
Kematian Eldnest membawa mimpi buruk bagi para penyihir dan alchemist. Kematian wizard yang mampu menggunakan sihir tingkat 5 itu membuat para penyihir menjadi makanan empuk bagi para knight.
Terdapat 20 knight yang berada di sini yang semuanya di bawah komando Alex. Mereka membunuh dan menangkap para penyihir. Mereka membungkam mulut dan mengikat lengan para penyihir agar tidak dapat membaca mantra ataupun melarikan diri.
"Tuan!"
Alpha yang telah lepas dari sihir [Mute] bergegas memeluk Alex. Setelah melihat pertarungan berdarah itu dengan mulutnya yang tiba-tiba kehilangan kemampuan bicaranya membuatnya berada dalam keterpurukan dan ketakutan.
Namun kini, dia dapat tenang. Dia telah bebas. Dia telah aman. Tinggi Alpha hanyalah setinggi 125 cm atau masih berada di sekitar area perut Alex.
Alpha terus menangis. Rasa takut ketika sebuah pisau mengarah lurus ke lehernya telah menjadi terror yang terus membayanginya. Bagaimanapun dia hanyalah anak 8 tahun yang masih membutuhkan pelindungan dari orang dewasa.
Namun lebih dari itu, walau ia merasa senang dan tersentuh ketika melihat Alex menyelamatkannya, di waktu bersamaan dia juga merasa malu.
Alpha telah gagal menjaga Merry. Jika dia bisa melindungi gadis itu sedikit lebih lama mungkin gadis itu tidak akan ....
"Tuan, maaf ... maafkan aku hiks .... hikss ...."
Air mata suka cita beralih menjadi duka cita memasahi armor Alex. Walaupun armor itu keras dan dingin tetapi Alpha masih tetap membenamkan wajahnya di sana. Ia tidak mau mengangkat pandangannya. Walau lorong ini hanya dilengkapi dengan cahaya obor yang redup tetapi ia masih takut dan malu melihat pandangan Alex yang mungkin penuh dengan kekecewaan dan kesedihan.
"Maafkan aku, maafkan aku hiks ...."
Alex terus menatap bocah kecil yang memeluknya sambil menangis. Ia mengelus kepala anak laki-laki itu.
"Tenang, jangan menangis. Kamu sudah aman sekarang."
Suara rendah itu semakin melukai rasa bersalah Alpha. Janjinya kepada tuan putrinya untuk selalu melindunginya dan rasa bersalahnya kepada Alex semakin kuat.
Ini salahku. Seharusnya aku tidak lari ke hutan. Seharusnya kami tidak pernah bertemu.
Merasa bahwa anak ini masih tidak mau berhenti menangis, Alex masih ingin menghiburnya. Namun Ia pun tetap memeluknya membiarkan semua air mata anak itu habis.
"Apa yang kamu sedihkan? Setidaknya kita bertemu dan tidak ada hal buruk yang terjadi. Jangan menangis lagi, oke?"
Alex membujuk Alpha dengan suara seramah mungkin. Dia bahkan harus memberikan senyum langka kepada anak itu. Namun sikap tegar Alex semakin menggores rasa bersalah Alpha dari waktu ke waktu.
"Maaf Tuan, ini salahku. Jika aku tidak pergi ke rumahmu, jika aku tidak bersama dengan tuan putri, mungkin ... mungkin ... tuan putri masih ada!"
"???"
Alex bingung dengan perkataan Alpha.
"Apanya yang masih ada?"
Pertanyaan Alex seolah terlalu eksplisit. Namun ini memang benar, dia sama sekali tidak paham dengan ucapan Alpha.
Alpha merasa bahwa Alex masih belum tau kondisi Merry. Alpha berpikir bahwa Alex masih mencari Merry yang telah tiada. Alpha tidak tega melihat harapan besar Alex yang sia-sia. Walau Alpha tidak melihat sesi eksperimen yang dilakukan oleh para bajingan itu kepada Merry, tetapi dia tahu bahwa dengan rasio kematian yang amat tinggi sangat mungkin bahwa kini Merry telah tiada. Merry pasti menjadi objek gagal apalagi tubuh gadis itu terlalu lemah dan pasti tidak dapat menahan segala efek samping dari eksperimen.
Alpha menguatkan pelukannya kepada Alex. Dia mengangkat pandangannya ke atas untuk dapat menatap mata merah Alex.
Tatapan Alex masih tidak memiliki perasaan duka apa pun, tetapi Alpha harus mengatakan yang sejujurnya. Rasa sakit di hatinya karena harus mengatakan kebenaran yang amat pahit membuatnya ingin kembali menangis. Wajahnya yang telah memerah dan matanya yang telah berkaca-kaca akibat tangisan membuatnya terlihat menyedihkan.
"Tuan ... maafkan aku. Tuan putri ... tuan putri telah tiada. Dia sudah tiada, dia sudah mati. Ini salahku, ini salahku."
