
Slash!
Sebuah pisau dengan aura merah tiba-tiba terbang melintas nyaris mengenai pipi Alpha. Namun sayangnya serangan yang mengarah pas ke ulu hati Eldnest terpantul oleh mantra pelindung tingkat 5 miliknya, [Protection of Volunteers].
Semua orang berdiri dalam diam memandang pisau yang datang tiba-tiba. Tidak ada satu pun yang menyadari serangan itu tetapi para penyihir tahu dengan pasti bahwa ini bukanlah hal baik.
Di depan mereka, sekumpulan knight yang dilengkapi oleh obor, pedang, dan perisai telah berlari dan membentuk formasi bersiap menyerang.
Di tengah kelompok itu, berdiri sosok pemuda tinggi yang memandang mereka tanpa ekspresi. Mata pemuda itu seolah mengeluarkan cahaya merah darah akibat sangat kontras dengan gelapnya lorong.
Untuk sesaat semua penyihir menelan ludah setelah melihat sekumpulan prajurit dan pandangan mematikan dari pemuda itu.
Di samping pemuda itu berdiri dua orang wanita. Wanita pertama memiliki rambut pirang dan mengenakan jubah yang terlihat seperti jubah pendeta. Sementara wanita kedua memiliki rambut biru laut dan memakai armor ksatria.
"Jangan mendekat! Jika tidak, anak ini akan mati!"
Eldnest semakin mengecangkan ancamannya. Namun hal itu tidak memengaruhi tekad pemuda yang masih menatapnya dengan dingin.
Pemuda itu berjalan mendekat dengan pelan diikuti oleh kelompoknya dari belakang. Setiap langkah kakinya mengguncang tekad para penyihir. Mereka tidak tahu kenapa tetapi para penyihir khususnya Eldnest merasa tertekan ketika menatap mata pemuda ini seolah pemuda ini adalah keberadaan yang sangat mengerikan. Namun Eldnest merasa bahwa ini hanyalah ilusinya ketika ia mencoba merasakan kekuatan supranatural pemuda ini yang terasa sangat rendah.
Pemuda itu berhenti tepat di sebelah Alen.
Alen melirik pemuda itu sebelum memberi hormat.
"Tuan Muda Alex."
Alex hanya mengangguk pelan sebelum kembali memfokuskan dirinya pada para penyihir.
"Kau tidak akan berani melakukannya."
"Apa?"
Eldnest tidak mengerti apa yang dikatakan Alex. Namun dengan lantangnya Alex melanjutkan ucapannya.
"Jika kau memang menganggap nyawa anak itu tidak berharga, tidak mungkin kau akan menyerang kediaman count dengan mempertaruhkan para bawahanmu."
Ucapan Alex langsung membungkam akting Eldnest. Apa yang diucapkan pemuda ini memang tepat. Bagaimanapun A-25 adalah spesimen penting untuk pengembangan dan masa depan manusia. Bagaimana mungkin Eldnest dapat membunuh spesimen suksesnya begitu saja.
Eldnest merasa frustasi dan memutuskan untuk melempar Alpha ke pada bawahannya. Penyihit tua itu memutuskan untuk melawan para penyusup ini. Toh, dia adalah wizard yang mampu menggunakan mantra tingkat 5. Jelas mereka punya kesempatan walau mengalami kalah jumlah.
"[Sigil of Thunder Chain]!"
Daerah sekitar Eldnest bercahaya dan memunculkan ratusan simbol sihir yang saling tertaut membentuk lima rantai. simbol-simbol sihir tersebut mengandung petir dan mengelilingi sang caster. Ini adalah mantra tingkat 5 berelemen petir dan bertipe AoE.
Eldnest Langsung mengangkat tangan kanannya ke arah para musuh. Kelima rantai petir tersebut langsung meluncur ke arah kelompok Alex.
Namun beruntung, dengan sigap Alen para knight dengan sigap maju ke depan dan menyiapkan formasi bertahan dengan menggunakan persai mereka secepat mungkin. Ryana juga telah menyiapkan [Minor Shield] tetapi sayangnya tidak mungkin sihir tingkat 2 tidak mungkin dapat menahan serangan dari sihir tingkat 5.
Benar saja, ketika kelima rantai petir itu menabrak [Minor Shield], perisai sihir transparan itu langsung pecah. Serangan Eldnest masih belanjut tetapi dapat di tahan oleh perisai dan armor para ksatria. Bentrokan antara [Sigil of Thunder Chain] dan magic shield yang diperkuat oleh aura terjadi. Bunga petir berterbangan di segala arah tetapi pada akhirnya berhenti tanpa meninggalkan korban jiwa.
