THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
KIDNAPPING(6)


__ADS_3

Tidak pernah terbayang di benak Ryana bahwa sosok yang ia obsesikan, yang ia hormati, dan ia cintai tergeletak tak berdaya di kasur selama lebih dari dua hari lamanya. Malam ketika Alex dilarikan ke kuil menjadi saat yang menyeramkan bagi Ryana. Di depan matanya sendiri, ia melihat sosok yang tak bergerak dengan darah yang menyelimuti pria itu.


Saat itu, pupil mata Ryana bergetar dan detak jantungnya terasa berhenti. Dunia yang mewarnai hidupnya seolah kosong tak berarti. Ia tidak pernah menyangka, sosok Alex telah begitu kuat melekat di benaknya. Benar, Alex kini adalah sosok yang tidak akan pernah ia lupakan. Ia akan selalu mengingatnya, mencintainya, dan menjaganya walau sosok itu tidak akan pernah menjadi miliknya.


"Apa kamu tidak lelah, Nona Ryana?"


Di atas kasur tunggal itu, sosok yang ia jaga siang dan malam menatapnya dengam mata merah yang menjadi ciri khasnya. Sosok pria tinggi dan dewasa yang telah melewati masa-masa kritis dalam hidupnya.


Ryana saat ini duduk di kursi yang terletak di samping tempat tidur. Ia menggelengkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan Alex. Sudah tiga hari ia selalu bersama dengan Alex. Ia hanya akan pergi ketika kelas kependetaan dimulai, kemudian kembali di sisi Alex ketika semuanya telah usai. Walau Alex tidak sadarkan diri, Ryana tetap menjaganya dan memandangnya dengan tatapan hangat.


"Tidak, Tuan Alex. Jangan khawatir. Aku sama sekali tidak lelah."


Alex sebenarnya jarang mengungkapkan ekspresinya kepada orang lain kecuali kepada Merry. Namun dia masih mempunyai rasa terimakasih kepada Ryana yang selalu bersamanya. Selama melewati masa-masa kritis hidupnya, Ryana tidak pernah pergi dari sisinya.


Alex padahal saat itu telah pasrah. Ia sudah ikhlas jika tubuh fananya akhirnya mati sehingga liburannya ke Univorsum berakhir. Namun siapa sangka, ketika ia dilarikan ke kuil walau saat itu Hight Priestess Feodora tidak ada, untunglah beberapa priest dan serkon (Pendeta Muda) masih berada di sana.


Selama menunggu kedatangan high priestess, para priest dibantu serkon dan discimpion (murid) memberi pengobatan dengan menggunakan mantra penyembuh tipe divine tingkat 4 ke bawah. Syukurlah Feodora berhasil datang tepat waktu sehingga Alex dapat disembuhkan dengan mantra tingkat 6 [Magna Healing].


"Tuan Alex, apa kamu lapar?"


"Tidak, Nona Ryana, terimakasih."


Ryana menjadi sedih mendengar jawaban Alex. Sudah seharian Alex tidak makan apa pun. Walaupun perutnya saat ini masih lemah karena baru saja disembuhkan oleh sihir, tetapi Feodora memberikan instruksi untuk memberikan bubur kepada Alex.


Dunia ini tidak ada infus atau sesuatu sejenis yang mampu menggantikan cairan dan nutrisi tubuh. Jadi satu-satunya cara untuk memenuhi semua kebutuhan akan nutrisi dan cairan tubuh masih harus tetap berasal dari mengonsumsi makanan atau minuman.


Ryana adalah orang yang mengajukan diri sebagai perawat pribadi Alex. Walau ia masih seorang discimpion, tetapi jika hanya memberi makan Alex atau hal-hal kecil lainnya, Ryana masih bisa melakukannya. Namun sampai sekarang Alex belum makan apa pun.


"Tuan Alex, kamu harus makan. Grandmaster mengatakan kamu akan cepat sembuh jika makan teratur."


Alex tidak menjawab, dia memandang Ryana dengan serius. Ryana yang dipandang oleh sepasang mata merah dan dalam itu menjadi gugup. Ia sudah sering menatap Alex tetapi ketika ditatap dalam keheningan seperti saat ini, tentu saja Ryana tidak bisa berpikir jernih.


