THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
SPRING(6)


__ADS_3

"Hah ..."


Dari jauh Alen menghela nafas sedih.


Sangat menyedihkan.


Alen sangat terluka ketika melihat tuan dan nyonya tertekan hanya untuk berbicara dengan anak mereka sendiri. Jelas sekali ini terlalu menyedihkan.


"Aha ... Alex, kenapa tidak minum? Nanti airnya dingin."


Alex melihat cangkir yang berisi cairan berwarna hijau muda di depannya. Secara visual ini terlihat seperti teh hijau.


Alex mengambil cangkir itu kemudian menghirup aromanya.


"!!"


Ini?! Bukankah ini obat?!


Walau aroma dominan adalah aroma teh tetapi dengan sensitivitas indera Alex yang begitu tinggi, belum lagi ditambah dengan pengetahuannya yang absolut sebagai archdeus dia jelas dapat mengetahui bahwa terdapat aroma lain di teh ini.


Sayangnya aroma ini terdiri dari banyak komposisi sehingga Alex kesulitan memahami efek darinya. Namun yang jelas ada obat yang diletakan di teh ini.


Alex tidak ingin suudzon kepada kedua orang tuanya. Apalagi ini adalah orang tua kandungnya di dunia fana, tidak mungkin kedua orang tuanya memiliki maksud buruk kepadanya, bukan?


Jadi dia lebih baik langsung bertanya.


"Ibu, apa ada benda lain di teh ini? Alex mencium ada aroma aneh di teh ini."


"!!"


Clara dan Harol mematung ketika mendengar perkataan Alex. Keduanya terkejut karena Alex dapat mengetahui benda asing di dalam teh padahal ramuan ini sudah diramu oleh High Priestess yang menjamin bahwa akan sangat sukar membedakan dengan teh umumnya.


"Hah, iya ... ayah dan ibumu memberikan obat untuk dapat meningkatkan aura. Ayah melihat walau teknikmu semakin baik tetapi pertumbuhan kuantitas aura-mu terlalu lambat," jelas Harol.


"Oh ..."


Alex melupakan bahwa untuk menghindari perhatian yang berlebihan, dia menggunakan beberapa jenis sihir dan teknik yang mampu membatasi penglihatan orang lain dalam mengawasi aura dan mana-nya.


Walau masih memiliki keraguan, Alex tetap meminum tehnya.


Menit demi menit berlalu, dan setiap pertukaran waktu kedua orang tuanya selalu mengingatkan untuk meminum tehnya. Pada akhirnya cangkir itu pun kosong.


Sejam telah berlalu ....


"Hoamm ...."


Clara pada akhirnya telah mencapai batasnya. Dia menguap akibat ngantuk yang sudah menyerang habis-habisan.


Ketiga pelaku yang berada di ruangan ini telah mengamati perkembangan Alex tetapi tidak ada perubahan.


"Alex, bisa kamu berdiri?" tanya Harol.


"Hmm ...? Oke."


Alex berdiri, dan Harol mengawasi semuanya.


Hah ... tidak ada tenda yang dibangun.

__ADS_1


Harol frustasi. Belum lagi mata Clara yang sudah semakin gelap. Pada akhirnya mereka memutuskan melakukan rencana B.


"Alex, ayah akan membawa ibumu ke kamar. Dia sudah sangat mengantuk. Tetap di sini, ayah akan mengobrol denganmu lagi."


"Baik."


Harol pergi sambil membawa Clara. Namun dalam waktu kurang dari sedetik dia berhasil memberikan kode kepada Alen untuk melaksanakan rencana B.


Pintu kembali ditutup, hanya meninggalkan Alex dan Alen dalam kamar. Tidak ada yang berbicara. Alex hanya duduk diam sementara Alen hanya berdiri di dekat pintu dengan patuh.


"Tuan Muda, maafkan hamba,  tetapi Tuan Count meminta hamba untuk memeriksa hasil pelatihan Anda. Dapatkah Anda berdiri, Tuan Muda?"


Hah ... kenapa banyak sekali orang yang menyuruhku berdiri?


"Iya, iya."


Alex sudah jengkel. Namun ketika dia berdiri, dia merasakan benda keras dan dingin memukul leher belakangnya dengan keras.


"Maaf Tuan Muda."


Detik berikutnya Alen menangkap kedua tangan Alex kemudian mengikatnya menggunakan tali yang selama ini ia simpan.