Sayangnya ini bukan tanpa efek. Para knight yang menahan serangan itu goyah dan perlahan berlutut. Tubuh mereka mengeluarkan asap tipis dan kulit mereka terlihat lebih hitam. Bahkan dengan reduksi dari shield, aura, dan armor, efek mantra serangan itu terlalu kuat.
"[Cure]!"
Untunglah mereka memiliki satu healer yang walau hanya mampu menggunakan mantra tingkat 2, tetapi setidaknya dapat mengobati efek kesetrum satu per satu. Selain itu mereka juga membawa potion.
Setelah serangan itu berlalu, dengan cepat Alen kembali masuk dan menyerang Eldnest. Namun penyihir tua itu menggunakan tongkatnya untuk memblokir kedua belati yang mengarah padanya.
Para penyihir tipe arcane lain tidak tinggal diam. Mereka juga menyerang Alen dan knight. Adapun para alchemist berada di belakang sambil menahan A-25.
__ADS_1
Para knight yang tidak terluka maju. Mereka mengangkat perisai mereka untuk menahan mantra dari para penyihir yang rata-rata mantra tingkat 3 seperti [Lightning], [Fireball], dan [Ice Spear]. Ketika para knight berada terlalu dekat, para penyihir menggunakan [Shockwave] untuk melempar para knight. Sayangnya itu hanya mantra tingkat 2 yang tidak memberikan efek signifikan.
Shoot!
Sebuah pedang yang membawa aura merah darah terbang lurus dan menghancurkan kepala seorang penyihir.
Alex membawa dua belati kecil yang hanyalah item non-sihir dan berlari mendekat. senjata ini adalah belati lempar milik Justin. Sayangnya Justin tidak dapat menggunakan aura sehingga Alex pun memutuskan untuk menggunakan senjata ini agar lebih efektif.
Ia mengaliri aura-nya ke belati kemudian melempar ke target. Kali ini targetnya adalah Eldnest yang sedang duel dengan Alen. Namun penyihir tua ini menyadari bahwa serangan itu dan langsung menggunakan [Protection of Volunteers] untuk menangkis belati lempar itu.
"[Spears of Vicious]."
Empat tombak ungu berputar-putar di sekitar Eldnest kemudian keempatnya meluncur ke arah Alen. Ini adalah mantra tingkat 5.
Alen menghindarinya sehingga keempatnya tertancap ke tanah tetapi keempat tombak itu tiba-tiba pecah menjadi beberapa tombak berukuran lebih kecil yang melayang dan kembali meluncur ke arah Alen.
Alen kembali menghindar tetapi semakin sering tombak itu tertancap di tanah, semakin banyak jumlah mereka.
Maka Alen pun memutuskan untuk memutar tubuhnya dan menangkis semua tombak itu menggunakan belatinya. Itu berhasil tetapi ia mengalami luka gores di sekitar tubuhnya.
"Hahaha ... kalian tidak bisa mengalahkanku!"
Alen mundur ke tempat Alex berada. Napas pria tua itu cukup berat akibat terlalu banyak bergerak.
"Tuan Muda."
Alex mengerutkan kening akibat situasi yang buruk ini.
"Menyerahlah! Mungkin aku akan mengampuni kalian!"
Eldnest tertawa terbahak-bahak.
Dugaan Alex benar. Walau Eldnest masih tertawa tetapi sebenarnya dia tahu bahwa persediaan mana-nya telah mencapai kondisi kritis. Dia sudah terlalu banyak menggunakan mantra tingkat 5. Selain itu, banyak dari para penyihir telah tewas akibat menerima serangan melee ataupun jarak jauh melalui gelombang aura oleh para knight.
Walau pihak knight juga bukannya tidak meninggalkan korban tetapi itu bukan korban jiwa. Semua knight masih bernyawa walaupun sebagian besar telah terluka akibat serangan Eldnest ataupun dari penyihir lain.
Para knight ini adalah pasukan elite yang diperkirakan kekuatan seseorang setara dengan dua hingga tiga penyihir yang mampu menggunakan mantra tingkat tiga. Sehingga selain Eldnest, para penyihir lain jelas tidak akan mampu menghadapi mereka.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan?"
Justin bertanya kepada Alex. Selama pertarungan ini dia berada di belakang akibat ketidakmampuannya dalam menggunakan aura. Tetapi demikian dia masih berguna, seperti menjadi porter misalnya. Saat ini dia terlihat sedang membawa setumpuk kertas di pelukannya.
"Tuan Muda, aku punya cara."
Ryana berbisik pada Alex mengenai perencanannya. Alex merasa bahwa ini patut dicoba. Dia pun bertanya singkat kepada anggota lainnya.
Walau ini di depan musuh, mereka terlihat terlalu percaya diri membagikan rencana mereka.