"Tidak, terimakasih Nona Ryana. Aku tidak nafsu makan saat ini."


Pandangan Alex berangsur lesu. Dia kemudian memalingkan wajahnya dari Ryana. Alex menatap ke dinding polos di depannya. Ia saat ini masih berada di kuil sehingga ornamen kamar ini sangat berbeda dengan kamarnya.


Ryana menjadi semakin murung. Dia tidak  bisa memaksa Alex tetapi jika Alex tidak makan, maka ia akan semakin sakit. Ryana sudah membawa bubur dan minuman herbal kepada Alex tetapi itu tidak ada gunanya jika Alex tidak memakannya.


"Kalau begitu Tuan Alex, apa ada yang kamu inginkan?"


"Tidak, tidak ada. Aku hanya tidak ingin makan sekarang. Maaf mengganggumu Nona Ryana."

__ADS_1


Ryana semakin murung mendengar penolakan kedua kalinya dari Alex. Dia ingin Alex mengetahui bahwa dia adalah orang berguna, dia juga ingin dipuji.


Tidak bisakah kau sedikit mengandalkanku? Hah ... kalau begini aku harus bagaimana?


Ryana tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Ruangan ini menjadi hening tanpa ada sedikit pun percakapan. Alex tidak terlalu terganggu karena ia sebenarnya sangat menyukai kondisi hening seperti ini, sungguh menenangkan. Namun ia tahu bahwa Ryana pasti tidak akan betah dengan keheningan yang terus terjadi.


"Apa kamu tidak sibuk Nona Ryana?"


"Tidak Tuan Alex, aku tidak sibuk sama sekali."


Alex memutuskan untuk setidaknya mengobrol ringan dengan Ryana. Ini seperti kompensasi karena sudah menjaganya.


"Nona Ryana, jika kau tidak keberatan, bisakah aku menyusahkanmu dengan beberapa pertanyaan?"


Ryana langsung bersemangat, bukankah itu artinya dia akan mengobrol dengan Alex? Ini adalah momen langka di mana dia bisa berduaan dengan Alex tanpa ada satu pun yang mengganggu. Ryana mengangguk dan mendengar semua pertanyaan Alex dengan seksama.


"Nona Ryana, di malam itu aku kehilangan kesadaran. Aku tidak tahu kondisi orang tuaku. Apa ibuku baik-baik saja?"


"Iya Tuan Alex. Nyonya Clara terlihat baik, dia tidak terluka."


Tentu Ryana tidak akan menceritakan kondisi Clara ketika melihat Alex yang penuh luka. Pada saat itu, Clara sangat panik, dia terus menangis dan berteriak hingga akhirnya pingsan. Pada malam itu, kuil begitu hidup dengan jeritan tangisan duka yang amat kentara.


Tiba-tiba Alex menjadi murung. Ia mengingat dua anak ditangkap oleh para penyusup itu. Walau Alex pingsan tetapi melihat bahwa Alpha dan Merry tidak mengunjunginya, ada kemungkinan mereka diculik atau bahkan mungkin ....


"Nona Ryana, mengenai anakku, bagaimana keadaannya?"


Ryana terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia bukannya tidak tahu, dari yang ia dengar melalui Feodora dan Clara, saat ini Merry dan seorang bocah yang ia tidak tahu namanya telah diculik oleh para penyusup. Ryana tidak tahu alasan pencurian itu tetapi ia mendengar dari pihak House of Fertiphile bahwa kemungkinan kedua anak itu disandera untuk uang tebusan. Namun sampai sekarang masih belum ada kabar dari para penculik itu mengenai uang tebusan atau bahkan negosiasi yang akan dilaksanakan.


"Aku tidak tahu Tuan Alex tetapi ...."


Ucapan Ryana tidak lengkap sehingga Alex bertanya dengan suara yang jauh lebih halus dari sebelumnya. Dia sudah mengantisipasi semua kemungkinan yang terjadi.


Sangat disayangkan jika kedua produk investasiku harus mati. Hah ... sudahlah, mungkin aku harus mencari yang lain, pikir Alex.


"Ada apa Nona Ryana? Tidak perlu ragu, katakan saja. Aku sudah siap mendengarnya."


