
Archentioch, Ibukota Kerajaan Artchania
Pada tengah hari yang cerah dan yang seharusnya adalah waktu istirahat bagi banyak orang, di halaman depan kantor perdana menteri Kerajaan Artchania, ratusan orang berkumpul sejak fajar tiba. Mereka adalah para jurnalis yang haus akan berita.
Hanya ada satu penyebab untuk semua ini.
Sebuah isu tiba-tiba tersebar di kalangan jurnalis dan para golongan elit. Isu itu berupa:
[Impeachment: sebuah kebenaran atau pengalihan isu?]
[Perdana Menteri Kerajaan Artchania kehilangan suara mayoritas di parlemen?! Kabinet dibubarkan?]
[Count of Westwealth: Koalisi Norchaster adalah sekumpulan katak politik.]
[Breaking News: Perdana Menteri dimakzulkan!]
Semua berita yang disiarkan memiliki judul yang provokatif. Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah kerajaan. Umumnya para jurnalis tidak akan berani membuat judul seprovokatif ini kecuali ini adalah berita pesanan dari orang-orang berpengaruh.
Semua orang dengan sabar menunggu.
Mata mereka layaknya elang yang sedang mencari tikus di tanah.
Setiap kali kereta kuda datang atau pergi dari/ke kantor perdana menteri, mereka akan mengerumuninya dan bertanya apakah perdana menteri ada di sana.
Akibat tekanan publik yang sangat besar yang ingin mengetahui kejelasan mengenai status pemerintah mereka sekarang, pada akhirnya Perdana Menteri Kerajaan Artchania saat ini, Marquess Beldon Ellison Hornwall akhirnya keluar dari kantornya dan menemui para jurnalis.
Tentunya kemunculannya telah ditunggu banyak orang. Untungnya marquess muncul dengan dikawal oleh banyak prajurit sehingga kerusuhan tidak terjadi.
Di hadapan media, Marquess Hornwall dengan penuh percaya diri mengumumkan bahwa dia tidak kehilangan suara mayoritas di parlemen dan tidak dimakzulkan.
"Tidak, tidak, itu tidak benar. Saya tidak kehilangan suara mayoritas di parlemen. Isu itu pasti disebarkan oleh orang-orang yang tidak senang dengan saya dan pemerintahan saya."
Setiap ucapan sang marquess segera dicatat oleh semua orang. Mereka tidak boleh kehilangan satu kata pun terlebih sangat jarang seorang perdana menteri mau keluar dan memberikan opini secara langsung di hadapan media.
"My Lord, bagaimana dengan kabar yang muncul ke publik mengenai pihak Norchaster yang menarik dukungan terhadap pemerintahan Tuanku?"
Salah seorang jurnalis bertanya dengan cukup kencang sehingga didengar semua orang. Para jurnalis kembali mempersiapkan pena dan buku mereka untuk mencatat setiap perkataan sang marquess.
"Itu tidak benar. Norchaster sampai sekarang masih tetap melaksanakan komitmen mereka sebagaimana dalam nota kesepahaman antara kami dan mereka untuk menciptakan stabilitas politik."
Para jurnalis mencatat semua pernyataannya. Para jurnalis yang ada di sini tidak hanya berasal dari serikat jurnalis dalam negeri, bahkan jurnalis dari negara lain juga datang untuk mendapatkan berita yang menarik.
__ADS_1
Sebelum pertanyaan kembali dilontarkan, perdana menteri mengambil setumpuk file dokumen dari asistennya. Ia lalu menunjukkan file itu di depan umum.
"Saya akan segera menemui His Majesty Raja kita Yang Dikasihi untuk menyerahkan dokumen ini. Ini adalah dokumen yang berisi nama-nama para bangsawan agung yang memberikan dukungan terhadap pemerintahan saya."
"Wow!"
Beberapa orang bersorak kaget. Mereka kemudian mendeskripsikan tindakan perdana menteri ke dalam catatan mereka.
Dikarenakan di dunia ini keberadaan kamera belum ditemukan, sehingga laporan jurnalistik berasal dari segala deskripsi yang ditulis oleh para jurnalis tanpa bukti visual seperti gambar. Itu sebabnya ketika perdana menteri menunjukkan dokumen yang menjadi bukti dukungan politiknya di parlemen, semua orang dengan cepat mendeskripsikan tindakannya ke dalam catatan masing-masing.
Setelah dianggap cukup berurusan dengan media, perdana menteri kembali masuk ke kantornya. Ia mempersiapkan diri untuk segera pergi ke istana raja untuk memberikan bukti bahwa dia tidak kehilangan dukungan mayoritas di parlemen.
Hari pun berganti.
Namun kemelut dan gejolak politik masih belum surut.
Kali ini terdapat bocoran informasi yang tersebar bahwa hari ini Duke of Sandwealth, pemimpin Koalisi terbesar sekaligus oposisi utama dalam parlemen akan segera menemui raja untuk meyakinkan sang raja membuka rapat parlemen demi pemakzulan perdana menteri.
Ketika para jurnalis telah berkumpul ke mansion tempat sang duke tinggal di ibukota, mereka melihat satu per satu kereta kuda mewah memasuki pekarangan mansion.
Semua orang menyadari bahwa itu adalah para bangsawan yang merupakan anggota koalisi Sandwealth. Sepertinya Sandwealth akan melakukan audiensi dengan raja sambil membawa para anggota koalisinya.
Namun yang mengejutkan semua orang ketika semuanya melihat sebuah kereta kuda mewah yang tak asing memasuki pekarangan mansion.