Untunglah Eldnest tidak dapat mendengarnya. Walaupun demikian penyihir ini tau bahwa para musuh sedang menyusun rencana berbeda.
"Tuan, aku akan melakukannya."
Erline memukul dada baju besinya dengan yakin. Walaupun tubuhnya mengalami luka akibat serangan dari Eldnest sebelumnya, tetapi berkat [Cure] milik Ryana dan potion yang ia bawa, sekarang kondisinya sedikit lebih baik.
Alex tidak terlalu yakin tetapi mengingat bahwa memang Erline mampu melakukannya, dia pun mengangguk.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Eldnest tidak senang dengan persiapan musuh. Ia semakin berhati-hati
__ADS_1
Erline tiba-tiba berlari ke arah Eldnest dengan kecepatan mengerikan. Bahkan sampai melompat layaknya tupai untuk langsung memperkecil jarak.
"[Fly]."
Eldnest menggunakan mantra terbang tingkat 3 untuk menghindari Erline. Benar saja, tempat di mana Eldnest berdiri kini hancur akibat Erline yang mendarat dengan kecepatan penuh.
"[Fireball]."
Dari atas, Eldnest langsung menyerang Erline tetapi wanita itu menggunakan perisainya untuk menghindar. Sebenarnya terbang dengan langit-langit rumah yang masih berada di kepala adalah pilihan keliru karena ia hanya terbang beberapa meter dari atas tanah. Pada jarak yang masih terbilang dekat ini dapat dengan muda diserang oleh warrior akibat mobilias penyihir yang lambat ketika terbang.
Benar saja, Erline melemparkan gelombang mana-nya sehingga mau tidak mau Eldnest harus kembali menggunakan [Protection of Volunteers]. Namun inilah kesalahannya.
"[Sunlight]."
Ryana mengeluarkan mantra tingkat dua yang mampu menghasilkan cahaya yang menyilaukan mata selama 3 detik. Eldnest tidak sempat memberikan mantra penangkal. Walau ini hanya mantra tingkat dua tetapi ini sangat efektif.
"Sial! Silau!"
Para penyihir terkejut karena sinar yang tiba-tiba muncul. Mata mereka perih seperti terbakar.
Mata Eldnest menyipit dan ia menggunakan tangan kirinya untuk menutupi agar matanya tidak terkena sinar putih menyilaukan.
Ia melihat sekilas sinar merah kecil meluncur ke arahnya. Ia mengenalnya, ini jelas adalah belati yang sering dilempar oleh pemuda itu. Ia yakin bahwa serangan pemuda bermata merah ini sangat kuat karena ketika ia melihat ketika belati itu menghancurkan kepala seorang penyihir. Ini dapat dilihat bahwa kualitas mana pemuda ini sangat tinggi dan berbahaya.
Namun kini ia masih belum siap karena belati itu meluncur ke arahnya terlalu cepat. Ia tidak akan sempat melempar mantra sehingga otaknya membuat keputusan cepat yaitu memutar tubuhnya.
"!!!"
Eldnest terkejut ketika melihat sesaat siluet di belakangnya melalui ekor matanya. Tidak memungkinkan untuk menghindar sehingga ia pun memutuskan menggunakan tongkatnya.
Namun sayangnya Alen lebih cepat selangkah. Belatinya berhasil memotong lengan Eldnest.
Semua kejadian itu kurang dari tiga detik dan [Sunlight] pun menghilang
"Sial! [Shockwave]!"
Alen dan Eldnest sama-sama terhempas pada arah berlawanan berkat [Shockwave].
Eldnest mendarat dengan tangan kanan yang telah puntung. Darah mengalir dari lukanya.
"Pak!"
Seorang penyihir tiba-tiba berteriak panik kepada Eldnest.
Eldnest terlambat menyadari.
Pria muda bermata merah itu meluncur ke arahnya dengan kecepatan mengerikan setelah melompat menggunakan energi aura.
Mata pedang yang dialiri aura merah darah mengarah ke arah Eldnest. Dia tidak sempat membaca mantra. Bergegas secara naluriah dia menggunakan tongkatnya untuk menangkis. Namun tangan yang memegang tongkat telah puntung.
Slash!
"ARRRGGH!!!"
Mata pedang itu berhasil menembus tubuhnya. Pada detik yang sama, ia melihat pemuda bermata merah ini bergumam kepadanya.
"Sampai jumpa."
Pada tarikan nafas terakhirnya, Eldnest berpikir bahwa inilah akhir perjalannya. Kini tidak ada harapan lagi. Ia gagal melindungi aset berharga yang dapat menyelamatkan umat manusia dari serangan iblis dan itu semua disebabkan oleh manusia-manusia yang menyerbu mereka. Sungguh memalukan.
__ADS_1