
Amygdala melompat di kerumunan prajurit. Ia dengan tangannya yang panjang dan banyak menghempas semua yang ada. Satu prajurit terbunuh, kini dua, dan terus bertambah. Richard tidak tinggal diam. Dia bergegas ke sana. Dibekali shield dan armor tidak lupa sword yang kuat, ia lepaskan serangan.
*Slashhh ....
"[Martial art: Turbulence Strike]!"
Dengan sekali ayunan pedang, amygdala itu terjatuh. Serangan dari skill itu menyebabkan guncangan hebat dan menyebabkan stun sesaat. Hebatnya amygdala itu belum mati, ia masih sempat-sempatnya memberikan serangan acak, seperti yang diharapkan dari undead. Richard pun kembali menyerangnya dengan membabi-buta hingga akhirnya undead itu pun tak lagi bergerak
Sementara itu di waktu yang hampir bersamaan, seekor amygdala diserang oleh serangan Iona. Sebagai seorang mage, Iona memiliki serangan tipe AoE. Ia menyerang menggunakan sihir elemen api seperti [Fireball] yang merupakan kelemahan bagi undead.
*Boom ... boom ... boom ... boom ....
Setelah beberapa serangan berikutnya, satu amygdala pun tewas. Namun bukan berarti pertempuran berakhir, beberapa amygdala baru muncul entah dari mana dan ikut dalam pertempuran.
"Jumlah mereka terlalu banyak! Sial, jika begini terus mage akan kehabisan mana," ucap Richard.
Berbeda dengan kelompok Camellia yang mengandalkan serangan sehingga pasukan terpenting adalah vanguard seperti warrior dan assassin, kelompok Richard lebih mengandalkan pertahanan sehingga komponen terpenting adalah magic caster dan warrior. Apabila magic caster tipe support kehabisan mana, maka warrior yang terluka tidak dapat disembuhkan. Akibatnya, pertahanan melemah dan kemungkinan kalah semakin besar.
"Argghh!"
Pertahan Richard berhasil ditembus. Walaupun tidak parah, tapi serangan itu berhasil melukai bahunya. Seorang priest segera berlari mendekatinya, ia pun memberi mantra penyembuh.
"[Cure]!"
Untuk beberapa kasus, para priest yang mampu menyembuhkan atau bisa disebut sebagai healer tim akan menilai luka pada anggota timnya. Apabila luka tersebut tidak terlalu parah atau dalam, mereka akan memakai mantra tingkat 2 [Cure] tapi apabila keadaan luka itu cukup parah, mereka akan menggunakan mantra tingkat 3, [Heal].
Jumlah amygdala terlalu banyak, ada sekitar 60 ekor. Untuk perbandingan, terdapat sekitar 5000 prajurit. Belum lagi mereka dipecah menjadi dua kelompok utama, yaitu 2500 orang di utara dan 2500 orang di selatan.
Perlahan Richard dan kelompoknya semakin tersudut. Satu persatu magic caster mulai kehabisan mana.
Namun siapa sangka, diantara orang-orang itu, Alex adalah salah satu orang yang mencolok. Ia membunuh begitu banyak amygdala hanya dengan teknik pedang semata. Tidak hanya itu, bawahan di sampingnya yang bernama Rain walaupun memiliki teknik pedang yang belum sempurna, dia telah memberikan hasil yang baik untuk anak seusianya.
"Kita harus mundur. Para mage dan priest yang telah kehabisan mana segera berada di belakang dan bantu evakuasi penduduk. Para warrior, rapatkan pertahanan kalian dan jangan biarkan satu undead pun berhasil melewati kalian," ucap Alex.
"Baik, Tuan!"
Richard berpikir apa yang harus mereka lakukan. Undead tidak memiliki rasa lelah dan terimun dari mantra kutukan. Bukan tidak mungkin makhluk-makhluk terkutuk itu bertarung hingga kiamat menjelang.
"!!"
Tiba-tiba tanah bergetar. Ini gempa? Tidak ini bukan gempa. Getarannya terasa aneh, seolah dibuat oleh sesuatu. Tak berlangsung lama, tanah retak, dan retakan itu mulai menjalar. Kemudian perlahan tanah mulai terbelah semakin lebar. Lalu sebuah tangan raksasa muncul dari dalam perut bumi.
"Apa itu?!"
Semua prajurit panik. Para amygdala juga terdiam. Mereka menyaksikan kemunculan sosok makhluk. Kemudian muncul satu tangan lagi. Akan tetapi tangan itu bergerak lebih agresif. Tangan yang panjang dan bahkan dapat menggapai satu orang prajurit dari jarak yang jauh.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!"
