
"Minggir! Ini akan menjadi pertarungan kami! Dan jangan ada yang mengganggu!"
Peter berteriak dengan penuh rasa percaya diri.
Coltildy pun mengikuti hal itu. Duel antara mereka akan jauh lebih baik karena selain mengurangi korban jiwa, ini juga akan menunjukkan kemampuan siapa yang pantas menjadi penguasa county.
Peter dan Clotildy saling berhadapan di tengah medan perang yang membara.
Keduanya menunjukkan tatapan penuh permusuhan. Kini kedua bersaudara itu akan saling mempertaruhkan semua hal demi mengalahkan satu sama lain.
"Kali ini aku akan betul-betul melenyapkanmu!" teriak Peter.
Keduanya berlari satu sama lain. Menghunuskan pedang dari sarungnya.
Boom!
Duel tidak terhindarkan. Keduanya adalah eques, pengguna magic warrior.
Ayunan pedang demi pedang terus beradu.
Percikan bunga api di antara bilah pedang yang memancarkan suhu dingin layaknya es terus bertebaran.
Ketika keduanya secara serentak mengambil langkah mundur, mereka saling melihat satu sama lain.
Pedang itu!
Peter semakin menunjukkan ketidaksenangannya setelah melihat Sword of Frost Dragon yang merupakan simbol kebesaran penguasa County Otilia kini berada pada Clotildy.
"Pedang itu milikku!"
Peter kembali menyerang Clotildy.
Berdasarkan kekuatan kasar, Peter sebenarnya jauh lebih kuat daripada Clotildy dalam berbagai aspek entah itu kemampuan berpedang ataupun kemampuan menguasai sihir. Namun nasibnya sama sekali tidak mendukungnya sebagai calon penguasa county.
Clotildy perlahan terdesak. Ia tidak pernah meragukan bahwa saudaranya akan sangat kuat tetapi ia tidak pernah menyangka perbedaan kekuatan mereka akan setimpang ini.
Sial, aku tidak boleh kalah di sini!
Ini tidak hanya mengenai haknya sebagai penerus kepala dinasti tetapi juga masa depan seluruh county akan sangat tergantung pada duel ini.
Perlahan, Clotildy terjepit mundur.
Kalau terus seperti ini ....
"[Frozen Field]!"
Hembusan dingin tiba-tiba meledak dengan dirinya sebagai pusatnya.
Peter yang menyerang Clotildy terhempas dan terkena serangan destruktif dari skill itu.
Sesaat kemudian, arena duel mereka berubah menjadi penuh lapisan es.
[Frozen Field] setara dengan mantra tingkat 5. Namun karena Clotildy memiliki batasan dalam menggunakan skill dari Sword of Frost Dragon tersebut walaupun hanya menggunakannya sekali, mana-nya sangat terkuras. Ia kemungkinan besar tidak akan dapat menggunakan skill itu lagi sekarang.
"Sial!"
Peter tersungkur akibat hempasan skill itu kembali berdiri.
Beberapa bagian tubuhnya terluka dan terkubur oleh butiran es tipis.
Ia juga dapat merasakan tubuhnya menjadi sulit digerakan. Ini adalah efek passive skill dari Sword of Frost Dragon, [Frost Blood].
Walaupun Clotildy juga kesulitan menggerakan tubuhnya karena hampir kehabisan mana, tetapi kondisinya jauh lebih baik daripada Peter.
Clotildy lantas melakukan serangan balasan.
Ia menghunuskan pedangnya.
Namun sesaat sebelum bilah pedang itu mengenai Peter, sosok dengan full armor hitam muncul dan menangkap pedang itu dengan mudah.
Ia adalah The Tempest Lady , sang pemimpin kelompok wyvern rider.
Clotildy tidak bisa melepaskan pedangnya dari cengkraman orang itu.
"!"
Tidak sempat menghindar, Clotildy terkena tendangan dari Tempest Lady yang mengenai perutnya.
Walaupun ia sudah memakai armor tetapi tendangan itu masih dapat ia rasakan bahkan sampai ke ulu hati.
Clotildy lantas tersungkur jatuh.
"Nona!"
Para prajurit Otilia bergegas menyerang tempest lady. Namun hanya dengan telapak tangannya, wanita itu membuat semua orang terhempas akibat shockwave yang aneh.
Ia kini mengeluarkan pedangnya yang dipenuhi hawa suram dan mengarahkan mata pedang itu kepada Clotildy.
__ADS_1
Clotildy tidak bisa bernafas. Tendangan yang dia terima seolah menghancurkan semua organ dalamnya. Sepertinya Tempest Lady menggunakan kekuatan sihir untuk melakukannya.
"Pada akhirnya sampai di sini saja," ucap Tempest Lady.