Ryana ragu untuk mengatakan yang sebenarnya tetapi ia tidak mungkin berbohong kepada Alex.  Suka atau tidak, dia harus mengatakan kebenaran kepada Alex.


"Tuan Alex, aku mendengar bahwa Nona Merry telah diculik oleh para penyusup. Tuan tolong jangan panik, aku yakin kita bisa menyelamatkannya."


Ryana berusaha menenangkan Alex. Dia tahu pasti Alex sangat terpukul dengan berita ini.

__ADS_1


"Begitukah ...."


Seperti yang dipikirkan oleh Ryana, kondisi Alex semakin lemas. Tidak hanya itu, mata Alex semakin sayu sehingga membuat Ryana ingin menangis.


"Hiks ... hiks ..."


"Jangan menangis Nona Ryana. Seperti yang kamu katakan, kita pasti bisa menyelamatkannya."


Alex sebenarnya terlalu malas untuk membersihkan air mata Ryana dengan tangannya. Dia mungkin terlalu lelah melihat kejadian klise di antara mortal di mana cowok akan melap air mata kekasihnya dengan tangan kosong.


Alex tidak bisa memikirkan seberapa banyaknya kuman yang akhirnya bersarang di wajah si cewek karena disentuh oleh tangan si cowok yang tidak steril. Setidaknya Alex tidak seperti itu, dia juga memikirkan  kesehatan Ryana alih-alih bersikap romatis.


"Nona Ryana, bersihkan air matamu. Maaf, aku tidak membawa sapu tangan."


Ryana mengangguk secara tidak sadar. Dia membersihkan wajahnya dengan sapu tangan miliknya. Kemudian pandangannya kembali terarah kepada Alex yang masih memiliki wajah datar.


Bahkan di saat seperti ini dia masih menghiburku padahal seharusnya dialah yang paling sedih.


Ryana tidak bisa tidak kagum dengan keteguhan hati Alex yang sangat kokoh. Bahkan wajah Alex sama sekali tidak menunjukkan kedukaan. Sungguh pria yang sangat tegar. Kini penilaian Ryana terhadap Alex semakin tinggi bahkan sudah mulai mencapai tingkat pengkultusan.


Ryana tidak tahu dari mana asal dorongan hatinya ini tetapi keberanian muncul di ucapannya.


"Tuan Alex, dapatkah kamu memanggilku dengan panggilan akrab?"


Alex melihat mata Ryana yang masih berair dan merah karena menangis. Kalau dipikir-pikir wajah Ryana terlihat lucu ketika menangis, ini terlihat seperti sosok hamster kecil. Selain itu pipinya yang merah mungkin akibat menangis membawa kesan seolah mengundang orang lain untuk mencubit pipinya.


Alex tersenyum melihat kondisi Ryana yang seperti hewan imut. Tentu saja, itu tidak berarti Alex memberi pilih kasih melalui penampilan belaka. Bagi Alex dan para archdeus lainnya, hal yang membuat mereka kagum dan senang adalah keimanan seseorang kepada mereka.


Ryana tidak hanya berpenampilan baik tetapi keteguhannya dalam menjaga Alex patut diapresiasi. Alex merasa tidak keberatan, ini bisa dibilang sebagai bagian dari kompensasi karena menjaganya.


"Tentu, kalau begitu Ryana, aku juga tidak keberatan jika kamu memanggilku Alex."


"Iya, tentu saja Tu- Alex."


Lidah Ryana seolah keseleo akibat ia tidak terbiasa dengan langsung menyebut nama Alex. Namun itu membuatnya semakin lucu dalam pandangan Alex.


Alex tertawa kecil sehingga membuat Ryana semakin malu dan wajahnya memerah. Namun di waktu yang bersamaan dia senang karena dapat melihat tawa Alex yang amat langka.


Yah, setidaknya dia tidak sedih lagi.


Ryana senang karena berpikir bahwa Alex saat ini bisa mengurangi kesedihannya karena kehilangan Merry. Ryana ingin menjadi kekuatan bagi Alex, dia akan selalu berada di sampingnya untuk tetap menjaga senyum dan tawa pria yang ia cintai itu.

__ADS_1


__ADS_2