__ADS_1
Prajurit itu berteriak ketakutan. Wajahnya pucat ketika ia digenggam oleh tangan raksasa. Lalu makhluk itu pun terus berusaha keluar hingga akhirnya wujudnya pun terlihat.
Itu amygdala raksasa. Tingginya sekitar 12 hingga 15 meter atau mungkin lebih. Amygdala itu mendekatkan prajurit yang ia genggam ke mulutnya. Tentakel-tentakel di sekitar wajahnya menggeliat dan membuka jalan ke arah mulutnya. Gigi-gigi runcing yang tersusun rapi telah menyambut prajurit itu.
"T-Tolong .... aaaaarrrr!!!"
Kepala prajurit itu digigit oleh monster itu. Prajurit itu mengejang dan akhirnya tewas.
"Dia memakannya?!"
Para prajurit lain hanya membatu ketakutan melihat teror yang nyata di depan mereka. Richard pun tak terkecuali. Kakinya gemetaran ketika menyaksikan adegan itu.
"Roooooaaaarrrrrrr!!!"
Amygdala raksasa itu mengeluarkan raungan menyeramkan. Seolah menunjukkan bahwa dialah yang berkuasa di sini. Para amygdala lain juga itu meraung. Amygdala raksasa itu mengangkat salah satu tangannya lalu ia pun mengayunkannya ke arah para prajurit. Puluhan prajurit terhempas. Mereka tercampak beberapa meter. Sekali lagi ia melakukannya dengan tangan lainnya dan para prajurit lain terhempas. Warrior tidak bisa melakukan apa-apa. Kemampuannya melindungi tidak lebih hanya dari sebongkah sampah yang tak berarti.
"Hentikan!!"
Richard marah melihat teman-teman prajuritnya dibantai. Ia dengan wajahnya yang memerah akibat ledakan emosi berlari menuju amygdala raksasa. Walaupun ia takut, kakinya gemetar, bulu lehernya bergidik tapi kini perasaan kemarahanlah yang menguasainya.
Ia menghunuskan pedangnya. Ia mengaktifkan seluruh skill terkuatnya. Ini adalah pertaruhan. Dengan semua aura dan stamina ia miliki, ia akan mempertaruhkan semuanya pada serangan ini.
"Arrggghh!"
Belum sempat menyentuhnya, Richard terhempas akibat pukulan cepat dari amygdala itu. Dia langsung melayang dan menabrak dinding rumah. Dinding itu hancur dan Richard jatuh terduduk di tanah. Ia kemudian memuntahkan darah.
Iona marah. Ia berlari sekuat tenaga untuk menolong Richard. Dengan menggunakan semua sihir tingkat tiga [Fireball] ] yang ia miliki, ia menyerang amygdala itu.
"[Fireball]]!"
Namun tidak seperti yang ia pikirkan. Amygdala raksasa itu berlari bagai banteng ke kerumunan prajurit. Para prajurit itu sedang bertarung dengan amygdala normal sehingga tidak dapat membendung serangan dari amygdala raksasa.
"Aaaarrr!!"
"Aaaaaaaa!!"
Terjadi pembantaian kepada para prajurit. Ada mati diinjak, dimakan, dilempar, dan dicabik. Mereka kini tak lebih dari serangga.
"Sial!" seru Alex.
"Rain, ambil alih!" perintah Alex.
Alex saat ini sedang menyerang amygdala ukuran biasa. Ia segera memerintahkan Rain untuk mengambil alih dan segera berlari menyerang amygdala raksasa itu.
Rain tidak dapat berbuat banyak. Ia kini juga kesulitan. Rain yang kini merupakan seorang warrior tetapi tidak memiliki kemampuan mumpuni. Ia saat ini hanya bisa melihat tuannya yang sedang membangai amygdala tetapi di satu sisi, amygdala raksasa membantai pasukan mereka. Namun ia dapat merasakan kepercayaan yang dimiliki tuannya kepadanya.
Aku pasti bisa, pikir Rain.
__ADS_1
Dengan penuh tekad, Rain menyerang kumpulan amygdala yang baru saja diserang oleh Alex. Ia menggunakan kekuatan aura dan mana yang dialiri di pedang dan tubuhnya.