Setelah mengatakan itu, Alpha kembali membenamkan wajahnya dalam pelukan Alex. Ia mengeluarkan tangisan yang lebih keras seolah inilah puncak kesedihannya.
__ADS_1
"Ha?"
Alex terkejut dengan ucapan Alpha.
"Tuan."
Di waktu yang bersamaan, Rain datang sambil menyapa Alex dengan hormat. Sama halnya dengan Justin yang masih belum mampu menggunakan aura, ia sebelumnya tetap berada di barisan belakang selama pertempuran terjadi.
Alex yang mendengar Rain mengangguk tanpa ekspresi.
Rain melihat Alpha yang terus menangis. Ia juga turut sedih tetapi memikirkan penderitaan yang mungkin dialami anak ini.
"Kak Al?"
Suara lembur yang familiar itu menyadarkan Alpha yang masih memeluk Alex.
Suara itu membuat pikiran Alpha menjadi kosong. Suara tangisannya berhenti, lalu dengan pelan ia mengangkat kepalanya lalu memalingkan kepalanya ke sumber suara lembut itu.
Di punggung Rain terlihat sosok kecil yang digendong di sana. Sosok kecil itu tidaklah asing, itulah sosok yang telah menjadi penyelamatnya dan sosok yang ingin dilindungi oleh Alpha. Itu adalah Merry yang tersenyum seperti biasa.
Alpha tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dengan perasaan ragu dan suara serak ia menyebut nama tuan putrinya.
"Putri Merry ...."
"Kak Al."
Senyuman gadis itu semakin lebar setelah Alpha memanggil namanya. Tidak ada yang berubah dari penampilan Merry, kecuali ...
matanya.
Alex duduk dengan malas di sofa yang terletak di kamarnya. Seperti biasa, ia ditemani segelas teh, kue kering, dan tentu saja pelayan kecilnya yaitu Justin.
Namun berbeda dengan Alex yang tenang dan terlihat tidak memerdulikan dunia, Justin justru bekerja keras dengan tumpukan kertas kuning di meja.
Ia mencari di segala tumpukan kertas yang merupakan laporan eksperimen yang diambil dari lab yang mereka serbu.
Walau kertas ini begitu banyak, tetapi ini hanyalah laporan dari satu spesimen dan beberapa catatan umum lainnya.
Spesimen yang dicatat di sini adalah G-82 alias codename dari Merry. Siapa sangka bahwa mereka harus melakukan persiapan penyerbuan selama sebulan lamanya semenjak penyerangan mansion terjadi. Ini memang terlalu lama tetapi memang wajar karena ini mengikutsertakan 200 prajurit elit dari mansion dan persiapan kuil untuk memberikan bantuan. Belum lagi persiapan logistik dan strategi penyerangan. Ini memang untuk meningkatkan tingkat kesuksesan misi tetapi di waktu yang bersamaan juga mengurangi harapan hidup sandera. Setiap waktu yang berlalu jelas sangatlah menyakitkan bagi para sandera karena mereka bisa mati kapanpun.
Namun patut disyukuri bahwa Merry dan Alpha selamat. Selain mereka ternyata ada beberapa sandera lain tetapi kondisi mereka terlalu menyedihkan. Kebanyakan dari mereka mengalami kecatatan seperti kehilangan lengan, mata, lidah, dan bahkan memiliki tubuh penuh bekas jahitan. Mereka semua adalah objek penelitian yang masih bertahan. Semua orang itu kecuali Merry dan Alpha kini berada dalam perawatan count. Masa depan anak-anak itu memang masih belum jelas tetapi setidaknya selama count merawat dan menjaga mereka, kemungkinan kehidupan para korban eksperimen manusia itu akan selamat.
"Tuan, ini dia."
Justin tersenyum ketika menyerahkan selembar kertas kepada Alex.
Alex mengambil kertas itu.
"Terimakasih, kamu memang yang terbaik."
Justin jarang tersenyum tetapi ketika mendengar pujian itu dia jelas tidak dapat menyembunyikan senyumannya.
"Hahaha ... Tuan, tidak perlu berterimakasih. Ini sudah menjadi pekerjaanku."
Alex kemudian memfokuskan pandangannya pada kertas di tangannya.
__ADS_1
Kertas ini adalah laporan terbaru dari spesimen G-82. Ini menampilkan perkembangan terkait kondisi fisik dan mental dari spesimen. Selain itu juga memiliki beberapa formula sederhana mengenai unsur kimia yang diberikan kepada spesimen.
Alchemy adalah cabang ilmu sihir yang terdiri dari berbagai cabang ilmu sihir lain bahkan dari ilmu alam. Itu sebabnya ilmu ini sangat lekat dengan kimia, fisika, dan biologi. Di Midgard dimana Ilmu Sihir adalah pandangan dominan, masih belum ada yang disebut sebagai ilmu alam atau sains. Ilmu alam masih berada pada lingkup Ilmu sihir sehingga beberapa teori dari ilmu-ilmu itu masih mengandung unsur metafisika. Namun bukan berarti logika tidak digunakan. Saat ini banyak sekali mantra dan teori sihir yang menggunakan formula matematis dalam menjelaskan segala konsep sihir. Memang ada beberapa yang hakikatnya masih abstrak tetapi untuk beberapa pandangan dapat dijelaskan secara matematis dan statistik.
