
Bagi Rain, dia sudah terbiasa terkena bully. Orang yang meneriakinya bernama Frank yang merupakan anak seusianya yang berumur 16 tahun.
"Budak! Kau belum menjilat sepatuku!"
Frank dengan lima temannya tertawa terbahak-bahak. Frank menyimpan dendam kepada Rain. Padahal Rain adalah budak ayahnya tetapi beraninya budak itu memukulnya di depan banyak orang. Semenjak itu, dia selalu membuat hari-hari Rain penuh dengan warna duka.
Rain hanya diam. Dia sadar bahwa dia terlalu implusif waktu itu. Namun siapa yang tidak marah ketika ibunya diejek dan dikatakan sebagai pelacur? Itulah membuat Rain melewati batasannya sebagai budak. Tentu saja bukan tanpa konsekuensi, selain mendapat bully-an dari Frank, tuannya menyiksanya lebih dari dua minggu. Dia pada masa-masa itu mengalami dehidrasi dan kekurangan makanan. Selain itu cambuk setiap hari mendarat di tubuhnya.
"Budak bau! Kemari!"
Frank memberi isyarat kepada Rain untuk datang. Tentu saja Rain mematuhinya.
Rain turun dari pagar dan berjalan ke arah kerumunan anak itu. Disebabkan oleh ego dan kebenciannya kepada Frank menyebabkan Rain berjalan dengan tegap. Tidak ada ekspresi ketakutan atau patuh di wajahnya. Hanya wajah tanpa ekspresi yang memendam kebencian tiada akhir.
Frank membenci wajah itu. Dia sangat membencinya.
"Hei! Berjalan berlutut!"
Rain berdiri diam. Dia hanya memandang Frank dan tidak menunjukkan gerakan apa pun.
Frank sudah menduga hal itu. Budak ini sangat keras kepala. Dia hanya bisa mendecikkan lidahnya dan meminta teman-temannya sedikit membantunya.
Dua teman Frank yang memiliki tubuh paling besar dari yang lain berjalan ke arah Rain. Masing-masing dari mereka menekan bahu Rain sehingga budak itu jatuh berlutut.
"Argh!"
Rain hanya bisa menggeretakan giginya. Namun dia tidak membuat gerakan perlawanan. Rain tahu, kekuatannya tidak sebesar orang-orang itu. Selain itu dia tidak bisa memukul Frank untuk kedua kalinya. Dia sudah cukup trauma.
Frank mendekati Rain lalu menjambak rambut budak itu sehingga pandangan Rain terangkat.
Plakk!
Frank menampar pipi Rain. Tanda merah membekas di pipi kusam budak itu.
"Aku sudah bilang, jilat sepatuku kan? Tidak berguna!"
Kick!
Frank mendaratkan alas sepatunya ke wajah Rain dengan keras. Kedua temannya menahan kepala budak itu agar tidak menghindari sepatu. Alas sepatu itu berkali-kali mendarat di wajah Rain.
"Tidak berguna! Sampah! Rendahan!"
"Cuih
__ADS_1
Frank meludah. Seolah kehilangan minat, dia dan teman-temannya pergi meninggalkan Rain yang masih berlutut di tanah. Dia tidak memberi cedera berat bagi Rain karena jika budak itu pada akhirnya mati, ayahnya mungkin mengomelinya. Bagaimanapun budak adalah properti keluarganya.
"Yah ... sebentar lagi dia jual," gumam Frank.
Frank dan teman-temannya pergi sambil tertawa menuju sekolah. Diantara temannya, dialah yang paling miskin dan tidak memiliki latar belakang yang kuat. Teman-temannya kebanyakan berasal dari keluarga pedagang dan cendekiawan. Adapun Frank hanya berasal dari keluarga peternak. Sehingga untuk menghilangkan inferioritasnya dari lain, dia mencoba menampilkan dominasinya kepada teman-temannya. Tentu saja dia menggunakan Rain yang merupakan budak ayahnya.
Rain kembali ke kandang. Karena hanya diserang di wajah, ia masih bisa berjalan normal. Ia menyeka semua darah dan kotoran yang melekat di wajahnya dengan air dari tong. Hari ini mungkin dia sedikit sial. Kebanyakan Frank hanya melakukan bully-an verbal daripada fisik. Rain hanya bisa menganggap bahwa dia kurang beruntung hari ini.
