THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
ARCHTALES: THE BEGIN AND THE END OF BABYLONIA


__ADS_3


Dunia selalu berkembang, baik dari bentuk, dan corak kehidupan yang ada. Perkembangan itu disebabkan oleh satu hal, yaitu waktu.


Selama waktu masih ada, selama makhluk masih bernyawa, dan selama alam masih berjiwa, maka dunia tak akan binasa.


Perubahan zaman yang lambat namun pasti itu mendorong makhluk berakal untuk ber-revolusi dan makhluk bernaluri untuk ber-evolusi agar tetap dapat hidup. Itu dibuktikan dari perubahan mereka, baik secara fisik ataupun perubahan pola pikir yang teologis menuju metafisis.


Perkembangan itu telah dimulai sejak awal kehidupan para makhluk mortal di Midgard, yang merupakan dunia fana pertama yang dibuat oleh Almadeus sang Pencipta. Zaman awal itu dikenal sebagai Zaman Babylonia. Saat itu, demihuman dan humanoid hidup secara primitif, ilmu sains tidaklah ada, bahkan ilmu sihir saat itu hanya dikuasai oleh makhluk-mahkluk sihir seperti spirit, demon, dan magic beast, itu pun sangat terbatas.


Akibat dari keprimitifan dan ketidaktahuan makhluk-makhluk demihuman dan humanoid khususnya manusia tentang sihir dan sains, sering terjadi genosida terhadap mereka yang didalangi oleh para demonoid. Mereka berusaha melawan, sayangnya dengan keterbatasan senjata yang hanya berupa tombak kayu dan kapak batu, sangatlah mustahil menang dengan para demon yang mampu menggunakan sihir. Maka selama berabad-abad demihuman dan humanoid hidup dalam penindasan dan perbudakan, yang saat itu dikenal sebagai Dark Age.


Telah banyak usaha yang mereka lakukan namun semua sia-sia. Penyebab dari kesia-siaan itu tidak hanya berasal dari keterbatasan mereka, tapi juga ketidaktahuan mereka terhadap eksistensi yang seharusnya mereka sembah. Mereka sama sekali tidak mengetahuai akan keberadaan para dewa dan dewa teragung atau dikenal sebagai Archedeus.


Mereka tak tahu kepada siapa mereka harus meminta pertolongan. Mereka tak tahu kepada siapa mereka memohon perlindungan. Mereka hanya dapat meringis dan berusaha untuk tetap menjaga secercah harapan terakhir di lubuk hati mereka, menunggu datangnya eksistensi itu.


Tangisan para demihuman dan humanoid selama beratus-ratus tahun terdengar di seluruh lapisan Heaven. Air mata mereka merembes dan meredupkan Underworld. Bahkan keteguhan dan jiwa yang tersakiti itu menghantui seluruh Hereafter. Mereka yang telah tiada menuntut para pencipta untuk memberi keadilan bagi mereka yang terus berjuang untuk hidup di Midgard. Usaha mereka membuat para dewa di Heaven dan spirit di Hereafter bersimpati dan ikut melantunkan permohonan kepada para pencipta. Bahkan para demon yang ada di Underworld menutup gerbang Neraka untuk mereka dan mengutuk para demonoid di Midgard yang terus menyiksa para demihuman dan humanoid itu.

__ADS_1


Setiap harinya suara pembebasan semakin dilantunkan dan semakin keras di penjuru semesta. Hingga akhirnya sang Pencipta dari Heaven dan dunia Mortal mendengar mereka. Ia, Almadeus Elyuden Vale Heliohine yang dikenal sebagaisang God Emperor mengkehendaki keinginan mereka. Ia menolong mereka yang minta pertolonganya dengan menurunkan dua angel bernama Castor dan Pollux. Kedua angel itu atas perintah sang pencipta membantu para demihuman dan humanoid untuk bebas dari cengkraman para demonoid. Mereka melakukannya dengan cara mengajari para makhluk itu tentang berbagai jenis sihir khususnya sihir elemen dan sihir suci.


Dari merekalah manusia, elf, dwarf, beastman, dan seluruh demihuman mengenal magic. Dengan tekun dan gigih, seluruh makhluk itu berusaha untuk dapat menguasai sihir yang diajarkan oleh Castor dan Pollux.


Setelah merasa cukup mampu dan siap untuk melawan, para demihuman dan humanoid menyatukan kekuatan untuk membebaskan diri dari para demonoid. Maka peperangan besar tak terelakan. Ratusan ribu nyawa melayang selama perang yang beratus tahun itu. Hingga akhirnya para demihuman dan humanoid mendapat kebebasannya. Para demonoid kalah dan mereka melarikan diri serta bersembunyi dalam kegelapan, menunggu waktu pembalasan. Sementara demihuman dan humanoid hidup dengan bebas bersama di alam terbuka. Karena para makhluk itu telah menang, maka misi Castor dan Pollux pun selesai. Mereka kemudian kembali ke Heaven.


Sayangnya kehidupan yang damai itu tak berlangsung lama. Akibat dari ketamakan akan harta dan kekuasaan, serta rasisme yang semakin kental, terjadilah peperangan di antara makhluk-makhluk itu. Tidak hanya antar demihuman dan humanoid saja, bahkan sesama demihuman dan humanoid pun saling berperang. Hingga akhirnya kemenangan pun diraih oleh manusia. Para humanoid lain seperti elf melarikan diri ke hutan, dan dwarf pergi ke gunung. Sementara demihuman menyebar di seluruh daratan dan lautan. Maka sejak itulah kekuasaan terbesar di Midgard dikuasai oleh manusia.