Boom!
Sebuah objek yang tidak dikenal jatuh tak jauh dari mereka. Ini seperti meteor kecil yang jatuh ke bumi yang menciptakan lubang yang menganga dan asap yang terkepul tebal.
Api biru terang berkobar di sekitar tempat itu dan dari asap yang terkepul, seorang pria dengan tubuh besar dan pedang raksasanya muncul.
Ia adalah Barnard, pemimpin para petualang.
"Kamu tahu, tidak sopan mengganggu duel antar saudara," ucap Barnard.
Kedua orang itu beradu pedang. Namun hanya dengan sedikit interaksi keduanya dapat menyadari bahwa kekuatan masing-masing di atas rata-rata.
"Sepertinya kita tidak dapat bertarung di sini,. Bagaimana jika kita pergi sedikit lebih jauh" ucap Barnard.
"Benarkah? Bagaimana jika aku menolak?" ucap wanita itu.
"Maka mungkin aku tidak akan sengaja membunuh Tuanmu."
Barnard membalas dengan melihat Peter yang bersembunyi di belakang wanita full armor itu. Seolah seperti singa yang menatap buruannya.
***
Barnard berhasil memisahkan Tempest Lady dari kedua bersaudara itu. Kini ia berduel dengan wanita full armor ini.
Keduanya kini berduel di luar benteng. Adapun mengenai Clotildy dan Peter, itu akan diserahkan kepada pasukan masing-masing.
Barnard menggunakan pedang utamanya, Sword of Panthera. Ini untuk pertama kalinya dia menggunakan senjata ini di medan perang Otilia.
Sementara lawannya mengunuskan pedang dengan penuh energi gelap.
Kling! Kling! Kling!
Kedua beradu teknik pedang. Pedang Barnard yang merupakan pedang besar tunggal memiliki serangan yang cenderung lambat tetapi memiliki kekuatan destruktif yang besar.
Sementara itu sang Tempest Lady memiliki serangan yang jauh lebih lincah.
"Orang ini berbeda dengan yang lain," ucap Vyn.
"Kau benar," balas Barnard.
Vyn saat ini berada di dalam Sword of Panthera.
"Mungkin kita harus lebih serius," ucap Barnard.
Api biru di Pedang Barnard kini berkobar lebih besar.
Tempest Lady sepertinya mengetahui ada yang salah.
Kekuatan lawannya kini meningkat secara eksponensial.
Kemudian Barnard berlari dan langsung menghunuskan pedangnya.
Serangan itu sempat ditahan oleh Tempest Lady.
Api biru dan asap gelap dari dua bilah pedang berbeda saling beradu.
Namun sedikit demi sedikit, api biru terus membumbung dan melahap seluruh asap hitam milik pedang lawan.
"[Space Lag]!"
Tempest Lady dengan cepat melompat menggunakan mantra untuk menghindar sebelum pedangnya di lahap oleh api biru milik Barnard.
"Sial!"
Tempest Lady berteriak marah.
Bergegas ia segera melompat tinggi ke langit.
"Apa yang dia pikirkan?" tanya Barnard.
"Tidak! Dia memanggil wyvern-nya," balas Vyn.
Sebelum keduanya bertindak, Lengan Tempest Lady terlihat di genggam oleh cakar raksasa. Tidak lama, bayangan besar muncul dan menembus awan.
Ini adalah wyvern. Namun tidak hanya satu, ternyata terdapat satu lagi wyvern tetapi memiliki pengendara sendiri.
Tempest Lady melompat dan langsung berada pada tali kendali wyvern miliknya.
"Kita berdua akan menyerangnya."
"Baik!"
Wyvern rider lain lantas mengikuti perintah ketuanya. Ia sebenarnya cukup terkejut karena ini pertama kalinya ketuanya memerintahkan untuk mengeroyok seseorang.
__ADS_1
Kedua wyvern rider itu menukik dari langit yang tinggi langsung menuju ke Barnard.
"Jadi dia membawa bantuan."
Barnard tersenyum mengejek.
"Kalau begitu baiklah, terima ini."
Dari pedangnya, cahaya biru muncul dan bergabung dengan api biru miliknya. Lalu Barnard mengarahkan mata pedangnya ke arah kedua wyvern itu.
Dari pedangnya, seolah sinar biru tiba-tiba muncul.
Ini serangan yang sangat cepat tetapi Tempest Lady masih bisa menghindarinya.
Namun sayangnya anak buahnya tidak sempat untuk bermanuver. Ia terkena serangan itu dan baik tubuhnya ataupun wyvernnya berubah menjadi abu.
Serangan apa itu?! ini sedikit lemah dari skill [Wyvern's Judgement] milikku.
Tempest Lady terkejut melihat serangan barusan.
