi senyum sinis! Menurutmu seberapa takutnya aku pada saat itu? Hahh ... aku menangis semakin kuat dan membuat dia menjadi murung seharian! Hah .. sungguh kakakku yang malang. Hei, apa kalian mendengar?"
__ADS_1
"Tentu saja Tuanku!" seru keduanya bersamaan.
"Hmm ... bagus. Jadi begini, sebagai adik yang baik, aku berpikir untuk membuat dia sedikit ekspresif. Dan aku sudah memikirkan rencananya!"
"Bagaimana Tuanku melakukannya?"
Almadeus tidak langsung menjawab. Dia berdiri dari takhtanya kemudian berjalan turun dari tangga singgasana. Michael dan Zeus langsung bersujud melihat tuan mereka semakin dekat. Kemudian ketika dia berada sedikit agak jauh dari singgasana, dia memalingkan tubuhnya menghadap singgasana kosong.
"Jaga ruangan ini. Aku akan pergi ke Underworld."
Michael dan Zeus kaget dengan tuan yang tiba-tiba bersemangat. Mereka belum pernah melihat tuan mereka seriang ini. Namun apa pun spekulasinya, mereka harus tetap menjawab.
"Baik Tuanku!"
Almadeus pun menghilang.
***
Perubahan kondisi langsung dapat dirasakan oleh Almadeus setelah berhasil melakukan teleportasi antar dimensi. Teleportasi lintas dimensi itu bukanlah hal yang mudah terutama jika kedua dunia adalah keberadaan yang berlawanan. Seperti saat ini, Underworld dan Heaven memiliki energi berlawanan sehingga bahkan high gods sekalipun tidak akan dapat melakukan teleportasi antar dunia ini tetapi tentunya hal itu tidak berlaku bagi archdeus.
Almadeus tidak langsung berteleportasi di ruang takhta Sheol tetapi di sebuah ruangan luas dan kosong. Ini adalah ruangan yang menjadi titik koordinat teleportasi yang terletak di Underworld tingkat ke-7, Ardha dan dipergunakan kepada pendatang dari luar Underworld karena untuk mencegah kepanikan berlebihan dan lebih memudahkan pendataan pengunjung.
Almadeus melihat sosok undead dengan wajah menyeramkan, kulitnya hitam terlihat membusuk seperti zombie, dan giginya kuning. Namun ia mengenakan full magic item tingkat tinggi sehingga jelas dia bukanlah immortal biasa. Almadeus tahu posisi makhluk ini, sama halnya dengan Heimdall sang penjaga Jembatan Bifrost yakni jembatan untuk teleportasi lintas dimensi, undead tingkat high gods ini juga memiliki pekerjaan serupa.
"Oh ... Tuanku Almadeus, suatu kehormatan bagi hamba yang rendah ini untuk menemui keagungan-Mu. Tuanku, Tuhanku Sheol sudah menunggu Tuanku di Persemayaman Kultus-Nya."
Balphegor bergegas bersujud di hadapan Almadeus. Walau dia bukanlah penciptanya, menghormati para archdeus adalah sebuah keharusan bagi para immortal. Balphegor telah lama tahu, setiap kali Sheol terbangun maka cepat atau lambat Almadeus akan datang ke Neraka. Biasanya dia akan meminta untuk menghancurkan satu atau beberapa dunia mortal. Jadi Balphegor pun menduga bahwa kedatangan Almadeus adalah untuk meminta hal itu kepada Sheol.
Almadeus juga tidak menjelaskan kedatangannya. Setelah ia menerima salam dari Balphegor, ia bergegas ke ruang takhta Sheol. Setiap kali para archdeus melakukan pertemuan, maka ruang takhta akan dikosongkan sehingga hanya para archdeus yang akan berada di sana.
Motif dan rona takhta Sheol sangat kontras dengan miliknya. Jika ruangannya berwarna putih dan emas, maka ruangan ini berwarna hitam dan beberapa corak merah darah.
Api hitam yang menjadi perantara antara alam ciptaan dan alam para pencipta berada di atas takhta. Almadeus yang semakin mendekat. Ketika Almadeus berdiri tepat di depan tangga singgasana, dia memberikan senyum. Dia tahu kakaknya dapat melihatnya dari api hitam itu.