Setelah membaca semua isi dokumen, Justin menyusun semua kertas itu dan menyimpannya di laci Alex. Baik kondisi Merry ataupun Alpha masih belum diketahui oleh pihak House of Fertiphile. Ini patut disyukuri bahwa keluarga ini adalah penganut aura yang ortodoks sehingga mereka tidak dapat melihat kondisi kedua anak itu terutama Merry yang sudah sangat berbeda dari sebelumnya.
Ini sudah sangat malam dan tidak ada lagi pekerjaan. Justin undur diri dari kamar Alex tetapi tidak berselang lama Merry masuk ke kamar ayahnya.
Ini adalah hal biasa karena Merry selalu tidur bersama ayahnya. Namun kali ini agaknya sedikit berbeda.
Wajah Merry terlihat merah, napasnya berat, dan matanya bahkan semerah mata Alex.
"Ayah~"
Suara Merry terdengar sangat lembut dan halus. Tanpa menunggu balasan dari Alex yang masih duduk di sofa, Merry berjalan ke arahnya.
Merry kemudian naik ke sofa lalu duduk di pangkuan Alex sehingga mereka saling berhadapan.
Napas Merry sangat berat dan suhu tubuhnya sangat panas. Air mata juga jatuh dan suaranya bergetar seolah menahan ketidaknyamanan.
"Ayah~"
Jika Alex belum membaca laporan dari waktu ke waktu tentu ia tidak akan tahu kondisi Merry. Namun ia telah membaca semua dan tidak melupakan semua isi laporan itu bahkan mengingat semua tanda bacanya.
Alex memegang rambut anaknya dengan pelan kemudian mengangkat poni Merry sehingga ia dapat melihat seluruh wajah anaknya yang telah memerah seolah terserang demam.
"Jangan menangis."
Alex mengambil sapu tangan dari sakunya lalu membersihkan air mata dari wajah Merry.
Merry yang masih merasa tidak nyaman membenamkan wajahnya ke dada Alex dan mengeluarkan napas berat dan erangan panjang.
Napas panas Merry dapat dirasakan oleh Alex. Ia pun semakin tidak tega melihat kondisi anaknya.
Alex melepas kancing baju atasnya sehingga menampakkan bahu kuat dan putih.
Alex mengangkat Merry kemudian membenamkan wajah anaknya di bahunya yang telanjang.
Merry dapat merasakan suhu dan aroma tubuh ayahnya yang semakin kuat setelah bersentuhan dengan kulit telanjang ayahnya. Ini membuatnya semakin tidak tahan dan terus mengerang.
"Gigitlah," ucap Alex sambil mengelus rambut anaknya.
Merry yang mendapat izin ayahnya pun akhirnya membuka mulutnya. Taring kecil tetapi sangat runcing itu muncul. Ia langsung menggigit bahu ayahnya sekuat mungkin hingga taring itu menembus selaput kulit dan otot bahu ayahnya.
Aroma darah dicium oleh Merry sehingga perilakunya semakin agresif. Ia memeluk ayahnya semakin kuat dan membenamkan taringnya semakin dalam. Matanya semakin merah dan lidahnya terus menari menelan semua darah ayahnya yang keluar.
Tidak semua darah dapat ia isap, beberapa darah itu lolos dan mengalir ke bawah bahu ayahnya.
Namun tidak ada erangan kesakitan dari ayahnya. Sebaliknya, hanya elusan hangat dan lembut di rambutnya masih tetap stabil.
Walau Merry terlihat menikmati semua ini tetapi di dalam dirinya ia menangis ketika melihat ayahnya memberikan darahnya sendiri untuk dapat menenangkannya. Kondisi Merry telah berubah. Ia tidak lagi manusia tetapi sebagian darahnya telah dialiri oleh darah vampire. Sayangnya ini adalah common vampire yang memiliki nafsu terhadap darah yang amat tinggi. Siapa sangka bahwa semua eksperimen yang dilakukan padanya sangat sukses. Sehingga kurang dari sebulan ia telah berpotensi sebagai gamma. Namun kondisinya sangat tidak stabil. Ia harus mengonsumsi banyak darah untuk dapat menekan kekuatan dan perilaku ekstrim. Jika tidak maka naluri vampire-nya akan menguasai dirinya sehingga ia pun akan kehilangan kemanusiaannya.
Pada hari ini, di balik tabir jendela yang memisahkan antara sinar rembulan dan sinar lampu, bayangan dua orang yang saling berpelukan terlihat jelas. Walau terlihat penuh akan kekhusyukan dan kehikmatan tetapi itu penuh dengan kesedihan dan tragedi berdarah.
~ VOLUME 1 [END]~
__ADS_1