
Mereka telah berada di lantai 2, dengan obor yang berada pada 3 orang, kelompok Alex terus bergerak maju. Sangat disayangkan mereka tidak memiliki penyihir ataupun ranger, akibatnya para knight harus membuang cukup banyak aura untuk menambah sensitivitas indera mereka.
Alex yang berada di depan sebenarnya tidak memerlukan itu. Selain karena kuantitas aura-nya yang masih sedikit, ia memiliki [Eyes of Esoteric] yang mampu melihat aliran energi supranatural. Sehingga jika penjaga dengan role mendekat, ia dapat mengetahuinya.
Tepat seperti dugaannya, sekelompok orang dengan aura melimpah mendekat. Sayangnya ini adalah lorong tunggal. Selain itu, obor yang mereka bawa jelas terlihat oleh pihak lain. Para tamu itu bergegas berlari ke arah mereka.
"Kita ketahuan, buat formasi."
Para knight juga menyadari adanya pihak lain yang mendekat. Bergegas ke lima knight membuat posisi sebagai vanguard.
Rain dan Ryana yang tidak mengetahui kalau mereka ketahuan berada di belakang. Ryana berperan sebagai healer dan supporter. Sayangnya mereka tidak memiliki rearguard lain yang melindunginya sehingga tugas itu pun diberikan kepada Rain.
"[Larael's Lower Blessing : Slash], [Lithrael's Lower Blessing: Protection ], [Ceacreal's Lower Blessing: Unhealthy]."
Walau Ryana bukanlah betul-betul penyihir tipe supporter, tetapi untungnya Sekolah Kependetaannya mengajari beberapa sihir divine selain sihir tipe penyembuh. Salah satunya adalah sihir buff yang memohon berkah dari para dewa. Ketiga sihir yang digunakan Ryana adalah sihir tingkat 1.
[Larael's Lower Blessing : Slash] merupakan sihir divine yang mampu meningkatkan serangan hingga +2%.
[Lithrael's Lower Blessing: Protection] adalah sihir pelindung yang memungkinkan meningkatkan daya tahan hingga +2%.
[Ceacreal's Lower Blessing: Unhealthy] adalah sihir kutukan yang mampu memberi efek kritikal serangan dan efek racun dengan persentasi keberhasilan adalah +2%.
Seolah dikoordinasi oleh seorang wasit, kedua pihak itu saling berbenturan. Pedang yang memancarkan aura dengan aneka warna berbeda saling beradu.
Simon tidak pernah menyangka dia akan kembali bertemu dengan anak bangsawan ini.
Sial! Butuh tiga lima orang untuk mengalahkan bocah ini!
Simon harus mengakui bahwa kemampuan berpedang bocah dengan mata merah ini sangat luar biasa.
Tanpa meremehkan atau membuang waktu, dia ditemani oleh empat orang bawahannya bergegas menghadapi Alex.
Tentu saja para knight tidak membiarkan kelima orang ini menyerang tuan muda mereka. Walau akibatnya mereka harus melawan lebih dari satu orang, tetapi ini jauh lebih baik daripada harus membiarkan Alex dikeroyok oleh para penjahat.
Pada akhirnya Simon harus duel satu lawan satu dengan Alex. Ia sudah melawan Alex sebelumnya sehingga pada tahap ini, dia tidak akan membuang waktu.
"Hiya!"
Alex dan Simon melakukan duel pedang dengan intens. Berbagai disiplin gaya berpedang terbaik mereka saling berbenturan. Aura merah dari Alex dan aura kuning milik Simon saling beradu satu sama lain.
Alex melakukan beberapa kali tebasan dan tusukan. Namun serangannya berhasil ditangkis oleh Simon.
Ini bukan hal baik bagi Alex. Walaupun aura-nya berada pada kualitas tinggi tetapi kuantitasnya saat ini sangat menyedihkan. Dia tidak bisa bertarung dalam waktu lama.
Bahkan dengan buff Ryana, ini masih sulit bagi Alex.
Alex hanya punya satu solusi. Dia harus menyerang secara membabi-buta.
__ADS_1
Alex kemudian menambahkan frekuensi gerakannya. Dia sengaja melakukan ini karena ia tidak akan kelelahan ataupun merasa sakit jika ia terkena serangan.
Namun dia tidak boleh melonggarkan pertahanan dan hanya fokus ke serangan. Bagaimanapun tubuh ini adalah tubuh fana. Jika telah berada pada batasnya, maka akan berakibat fatal.
Serangan Alex semakin intens dan lincah.
Simon semakin terpojok dan perlahan mundur. Ia tidak bisa meminta bantuan karena para bawahannya pun sedang bertarung dengan para kinght.
Merasa frustrasi dan melihat kondisi semakin terpojok, Simon memutuskan untuk melompat ke belakang agar dapat keluar dari area serangan Alex. Kemudian dia melakukan salah satu sword art terbaiknya.
Simon memutar tubuhnya 360° tanpa henti menyebabkan terciptanya pusaran angin buatan di sekitarnya. Tentu saja gaya serangan itu tidak memberikan celah kepada Alex utuk menyerang.
"[Minor Shield]."
Ryana membuat dua perisai transparan yang menjepit Simon di kedua arah. Sayangnya mantra ini hanya berada di tingkat dua dan langsung hancur ketika mengenai bilah pedang Simon yang telah dialiri aura.
Gerakan Simon semakin fleksibel. Dengan martial art-nya ini, dia bergerak cepat seperti angin puyuh yang bergerak dan menarik benda-benda di sekitarnya.
"Berikan aku perisai!"
Salah satu knight menyadari teriakan Alex. Bergegas ia melempar perisai yang ia gunakan kepada Alex.