Sebenarnya Almadeus tidak perlu pergi ke Neraka untuk menemui Sheol. Dia sebenarnya cukup pergi ke alam tempat Sheol bersemayam atau cukup mengirim semacam kekuatan telepati untuk berbicara dengan Sheol. Namun ini sudah menjadi kebiasaan Almadeus. Dengan menemui Sheol menggunakan avatar-nya, dia juga bisa merasakan alam ciptaannya dan alam ciptaan saudaranya dengan lebih "riil".
"Tuanku Sheol."
"Tuanku Almadeus."
Dari api hitam itu, suara Sheol terdengar.
__ADS_1
Kedua archdeus saling menyapa dengan hormat.
Walau ketiga archdeus adalah saudara, tetapi mereka membangun batasan-batasan untuk menunjukkan rasa hormat kepada sesama. Itu sebabnya, mereka akan selalu menggunakan bahasa formal bahkan walau hanya ada mereka berdua di ruangan ini.
"Tuanku Sheol, bagaimana kabar Anda?"
"Tidak buruk Tuanku Almadeus. Saya baru saja terbangun."
"Saya senang mendengarnya. Tuanku Sheol, saya ingin menawari Anda sesuatu. Dapatkah Anda mendengarnya?"
Sheol berpikir Almadeus ingin dia menghancurkan beberapa dunia mortal tetapi biasanya itu adalah permintaan bukan penawaran. Karena tidak mau memikirkan terlalu lama, sudah jelas Sheol mengangguk.
"Tuanku Sheol, saya menyarankan Anda untuk turun ke dunia mortal."
"Hmm ...."
Sheol tidak terlalu mengerti kenapa dia harus turun ke dunia fana. Jika ingin menghancurkan dunia, bahkan ketika dia duduk di singgasananya dia dapat melakukannya.
"Apa Tuanku Almadeus ingin aku melihat bagaimana para mortal mati dengan kekuatanku?" tanya Sheol dengan bingung.
Namun Almadeus menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tuanku Sheol. Tuanku Sheol, saya menyarankan Anda untuk pergi di dunia itu agar dapat berlibur. Saya tahu, dibandingkan saya, keaktifan Anda sebagai archdeus terlalu banyak. Walau kita tidak bisa lelah, saya hanya menganjurkan untuk membuat semacam liburan bagi diri Anda sendiri. Anda tahu, sangat menarik ketika kita berbaur dengan para makhluk fana yang memiliki pemikiran independen."
Sheol agak sedikit jengkel dengan perkataan 'terlalu banyak aktif',
Kebanyakan tugasku darimu, bodoh! Gertak Sheol di benaknya.
Namun wajahnya sama sekali tidak mengungkapkan emosinya. Dia tahu dibandingkan dia dan dua archdeus lain, hanya dia yang belum pernah turun dan berbaur di dunia mortal. Namun ia tidak terlalu memikirkannya karena menurutnya untuk turun ke dunia mortal itu sia-sia dan tidak cocok dengan tugasnya.
"Saya pikir, itu tidak ada kaitannya dengan tugas saya."
"Tuanku Sheol, kehidupan para makhluk mortal itu cukup unik. Masa di mana mereka memiliki pemikiran bebas dan kondisi di mana kita akan men-suspend kekuatan kita sendiri akan menimbulkan perasaan mendebarkan dan menantang. Itu sangat menyenangkan."
"Hmm ...."
"Kak Sheol, aku ingin Kakak bahagia. Kakak terkadang mengeluh karena banyaknya orang yang masuk Neraka kan? Bagaimana kalau Kakak turun ke dunia dan menganggap itu sebagai liburan?"
Almadeus tidak memberikan panggilan kehormatan kali ini sehingga menunjukkan seberapa ia bersungguh-sungguh menawarinya saran itu.
Sheol juga merasa itu tidak buruk. Walaupun para archdeus dapat melihat seluruh dunia dan mengetahui apa pun tetapi kondisi antara pembaca dan pemeran tetaplah berbeda.
__ADS_1
"Baiklah."
Walaupun Almadeus dengan tubuh avatarnya tidak dapat melihat Sheol yang bersemayam di alamnya, tetapi ia menjamin bahwa kakaknya sudah mengangguk dan bahkan sampai tersenyum.