Sementara para warrior terlihat kocar-kacir, barisan belakang juga menghadapi masalah
Darius saat ini tidak memiliki pelindung pun. Dia saat ini sedang berada di barisan belakang tetapi dengan cepat barisan depan hancur oleh serangan amygdala raksasa. Darius sebagai ranger tidak memiliki banyak kesempatan jika musuh sudah sedekat ini. Dia sama sekali tidak menyesal. Banyak kenangan yang ia dapat dari menjadi seorang prajurit. Kehidupan seorang prajurit lah yang menghiasi hidupnya lebih berwarna. Apabila ia mati sebagai seorang prajurit, ia merasa itu lebih baik daripada mati di kasur sebagai pria tua.
*Slassshhhh ....
Ia terus memejamkan mata. Tapi serangan tak kunjung datang. Dengan rasa penasaran walaupun sangat takut, ia perlahan membuka matanya.
"Eh?!"
Seberapa kagetnya Darius ketika ia melihat amygdala itu telah kehilangan kepalanya. Monster itu mati dengan kepala yang terpenggal. Darius tidak tahu apa yang terjadi tapi ia melihat sesuatu yang aneh, itu adalah sebuah pedang panjang yang memancarkan aura merah sedang tertancap di tanah dengan dilumuri oleh bekas bercakkan daging dan darah busuk.
Awalnya para prajurit kini tak lagi optimis. Mereka berpikir bertarung dengan amygdala itu percuma. Pemikiran itu semakin kuat setelah mereka melihat tumpahan daging dan darah teman mereka yang sesama prajurit. Darius tidak sanggup menyaksikan pembantaian itu. Sudah lebih dari sepertiga prajurit yang tewas. Air mata keluar dan mengalir di pipinya. Ia berusaha menahan tapi rasa kesedihan dan penderitaan tidak lagi dapat dibendung.
"Aaaaaarrrrrrrgggggghhhhhh!!!"
"Apa?!"
Darius tidak percaya apa yang ia lihat.
Di depan matanya dan semua orang yang hadir, sosok Alex tiba-tiba meluncur jatuh dari ketinggian. Ia meluncur layaknya roket dan mengarah ke amygdala raksasa itu dengan kecepatan tinggi.
Aura merah darah menyala di sekujur lengan kanan Alex. Ia dapat merasakan otot-otot tangannya mengembang akibat menyerap aura. Kemudian, ia melepaskan tinju ke amygdala raksasa itu. Itu bukanlah serangan normal. Terlihat angin atau mungkin awan merah yang bergerak dengan cepat dan menyerang amygdala raksasa itu. Serangan itu tidak meledakan atau mencabik monster itu tapi ... serangan itu seolah ******* tubuh amygdala. Perut monster itu berlubang setelah terkena serangan. Tidak hanya perut, bahkan serangan itu juga menyebabkan tanah tempat monster itu berpijak juga ikut berlubang. Seolah serangan itu menghancurkan semua.
"Apa yang membuat kalian menangis?"
"?!"
Suara tenang mengguncang hati semua orang. Suara yang penuh dengan energi kehidupan dan rasa kepercayaan diri membuat semua orang hanya terdiam menatap orang yang baru saja membunuh amygdala raksasa. Mereka melihat sosok Alex yang mengenakan magic armornya yang memantulkan cahaya rembulan sedang berdiri di atas tubuh amygdala rakasa itu.
"Tuan?!"
Alex tersenyum mendengar suara gemetar orang-orang. Mereka pasti sangat terkejut ketika tahu tiba-tiba melihat apa yang baru saja terjadi.
"Rain, lihat ini. Suatu hari nanti kamu akan mampu menguasai serangan sekuat ini," ucap Alex tanpa memandang Rain.
"Tuan."
Rain tidak dapat menjawab perkataan Alex. Ia terdiam dan penuh akan rasa takjub melihat kekuatan Alex.
Serangan Alex tadi adalah murni serangan aura. Ia sama sekali tidak menggunakan teknik apa pun. Itu murni pancaran energi aura yang menunjukkan seberapa banyak aura yang dimilikinya.
"Para prajurit yang tidak terluka segera bawa prajurit yang terluka kepada para priest. Kumpulkan semua orang, kita akan beristirahat untuk saat ini," ucap Alex.
Namun kurang dari lima menit setelah ucapan Alex, sosok assassin muncul. Itu adalah Rionard dari tim Falcon , satuan elit dari Royal Majestic Guarder. Ia berada dalam kelompok Warfoy tetapi kini dia datang dengan tubuhnya yang penuh luka.
__ADS_1
"Tuanku, tolong, kami diserang," teriaknya.