
Pertempuran antara dua tim pun akhirnya terjadi. Kebanyakan dari mereka memilih menggunakan dual senjata dimana tombak adalah senjata primer sementara pedang, kapak, maupun panah adalah senjata sekunder.
Sebagai bagian dari keamanan peserta, mereka juga mengenakan zirah yang terbuat dari kulit. Ini hanyalah peralatan tempur non-magic sehingga tidak memiliki efek apa pun bahkan sebenarnya peralatan yang mereka gunakan jauh di bawah standar prajurit pada umumnya. Yah, karena ini hanyalah ujian jadi memang tidak perlu untuk menggunakan senjata normal yang dapat mengancam nyawa. Terutama setelah melihat kebanyakan pendaftar berasal dari kalangan sipil yang sama sekali tidak memiliki kemampuan tempur.
Mungkin Yeux adalah salah satu yang beruntung. Ia memiliki latar belakang sebagai seorang petualang sehingga pengalamannya sendiri sudah lebih dari cukup untuk menjatuhkan beberapa orang.
"Sebelah sana! Jangan biarkan mereka berhasil mengepung kita!"
Seorang pria botak berbadan kekar memberikan perintah kepada Yeux dan anggota lainnya. Dia adalah pemimpin dari kelompok yang dianggotai Yeux. Pria itu bernama Egon, seseorang yang diketahui memiliki latar belakang sebagai anggota dari tentara bayaran. Berbeda dengan para petualang yang wajib memiliki perwalian dalam serikat dan memiliki administrasi formal yang jelas, prajurit bayaran (mercenary) adalah organisasi non-formal yang lebih tidak terorganisir, sering diasosiasikan secara negatif oleh negara maupun beberapa pihak lain, serta memiliki reputasi yang buruk.
Tentu saja tidak semua tentara bayaran adalah orang jahat tetapi berkat banyaknya perbuatan dan citra mereka yang memang berakar dari sesuatu yang buruk seperti tempat pelarian para bandit hingga menjadi organisasi yang sering meneror warga, bahkan ditambah dengan propaganda dari serikat petualang karena rivalitas antara kedua organisasi itu membuat prajurit bayaran tidak lebih dari sekumpulan penjahat dan tempat berkumpulnya para sampah masyarakat.
Namun sepertinya Alexandreia tidak terlalu memperdulikan latar belakang seseorang. Hal itu dibuktikan karena Egon yang memiliki latar belakang sebagai tentara bayaran dapat tetap ikut serta di dalam ujian ini. Bahkan dia menjadi ketua dari salah satu kelompok peserta dengan suara mayoritas.
Sebagaimana perkataan Egon, terlihat sayap kiri pasukan mereka terpukul mundur akibat serangan masif dari kelompok lawan. Sehingga pasukan yang berada di tengah harus memutar arah dan membuat serangan kejutan dari belakang lawan.
Yeux yang berada tak jauh dari sayap kiri segera membantu untuk menahan serangan lawan. Walaupun pihak Alexandreia mengatakan bahwa kemenangan kelompok tidaklah menjadi pertimbangan utama dalam penilaian, tetapi Yeux yakin terdapat indikator-indikator selain kemampuan individu dalam seleksi ini. Apalagi ini adalah ujian yang menggunakan kelompok sebagai alat seleksinya. Ia berpikir mungkin saja kemampuan kepemimpinan dan kecakapan dalam bertindak di saat krisis serta membantu peserta dari kelompok yang sama adalah salah satu pertimbangan. Jika tidak, mengapa Alexandreia repot-repot membuat ujian kelompok seperti ini jika memang indikator kolektif sama sekali tidak diperhitungkan.
Mungkin Yeux adalah salah satu orang beruntung yang menyadari hal itu.
Tak jauh dari mereka, tempat para petinggi militer Alexandreia, mereka tetap berdiri sambil mengamati semua peserta dengan sangat serius.
Beberapa prajurit senior yang umumnya adalah prajurit lama yang mengikuti Alex bahkan ketika Alex masih menjadi seorang baron berada di sana. Mereka kini adalah para pejabat-pejabat militer kelas atas di county. Sementara para prajurit senior yang awalnya berasal di Canadia yang kini mengubah sumpah setia mereka ke Alexandreia hanyalah menjadi perwira-perwira militer tanpa jabatan eksekutif yang berarti. Namun setidaknya orang-orang itu harus puas dan sadar diri. Mereka awalnya adalah prajurit dari lord yang telah jatuh. Masih untung lord sekarang tetap menerima mereka sebagai prajurit Alexandreia.
__ADS_1
Orang-orang itu yang jelas sedang mengamati satu persatu peserta yang mereka anggap menarik. Mereka akan mencatatnya dan membuat review kemudian menjadikan itu sebagai rekomendasi kepada Alex.
