THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
FIEF WAR(4)


__ADS_3

Ringkikan dan suara tapak kaki kuda saling menyahut kemudian bunyi armor yang saling bergesekan terdengar.


Dari balik pepohonan rindang yang menyelimuti wilayah Viscounty of Breakssex, sekelompok penunggang kuda terus bergerak.


Sir Renaud Pierre Trendome, salah satu orang kepercayaan Peter bergerak memimpin para prajuritnya.


Saat ini dia membawahi 10.000 prajurit.


Dengan sekitar 7.000 kavaleri dan 3.000 infanteri.


Dia telah mendapatkan perintah untuk mengejar sekelompok bangsawan yang kabur.


Perintah ini muncul tak lama setelah pemberitahuan bahwa countess tidak ditemukan.


Selama masa penjarahan Revouille terjadi, mereka sama sekali tidak melihat wujud sang countess. Maka satu hal yang sangat mungkin terjadi adalah, sang countess telah kabur bersama kelompok bangsawan.


Setelah melalui perjalanan panjang di dalam hutan lebat, Renaud dan para prajuritnya sampai di suatu tempat. Tempat itu adalah pemukiman yang cukup padat dengan dipagari oleh dinding batu yang kasar sebagai benteng.


Renaud menyadarinya, ini adalah sebuah wilayah seorang bangsawan.


Namun dia dan bawahannya telah ditunggu oleh sekelompok orang yang tidak kalah banyak juga.


Saat ini di hadapan mereka mungkin sekitar beberapa ratus meter, sekelompok prajurit yang dilengkapi dengan armor dan tombak panjang telah berbaris rapi.


Jadi alih-alih melakukan tindakan defensif di balik dinding benteng, sepertinya orang-orang Otilia lebih suka menghadapi mereka secara langsung.


Renaud tersenyum dengan penuh percaya diri.


"Mungkin hanya hanya 3.000 orang? Tunggu apa itu!?"


Sebelum sempat memberikan hinaan, Renaud melihat barisan musuh terbelah dua dan pintu gerbang terbuka kemudian sekelompok orang keluar dengan tunggangannya masing-masing. Namun yang membuat Renaud terkejut diantara orang-orang itu, terdapat seekor drake yang sedang ditunggangi oleh seseorang.


"Drake! Seorang Drake Rider!? Dari mana dia berasal!?"


Renaud menyadari sesuatu yang amat penting bahwa mungkin perang ini akan lebih sulit dari yang dibayangkan.


Dia kemudian melihat seorang penunggang kuda dari pihak otilia yang berjalan mendekati mereka.


"Sir, pihak musuh telah mengirim seorang pembawa pesan."


Asistennya memberi laporan.


"Bawa orang itu," ucapnya.


Pembawa pesan itu kemudian turun dari kudanya.


Walaupun dia dikepung oleh pasukan musuh tetapi tidak ada ketakutan di matanya.


Dia kemudian dengan berani membuka lembaran surat dari tuannya dan berteriak dengan lantang.


"Dengar, dengar, dengar! Kami, Lady  Eugenie de'Pauline Otilia, Countess of Otilia; Lord Alexander Ivanov Fertiphile; Lord Regis Evangelos Morhust memerintahkan kepada seluruh prajurit di bawah naungan komando Peter Le'Guy Otilia dan Marquess Canadia untuk segera pergi dari Tanah Otilia Yang Mulia ini dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan atas rahmat Dewa yang dianugerahkan kepada Kami, maka dengan ini Kami mengutuk penyerangan yang telah kalian lakukan kepada Tanah yang Kami kenal dan namakan ia sebagai Tanah Otilia dan terhadap seluruh rakyat yang menginjakkan kaki dan di bawah langit yang mereka junjung yang telah engkau hinakan."


Renaud tidak menyangka bahwa kini mereka harus melawan tiga county saat ini. Mungkin jika ini keadaan normal, dia akan pergi dengan terburu-buru untuk memperingati Peter ataupun pihak Canadia akibat musuh mereka yang kini telah bertambah. Namun tidak untuk saat ini.


Jadi Otilia berhasil mendapatkan bantuan dari Morhust dan Fertiphile. Namun tetap saja bahkan jika kalian bersatu ...


Renaud mendengus penuh ejekan.


Tentu saja selama para penunggang wyvern ada di pihak kami, apa yang perlu ditakutkan?


***


Clotildy dan Regis saat ini memimpin seluruh prajurit yang berada di luar benteng. Adapun Alex dia hanya duduk dengan santai di atas benteng.


Kedua orang itu dan mungkin semua orang sedang menatap dengan serius pembawa pesan yang telah mereka kirim.


Walaupun mereka tidak dapat mendengar suaranya tetapi melihat dia sedang membuka gulungan perintah mereka, maka semua orang tahu pembawa pesan itu masih membacakan surat yang mereka kirimkan.


