
Lima orang berada di suatu kamar. Tiga wanita dan satu pria duduk di sofa sementara satu pria lagi berdiri sambil menuangkan minuman kepada keempat orang tersebut.
Ini ruang kerja Harol. Ruang ini telah kembali rapi daripada sebelumnya. Ini semua berkat Alen yang dengan tekun membersihkan semua kekacauan yang dibuat oleh tuannya.
Namun saat ini semua orang berada dalam kondisi diam tanpa suara sedikitpun.
Semua perhatian tertuju pada seorang wanita yang memiliki usia paling tua diantara semuanya. Wanita tua ini memakai jubah putih dengan motif rumit. Dia adalah seorang pendeta tepatnya sang High Priestess Feodora.
Sementara yang lainnya adalah Harol, Clara, dan Liana. Adapun yang berdiri dan sibuk melayani semua orang adalah Alen, sang kepala pelayan.
Semua wajah terlihat rumit penuh dengan ketidakpastian. Terutama Harol dan Clara yang seolah ingin menangis.
"Jadi ... apa Tuanku yakin Tuan Muda Alex terkena impotensi?"
"Iya."
Harol menjawab dengan lemah disertai dengan kepalanya yang menunduk ke bawah. Ini pertama kalinya Harol menunjukkan sisi lemahnya kepada orang luar.
"Hah .... ini buruk"
Feodora menghela nafas.
"Tapi setidaknya dia tidak bereaksi dengan hal lain bukan? Anak-anak atau laki-laki misalnya?," lanjutnya.
"Tidak, dia berkata miliknya memang tidak pernah bangun," jawab Harol.
"Hah ... baiklah."
"Hiks ... hiks .... anakku hiks ...."
Kesedihan Clara akhirnya meledak. Dia menangis ketika mendengar kondisi anaknya.
Dia kecewa dengan dirinya sendiri. Seharusnya sebagai seorang ibu, dia seharusnya mengetahui masalah anaknya ini.
"Clara, jangan menangis."
Harol membersihkan air mata Clara dengan menggunakan sapu tangan.
"Sayangku, anak kita ..., dia akan sembuh kan? Hiks ... katakan dia akan sembuh!" teriak Clara.
Harol tersenyum pahit mendengar ucapan istri pertamanya ini.
"Iya, dia akan sembuh. Jangan menangis."
Harol memeluk Clara dengan penuh kasih sayang. Dengan lemah Clara menyandarkan kepalanya di atas bahu Harol.
Liana yang berada di samping Harol mendecakkan lidahnya diam-diam. Dia berusaha sebaik mungkin menyembunyikan api cemburu di matanya.
"Nyonya Feodora, apa yang harus kita lakukan? Tolong sembuhkan anak kami."
Harol yang masih memeluk Clara memohon kepada Feodora dengan wajah menyedihkan.
"Aku akan berusaha. Ini bukan pertama kalinya aku menangani kasus impotensi. Namun ... aku belum pernah mendengar impotensi pada usia semuda Tuan Muda Alex. Apa mungkin sebenarnya Alex belum dewasa?"
"Tidak mungkin! Tubuhnya dan suaranya jelas sudah sangat dewasa! Dengan mataku sendiri aku melihat para pelayan wanita mimisan setiap kali melihat otot perutnya!" ucap Harol.
"Baiklah, baiklah ... aku akan memberi obatnya."
"Nona Feodora, apa obat yang Anda berikan?"
"Itu tergantung seberapa parah penyakitnya. Biasanya kita hanya perlu meresepkan beberapa tanaman sihir. Namun jika kasusnya terlalu rumit, kami biasanya memberikan pengobatan ekstrem."
Semua orang langsung menelan ludah ketika mendengar penjelasan Feodora. Kuil terkenal dengan jenis-jenis pengobatan mereka dari yang moderat hingga ekstrem. Jika pihak kuil sendiri mengatakan ini adalah pengobatan ekstrem, maka secara literal ini benar-benar ekstrem.
"A-apa saja pengobatan ekstremnya Nyonya?"
Feodora tidak langsung menjawab tetapi memikirkan beberapa jenis pengobatan.
"Yah, anggaplah seperti menggosok anak buaya ke alat kelamin, meminum darah gadis yang mengalami menstruasi pertama, menggunakan gigitan serangga khusus, hingga memakan testis mentah-mentah."
"...."
Terlalu mengerikan!
__ADS_1
Semua orang yang mendengar setuju jika semua pengobatan yang dicontohkan Feodora pantas dikategorikan sebagai ekstrem.
"Hiks hiksss!!"
Clara kembali menangis keras ketika memikirkan anaknya harus melakukan semua itu. Ini terlalu menyayat hatinya.
Harol kembali berusaha menangkan Clara. Tidak lupa dia lagi-lagi memohon kepada Feodora.
"Nyonya Feodora, kumohon tolong sembuhkan anakku."
