
Pada akhirnya dalam rapat itu seluruh dewan direksi sepakat untuk membuat anak perusahaan yang bergerak di bidang perbankan. Bank itu nantinya akan bernama Alexandreia Bank yang menjadi bank pertama di dunia.
Alex puas dengan semua hasil rapat yang dia lakukan terlebih ia juga merasa senang karena seluruh direksi sepertinya tercerahkan berkat ucapannya.
Walaupun Alex bukanlah orang serakah dalam hal kekuasaan tetapi jika itu menyangkut kekayaan akan sedikit berbeda ceritanya. Ia menyadari seseorang masih bisa hidup walaupun dia bukanlah seorang penguasa feodal tetapi orang bisa saja mati jika dia tidak memiliki uang.
Terutama bagi Alex yang ingin hidup masa tuanya tenang dan damai. Selama dia memiliki Alexandreia Investment, dia tidak perlu khawatir hidup sengsara ketika sudah jompo.
Selain itu bukankah sebenarnya penyebab dari terbentuknya kekuasaan Alex disebabkan oleh keinginannya untuk menjadi orang kaya? Misalnya ketika ia mengadopsi Merry yang dahulunya adalah seorang budak. Pada awalnya memang hatinya tergerak untuk menolong gadis kecil itu tetapi seiring berjalannya waktu, Merry sudah menjadi instrumen investasi Alex yang terpercaya. Alex yakin ketika ia sudah tua nantinya, Merry akan selalu mengurusnya.
Ngomong-ngomong soal Merry, dia saat ini berada di kamarnya. Segera setelah Alex selesai rapat, ia bergegas pergi ke kamar putrinya.
Ketika Alex sedikit membuka pintu kamar, ia melihat Merry sedang duduk dan memperhatikan penjelasan seorang wanita. Wanita itu sepertinya sedang bercerita kepada gadis itu mengenai sesuatu.
" ... jadi ketika x ditambah dengan y hasilnya adalah z. Artinya x sama dengan z dikurang y," ucap wanita itu.
Sepertinya mereka saat ini sedang belajar matematika.
Kedua orang itu terlihat fokus sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau Alex sudah bersandar di pintu kamar.
Alex mengetuk daun pintu yang sudah terbuka lebar.
Kedua orang yang berada di kamar secara bersamaan melihat ke belakang. Mereka terkejut karena Alex sudah ada di pintu.
"Ayah!"
Merry segera berlari menuju Alex. Sekarang ia telah berusia 10 tahun tetapi perilakunya di hadapan Alex sama sekali tidak berbeda dengan anak tujuh tahun. Alex memeluk Merry dan mengangkatnya ke pelukannya. Gadis kecil itu sangat senang dan secara genit memeluk leher Alex.
Sementara itu wanita yang menjadi guru Merry berdiri lalu membungkukkan tubuhnya ke arah Alex.
Alex hanya mengangguk seperti biasa. Kemudian dia bertanya kepada Merry.
"Sayang, bagaimana belajarmu?"
"Merry tidak suka matematika. Huh ... matematika membuat kepala Merry sakit," keluh Merry.
"Hmm ... benarkah? Apa yang Sayangku pelajari?" tanya Alex.
"Huh itu ...."
__ADS_1
Merry tidak bisa menjelaskan karena ia juga tidak tahu materi apa yang dia pelajari.
"Tuanku, saat ini Nona Merry sedang mempelajari aljabar."
Wanita yang menjadi guru Merry ternyata masih berdiri di sana. Ia lantas menjelaskan apa yang sedang dipelajari Merry.
"...."
Alex terdiam ketika mendengar itu. Bahkan walaupun Alex adalah seorang archdeus yang maha tahu, ia juga menyadari adalah tindakan konyol bagi seseorang memberikan materi aljabar kepada seorang anak berusia sepuluh tahun.
Pada akhirnya Alex menghela napas. Lalu ia kembali berbicara kepada Merry.
"Sayangku sudah bekerja keras. Ayah bangga," ucap Alex sambil mengelus rambut Merry yang halus.
Ini semua berkat kebiasaan Alex yang mewajibkan semua orang di mansion terutama kedua anaknya untuk mandi dua kali dalam sehari. Akibatnya rambut Merry menjadi sangat halus dan indah.
Merry terkekeh mendengar pujian Alex. Ia lantas dengan centil meminta ciuman kepada Alex.
Alex pun pasrah dan memberikan kecupan di kening anak itu.
"Karena Sayangku sudah belajar dengan baik, ayo pergi bermain bersama Kak Alven," ucap Alex.
"Huh ... Kak Al selalu sibuk. Dia tidak mau bermain dengan Merry lagi," balas Merry sambil cemberut.
Pada akhirnya dengan bujukan Alex, Merry dengan semangat berlari menuju tempat Alven. Setelah Merry keluar dari kamar, Alex tiba-tiba menutup pintu dan menguncinya.
Sekarang di kamar Merry hanya ada Alex dan wanita yang menjadi gurunya Merry. Lalu lingkungan sekitar berubah tidak lagi kamar ceria dari yang penuh dengan semangat anak-anak.
Sekarang tidak lebih dari ruang hampa yang tidak ada apapun kecuali Alex dan wanita itu.