Namun ketika pembawa pesan telah selesai dan hendak menggulung surat, seseorang yang kemungkinan besar adalah pemimpin pasukan musuh menghunuskan pedangnya dan langsung memenggal kepala sang pembawa pesan.


Lalu orang itu mengangkat kepala pembawa pesan tinggi-tinggi dan menginjak gulungan surat di kakinya.


Tindakan itu sudah jelas, itu adalah pernyataan perang yang tidak dapat ditolerir lagi.


"Hidupkan sangkakala," ucap Clorildy.

__ADS_1


Sangkakala perang berbunyi dan tak lama pihak lain membunyikan sangkakala masing-masing.


"Nona Otilia, apakah ini perang pertamamu?"


Regis bertanya dengan santai.


"Iya Tuan Muda Morhust. Namun jangan khawatir, aku tidak akan menjadi beban."


"Senang mendengarnya."


Setelah memberikan jawaban, Clotildy memalingkan tubuhnya menatap para prajuritnya. Lalu dia pun mulai memberikan perintah.


"Siapkan tombak! Atur formasi bertahan!"


Dikarenakan keadaan countess yang saat ini tidak mendukung, posisi sebagai pemimpin tertinggi tentunya dipegang oleh Clotildy dan perintah itu diulangi oleh masing-masing ketua kelompok.


Karena jumlah pasukan yang sedikit, dalam rapat mereka telah memutuskan untuk membuat taktik tempur yang memanfaatkan pasukan penombak dan pemanah sebagai pasukan utama. Ini adalah saran Regis yang juga didukung oleh para bangsawan lain dan sang  countess . Pasukan tombak akan membentuk formasi phalanx, lalu pasukan pemanah yang berada di atas benteng dan di luar benteng akan meluncurkan hujan panah ketika musuh mulai mendekat. Karena formasi phalanx rentang diserang dari samping, para pasukan berkuda di letakan di sisi kanan atau pun kiri dari formasi itu.


Bunyi sangkakala perang kembali terdengar. Kali ini dari pihak musuh.


Terjadi mobilisasi di pasukan musuh. Para prajurit berkuda terlihat berbaris dan beberapa barisan terdepan membawa tombak yang tidak kalah panjang dari prajurit Otilia.


"Nona Otilia, sebaiknya kita memberikan kesempatan prajurit terdepan kita untuk maju," ucap Regis.


Regis dan Clotildy serta beberapa orang lainnya masuk ke dalam barisan belakang. Hal ini untuk tidak mengganggu formasi phalanx di barisan terdepan.


Prajurit musuh pun bergerak.


Formasi dari prajurit musuh agak sedikit meruncing ke depan menyerupai segitiga. Ini menandakan musuh akan memberikan serangan yang cenderung terarah pada garis lurus.


Clotildy menunggu saat yang tepat. Ketika musuh berada dari jarak tertentu, lalu ...


"Tembak!"


Hujan panah muncul dan turun dari langit. Serangan itu menghujani para pasukan musuh yang merupakan kavaleri. Tetapi ....


"Sial!" gumam Clotildy.


Hujan panah yang berjatuhan itu tidak membuahkan hasil yang maksimal. Ratusan anak panah terpental ketika menyerang prajurit musuh yang berada di barisan depan.


Regis cukup kagum dengan komposisi itu. Menggunakan prajurit yang memiliki kelas dan dilengkapi dengan magic item cukup beresiko karena jika terjadi kesalahan sedikit saja dari rencana maka kemungkinan besar musuh dapat kehilangan prajurit-prajurit terbaik mereka. Namun jika sukses, korban di pihak musuh akan sangat minim karena prajurit non-kelas yang berada di belakang prajurit seperti knight telah mendapat perlindungan.


Pasukan musuh terus berlari mendekati para pasukan Otilia. Pasukan berkuda  yang dilengkapi full armor, spear, dan perisai besar berada di depan. Itu adalah taktik Renaud, dia tahu jika formasi yang digunakan oleh musuhnya sangat efektif terhadap serangan dari pasukan kavaleri. Tapi mereka memilih lawan yang salah, pasukan kavaleri yang dipimpin oleh Renaud diisi oleh para prajurit pengguna aura di barisan depan sehingga jika dibandingkan dengan prajurit biasa, jelas prajurit Renaud akan sangat unggul.


Selain itu, pasukan kavaleri juga memiliki kecepatan lebih, sehingga memberi daya dorong yang lebih kuat dari pada pasukan infanteri. Jadi, formasi phalanx mengalami guncangan.


"N-Nona, b-bagaimana bisa?"


Victor yang juga berada di samping Clotildy bertanya dengan panik. Dia terlihat sangat pucat ketika melihat bentrokan yang terjadi pada formasi depan. Tombak, pedang, dan perisai saling beradu. Suara kuda yang kesakitan terus bergema. Ini menunjukkan kekacauan yang luar biasa pada barisan depan.


