
Merry awalnya melihat pemandangan dari balik jendela kereta dengan antusias. Namun semakin karavan itu bergerak ke pusat bisnis, Merry menjadi sedih. Di hampir setiap sudut jalan tempat aktivitas transaksi kota berjalan, dia melihat puluhan bahkan ratusan budak di segala usia. Para budak itu dipaksa membawa barang berat di punggung mereka dan ada juga yang dikunci di kurungan seperti anjing yang dijual.
Merry memang bukan lagi budak, tetapi goresan di tubuh dan ingatannya sebagai budak masih melekat kuat. Perlahan ia menurunkan pandangannya dari jendela dan menatap ayahnya. Merry dipangku oleh ayahnya. Di kereta selain mereka berdua, terdapat dua orang lagi yakni ibu dari ayahnya yaitu Clara dan seorang pendeta tua bernama Feodora. Satu fakta menarik yang tidak sengaja didengar oleh Merry, ternyata Feodora adalah pendeta yang membantu Clara melahirkan Alex. Waktu itu Feodora masih seorang priestess dan kini dia telah menjadi seorong high priestess, bahkan Kepala dari Presbhenon.
Merry menggenggam tangan ayahnya yang besar dan halus. Berbeda dengan tangan ayahnya, tangan Merry masih terdapat beberapa goresan-goresan dan bekas luka.
"Ada apa Merry?"
Alex bertanya setelah melihat anaknya tiba-tiba murung. Namun Merry hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayah, tangan ayah sangat cantik."
Mendengar pujian gadis kecilnya, Alex tersenyum dan mengelus rambut rambut Merry.
"Apa Merry sangat menyukai ayah?"
Alex bertanya pada Merry dengan nada menggoda. Jika nada suaranya ini ditujukan kepada para gadis remaja, mungkin 7/10 akan langsung berteriak 'kyaa!' dan sisanya membeku dengan wajah merah. Untunglah di kereta hanya diisi oleh seorang gadis kecil yang bahkan belum puber dan dua wanita tua yang telah beranak pinak.
"Sangat suka! Ayah adalah pria paling tampan dan baik di dunia!"
Kedua wanita tertawa lepas mendengar jawaban polos gadis kecil itu.
"Yaampun, kamu punya anak yang lucu dan jujur."
Feodora tertawa. Kerutan di wajahnya semakin terlihat lalu dengan perasaan senang dia membuka tas pinggangnya dan mengambil sebatang permen. Dia memberikannya kepada Merry.
Merry tidak langsung mengambil, dia menatap ayahnya sampai ayahnya itu memberikan anggukan.
"Terimakasih Nenek Pendeta."
Feodora tertawa dan mengelus rambut Merry.
"Nak Alex, kamu sepertinya sudah mendapat satu fans baru," ucap Feodora.
"Fan?"
Alex bingung, dia tidak ingat pernah konser atau menjadi seorang superstar. Bagaimana dia bisa mendapat penggemar?
Feodora tidak menjawab pertanyaan Alex tetapi matanya memandang ke Clara. Feodora ingat masa ketika ia masih menjadi priestess yang merawat Clara pada saat dan pasca kelahiran Alex. Setiap kali dia dan Clara bertemu, percayalah jika dibuat menjadi jurnal maka dari kata pengantar hingga daftar pustaka akan membahas Alex tok.
Clara hanya tersenyum malu. Dia berusaha mengalihkan topik. Dia tersenyum pada Alex sebelum bertanya.
"Nyonya Feodora, apa tidak masalah jika melaksanakan Upacara Inisiasi setelah Upacara Kedewasaan Alex?"
__ADS_1
Upacara Inisiasi adalah upacara sakral yang biasanya dilakukan setelah kelahiran seorang bayi. Acara ini digunakan untuk mengukuhkan pemberian nama seorang anak dan memohon pemberkatan kepada para dewa. Dalam agama Hexatheisme, terdapat empat upacara yang akan dilalui oleh manusia, yaitu; Upacara Inisiasi, Upacara Kedewasaan, Upacara Pernikahan, dan Upacara Kematian.