Apa yang sedang terjadi adalah disebabkan oleh Alex sendiri. Dia menggunakan sebuah sihir bernama [Room of Null]. Ini adalah sebuah mantra sihir yang hanya bisa digunakan oleh penyihir sekelas somnomancer yaitu tipe penyihir dengan jenis sihir alternative yang merupakan puncak dari semua magic caster tipe ilusi. [Room of Null] adalah mantra tingkat 10 yang memiliki kemampuan untuk membengkokkan ruang dan waktu di sekitarnya sehingga menghasilkan ruang dan waktu tersendiri yang terpisah. Sihir ini adalah sihir kuno karena sampai sekarang tidak ada seorang pun yang mampu menggunakannya. Tentu saja Alex sebagai archdeus adalah pengecualian. Dia adalah seorang dewa agung yang berkuasa atas alam hampa dan neraka. Sebagai seorang archdeus dengan gelar dimensioner yang mengendalikan Empty, sihir-sihir ilusi ataupun yang berhubungan dengan ruang dan waktu merupakan ranah bagi Alex. Bahkan jika mau penggunaan sihir tingkat 10 seperti [Room of Null] sihir ilusi seperti ini tidak lebih dari cemilan untuk Alex.
Namun tentu saja karena saat ini Sheol sedang menggunakan tubuh manusia, dia memiliki banyak batasan. Akan tetapi berkat turunnya Ainuhrim sang high demon god, kekuatan Alex menjadi tumbuh sangat signifikan. Alex telah menyerap banyak kekuatan dari avatar Ainuhrim sehingga kini dari seorang magic warrior yang mampu mengendalikan sihir tingkat 7, dalam dua tahun saja ia sudah dapat menggunakan puncak sihir yang bisa diterima oleh dunia fana yakni sihir tingkat 10.
"Ainuhrim, kamu bisa kembali ke wujudmu semula," ucap Alex.
Tiba-tiba api gelap muncul di seluruh tubuh wanita yang menjadi guru Merry. Wanita cantik yang terkesan polos dan sederhana itu kini berubah menjadi sosok demon yang memancarkan kecantikan seksual.
"Tuan."
__ADS_1
Ainuhrim segera bersujud di hadapan Alex. Berkat [Room of Null] tidak ada yang tahu semua yang mereka berdua lakukan.
"Angkat kepalamu," ucap Alex.
Pada awalnya Alex hanya berpikir untuk menjadikan Ainuhrim tidak lebih sebagai senjatanya semata. Namun walaupun Alex memiliki tampang kasar, ia adalah seorang yang memiliki hati lembut terutama jika ini berhubungan dengan ciptaannya sendiri. Senakal-nakalnya Ainuhrim, ia tetaplah ciptaan Alex sehingga Alex memiliki rasa sayang layaknya seorang pencipta yang menyayangi ciptaannya.
Alex pun memperbolehkan Ainuhrim untuk melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar. Kini Ainuhrim memperkenalkan diri sebagai seorang guru bernama Ainu yang dibawa oleh Alex dari ibukota untuk mendidik Merry dan Alven.
"Hah ... sudah aku bilang, ajari anak-anak itu sesuatu yang masuk akal," ucap Alex.
"Tuanku, hamba merasa bahwa aljabar adalah materi yang sangat rasional untuk dipelajari," ucap Ainuhrim dengan rendah diri.
"...."
Alex terdiam ketika mendengar jawaban ciptaannya ini.
*Ya secara umum itu memang benar cuma mikir lah, mereka baru 10 tahun! * pikir Alex.
"Lupakan, tapi aku ingin kamu tetap mengingat perkataanku. Jangan ajari mereka sesuatu yang terlalu sulit. Mereka hanyalah mortal, jadi sebaiknya kamu harus menyesuaikan standarmu," ucap Alex.
"Baik Tuanku," ucap Ainuhrim.
"Hmm ... bagaimana dengan kehidupan di sini? Aku baru sadar ketika di Canadia, kamu tidak pernah keluar dari kamarku."
Alex bertanya dengan santai. Ia berharap Ainuhrim dapat menikmati Midgard seperti dia saat ini.
"Tuanku jika aku boleh jujur, manusia-manusia ini terlihat menjijikan. Mereka tidak pernah mandi; kutu bersarang di rambut mereka; dan yang paling mengganggu, mereka saling berbagi xylospongium yang sudah digunakan," ucap Ainuhrim ekspresi rasa mual seolah akan muntah.
"...."
Alex tidak bisa membalas perkataan Ainuhrim karena semua yang dikatakan wanita demon itu adalah kenyataan. Alex juga setuju dengan pandangannya bahkan sampai sekarang.
"Yah, kamu nantinya juga terbiasa," gumam Alex.
"Tapi ngomong-ngomong, ini semua berkatmu," ucap Alex.
Alex menunjukkan semua daerah hampa di sekitar mereka. Ini untuk pertama kalinya Alex menggunakan mantra tingkat 10. Semuanya berkat pemberian mana dari Ainuhrim kepada Alex.
"Berkatmu aku tidak perlu harus berjuang untuk dapat menggunakan mantra tingkat 10," ucap Alex.
__ADS_1
"Tidak Tuan, bagaimana mungkin semua ini berkat hamba. Apa yang Tuanku lakukan adalah murni dari kearifan Tuanku sendiri," balas Ainuhrim dengan sungguh-sungguh.
Alex tidak membalas ucapan Ainuhrim. Dia tahu, para ciptaannya ini memiliki rasa inferioritas ketika berada di hadapannya. Alex tersenyum seolah menyetujui semua perkataan Ainuhrim.