Sebagai orang dengan latar belakang non-militer tentunya Victor tidak mengetahui apa pun tentang keadaan perang. Alasan dia memutuskan untuk berada di luar gerbang pun tak lebih untuk mencari muka di depan Clotildy.


Namun berbanding terbalik dengan kepanikan Victor, Clotildy terlihat cukup santai.


"N-Nona?"


Sekali lagi Victor itu memanggil Clotildy.


"Kembali saja di postmu," ucap Clotildy tanpa ekspresi.


"Kreek ...."


Bunyi tombak yang patah bermunculan di mana-mana. Tombak itu patah akibat berusaha menusuk magic armor milik knight musuh. Tak lama, suara teriakan dari para prajurit di barisan depan juga terdengar.


"Haa ...!"


Mereka semua berteriak karena tertusuk atau tersayat oleh pedang atau tombak. Satu per satu barisan Otilia mulai goyah.


Untuk mencegah formasi pertahanan jebol, para prajurit di belakang mendorong dengan sekuat tenaga.


Melihat kondisi ini, Regis pun turun tangan.


"Nona ..."


"Saya mengerti, Tuan. Berikan sinyalnya!" teriak Clotildy.

__ADS_1


Kali ini sangkakala dengan suara berbeda dibunyikan oleh pihak Otilia.


Sebagai respon dari bunyi itu, suara ratusan langkah kaki kuda terdengar.


Kemudian dari balik hutan baik di kanan dan kiri prajurit kavaleri  Otilia muncul.


Kavaleri kanan dipimpin oleh Otto sementara  di kiri dipimpin oleh Gerald.


Mereka membokongi pasukan musuh.


"AAARRRHHH!!"


Kini sang drake mengaum.


"Maju!"


Dengan cepat para prajurit memberi jalan kepada Regis.


drake yang bernama draco dengan cepat mencengkram dua kepala prajurit dengan dua kaki depannya. Lalu tanpa butuh banyak usaha, draco menghancurkan meremukkan kepala kedua prajurit itu.


Draco terus menyerang musuh baik dengan gigitan, cakaran, maupun tendangan.


Semantara kulitnya yang tebal, hal itu membuat tidak ada tombak dan pedang yang mampu melukainya. Bahkan magic sword milik knight musuh tidak dapat memberi banyak efek.


Regis menghunus pedangnya.


Dia hanya mengayunkannya pada udara kosong. Namun gelombang aura dalam jumlah besar muncul dari ayunan pedangnya. Gelombang aura itu dengan mudah membunuh musuh dengan sekali tebasan.


Dia mengulanginya beberapa kali tanpa masalah.


Sementara itu, Clotildy tidak ketinggalan.


Sebagai eques, dia menggunakan sihir untuk memberikan serangan yang lebih destruktif.


Pedangnya yang diselimuti oleh es dan setiap tebasannya menyebabkan pecahan es bermunculan dan terus menyerang lawan.


Bahkan luka sayatan akibat serangannya justru membuat darah di dalam tubuh perlahan membeku.


"[Frozen Slash]!"


Pedang milik Clotildy kini memancarkan hawa yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.


Sihir tingkat tiga, [Frozen Slash] yang menyebabkan musuh yang terkena mengalami pendarahan yang terus menerus. Efek pasif dari sihir tersebut adalah tubuh korban akan semakin terasa dingin hingga akhirnya korban kemungkinan mati dalam dua keadaan. Pertama, mati akibat pendarahan atau kedua, mati akibat kedinginan.


Dengan cepat kini pasukan pembebas Otilia telah membalikkan keadaan.


Renaud yang melihat pasukannya dibokongi dan kini dibantai merasa sangat marah.


Dia telah menerjunkan pasukan utamanya yang terdiri dari 7.000 kavaleri sehingga sekarang ia hanya memiliki 3.000 infanteri.


Jika semua kavalerinya mati, maka mereka akan kalah.


"Sial!"


Dia tidak mungkin kembali dengan kekalahan.


Renaud menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


Dia kemudian mengambil sesuatu dari sakunya.


Itu terlihat seperti peluit hitam dengan hiasan yang rumit.


Namun sebagaimana instruksi yang diberikan kepadanya oleh 'orang itu' , dia hanya perlu meniup peluit kecil yang berukuran kurang dari jari jempol orang dewasa.


Renaud meniupnya.


"???"


Namun tidak terdengar apa-apa.


Dia kembali melakukannya tetapi tidak ada suara yang muncul.


"Apa ini rusak!?"


Renaud pun panik. Dia bahkan hampir ingin menarik semua rambut di kepalanya akibat panik jika tidak dihentikan asistennya.

__ADS_1


Namun siapa sangka, beberapa menit kemudian, orang-orang yang dia tunggu akhirnya muncul.


__ADS_2