
White Tulip Cafe memiliki motif sederhana, kursi dan meja berbahan kayu berbaris rapi di dalam kafe. Aroma bijian kopi dan suara renyah roti menghangatkan suasana. Alex duduk dengan sopan di salah satu kursi. Dia menunggu pesannya datang. Di hadapannya, Justin juga duduk tetapi ia sedikit canggung. Untuk duduk dengan setara di meja yang sama dengan tuannya, jelas bukanlah hal yang bisa dicapai oleh seoran pelayan. Dua pelayan lain dan dua prajurit yang duduk di meja yang berbeda dari Justin hanya bisa menatapnya dengan iri. Mungkin karena Justin dan Alex berada diusia yang sama sehingga formalitas mereka sudah sangat longgar.
"Tuan, ini pesanan Anda."
Seorang pelayan wanita dengan nampan berisikan dua potong kue coklat, segelas milk shake, dan segelas kopi hitam datang. Dia melihat dua pelanggan dengan tampilan kontras di antara keduanya. Satu adalah seorang anak berwajah tampan tetapi acuh tak acuh dengan postur sangat tinggi, putih, berambut hitam, dan pupil merah, serta pakaiannya yang didominasi warna merah dan biru laut yang terlihat sangat mahal. Sementara pihak lain adalah anak yang lebih pendek, berkulit putih, rambut silver, dan menggunakan setelan hitam dengan wajahnya yang terlihat lebih bersahabat.
Pelayan itu hanya bisa membuat hipotesis mengenai kedua orang ini. Dia memberikan keduanya potongan kue yang telah dipesan, kemudian dia meletakkan kopi hitam kepada anak yang lebih tinggi dan susu kepada anak yang berambut perak.
"Selamat menikmati."
Pelayan wanita itu meletakan nampan di dadanya dan membungkuk hormat. Dia kemudian melirik ekspresi anak yang lebih tinggi. Anak itu mengerutkan dahinya seolah tidak senang sementara anak yang lebih pendek hanya membuat batuk palsu.
Anak yang lebih pendek kemudian mengambil susu yang diletakan di depannya lalu memberikannya kepada anak yang lebih tinggi kemudian dia mengambil kopi untuk dirinya sendiri.
"...."
Ha?
Pelayan itu hanya bisa termenung melihat seberapa kontrasnya pesanan mereka dengan tampilan mereka. Namun ia bergegas sadar dan pergi menjauh.
Justin hanya dapat membuat beberapa pertanyaan di benaknya.
Kenapa tuan muda ingin mempersulit keadaan?
Kenapa tuan muda ingin menjumpai pemilik budak?
Tidak ada kondisi konkrit mengenai hubungan emosional atau pun fisik tuan muda yang mengarahkannya pada keputusan yang tidak konservatif. Kondisi tuan muda pada saat mereka pergi untuk membeli spons terlihat normal dan tidak ada fluktuasi emosi tiba-tiba. Namun tindakannya yang agresif terhadap budak itu jelas sangat aneh.
Sifat tuan muda yang pemalas memang tidak patut ditiru tetapi beliau tidak pernah memberikan hukuman kejam pada bawahannya, pikir Justin.
Semenjak pandangan Justin tentang kebersihan tercerahkan oleh tuan muda, dia selalu mengenang setiap disiplin yang diberikan kepadanya. Tuan muda tidak pernah sekalipun memukul atau menendangnya.
Beliau hanya akan menguliahiku, dia tidak pernah menggunakan kekuatan fisik untuk mendisiplinkan seseorang. Mungkin karena dia lemah, tetapi setidaknya dia orang yang baik.
Justin semakin penasaran. Walau cukup berani, dia dengan suara lemah bertanya pada Alex.
"Tuan Muda, bolehkah hamba tahu apa yang akan terjadi pada gadis budak itu?"
Justin takut bahwa pertanyaannya mungkin akan menyulutkan emosi tuannya. Namun syukurlah itu tidak terjadi.
"Hmm ... aku ingin memberinya keadilan."
Justin bingung dengan pernyataan ini.
Anda ingin memberinya keadilan dengan membiarkannya ditendang di tengah jalan?
Merasa bahwa Justin bingung, Alex menjelaskan secara eksplisit.
"Apa kamu tidak melihat tubuhnya? Lengan, kaki, dan lehernya penuh bekas luka. Dia sekitar setengah umur kita tetapi dia harus menanggung semua itu."