****


Alex untuk kesekian kalinya merasa sangat payah. Dia, seorang archdeus sang Tuhan yang maha kuasa, ternyata dikalahkan oleh serangan diam-diam. Parahnya lagi yang menyerangnya adalah seorang mortal!


Sial, jika kedua adikku tahu, bagaimana aku menampakkan wajah kepada mereka berdua?!


Sudah sangat lama Sheol (Alex) dipandang sebagai sosok kakak yang kuat dan tangguh di mata kedua adiknya yang merupakan archdeus. Alex tidak bisa membayangkan jika pandangan kedua adiknya hancur berkeping-keping ketika melihat hal memalukan seperti ini.


Selagi Alex memarahi dirinya sendiri, perlahan ia menyadari sesuatu yang aneh. Ada perasaan hangat tetapi lengket yang berjalan di tubuhnya. Alex tidak dapat mengetahui dari mana asalnya akibat indra penglihatan dan pendengarannya masih belum berfungsi. Namun indra perabanya masih tetap bekerja walaupun mengalami degradasi sesaat.


Perasaan itu masih berlangsung bermenit-menit, bahkan sampai perlahan indranya yang lain mulai bekerja. Ia bisa mendengar sayup-sayup suara melengking. Hawa panas menerpa telinganya.


Benda hangat dan lengket dengan tekstur lembut yang tadinya terus menjalar di tubuhnya tiba-tiba terasa di telinganya. Benda itu seakan menjelajahi semua area daun telinganya.


Hei ... hei, apa ini?!


Alex semakin panik ketika ia merasakan benda aneh itu di telinganya. Untuk pertama kalinya dia merasa takut. Sang dewa tertinggi dan maha agung takut pada sebuah objek yang tidak dapat ia lihat.


Kemudian benda itu terasa muncul di mulutnya. Menjalar dan menjelajahi semua rongga mulutnya dengan liar.


Benda aneh itu sepertinya tidak hanya satu. Setidaknya dia dapat merasakan tiga area badannya yang diserang benda itu.


Pertama adalah telinga, kedua mulut, dan ketiga ....


Ahhh tidaaak!!!


Tekanan emosional batin Alex akhirnya berhasil membuat kesadaran tubuhnya pulih. Perlahan kelopak matanya terangkat dan menampakkan pupil mata berwarna merah darah yang menyeramkan sekaligus menawan.


Pandangan pertama yang dilihat Alex adalah bulu mata hitam yang panjang.


Kemudian batang hidung mancung lalu turun ke mulut yang masih melekat erat di mulutnya.


*Klik!


"Kyaa!"

__ADS_1


Wanita yang mencuri ciuman pertama Alex berteriak kesakitan sambil menutupi mulutnya. Siapa sangka dengan kondisi panik, Alex langsung menggigit lidah wanita itu.


Teriakan kesakitan wanita itu mengagetkan dua wanita lain yang masih bermain di tubuh Alex. Ketiga wanita itu berada dalam kondisi tanpa busana.


"Apa yang kalian lakukan!?"


Alex berteriak marah pada ketiga wanita asing ini. Dia tidak tahu siapa mereka, dan yang paling parah adalah beraninya mereka mengeksploitasi tubuhnya ketika ia tidak sadarkan diri.


Alex ingin bangun. Ia bahkan tidak memikirkan bagaimana dia bisa berada di atas ranjang saat ini. Namun dia tidak dapat bangun.


Kaki, tangan, dan tubuhnya diikat di ranjang. Parahnya lagi dia saat ini berada dalam kondisi tidak ditutupi oleh sehelai kain pun sehingga mengekspos lekukan otot kencang dan sumber masa depannya secara menyeluruh.


"Sial! Beraninya kalian melakukan ini!!"


Alex betul-betul marah. Ini untuk pertama kalinya dia semarah ini ketika turun di Midgard.


"T-Tuan Muda."


Ketiga wanita itu ketakutan mendengar teriakan marah dan melihat wajah yang penuh dengan kemurkaan Alex.


Namun suara para wanita itu tersendat. Menyadari bahwa Alex tidak dapat bangkit, mereka kembali melanjutkan pekerjaan sebelumnya.


Alex berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikatnya, Namun bahkan ketika dia sampai menggunakan mana dan aura, ia merasakan energinya terserap oleh tali ini. Alex pun mengerti bahwa tali ini adalah benda sihir, sama seperti belenggu yang dimiliki Alven ketika berada di laboratorium.