Duke of Norchaster!
Kedatangan Duke of Norchaster, sang Grand Chamberlain kerajaan ke kediaman Duke of Sandwealth mengejutkan semua orang.
Kejutan kemudian ditambah lagi dengan Duke of Sandwealth yang keluar dari mansion dan langsung menyambut Duke of Norchaster di depan pintu mansion-nya.
Kemudian satu persatu kereta dari bangsawan koalisi Norchaster juga berdatangan masuk ke pekarangan mansion.
Lalu setelah semua bangsawan itu berkumpul, secara bersama-sama mereka pergi ke istana sehingga menciptakan rombongan kereta kuda yang mewah.
Berbeda dari perdana menteri yang secara sukarela menemui dan berbicara di hadapan media, Norchaster dan Sandwealth sama sekali tidak memberikan keterangan apa pun.
Namun semua orang menyadari bahwa kejadian yang baru saja mereka lihat adalah awal sebuah peristiwa baru yang mengisi sejarah panjang kerajaan.
Beberapa orang menyadari bahwa ini adalah akhir dari pemerintahan para marquess tetapi sebagian kecil pula menyadari bahwa ini adalah asal mula instabilitas politik nasional karena rivalitas antar duke terlalu kentara untuk disembunyikan.
Berbagai pihak telah menemui raja di istananya. Entah itu pihak pemerintah maupun pihak oposisi saling mengklaim bahwa mereka memiliki suara mayoritas di parlemen. Pada akhirnya sang raja memberikan izin untuk kembali membuka House of Parliament dan memerintahkan Grand Chamberlain agar memanggil semua bangsawan untuk berkumpul ke ibukota.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman pangeran ketiga, Prince Albert Ferdinand Ignitus Augustus. Saat ini dia sedang bertemu dengan Perdana Menteri Kerajaan Artchania, Marquess Beldon Ellison Hornwall.
Perdana menteri hanya bisa duduk dengan gugup. Tentu saja, saat ini dia menyadari posisinya.
Terjadi gejolak politik yang luar biasa di antara para bangsawan dan ia pun merasakan posisinya mungkin akan segera digeser.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
Pangeran Albert memberikan pertanyaan tiba-tiba kepada perdana menteri.
"My Highness, saya juga tidak mengerti. Bagaimana bisa Sandwealth dan Norchaster mampu bergandengan tangan," jawab perdana menteri.
"Hah ... ini buruk," gumam Pangeran Albert.
Alasan dari berhasilnya koalisi marquess berada pada tampuk kekuasaan eksekutif adalah karena dua koalisi lain yaitu Norchaster dan Sandwealth memiliki rekam jejak rivalitas yang tinggi.
Masing-masing dari kedua duke itu merasa bahwa satu sama lain merupakan musuh utama sehingga mereka kadang tidak memperdulikan posisi para marquess. Akibatnya dengan menjalin kerjasama dengan salah satu koalisi yang dipimpin oleh seorang duke dan bersama-sama membuat nota kesepahaman, pada akhirnya para marquess mampu membentuk kabinet hingga saat ini.
Pangeran Albert yang juga salah satu suksesor takhta mahkota juga menyadari perubahan konstelasi politik para bangsawan.
Ia mendapat dukungan politik dari koalisi marquess sehingga wajar baginya untuk memberikan dukungan terhadap koalisi ini. Namun sekarang koalisi marquess kini berada dalam bahaya. Sangat mungkin dalam waktu dekat mereka akan mengalami pemakzulan yang menandakan berakhirnya kekuasaan para marquess dalam kekuasaan eksekutif.
"Akan buruk kedepannya jika kalian jatuh. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Norchaster dan Sandwealth mampu bekerjasama?" ucap Pangeran Albert.
Terlebih saat ini citra pangeran pertama dan pangeran kedua sangat baik di mata rakyat. Akan buruk jika terus seperti ini, pikir Albert.
Pangeran pertama, William Frederic Charteris Augustus telah diingat sebagai seorang pahlawan yang memenangkan perang Ibeltia-Artchania.
Pangeran kedua, Henry Francois Gregorius Augustus telah dipuji karena perannya dalam mendamaikan Otilia dan Canadia.
Sementara dia, pangeran ketiga tidak memiliki prestasi apapun yang membanggakan.
Jika terus seperti ini dia bisa terdiskualifikasi dalam persaingan suksesi mahkota.
"My Highness, apa mungkin ini semua dimulai dari diangkatnya topik fief war Otilia-Canadia di parlemen?"
Perdana menteri tiba-tiba teringat dengan sidang parlemen yang belum lama ini berlalu. Itu adalah satu-satunya momen dimana banyak bangsawan lintas koalisi berada di lokasi yang sama. Maka besar kemungkinan terjadi kesepakatan di antara mereka.
"Kemudian atas prestasi yang dicapai oleh pangeran pertama, apa itu mungkin ide dari sang pangeran pertama yang ingin menggandeng Norchaster," lanjutnya.
"Jadi itu berarti kakakku merasa sangat percaya diri karena prestasinya dalam perang sehingga berani berdamai dengan salah satu saingannya? Sepertinya itu memang masuk akal. Sial! Sepertinya kedua saudaraku telah bersengkongkol untuk menjatuhkanku!"
__ADS_1
Pangeran Albert memukul mejanya. Aliran aura yang menyelimuti pukulannya menyebabkan meja itu langsung hancur.
Perdana menteri hanya diam dan melihat hancurnya meja yang terbuat dari kerangka emas itu hanya dengan satu pukulan.