Justin tahu perlakuan budak terlepas dari umur dan kelamin memang cukup kejam. Jadi hal wajar untuk melihat budak berusia anak-anak memiliki kulit penuh luka. Pemandangan umum ini telah menjadi kebiasaan masyarakat sehingga tidak ada yang memberi simpati kepada para budak itu.
Alex tahu orientasi masyarakat ini masih belum menjunjung tinggi egaliter untuk semua makhluk berakal bahkan antar sesama manusia pun masih ada yang mengalami diskriminasi. Ketika ia pergi ke pasar dan melihat budak-budak itu, hatinya tidak bisa tidak tersentuh. Sebagai seseorang yang menghancurkan kehidupan tetapi menghargai mereka dalam waktu yang sama, Sheol akhirnya melihat secara langsung kekejaman dunia fana. Suara Ilahi dari Surga dan Neraka yang terus mengkumandangkan tentang persamaan derajat antara makhluk berakal secara sosial tidak terintis di Univorsum.
__ADS_1
Namun ia harus menghormati Aturan Kebebasan Hidup Makhluk Fana yang dibuat Almadeus. Sheol tidak bisa melakukan intervensi secara langsung ketika tidak ada pelopor yang ingin merubah dunia. Para Archdeus tidak akan membantu makhluk hidup jika makhluk itu tidak ingin mengubah hidupnya.
Namun hanya sekali ini saja. Ketika ia melihat kecelakaan yang terjadi kepada budak itu, ide masuk di kepalanya. Dengan ketidakadilan yang dibuat oleh masyarakat, dia akan memanfaat itu untuk memberikan keadilan bagi gadis itu.
"Aku hanya merasa kasihan padanya," gumam Alex.
"Sebaiknya lupakan itu. Fokus saja makan," ucap Alex.
"Baik."
Keduanya menikmati makanan dengan diam. Tidak ada yang memulai berbicara tetapi suasananya sama sekali tidak canggung. Justin cukup mengerti karakteristik Alex yang tenang dan cuek sehingga tidak ada keharusan baginya untuk memulai percakapan.
Hampir sejam berlalu. Keduanya telah lama selesai makan tetapi masih ada beberapa cemilan seperti permen dan coklat di meja mereka. Justin tentu saja sangat senang, sangat jarang dia bisa makan sebebas ini. Walau dia tidak pernah kekurangan makanan selama bekerja di Keluarga Fertiphile tetapi ia sangat jarang pergi ke luar untuk ngemil. Apalagi semua biaya ini ditanggung oleh tuan muda hehehehe ....
Salah satu pelayan yang dibawa Alex dari rumah mendekat. Dia adalah seorang wanita dengan celemek hitam dan seragam pelayan yang didominas warna putih dan hitam.
"Tuan Muda, kedua discimpion dan pemilik gadis budak telah datang."
"Bawa mereka kemari."
"Baik, Tuanku."
***
Lacey menatap fokus tiga orang yang duduk di meja yang sama. Pertama adalah Tuan Muda Alex, kedua adalah Ryana yang menjadi penengah, dan terakhir adalah seorang pria kurus dengan kumis runcing serta berkulit pucat disertai bintik coklat di wajahnya. Orang terakhir adalah tuan dari gadis budak yang ia dan Ryana lindungi.
Lacey saat ini dengan erat menggenggam pergelangan tangan budak itu. Keduanya berdiri tak jauh dari meja diskusi. Ia sengaja tidak duduk untuk tetap menjaga gadis itu agar tidak panik.
"Uhm."
Tuan budak ini sangat terkejut ketika ia dibawa pergi oleh dua orang prajurit dan ditemani dua orang gadis cantik. Dia menduga bahwa budaknya pasti telah melakukan hal buruk. Dia ingin bertanya tetapi wajah para prajurit terlihat terlalu menyeramkan sementara untuk kedua gadis, dia cukup canggung berbicara dengan mereka. Sehingga di sepanjang perjalanan, dia tidak berhenti gemetar.
"Tuanku, suatu kehormatan dapat duduk di tempat yang sama dengan Anda."
Tuan budak terlihat tulus untuk kata-kata ini. Memang bagi seorang rakyat jelata seperti dia untuk dapat duduk sama dengan bangsawan adalah prestasi tersendiri. Dia hanyalah pemilik penginapan kecil sehingga dia jarang berinteraksi dengan orang-orang penting.
"Tidak masalah. Namun Anda terlihat gugup. Tidak perlu merasa takut, aku ingin menemuimu hanya untuk membicarakan bisnis," ucap Alex.