"Baik, Tuan Count. Jangan khawatir, dia pasti akan sembuh."
Feodora juga bukannya tidak terguncang ketika memikirkan Alex. Walau dia tidak sering bertemu dengan anak itu, tetapi ketika ia dan Alex berada pada karavan yang sama saat pergi ke ibukota, ia memiliki penilaian positif terhadap Alex. Bahkan ia berencana untuk membawa proposal perjodohan murid terbaiknya dengan Alex.
Selepas konseling itu, Feodora pergi dengan diantar oleh Liana. Harol tidak bisa mengantar Feodora karena ia harus menenangkan Clara.
Bahkan hingga malam tiba, kesedihan Clara masih belum berkurang. Mau tidak mau Harol harus tinggal semalaman di kamar istri pertamanya.
Sementara itu Liana ....
"Hahahahah ...."
Dia berpesta pora.
"Bagus sekali!"
Apakah dia peduli dengan Alex? Jangan bercanda, tentu saja tidak! Terserah apakah anak itu sakit atau tidak. Namun ketika mengetahui Alex mengalami impotensi tentu saja Liana sangat senang. Impotensi berarti tidak mungkin menikah. Tidak mungkin menikah berarti tidak mungkin memiliki anak. Maka absolutely Alex akan tersingkir secara otomatis dari kancah persaingan suksesi warisan.
"Dewa bersama denganku."
Liana berada dalam kondisi mood yang sangat baik sehingga ia minum anggur terbaik seorang diri.
Tok ... tok ....
"Ibu ...."
Liana hafal dengan suara itu.
"Masuklah Hazel."
"Ada apa anakku?"
Liana tersenyum tulus kepada anaknya yang masih berumur 13 tahun yang terlihat sedikit lebih dewasa dari sebelumnya. Namun sebagai anak termuda, dia masih sangat terlihat sebagai anak yang dimanja dan kekanak-kanakan.
"Ibu, Hazel rindu kakak."
Hazel mencium aroma anggur yang menyengat dari gelas ibunya. Ia mengerutkan dahinya. Berbeda dengan Alex yang telah minum di usia muda, Hazel terlalu dilindungi oleh Liana sehingga sampai saat ini Hazel belum memiliki koneksi pertemanan dengan anak bangsawan lain kecuali tunangannya dari Keluarga Morhust.
"Apa anakku bosan? Apa Hazel mau ibu membaca cerita untuk Hazel?"
Hazel menggelengkan kepalanya. Ia berjalan lalu duduk di sofa yang sama dengan ibunya.
"Ibu, Hazel mau tidur bersama ibu."
Mata Hazel berbinar seolah menunjukkan penuh harap.
"Tentu saja, Sayang."
Liana mencium kening anaknya kemudian tersenyum. Dia tidak bisa membayangkan jika kedua anaknya harus tersingkir dari suksesi warisan. Jika itu terjadi maka Jared dan Hazel harus tidur di luar seperti tunawisma (bukan secara literal). Jika kedua anaknya mengalami kondisi demikian, dia lebih baik mati.
***
"Ayunkan lebih pelan. Tidak perlu buru-buru."
"Lemaskan bahumu jangan terlalu tegang."
"Punggungmu, tegakan! jangan membungkuk."
Alex dengan santai duduk di kursi taman sambil minum teh. Walau ia terlihat bersantai ternyata dia sedang membimbing dua sosok yang sedang berdiri sambil mengayunkan pedang dengan serius.
Satunya adalah Rain, seorang budak yang dibeli oleh Alex pada saat berkunjung di tambang batu mana. Sementara yang kedua ialah sosok lebih kecil, ia adalah anak lelaki adopsi Alex, yaitu Alven.
Ini adalah awal musim semi. Tidak ada lagi salju, hanya sinar mentari dan udara yang menyegarkan.
__ADS_1
Di kiri Alex duduk anak perempuannya tercinta yaitu Merry yang asik memakan kue coklat yang lumer di mulut. Sementara di kanan Alex berdiri seorang pelayan kecil setianya, Justin.
"Kenapa kalian tidak berteriak? Berteriaklah supaya lebih semangat," ucap Alex.
"Baik! Hiya! Hiya!" seru Rain dan Alven.
Setiap kali kedua orang itu mengayunkan pedang, mereka mengeluarkan teriakan membara.
Kedua orang ini mendapat kelas wajib berpedang dari Alex. Bagaimanapun tujuan awal Alex membawa mereka ke bawah sayapnya adalah untuk mengharapkan kemampuan tempur mereka. Jadi mulai dari sekarang mereka harus berlatih beladiri, berpedang, dan memanah. Ohh ... mereka juga harus berlatih sihir karena Alven dan Rain berbakat dalam hal ini.
Adapun untuk Alex ....