Alex tetap akan menjadi pemegang kekuasaan tunggal sebagai orang yang memilih lolos atau tidaknya seorang peserta. Dia saat ini duduk di kursi utama dan di kiri dan kanannya terdapat Justin dan Rain yang sedang berdiri.
Berbeda dengan Alex yang menatap pertempuran dengan pandangan malas, Rain melihat pertempuran kelompok itu dengan serius. Ia cukup terkejut ketika mendengar Alex bertanya tentang penilaiannya.
"Rain, apa ada orang yang membuatmu tertarik?" tanya Alex dengan santai.
Meskipun Rain tidak mengatakannya dengan lantang, tetapi dia tanpa gugup membisikkannya kepada Alex.
"Menurut saja, orang yang bertarung dengan pria berambut pirang panjang itu cukup hebat, Tuan. Meskipun dia tidak terlalu pandai menggunakan tombak tetapi sepertinya dia punya pengalaman dan memiliki mobilitas yang baik," bisik Rain.
Alex menatap orang yang dikatakan Rain. Orang itu terlihat memiliki rambut pirang tetapi pendek. Saat ini dia sedang melawan seorang pria berambut pirang panjang dengan intens. Kedua orang itu beradu tombak tetapi di antara kerumunan kerusuhan yang ada.
"Sepertinya orang yang kamu bilang tidak terlalu pandai menggunakan tombak. Mungkin dia awalnya bukanlah pengguna senjata melee," ucap Alex.
Dia menggunakan flail? pikir Rain.
Pada kenyataannya orang yang mereka berdua bicarakan yakni Yeux yang sejak awal bukanlah seorang warrior tetapi assassin dengan kelas thief. Itu sebabnya dia tidak pandai menggunakan senjata seperti tombak dan pedang.
Jadi dia memilih menggunakan flail atau senjata rantai sebagai senjata sekundernya apabila tombak yang ia gunakan tidak efektif.
Sebagai seorang thief, dia sudah biasa bertarung dengan berbagai trik yang dianggap 'curang' seperti melempari pasir hingga menggunakan ramuan atau racun. Itu sebabnya menurutnya flail seperti seseorang yang sedang melempari batu. Tidak memerlukan teknik khusus dan cukup diayunkan begitu saja. Untungnya flail yang disediakan adalah flail non-kombatan yang menggunakan bola kayu sebagai kepalanya dan tali yang digunakan untuk menggantikan rantai. Jika tidak, mungkin sudah banyak mayat yang berserakan di sekitaran Yeux.
__ADS_1
Namun saat ini Yeux menghadapi masalah. Lawannya kali ini terlihat terbiasa menggunakan tombak. Orang itu memiliki rambut pirang panjang yang terurai mulus serta memiliki perawakan ramping. Mirip seperti laki-laki aristokrat yang banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku daripada berlatih. Namun orang ini jauh lebih ahli daripada penampilannya.
Dia berkali-kali menyudutkan Yeux untuk jatuh dari kudanya.
Sial, sejak awal aku memang tidak berbakat menjadi kavaleri, pikirnya.
Tusukan tombak kembali muncul ke arahnya. Dengan cepat, Yeux menghindar dan segera ia menangkap tongkat tombak itu dengan erat sehingga musuhnya tidak dapat menarik tombaknya.
"Sial! Sepertinya kau tidak buruk."
Orang yang menjadi lawan Yeux memberikan senyum sinis. Pria itu sepertinya memang memiliki teknik tombak yang baik tetapi dia tidak terlalu kuat. Itu terbukti dari ketidakmampuannya melepaskan tombaknya dari kuncian Yeux.
Namun siapa yang menyangka, orang itu berdiri di punggung kudanya lalu dengan cepat melompat ke arah Yeux.
Yeux yang tidak sempat menghindar, mendapatkan tendangan udara dari orang itu yang mengenai dadanya. Akibatnya, Yeux tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan terhempas dari kudanya. Sementara lawannya kini menunggangi kuda milik Yeux.
Meskipun Yeux memakai zirah kulit tetapi tendangan itu masih cukup menyakitkan hingga membuatnya sesak nafas. Dengan tubuh yang telah jatuh di tanah, ia menggenggam dadanya sembari melihat pria yang telah menendangnya jatuh.
Pria itu hanya tersenyum acuh tak acuh lalu mulai melawan orang lain. Meninggalkannya begitu saja.
Ujian pun berakhir dengan kemenangan kepada kelompok putih. Yang mengejutkan, kelompok hitam yang merupakan kelompok Yeux mengalami kekalahan telak. Tentunya penyebab dari itu semua salah satunya akibat seseorang.
Pria yang menjadi lawan Yeux sebelumnya. Pria itu tidak hanya mengalahkannya, ia juga berhasil mengalahkan Egon.
__ADS_1
Ketika Justin membacakan nama orang-orang yang lulus, pria itu adalah yang pertama disebutkan.
Namanya adalah Pierce Wolvince. Kemudian nama-nama lain mulai disebutkan satu persatu.