Ryana dan Lacey tidak bisa tidak terkejut. Bukannya karena budak ini? mereka tidak bisa berpikir hal lain. Bukankah Alex memanggil tuan dari gadis budak untuk mengajukan keluhan? Kenapa tiba-tiba membicarakan bisnis?
"Tentu saja Tuan Muda. Hamba bersedia melakukan semua yang Anda inginkan."
Pemilik budak itu tersenyum cerah. Telihat ada kerakusan di matanya.
"Aku ingin mengambil budak itu."
Alex menunjuk ke arah budak yang saat ini bersama dengan Lacey. Ryana dan Lacey sangat tidak menduga hal itu. Apa yang akan dilakukan seorang berusia 15 tahun pada gadis kecil ini? Tentu saja mereka khawatir. Sudah menjadi rahasia umum bahwa budak anak-anak terutama seorang gadis sering kehilangan kesuciannya.
Tuan Budak ini mendapatkan satu kesimpulan.
"Sepertinya Tuan Muda tertarik dengan gadis ini?"
"Yeah. Tapi aku tidak ingin membelinya."
__ADS_1
"Maaf?"
"Berikan dia padaku."
Lingkungan itu langsung sunyi. Budak bukanlah permen yang bisa diminta-minta. Budak adalah barang yang cukup prestise dan mahal. Tidak mungkin dapat ambil begitu saja tanpa ada transaksi.
"Maaf Tuan Muda, saya kurang mengerti-"
"Kamu tidak perlu mengerti. Budak ini telah merusak 20 propertiku (xylospongium). Aku merasa kesal."
Untuk sesaat Justin yang berdiri di samping Alex terbatuk.
*Hanya karena xylospongium, Anda ingin budak sebagai ganti rugi? Anda serius? *pikir Justin.
Namun tuan budak tidak terlalu mengerti masalah ini. Dia menduga sebagai seorang bangsawan, tentu saja barang yang mereka anggap sebagai properti adalah barang mahal.
20 BUAH! teriaknya dalam benaknya.
Wajahnya langsung memucat. Dia tidak bisa membayangkan barang apa itu. Kemungkinan itu adalah barang pecah belah mungkin seperti pot kuno atau lukisan mahal.
Begitupula dengan Ryana dan Lacey, mereka tidak melihat dan tidak tahu barang yang dirusak budak ini. Namun melihat bagaimana budak ini dianiaya oleh prajurit, tentu saja mereka tahu barang itu sangat mahal.
Hanya Justin, dua pelayan wanita, dan empat prajurit yang terbatuk ketika mendengarnya.
Melihat para pelayan dan para prajurit membuat wajah seperti itu, tentu saja itu barang mahal, pikir tuan budak.
"Jadi bagaimana?"
Alex bertanya. Tuan budak itu langsung tersadar dan ia berteriak.
"Tentu saja Tuanku, saya sangat berterimakasih kepada kemurahan hati Anda. Jika properti saya yang sederhana ini mampu menebus biaya dan kerugian yang Anda alami, saya dengan senang hati akan memberikannya."
"Hmm ... bagus."
Alex untuk sesaat kaget.
Heh? Apa budak semurah itu?
Yeah, dia awalnya memang tidak ingin membeli budak itu tetapi akan mengambilnya secara paksa. Rencana awalnya adalah menuntut tuan budak ini ke Pengadilan Umum wilayah sehingga ia dapat menyita gadis budak. Pengadilan Umum memang di bawah otoritas lord sehingga sebagai bangsawan, dia mampu melakukan intervensi terhadap keputusan pengadilan. Sehingga dia yakin untuk memenangkan perkara.
Yeah, tapi ini tidak buruk. Setidaknya aku tidak harus bolak-balik ke pengadilan.
Alex tersenyum cerah. Kemudian dia bertanya kepada Ryana.
"Jadi bagaimana Nona Rayself? Apa ini sah?"
"Tentu saja Tuan Muda, karena kedua pihak sepakat maka ini adalah negosiasi yang sah."
Baik Ryana dan Lacey memberi simpati terdalam kepada gadis budak itu. Mereka tidak bisa membantu karena mereka hanya orang luar. Ryana juga tidak menyangka bahwa negosiasi akan selesai secepat dan selancar ini.
Seperti yang diharapkan dari bangsawan.
Ryana semakin mengidolakan Alex. Semenjak pertamakali mereka berjumpa, jantung Ryana semakin kencang berdetak bertalu-talu.
__ADS_1