Masa demi masa berlalu. Para manusia semakin terlena akan kenikmatan fana, sehingga mereka semakin melupakan kepada siapa mereka harus meminta, kepada siapa mereka harus berlindung, dan kepada siapa mereka harus takut. Mereka telah melupakan pencipta mereka.


Para manusia semakin tersesat dan berfoya ria. Puncaknya, dengan kebodohan, kedunguan, dan kesombongan yang amat tinggi, para manusia melakukan hal yang seharusnya tidak pernah mereka lakukan. Manusia yang terlena dan dibutakan oleh kekuatan, kekuasaan, dan kemuliaan melakukan sebuah perbuatan yang mengakhiri kejayaan mereka. Mereka membangun sebuah menara yang menjulang tinggi ke langit, dengan maksud untuk dapat berbicara dan berdiskusi dengan sejajar bersama dengan sang pencipta untuk membahas kemaslahatan dan kedamaian bagi umat manusia dan dunia. Menara itu dikenal dan akan terus dikenang sebagai Menara Babel, lambang dari kebinasaan dan kehancuran.


Sang pencipta atau disebut juga sebagai God Emperor telah murka. Ia menurunkan siksa melalui salah seorang hambanya yang merupakan seorang dewa penguasa Atlantis, salah satu dari 7 lapisan Heaven. Dewa yang hebat itu bernama Posaidon.


Dengan kekuatan yang Posaidon miliki, ia membuat tsunami yang amat tinggi. Tsunami itu menenggelamkan daratan tunggal yang amat luas di Midgard, yang disebut Benua Pangea. Seluruh makhluk, baik manusia, elf, dwarf, demihuman, bahkan demonoid berlari terkocar-kacir menuju dataran tinggi. Tapi mereka tahu itu percuma karena tsunami yang amat tinggi.


Untungnya salah satu archdeus bernama Eldeus Jarbelgod Lithorin atau disebut juga sebagai Grand Alive yang merupakan Penguasa Hereafter merasa iba. Ia menolong para makhluk, baik yang berakal maupun tidak dengan cara menciptakan begitu banyak bahtera raksasa. Seluruh ras bahkan tumbuhan dan hewan terselamatkan karena bahtera-bahtera itu. Selama lebih dari 30 hari mereka terombang-ambing dan selama itu pula Grand Alive melindungi mereka dari kematian karena kelaparan, penyakit, ataupun berbagai bencana.

__ADS_1


Akhir dari tsunami besar itu adalah ia, Grand Alive, dengan kemurahan hatinya sebagai Penguasa Alam Roh (Hereafter) dan sang Pelindung Semesta melempar sebuah benih dari pohon kehidupan Calvataryu yang hidup di alam tertinggi Dunia Roh yaitu Calvatarheim. Benih itu hidup dan terus tumbuh dengan menyerap air yang menggenangi daratan. Selama lebih dari 8 bulan benih itu semakin membesar sementara air yang menenggelamkan daratan semakin menyusut. Hingga akhirnya dua benua yang merupakan sisa Benua Pangea dapat muncul ke permukaan. Dua benua itu disebut sebagai Benua Laurentia dan Benua Gondwana. Di dunia itu, para makhluk kembali membangun peradaban. Sementara benih yang telah menjadi pohon kehidupan raksasa itu diberi nama Pohon Yggdrasil. Semenjak itu, Masa Babylonia telah berakhir dan digantikan oleh masa baru yang disebut Masa Yggdrasil, tetapi walaupun masa telah berganti namun perang antar makhluk mortal tak terhenti.


[Info]


Beberapa masa yang diketahui di Midgard (dunia tempat Alex berada).


Pre-Historic Era ➡️ Dark Age ➡️ Babylonia Age➡️ Yggdrasil Age ➡️ Pre-Emperia Age ➡️ Emperia Age.


Yuuuu guys! Ini cuma short story dari cerita utama ya. Nantinya, semua short story yang mengkisahkan kejadian masa lampau dalam cerita THE ARCHDEUS akan diberi nama ARCHTALES:


**Kenapa gw buat ginian? Sederhananya kadang gw dapat ide tiba-tiba pas nulis dan biasanya ide itu cuma ide utamanya doank jadi belum ada pengembangan. Ditambah buat jadi refleksi dari ngenulis cerita yang terurut dari A ampe Z. Gw kadang memang lebih suka nulis carpen daripada kisah-kisah yang ampe berbab-bab. Tapi lebih asik sih kalau ceritanya panjangggg.


Oh, iya. Di novel THE ARCHDEUS, selain bab-bab utama yang mengkisahkan alur cerita, terkadang akan terselip kisah-kisah atau info tambahan. Biar ga bingung, gw udah buat beberapa label bakunya.


-ARCHPEDIA: Berisi informasi terperinci mengenai suatu pristiwa atau objek dalam kisah THE ARCHDEUS. Biasanya ARCHPEDIA akan memiliki bab tersendiri.


-ARCHTALES: Berisi kisah-kisah atau mitologi fiktif yang menyusun novel THE ARCHDEUS. Jadi di dalam cerita fiktif, masih ada mitologi fiktifnya.

__ADS_1


-ARCHNATIONS: Berisi keterangan negara-negara di novel ARCHDEUS. Berbeda dengan ARCHPEDIA, isi yang disediakan ARCHNATION tidak akan serinci di ARCHPEDIA.


TERUS BACA YAA!! JANGAN LUPA DI VOTE AND COMMENT**😁


__ADS_2