Alex menangkap perisai itu dan langsung mengalirinya dengan hampir semua aura yang dimilikinya. Sesaat seolah perisai itu telah diselimuti oleh aura merah darah yang berkobar seperti api.
Alex bukanlah tipe naif yang akan berlari ke arah lawan yang kuat. Ia melakukan serangan yang sama selayaknya ketika ia menggunakan batu atau piring. Ia melempar perisai itu dengan kecepatan luar biasa ke arah Simon.
Perisai itu berputar seperti piring terbang dengan kecepatan ganas.
Pedang dan perisai saling beradu yang menyebabkan Simon linglung dan langsung menghentikan martial art-nya.
Simon melihat perisai yang kini tak memiliki aura terjatuh di tanah. Kemudian dia melihat pedangnya yang telah patah .
"B-bagaimana mungkin?"
Sangat sulit untuk mematahkan sebuah magic sword kelas tinggi belum lagi dialiri dengan aura. Jika ia melihat perisai yang digunakan untuk menyerangnya, itu memiliki kelas yang sama dengan pedangnya. Berarti satu-satunya perbedaan adalah kualitas aura lawan.
Simon menelan ludah. Dia telah lama menjadi seorang ber-role knight yang telah berkali-kali berduel dengan banyak orang. Dalam berbagai kesempatan, ia tidak pernah mengalami ataupun melihat sebuah pedang kelas tinggi yang dialiri oleh aura veteran patah. Paling-palingan hanya mengalami aus atau bengkok. Namun patah ....
Mustahil ... kecuali hanya satu hal, anak bangsawan ini jauh lebih berbakat darinya.
"T-tunggu!"
Simon hendak menanyai indentitas sesungguhnya dari anak ini. Namun anak bermata merah ini telah menyerangnya di saat kondisi linglung. Pedang anak ini menembus baju bajanya hingga tubuhnya.
"AAARRGHH! S-sial!"
Simon perlahan berlutut. Darah keluar dari luka dengan pedang yang masih tertancap di perutnya. Ia kemudian memuntahkan darah segar.
__ADS_1
Pandangan Simon mulai kabur. Sebelum kesadarannya betul-betul hilang, ia mengangkat pandangannya ke arah wajah anak bangsawan ini. Tiada ekspresi di wajah anak ini, seolah ia telah terbiasa atau tidak mau peduli dengan pembunuhan yang ia lakukan.
"S-siapa kau ...."
Suara Simon serak tetapi Alex masih mengetahui apa yang dia katakan.
Alex menundukan tubuhnya lalu berbisik kepada Simon.
"Jangan khawatir, kamu akan mengetahuinya setelah kematianmu."
"Heh ... M-menjadi keren karena kemenangan, t-tidak buruk, Uhuk! Uhuk!"
Alex tidak mengerti apa yang dikatakan orang sekarat ini padanya. Dia (Simon) memang akan mengetahui indentitas Alex yang sesungguhnya sebagai penguasa neraka.
Hah ... sial, aku menambah satu lagi penghuni Neraka.
Walau Peradilan Anumerta yang akan mengadili Simon belum dimulai, dengan melihat pekerjaan orang ini yang merupakan seorang penjahat, Alex yakin bahwa orang ini akan masuk ke neraka.
Alex langsung bete.
"N-nak, aku memiliki permintaan terakhir."
"Hmm ... katakanlah," ucap Alex.
"Tolong Uhuk! beritahukan n-namamu."
"Sheol, namaku Sheol Rú-Arhamein Eruniroi."
"... S-Sheol, itu nama yang bagus. Kuharap kita dapat bertemu di kehidupan setelah kematian."
Dan kita dapat menjadi teman dan rival di sana.
Bagi Simon yang merupakan seorang warrior, menemukan seorang yang mampu mengalahkannya bahkan ketika ia (Simon) telah melakukan perbuatan curang, patut diapresiasi. Walau di kehidupan ini mereka adalah musuh tetapi di kehidupan abadi nantinya ia berharap dapat bersama dengan orang hebat itu, berteman dengannya, mabuk bersamanya, dan duel bersamanya. Bukankah itu jalan para warrior sesungguhnya?
Semoga saja itu terkabul.
Di tengah pertempuran, sesosok pria pirang dewasa ambruk di tanah dengan pedang menembus tubuhnya. Wajah pria itu terlihat damai tanpa adanya rasa sakit sedikitpun bahkan ketika ia telah dibunuh.
Sosok lainnya yang merupakan pembunuh pria pirang itu hanya berdiri diam seolah bengong. Ia terus menatap wajah pria yang tergeletak tak bernyawa di lantai dengan tatapan rumit.
Apa dia bodoh?
Serius, kau mau masuk neraka? Bertemu denganku?
Dasar orang gila, psikopat parah.
Alex menggigil ketakutan ketika memikirkan apakah mungkin orang yang telah ia bunuh adalah seorang masokis. Namun bahkan seorang masokis akan menangis kesakitan dan memohon ampun ketika ia disemur di api neraka.
__ADS_1
Setelah pemimpin mereka terbunuh, para bawahan lainnya tumbang satu per satu. Mereka telah kehilangan semangat akibat kekalahan sang pemimpin. Walau jumlah mereka dua kali lebih banyak dari lawan, tetapi menghadapi para knight bahkan jika mereka adalah para pengguna aura tetapi tidak memiliki pengalaman atau kemampuan yang cukup jelas mustahil .
Tidak semua dari orang-orang ini dibunuh. Beberapa diinterograsi oleh Alex untuk menemukan lokasi kedua anak yang mereka cari.