
Seperti kebiasaan Alex sebelum tidur, ia membaca beberapa buku. Tentu saja buku yang ia baca adalah buku-buku mengenai ilmu pengetahuan khususnya ilmu sosial. Sebagai archdeus yang mahatahu, tentu saja Alex sangat paham tentang semua logika eksakta dan humaniora tetapi terkadang ia kurang memperhatikan hal-hal kecil mengenai local wisdom yang ada.
Hal-hal yang Alex baca kebanyakan adalah mengenai konsep Teologi Hexatheisme. Sebagai archdeus, Alex tidak memerlukan pengkultusan dari para mortal dan itu sebabnya Teologi Triarchdeus belum pernah diwahyukan kepada para mortal dan hanya diwajibkan kepada immortal. Sebaliknya, mortal hanya mendapat pewahyuan dari dewa-dewa administrator yaitu dewa yang bertanggung jawab dengan dunia mortal tersebut. Biasanya dewa-dewa administrator adalah dewa lapangan dan terlepas dari alam immortal (Heaven, Hereafter, Underworld, Empty) mana mereka berasal, rata-rata para dewa administrator adalah lesser god (dewa tingkat rendah) dan Hexatheisme adalah salah satu bentuk dari penyembahan kepada beberapa lesser god.
Berkat membaca buku-buku agama itu, Alex mengerti beberapa konsep penting, salah satunya adalah format pemberian nama kepada anak adopsi. Sebagai archdeus tentu saja Alex memiliki memori absolut dan walau hanya sekilas membaca, dia akan mengingat semuanya bahkan sampai tanda baca dan halaman bacaan tersebut.
Saat ini dia membaca buku mengenai Upacara Kedewasaaan dalam Hexatheisme. Buku ini membahas falsafah tentang langkah-langkah upacara dan tujuannya secara akidah ataupun aturan agama. Sudah beberapa hari dia membaca buku ini karena besok dia harus pergi ke ibukota untuk mengikuti Upacara Kedewasaan.
Sheol sebagai archdeus tentu merasa terhina karena dia harus mendapat pemberkatan dari lesser god. Namun ia tidak bisa menghindarinya karena saat ini dia adalah Alex. Jika dia menghindari upacara ini, dia dianggap sesaat dan sangat mungkin digantung di alun-alun kota oleh pihak kuil.
"Hah ... menyusahkan."
Alex menutup bukunya dan meletakkannya di samping tempat tidur. Dia memijit dahinya karena merasa tertekan. Dalam beberapa hari terakhir akibat kesepakatannya dengan Harol, dia harus mendapat pelatihan keras untuk menguasai aura dan teknik pedang aura original Rumah Fertiphile yang disebut [La Lumière du Phile]. Alex cukup respect dengan sifat Harol yang pantang menyerah kepada penerusnya. Pria dengan kepala otot itu benar-benar berusaha untuk membuat anak-anaknya sebagai swordmaster of aura. Dia tidak membeda-bedakan kasih sayangnya bahkan kepada Alex yang merupakan sampah bagi keluarga.
"Tapi ini membuatku tersiksa! Aku hanya ingin liburan."
Alex membuang unek-uneknya dengan terus mengobrol pada udara kosong.
"Hah ... sekarang aku juga sudah menjadi ayah."
Alex menatap sebuah gelang bunga merah sederhana di meja yang tak jauh dari kasurnya. Bunga-bunga itu sudah layu tetapi Alex sama sekali tidak berencana membuangnya. Dia mungkin nantinya menjadikan itu sebagai bookmark-nya. Dia sangat menghargai hasil kerja keras gadis kecilnya itu.
"Mungkin tidak ada untuk kedua kalinya."
Empati Alex yang muncul kepada Merry tidak lain karena ini pertama kalinya Alex melihat perbudakan secara langsung dengan matanya sendiri. Sebelumnya ia hanya melihatnya dari sudut pandang mahatahunya sehingga ketika ia melihatnya sebagai orang pertama, hati Alex betul-betul tersayat melihat gadis yang berumur 7 tahun harus mendapat kekerasan fisik, mental, dan seksual.