Apa yang dipikirkannya tidaklah salah, serangan Barnard barusan adalah serangan yang dapat disetarakan dengan sihir tingkat 6.
"Vyn, sekarang giliranmu!"
Sebelum Tempest Lady pulih dari keterkejutannya, Vyn keluar dari Sword of Panthera milik Barnard.
Tubuh spirit-nya memancarkan mana yang sangat banyak dan berubah menjadi bola api biru yang langsung meluncur ke Tempest Lady.
Awalnya Tempest Lady tidak bisa melihat wujud Vyn tetapi ketika spirit itu berubah menjadi bola api, dia dapat melihat dengan jelas.
Ia berusaha menghindar. Namun anehnya bola api itu dapat merubah arah meluncurnya seolah mengikuti.
Ketika jarak antara dia dan bola api biru itu semakin kecil, bola api itu tiba-tiba semakin membara dan seolah menciptakan jaring raksasa yang menangkap Tempest Lady dan wyvern-ya.
Baik wyvern maupun pengendaranya sama sama terjebak dalam balutan api biru. Mereka terbakar di atas langit.
Tempest Lady berusaha menggunakan sihir elemen air untuk memadamkannya tetapi api itu sama sekali tidak padam.
"[Winds Breath]! Sial, kenapa tidak padam juga!?"
Ia berteriak panik. Bahkan setelah menggunakan [Winds Breath] yang merupakan sihir tingkat 5 yang mampu menciptakan pusaran angin juga tidak menyebabkan api itu padam.
Api biru ini bukanlah api biasa. Ini adalah api milik Vyn yang bahan bakarnya adalah mana-nya sendiri sehingga itu tidak padam hanya karena air belaka.
Ia menyadari bahwa ia juga tidak dapat menggunakan banyak mantra sihir saat ini terutama karena efek pertempurannya dengan countess terakhir lalu masih belum pulih sepenuhnya. Bahkan mana miliknya masih belum terisi dengan baik setelah menggunakan [Wyvern's Judgement].
Di saat-saat rentan seperti ini, ia malah bertemu dengan lawan sangat kuat.
Pada akhirnya ia dan wyvern-nya jatuh ke tanah dan terus tersiksa hingga ia tewas terbakar menjadi arang.
"Sayang sekali kita tidak bisa mengambil armor-nya," ucap Barnard.
Barnard sedikit menyesal karena sepertinya Vyn terlalu berlebihan. Jika dia sedikit lembut, maka mungkin armor milik lawannya bisa menjadi barang looting yang berharga. Sayangnya magic item itu juga hancur menjadi arang seperti pemiliknya.
Setelah pertarungannya selesai, ia kembali ke arena perang.
Di sana ia tidak lagi menemukan duel antara Clotildy dan Peter.
Barnard pun bertanya kepada seorang prajurit komandan.
"My Lady baru saja dibawa pergi ke barisan belakang untuk mendapat bantuan."
Benar saja, jauh dari barisan perang terdepan, tepatnya di tenda pengobatan, Clotildy terbaring lemas dan saat ini sedang diobati oleh Atlya.
"Apa yang terjadi?" tanya Barnard.
"My Lady terkena serangan yang membuat organ dalamnya terluka. Untunglah ia dengan cepat di bawa kesini."
Alih-alih Atlya, yang menjawab adalah Lilac. Kemungkinan ini adalah serangan dari tendangan Tempest Lady yang mengandung kekuatan mana.
Selain itu, sepertinya ada satu orang lagi yang terluka.
"Apa yang terjadi denganmu?"
Barnard bertanya kepada Joan yang saat ini terluka pada bagian lengan .
"Dia baru saja menepis serangan orang yang bernama Peter untuk menyelamatkan Nona Clotildy," balas Lilac.
Setelah Barnard dan Tempest Lady pergi, duel antara Clotildy dan Peter masih tetap berlanjut. Sayangnya Clotildy masih terduduk dengan menahan rasa sakit akibat tendangan dari Tempest Lady.
Tentu saja Peter tidak melepaskan kesempatan itu. Dia hendak memenggal leher saudarinya tetapi Joan dengan cepat menggagalkannya.
Mungkin menurut Peter duel antara dia dan saudarinya harus terus berlanjut tetapi menurut pihak Clotildy duel tersebut telah gagal karena kehadiran orang asing yang mengganggu.
"Kalau begitu, sebaiknya kau di sini dan lindungi My Lady. Aku akan berada di barisan depan," ucap Barnard.
Anehnya tidak lama setelah Barnard mengatakan hal itu, Victor dari bagian logistik mendatangi mereka dan langsung berteriak.
__ADS_1
"Pangeran Datang! Pangeran Datang! Pangeran memerintahkan untuk menghentikan perang!"