Alex sudah memutuskan untuk diam-diam berlatih sihir. Semenjak penculikan Merry, Alex sedikit menambah keseriusannya dalam martial art. Selain itu, untuk mempermudah hidupnya dia juga berlatih sihir.
Sama halnya dengan aura, kualitas mana Alex berada pada tingkat tertinggi. Namun kuantitasnya menyedihkan. Itu alasannya dia harus berlatih.
Berbeda dari aura, pelatihan mana jauh lebih bervariasi. Metode-metodenya bisa melalui meditasi, membaca, meminum obat-obatan, ataupun mengonsumsi makanan yang mengandung mana dalam jumlah besar.
Alex memakai semua metode termudah dan santai seperti meditasi, membaca, dan mengonsumsi makanan. Adapun untuk metode ekstrem seperti eksperimen dan sebagainya dia lebih memilih untuk menjauh.
Ia berlatih mana bukan untuk menjadi yang terkuat tetapi hanya untuk membela diri.
Ngomong-ngomong soal sihir, dia sudah dapat menggunakan mantra tingkat 2. Ini tergolong sangat cepat mengingat berlatih dari nol hingga dapat menggunakan mantra tingkat 2 bisa memakan waktu dua setengah tahun. Namun Alex dapat memotong waktu pelatihan itu menjadi kurang dari setahun.
Alex telah melakukan antisipasi untuk mencegah pelatihan sihirnya ketahuan. Ia tidak takut kepada orang-orang Fertiphile karena mereka adalah pengguna aura ortodoks yang buta terhadap pengetahuan sihir. Namun untuk berjaga-jaga, dia menggunakan mantra tingkat 2, [False Indigo]. Kecuali ada yang menggunakan mantra pengumpul informasi atau memiliki kemampuan mendeteksi mana yang kuat, mustahil dapat melihat aliran mana Alex. Ia juga menggunakan mantra ini kepada Merry yang telah menjadi half-vampire.
"Tuan, berapa lama kami harus seperti ini?"
Tiba-tiba Rain bertanya dengan penasaran. Ia masih mengayunkan pedangnya tetapi pandangannya berada kepada Alex.
"Lakukan 50 kali."
"Tapi Tuan ... kapan kami bisa berlatih aura?"
Rain sedikit tidak puas dengan pelatihan yang terus ia alami. Selama pelatihan, mereka hanya fokus pada pelatihan jasmani tetapi sama sekali belum menyentuh ranah supranatural yaitu aura.
"Lakukan saja yang kukatakan dan jangan alihkan perhatianmu. Terus mengayun!"
Walau wajah Alex tanpa ekspresi tetapi suaranya mengandung intimidasi.
"Baik, Tuan!"
Rain mengalihkan perhatiannya kemudian kembali fokus dengan ayunan pedangnya.
Alex agaknya sedikit termenung. Ini bukanlah waktu aman. Saat ini akibat Jared telah pergi ke Akademi Militer, fokus Harol yang awalnya terbagi kepada Alex, Jared, dan Hazel kini hanya terfokus pada Alex dan Hazel. Namun sebagai anak yang telah dewasa, pelatihan Alex lebih diperhatikan daripada Hazel. Akibatnya intensitas pelatihan Alex bertambah. Selain itu terdapat ancaman pertunangan yang masih menghantuinya.
Ia masih bisa menghindari keduanya tetapi itu bukan selamanya ....
Alex harus memikirkan cara untuk menjauhkan perhatian orang tuanya darinya sehingga ia bisa bebas dari kehidupan seperti Larry menjadi kehidupan seperti babi.
Atau setidaknya menjauhkan diri dari mereka sehingga ia dapat bebas.
Tapi bagaimana?
Alex kembali mencari cara.
Apa mesti pindah ke ibukota? Tidak, palingan aku bakal jadi gembel. Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri.
Lagian ibukota terlalu banyak orang dan bau pesing.
Hidup di pedesaan? Hmm ... apa artinya aku harus jadi petani? Hah itu melelahkan.
Hmm ... tapi aku kan bisa menyewa orang desa sebagai petani kan? Ditambah udara di desa masih segar, jarang yang buang air besar di dekat jalan. Sepertinya tidak buruk.
Alex merasa mungkin tinggal di daerah rural untuk sementara waktu dapat menjaga kehidupan Alex yang damai ini bertahan sedikit lebih lama.
Selain itu untuk menambah keuangannya dia telah memutuskan untuk menjadi pemilik lahan pertanian. Walau demikian bukan berarti dia harus menjadi petani, toh dia bisa menyewa orang.
Namun pertanyaan berikutnya adalah apa tanaman yang harus dia tanam?
Alex berpikir cukup lama. Ia mengambil sapu tangan yang terletak di saku dadanya. Ketika ia mengambil sapu tangan, ia tidak sengaja merasakan detak jantungnya.
"!!!"
__ADS_1
Alex tiba-tiba teringat dengan sirkulasi mana yang mengalir di tubuhnya.