"Aku rasa tidak masalah. Lebih cepat lebih baik. Setelah Upacara Inisiasi, secara agama dan hukum, Alex akan disahkan sebagai ayah baptis dari Merry."
Hanya seorang yang telah dinyatakan dewasa melalui Upacara Kedewasaanlah yang berhak mengajukan diri sebagai orang tua baptis/orang tua angkat seorang anak. Feodora sudah tahu dari Clara bahwa Alex sudah mengadopsi seorang anak. Namun ini masih belum dipublikasikan karena Alex belum mengikuti Upacara Kedewasaan dan belum dinyatakan dewasa secara de jure dari pihak kuil.
"Terimakasih High Priestess Feodora," ucap Alex sambil memberi hormat.
"Ugh ... kenapa kamu tidak berterimakasih pada ibu?"
Clara mengerucutkan mulutnya dan bertingkah manja seperti seorang gadis. Clara sangat menyayangi putranya. Bahkan ketika Alex memutuskan mengadopsi seorang anak, walau Clara sebenarnya tidak menyutujui tindakan itu di dalam hatinya, ia tetap mendukung Alex.
Demi Alex, ia mengakui Merry sebagai anak adopsi putranya. Ia akan mendukung keduanya secara finansial. Bahkan ia bersedia dipanggil nenek oleh Merry dan terkadang mengajaknya makan bersama. Namun kegiatan akrab seperti tidur bersama, merajut baju untuk cucu, dan bermain bersama cucu jelas tidak akan mau dilakukan Clara. Bagaimanapun darah Merry adalah darah seorang budak. Dia bukan darah daging Alex, jadi untuk apa dia harus betul-betul memberlakukannya sebagai cucu? Namun demi Alex, hanya demi Alex-nya tersayang, Clara rela mengakui dan tersenyum kepada Merry. Itulah batas toleransinya sebagai seorang ibu.
"Tentu saja Ibu, terimakasih sudah mendukungku sampai saat ini."
Alex tersenyum pada Clara.
Clara tersentuh.
Dia bisa membuat senyum seperti itu?!Semenjak dia punya anak, dia menjadi sering tersenyum. Ahh ... yaampun, sepertinya punya anak adopsi tidak seburuk yang kupikirkan.
Clara tentu saja senang dengan perubahan ekspresif di wajah Alex. Pria super dingin ini kini menjadi lebih ramah bahkan ibunya yang selalu sabar dengan wajah putranya yang lumpuh (cool) tidak akan pernah menduga hal ini.
Artinya alasanku turun ke sini tidak ada gunanya selain liburan, pikir Alex.
Karavan bergerak terus bergerak hingga hampir menjelang malam. Mereka telah lama keluar dari Kota Fertihall dan saat ini berhenti untuk beristirahat di kota kecil bernama Kota Fertiparte yang masih terletak di County of Fertiphile.
Seluruh anggota kafilah memutuskan menginap di sebuah penginapan selama semalam. Diketahui bahwa Kota Fertiparte adalah kota terdekat dari ibukota county dan setelah mereka pergi dari sini, mereka kemungkinan akan bermalam di luar pada hari berikutnya.
Tuan Muda Alex, Nyonya Clara, dan High Priestess Feodora mendapat kamar pribadi terbaik.
"Merry, apa kamu ingin tidur dengan ayah?"
Merry tentu saja langsung mengangguk seperti mesin bor.
"Tentu saja! Merry hanya mau tidur dengan Ayah!"
"Hmm ... kalau begitu kita makan terlebih dahulu."
Semuanya pergi ke lounge di lantai satu. Penginapan bukanlah penginapan mewah dan hanya memiliki dua lantai. Makanannya juga tidak seenak dan semeriah di rumah. Namun ini masih layak dimakan. Biasanya kebanyakan para tamu adalah para pedagang atau pengembara. Bagi pemilik penginapan, ini adalah momen bersejarah baginya karena bangsawan dari Rumah Fertiphile dan pendeta dari Presbhenon of Fertihall akan menginap. Pemilik penginapan ini berpikir, mungkin dia harus menulis di papan pengumuman bahwa orang-orang hebat dari county pernah menginap di sini.
"Apa aku bisa bertemu dengan pemilik tempat ini?"