Namun jika dia melihat untuk kedua kalinya, dia tidak akan tergerak kali ini. Dia tidak boleh terlalu implusif karena bagaimanapun dia harus membiarkan para mortal berkembang dengan alami. Dia tidak akan mengganggu mereka kecuali dia mendapat keuntungan dari ikut campur atau dia mendapat kerugian dari mereka.
Nilai Merry secara eksplisit tidak ada. Alex tidak melihat bakatnya untuk bertarung. Baik mana dan aura bawaanya hanya rata-rata.
"Yahh ... mungkin jika dia ingin menjadi penyihir, itu lebih baik daripada menjadi ksatria."
Namun nasi sudah menjadi bubur. Dengan ikut campurnya Alex, maka kemungkinan takdir Merry telah bergeser. Kemungkinan besar ini akan menjadi error dalam pendataan di Hereafter. Ada kemungkinan pihak Hereafter akan meminta penjelasan kepada Heaven mengenai masalah ini.
Alex tersenyum memikirkan para immortal dari dua dunia itu pening karena masalah yang ia buat.
"Yahh ... ini saran dari Almadues untuk turun ke Univorsum, jangan salahkan aku karena khilaf."
Jedarr!
__ADS_1
Suara petir mengalihkan perhatian Alex. Ia menatap jendela kaca yang sebagian tertutup oleh gorden putih. Ia belum mematikan lampu sihir di langit-langit sehingga bisa melihat dengan jelas bahwa di luar sedang hujan badai.
Alex menekan sakelar yang berada di dinding untuk mematikan lampu sihir. Sakelar dan lampu tidak terhubung melalui kabel tetapi wireless. Para perajin sihir akan membuat dua sirkut mana pada magic lamp dan sakelar untuk menghasilkan fungsi nirkabel pada keduanya. Untuk mempermudah pengisian energi dari magic lamp yang membutuhkan mana dari mana stone, para perajin menggunakan sakelar sebagai tempat mana stone yang digunakan untuk menghidupkan magic lamp.
Kamar menjadi gelap dan hanya lampu tidur yang berdiri di meja yang menjadi penerang utama. Alex membungkus dirinya dengan selimut. Hari ini akan menjadi hari yang dingin, pasti tidurnya akan sangat nyenyak.
Tok ... tok ... tok ....
Belum sampai sejam dia menutup mata, ketukan di pintu kamarnya langsung membuat Alex kembali terjaga. Ia jelas kesal, seberapa jahatnya orang yang membangunkannya pada saat seperti ini. Orang itu harus punya alasan bagus, jika tidak Alex akan membuat hidupnya seperti di Neraka.
Alex menghidupkan lampu sihir lalu bangkit dari kasurnya. Ia berjalan ke pintu kemudian membukanya.
Orang yang menunggu Alex di balik pintu adalah seorang gadis kecil dengan rambut coklat dan sedang memeluk boneka beruang coklat kesayangannya. Ia mengenakan piyama putih dan rambutnya yang panjang terurai agak berantakan.
"Merry, ada apa?"
Ini untuk pertamakalinya Merry mendatangi kamar Alex pada malam hari. Tentu saja Alex terkejut.
"A-ayah ...."
Merry malu mengatakannya. Ketika hujan dan petir muncul, Merry mengingat masa-masa ketika ia masih seorang budak. Kecuali ketika mantan tuannya terdahulu memiliki maksud tertentu pada tubuhnya, Merry tidak diizinkan tidur di kamar tuannya ataupun di kamar lain. Gadis kecil itu biasanya tidur di kandang kuda tempat para tamu penginapan menitip kuda mereka.
Setiap kali hujan turun, Merry akan kehujanan dan kedinginan karena atap kandang itu bocor. Ia tidak mau mengingat masa-masa menyedihkan itu. Sesaat dia kemudian teringat pada ayahnya. Karena mereka sudah menjadi ayah dan anak bukankah wajar bagi Merry untuk tidur di kamar ayahnya? Tapi apakah ayahnya tidak akan marah? Apa ayahnya mengizinkan?