Setelah semua kejadian itu, Rain hidup seperti kesehariannya. Dia mengambil ranting kayu seukuran lengannya dan mengayunkannya. Rain beruntung dia ditugaskan di ladang peternakan sehingga tuannya tidak terlalu mengontrolnya.
Rain selalu ingat wasiat ayahnya yaitu 'belajarlah membaca dan berlatih pedang agar hidupmu lebih baik.' Sebagai budak pekerja, mereka tidak diizinkan mendapat pendidikan beladiri ataupun akademik. Itu bukan tanpa alasan. Para pemilik budak khawatir jika para budak khususnya budak pekerja dapat membaca, menulis, dan bertarung sangat mungkin revolusi terjadi.
Sejarah mencatat di salah satu negara besar yang berlokasi di Laurentia Tengah pernah terjadi revolusi para petani dan budak yang menggulingkan Raja Maurice IV dan membubarkan Kerajaan Elendor kemudian mengubahnya menjadi Republik Elendor. Selain raja dan para pangeran yang dieksekusi di pisau guilottine, seluruh kaum bangsawan, ksatria, dan cendekiawan diperbudak. Kuil-kuil dan toko-toko besar bahkan dirampok, dibakar, dan dihancurkan. Adapun para pendeta, pedagang kaya, dan penyihir diusir dari negara itu. Pada periode-periode awal negara itu terbentuk, tidak lain hanya anarkisme dan vandalisme yang terjadi. Namun sekarang Republik Elendor menjadi salah satu negara terkuat di Laurentia tengah.
***
Hari-hari berikutnya kehidupan Rain berlangsung seperti biasa. Tidak ada hal istimewa yang ia alami. Hari-hari ia isi dengan berlatih dan merawat sapi. Jika mengecualikan ia hidup di dunia perbudakan yang penuh dengan kekerasan dan pelecehan, maka hidupnya ini bisa dibilang cukup tenang.
Hingga suatu hari tuannya datang.
"Scraps!"
Tuannya, seorang pria tua dengan tubuh yang sedikit buncit, kulit pucat, dan berambut silver. Ia mendatangi Rain dengan mengendarai seekor kuda coklat. Rumahnya tidak terlalu jauh dari peternakan sehingga tidak sulit untuk pergi.
"Tuan?"
Rain berdiri dan berjalan menuju tuannya. Berbeda dengan tingkah lakunya kepada Frank, ia lebih hormat dan takut kepada tuannya.
"Bawa barang-barangmu dan temani aku ke pasar!"
Setelah mengatakan itu, tuannya pergi. Dia tidak mengucapkan dengan jelas, tetapi Rain tahu apa maksud tuannya.
Aku dijual.
Rain tidak memiliki loyalitas kepada tuan dan mantan-mantan tuannya. Sehingga apabila tuannya ingin menjualnya, dia tidak memiliki gejolak emosi seperti sedih atau marah. Namun ia hanya khawatir satu hal, ia takut bahwa tuannya berikutnya jauh lebih jahat dari sebelumnya.
Rain kembali ke kandang untuk mengambil semua barangnya. Ia sebenarnya tidak memiliki barang berharga tetapi ia masih memiliki tiga roti tawar yang tersisa. Ia mendapatkannya dari tuannya sehari yang lalu. Roti itu seperti batu sehingga apabila digunakan untuk tawuran maka percayalah, kepala lawan bisa benjol.
Sambil membawa ketiga roti, ia pergi ke rumah tuannya. Di halaman tuannya telah menunggu di atas kuda sambil memegangi seutas tali.
Kedua tangan Rain diikat, sementara ketiga rotinya di letakkan di kain yang selempangkan di pinggangnya.
Kuda pun berjalan dengan membawa sang tuan di punggungnya sementara sang budak berjalan kaki dengan tangan terikat.
__ADS_1
Tujuan mereka adalah pasar kota. Ini bukanlah ibukota county sehingga tidak terlalu besar. Namun cukup banyak transaksi terjadi. Butuh setengah jam bagi mereka untuk sampai di sana. Namun hari ini cukup banyak orang yang datang.
Alasannya sederhana karena saat ini seorang bangsawan sedang melakukan pembelian besar-besaran.