__ADS_1
Suara pria itu kecil jelas dia hanya bercakap-cakap dengan orang di dekatnya. Namun pemilik penginapan yang berada jauh dari tempat orang itu dapat mendengar dengan jelas. Mungkin itu berasal dari instingnya bahwa ini sangat penting. Bergegas pemilik itu mendekati pria yang sedang asik makan.
"Tuanku, hamba di sini. Apakah Tuanku memiliki sesuatu yang diinginkan?"
Bangsawan pria ini berambut hitam pekat dan memiliki pupil semerah darah. Kulitnya terlihat putih dan halus, jelas dia tidak pernah bekerja keras. Bangsawan ini memandangi pemilik penginapan sesaat sebelum dia bertanya dengan ekspresi acuh tak acuh.
"Apa di sini ada kamar mandi? Aku dan anakku ingin mandi."
Tidak hanya pemilik penginapan, beberapa orang terutama para pendeta terkejut.
Kenapa mandi? Apa perlunya itu?
Sangat jarang bagi penginapan untuk menyediakan layanan mandi bagi tamu-tamunya. Itu karena masyarakat memandang bahwa mandi adalah hal yang tabu jika dilakukan secara rutin dan dianggap memboroskan air serta dapat menyebabkan demam dan flu. Bahkan ada salah satu sekte kecil kuil Hexatheisme yang menganggap mandi adalah bukti dari tidak bersyukurnya seseorang kepada hydrodeity (Dewi Air) dan hampir menjadikannya sebagai bidah.
Namun Kuil Yang Esa menolak fatwah itu dengan alasan bahwa mandi pada hakikatnya adalah bentuk pemborosan tetapi tidak tidak dapat dikatakan sebagai bidah karena seorang saint bernama St. Artesis memerlukan mandi seminggu sekali untuk menjaga suhu tubuhnya tetap stabil. Selain itu terdapat beberapa upacara sakral seperti upacara pernikahan yang mengharuskan kedua mempelai pengantin untuk mandi di air suci. Jika kuil melarang mandi, maka pendapatan mereka dari menjual air suci akan turun. Itu sebabnya jika bukan keadaan yang urgen, maka mandi dikategorikan sebagai suatu hal yang makruh.
Tentu saja Clara, Justin, dan beberapa pelayan yang pernah melayani Alex tidak kaget dengan kebiasaan eksentrik Tuan Muda Tertua Fetiphile ini. Namun karena ini terlalu unik, mereka lupa menyediakan bahan mandi seperti gel, sampo, dan bak. Namun mereka masih membawa beberapa handuk dan akar untuk siwak.
"M-maafkan kami, Tuanku. Penginapan hamba yang rendah ini tidak memiliki peralatan yang dibutuhkan untuk mandi."
Pemilik penginapan ragu dengan jawabannya dan benar saja, mata Alex terkulai karena kecewa.
"!!!"
Pemilik penginapan merinding karena ia telah mengecewakan bangsawan. Baginya, dapat mengenal dan menjalin relasi dengan orang penting terutama bangsawan adalah sebuah investasi. Dia rela mengorbankan banyak biaya asal mendapat relasi dengan orang-orang hebat karena baginya relasi itu bisa menjadi salah satu tali penyelamatnya jika dia terjebak di kesulitan.
"Tuanku, hamba akan segera mencari semua kebutuhan dari keagunganmu. Hamba mohon kepada Tuanku untuk memaklumi kelancangan hamba dengan meminta Tuanku menunggu."
Pemilik ruangan itu membungkuk dengan segala penyesalan.
"Hmm ...."
Untungnya Alex mengangguk dan mengizinkannya.
"Ah ... benar, tolong siapkan juga untuk pria di sana."
Alex menunjuk ke seorang pria berambut silver yang sedang makan di meja berbeda. Pria itu terlihat tidak menyadarinya dan hanya terfokus pada makanannya.
"... Baik, Tuanku."
Pada malam hari, sekumpulan orang yang diketahui adalah para petugas dan pelayan penginapan terlihat berlarian seperti orang gila di kota. Mereka mencari semua bahan dan perlengkapan mandi seolah semua itu adalah kunci untuk kehidupan mereka.
__ADS_1