Tanpa terasa, Merry sudah berada di depan pintu kamar ayahnya. Dari bawah pintu, ia bisa melihat cahaya dari dalam kamar. Lampu di kamar masih menyala, berarti ayahnya masih belum tidur. Namun ia tidak berani mengetuknya. Ia terus berdiri diam di sana sampai lampu kamar akhirnya padam.
Jantung Merry berdetak kencang. Ayahnya sudah tidur. Ia tidak mau mengganggunya. Namun ia terus berdiri di sana dengan penuh dilema hampir sejam. Hingga akhirnya keinginan untuk dimanja menguasai dirinya. Dengan rasa gugup, Merry mengetuk pintu ayahnya.
Lampu kamar dinyalakan, langkah kaki terdengar, dan pintu pun perlahan terbuka. Jantung Merry semakin berdetak tidak karuan ketika ia melihat sosok pria tinggi di depannya. Sosok tampan itu adalah ayahnya tercinta.
"Ada apa Merry? Kamu tidak usah takut."
Alex sedikit menunduk dan mengelus rambut anaknya. Ia juga tidak lupa tersenyum.
Merry mengencangkan genggaman pada boneka beruangnya sebelum ia berbicara.
"A-ayah, Merry ingin tidur dengan Ayah ... a-apa boleh?"
Alex melihat rasa gugup di wajah anaknya. Dia tidak bisa tidak tertawa dan langsung menggendong anaknya.
__ADS_1
"Tentu saja, apa yang tidak mungkin bagi putriku tersayang."
Alex membawa Merry ke ranjangnya. Ia menyelimputi dan memeluknya.
Merry merasa terkejut dengan seberapa mudahnya dia bisa tidur di kamar ayahnya. Dia merasa seolah kegugupannya tadi tidak ada gunanya. Kedua orang itu memandang dengan wajah ramah dan senyuman.
"Ayah!"
Merry balas memeluk Alex dengan erat. Ia memendam wajahnya di dada kokoh ayahnya.
Hangat!
Dia belum pernah merasakan perasaan damai, nyaman, dan aman dari pelukan orang lain sebelumnya. Rasanya seluruh ketakutan dan ingatan buruknya hilang dalam pelukan ayahnya yang tercinta.
Merry merasakan elusan lembut ayahnya di punggungnya.
"Tidur, besok kita harus pergi ke ibukota, ingat?"
Merry tidak menjawab tetapi mengangguk dalam pelukan Alex. Dia tidak mau terpisah dari pelukan hangat orang ini. Merry semakin memendamkan wajahnya dan mempererat pelukannya seperti gurita.
Alex tersenyum kecil.
Hah ... sekarang dia sudah selengket ini padaku. Kurasa aku harus mencari pekerjaan.
Alex tidak bisa tidak takut ketika ia memikirkan masa depannya. Ia awalnya ingin hidup dengan malas dan menjadi penganggur. Namun kini dia menanggung hidup seorang gadis. Alex tidak percaya diri untuk memenangkan proses suksesi warisan dari ayahnya. Jika saudaranya mendapatkan title dan properti dari ayahnya, kemungkinan besar tunjangan Alex akan terpotong.
Jika untuk hidup sendiri dia tidak masalah dengan tunjangan itu tetapi kini dia harus memberi makan anaknya.
Belum lagi biaya kuliah dan pernikahannya ... hah ....
Alex menghela napas pasrah. Ia mungkin harus kerja lembur bagai kuda untuk memenuhi hidup anaknya.
Tidak! Saat ini uang jajanku masih surplus. Benar! Kenapa aku tidak menjadi investor saja?Hahahaha yahhh ... lebih baik berinvestasi sejak dini!
Alex sudah memutuskan bahwa dia akan menjadi investor muda sukses. Ini untuk menghindari dia dari pekerja yang sangat melelahkan ke depannya.
Alex mengangkat tangannya dengan pelan untuk tidak menggangu Merry. Dia kemudian menekan sakelar di dinding untuk membuat lampu mati.
Keduanya pun tidur nyenyak dengan damai ....
__ADS_1