Ketiga wanita itu kembali menjilat tubuh Alex.


......... ini.>...Ini membuat dia frustasi. Ia tidak tahu jenis tali apa yang mengikatnya saat ini. Namun ia sadar bahwa tali ini sangat kuat. Setidaknya dengan kuantitas mana atau aura-nya saat ini dia tidak dapat memutuskannya.Secara perlahan kemarahan Alex berhasil ditekan dan pikirannya kembali mendingin."Hah ... kalian ...," gumam Alex dengan pasrah.Itu sia-sia.Kalimat itu tidak keluar dari mulut Alex.Jika dia boleh jujur, semua pelayanan fisik yang diberikan ketiga wanita ini sama sekali tidak dinikmati oleh Alex. Itu bukannya dia tidak merasakannya tetapi lebih kepada tidak ada hasrat seksual yang melonjak.Walaupun tubuh Alex adalah tubuh fana, tetapi jiwanya adalah jiwa Archdeus.Para Archdeus tidak pernah memiliki nafsu seksual kepada seluruh ciptaannya. Seerotis apa pun ciptaan itu, Archdeus tidak akan pernah memiliki perasaan birahi.Itu bukannya mereka seolah adalah kasim. Namun ini seperti karena Archdeus dan ciptaan-Nya berada pada kondisi dan perwujudan yang berbeda.Secantik dan sebesar apa pun dada simpanse tidak akan pernah membuat manusia terbakar oleh nafsu.Selain itu, kondisi seksual para Archdeus sangat istimewa. Sebagaimana Archdeus yang terkenal mendominasi dan menguasai, mereka bahkan secara penuh dapat mengatur nafsu birahi mereka sendiri.Mereka dapat berhenti di tengah jalan tanpa masalah. Mereka tidak akan pernah kehilangan kewarasan sebaik apa pun kenikmatan seksual yang terjadi.Ini karena Archdeus berada di atas nafsunya sendiri, sangat berbeda dengan ciptaannya yang terkadang ditaklukkan oleh nafsu mereka sendiri.Kontrol para Archdeus terhadap diri mereka bersifat mutlak.


...... ini.>...


Ini membuat dia frustasi. Ia tidak tahu jenis tali apa yang mengikatnya saat ini. Namun ia sadar bahwa tali ini sangat kuat. Setidaknya dengan kuantitas mana atau aura-nya saat ini dia tidak dapat memutuskannya.


Secara perlahan kemarahan Alex berhasil ditekan dan pikirannya kembali mendingin.


"Hah ... kalian ...," gumam Alex dengan pasrah.


Itu sia-sia.


Kalimat itu tidak keluar dari mulut Alex.


Jika dia boleh jujur, semua pelayanan fisik yang diberikan ketiga wanita ini sama sekali tidak dinikmati oleh Alex. Itu bukannya dia tidak merasakannya tetapi lebih kepada tidak ada hasrat seksual yang melonjak.


Walaupun tubuh Alex adalah tubuh fana, tetapi jiwanya adalah jiwa Archdeus.


Para Archdeus tidak pernah memiliki nafsu seksual kepada seluruh ciptaannya. Seerotis apa pun ciptaan itu, Archdeus tidak akan pernah memiliki perasaan birahi.


Itu bukannya mereka seolah adalah kasim. Namun ini seperti karena Archdeus dan ciptaan-Nya berada pada kondisi dan perwujudan yang berbeda.


Secantik dan sebesar apa pun dada simpanse tidak akan pernah membuat manusia terbakar oleh nafsu.


Selain itu, kondisi seksual para Archdeus sangat istimewa. Sebagaimana Archdeus yang terkenal mendominasi dan menguasai, mereka bahkan secara penuh dapat mengatur nafsu birahi mereka sendiri.


Mereka dapat berhenti di tengah jalan tanpa masalah. Mereka tidak akan pernah kehilangan kewarasan sebaik apa pun kenikmatan seksual yang terjadi.


Ini karena Archdeus berada di atas nafsunya sendiri, sangat berbeda dengan ciptaannya yang terkadang ditaklukkan oleh nafsu mereka sendiri.


Kontrol para Archdeus terhadap diri mereka bersifat mutlak.

__ADS_1


__ADS_2