Regis Evangelos Morhust, seorang bangsawan agung yang merupakan anak dari Count Morhust dan dijago-jagokan sebagai pewaris utama di antara semua anak count. Saat ini dia berada di salah satu kota kecil di count untuk melakukan investasi dan pembelian budak. Jika dibandingkan dengan daerah-daerah atau kota-kota yang merupakan pusat bisnis dan tingginya permintaan terhadap budak, maka langkah tepat baginya pergi ke daerah terpencil untuk mencari budak. Budak di sini jauh lebih murah dari di ibukota county sehingga ia dapat mengoptimumkan kuantitas yang ia butuhkan. Selain itu, untuk menambah kekayaannya, Regis ingin melakukan beberapa investasi di tempat ini.
Kedatangan dan alasannya datang ke tempat ini telah diketahui. Para pemilik budak sangat beruntung karena di tempat ini masih belum ada pedagang budak besar yang menguasai pasar. Tentu saja pemilik Rain tidak ketinggalan. Ia memiliki seorang budak yang kecil yang sangat menyedihkan. Walau mungkin harganya sedikit rendah tetapi itu tidak masalah, toh dia membelinya dengan harga yang sangat murah.
Di pusat pasar banyak pemilik budak yang berkumpul dengan budak-budak mereka. Kebanyakan budak adalah pria tetapi ada juga beberapa budak wanita yang memiliki wajah cacat yang dibawa. Biasanya budak wanita yang cacat tidak akan laku sebagai budak **** sehingga mereka pun digunakan sebagai budak pekerja.
"Pak, apa Anda ingin menjual seorang budak?"
Seorang prajurit muda berambut pirang bertanya. Tentu saja pemilik Rain langsung setuju.
"Baik, Pak. Silahkan kemari."
Prajurit itu membawa Rain dan sang pemilik ke tempat pemeriksaan. Di sana terdapat tenda yang telah dibangun. Pajurit itu membawa Rain ke dalam tenda untuk dilakukan pemeriksaan. Di sana dia akan diperiksa untuk melihat apakah ia memiliki penyakit menular dan seberapa kuat kekuatan fisiknya. Adapun sang pemilik mengikuti di belakang untuk melihat semua proses pemeriksaan.
"Budak yang bagus. Dia masih muda dan cukup kuat. Apa kamu betul-betul ingin menjualnya?" tanya seorang pemeriksa.
"Tentu saja! Berapa harganya?"
"Karena dia masih muda dan terlihat cukup bisa digunakan untuk jangka waktu yang panjang, kami akan membelinya dengan 250 koin emas."
Seketika mata sang pemilik membesar.
"250!"
"Apa masih kurang?"
Sang pemeriksa agaknya merasa malas dengan tipe orang seperti ini. Rata-rata budak pekerja di kota ini hanya seharga 180 sampai 230 koin emas. Jelas dia memberikan harga di atas pasar untuk budak yang masih dapat digunakan dalam jangka panjang. Namun jika terlalu mahal ia lebih memilih untuk tidak membelinya.
"T-tidak, tentu saja tidak! Ini sangat bagus!"
Pemilik budak itu sangat senang. Dia awalnya membeli Rain hanya seharga 160 koin emas. Itu berarti ia mendapatkan 90 koin emas sebagai keuntungan. Dengan uang ini dia akan membeli lebih banyak ternak atau bahkan menyimpananya sebagai dana pendidikan untuk anaknya.
"Ah ... ngomong-ngomong kenapa tuan muda ingin membeli begitu banyak budak?"
Sangat jelas banyak yang cukup penasaran apa alasan pembelian budak besar-besaran ini. Biasanya penggunaan banyak budak pekerja dikarenakan terdapat suatu proyek seperti pembangunan jalan atau bangunan.
"Ohh ... tuan muda ingin menggunakan mereka di tambang batu mana."
Sang Pemilik kemudian mengangguk. Tambang batu mana yang dimiliki tuan muda sangat terkenal di county bahkan di kerajaan. Itu adalah tambang batu mana terbesar di Timur Tenggara Kerajaan Artchania dan menjadi sumber pendapatan utama county.
__ADS_1
Rain masih tenang. Ia cukup terbiasa dengan semua proses ini. Walau memang ia cukup terkejut dengan banyaknya volume penjualan budak yang terjadi hari ini. Namun ketenangan dirinya itu terjadi akibat ia tidak tahu nasib ia kedepannya.