
Marsh Turtle Farka memiliki bentuk tubuh seperti kura-kura dengan hiasan duri-duri di tubuh dan tak terkecuali di cangkangnya. Sebagai makhluk buas, ia memiliki kuku dan gigi yang amat tajam, bahkan hidungnya memiliki daya cium melebihi seekor anjing/ Habitat aslinya adalah rawa tetapi anehnya walaupun memiliki indera penciuman yang tinggi, dia tidak merasa terganggu dengan aroma busuk di rawa. Marsh Turtle Farka atau Farka merupakan teman dekat dari Erau si Ular. Mereka telah hidup lebih dari 250 tahun.
Di awal kehidupan keduanya, mereka menerima berbagai ujian.
Pertama, baik itu Farka ataupun Erau merupakan magic beast yang berasal dari spesies terendah dari jenisnya. Hal itu membuat mereka hampir kehilangan nyawa berulang-ulang.
Keduanya dapat akur dan berteman akibat persamaan nasib yang diterima.
Keduanya saling bahu membahu melindungi sesama. Hingga pada suatu hari mereka menemukan sebuah.
Yah, gua tersebut adalah Kvislnidhogg. Selama mereka berada di dalam tubuh Kvislnidhogg, mereka merasa segala penindasan yang mereka alami telah terbayarkan.
Mereka kini tinggal di tempat yang aman serta kaya akan makanan dan mana.
Bagi mereka, Kvislnidhogg tidak hanya menjadi rumah baru mereka tetapi juga menjadi ibu mereka.
Selama lebih dua ratus tahun, Farka dan Erau tinggal di sebuah kolam yang berada di pusat dungeon. Ini bukanlah kolam biasa, selain memiliki kemampuan untuk menyembuhkan segala luka dan penyakit, di dalam kolam besar inilah inti dungeon berada.
Inti dungeon atau disebut juga sebagai wujud asli Kvislnidhogg. Bentuknya seperti gumpalan daging yang berdetak layaknya jantung dengan diameter sekitar 10 m. Selain itu di sekitar inti tersebut juga ditumbuhi dengan serabut-serabut layaknya urat.
Kvislnidhogg tidak bisa berbicara itu sebabnya Farka dan Erau tinggal di danau ini karena mereka merasa lebih dekat dengan sang Kvislnidhogg bahkan mereka akan memanggil Kvislnidhogg dengan nama Kivny. Tentu mereka akan mengobrol menggunakan bahasa yang tidak akan dimengerti oleh manusia.
Farka melihat 6 manusia yang telah membully temannya.
Farka sebagai pengendali es dan tanah merasa sangat marah. Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Lalu dari mulutnya itu sebuah serangan laser berelemen es muncul. Serangan ini dikenal sebagai [Ice Spear]. Serangannya ini bukanlah skill tetapi magic tingkat 4. Berbeda dengan Erau yang menyerang murni menggunakan skill-nya, Farka dominan menyerang menggunakan sihir yang telah ia pelajari.
Bersamaan dengan Farka, Erau si ular menyemburkan [Sephentes Breath] dimana Erau menghembuskan udara kering yang dapat menyebabkan objek yang terkena akan kehilangan seluruh cairan tubuhnya menyebabkan korbannya mati dalam keadaan dehidrasi . Keduanya setara dengan sihir tingkat 4.
"[Shield of the Holiness]!"
Dengan cepat Atlya melempar perlindungan. Menariknya sihir ini tidak dapat menahan sihir tingkat 5 tetapi masih dapat membendung 2 sihir tingkat 4 sekaligus.
"Baiklah, ini akan sedikit menyusahkan, tapi aku akan turun tangan. Kalian semua hadapi ular sialan itu, biarkan aku yang menyerang si kura-kura kurapan," ucap Barnard.
Semuanya mengangguk. Tentu saja dengan keadaan yang sudah agak terdesak, belum lagi saat ini mereka menghadapi dua magic beast tingkat legacy class sekaligus.
"Vyn!"
Barnard bergumam nama seseorang.
Tiba-tiba dari udara kosong sinar biru seukuran bola kasti muncul. Sinar itu kemudian berubah menjadi sosok anak gadis imut seukuran telapak tangan orang dewasa.
"Ohh .. Barn kenapa memanggilku?"
Suara makhluk ini seperti suara anak berumur 5 tahun.
"Heh, liat di sana."
Vyn melihat kura-kura yang ditunjuk oleh Barnard. Dia hanya tersenyum sinis.
"Kau mengganggu tidurku hanya karena kura-kura ini? Dasar orang tua mesum."
"Hei, kau lebih tua dariku!"
Urat di kepala Barnard sedikit menonjol.
"Roaarrr!!!"
Fokus mereka teralihkan dengan teriakan marah kura-kura itu.
"Sudahi ngambekmu. Vyn beri aku kekuatanmu," ucap Barnard.
"Yeaahh ..."
Vyn berubah kembali menjadi cahaya kemudian cahaya itu terbang dan masuk ke dalam pedang raksasa yang berada di punggung Barnard.
Barnard menghunus pedangnya.
Ini adalah senjata utamanya, pedang yang bernama [Sword of the Panthera]. Ini merupakan senjata yang diklasifikasikan sebagai Legacy Class Item memiliki kemampuan untuk menyimpan kekuatan dari roh atau spirit. Pedang ini dapat dikatakan sebagai teman dan predator bagi spirit. Dikatakan teman jika pedang ini hanya menjadi tempat sementara bagi roh tinggal. Namun dikatakan sebagai lawan jika sang pengguna justru menggunakan pedang ini untuk menghancurkan spirit.
__ADS_1
Tentunya [Sword of the Panthera] memiliki syarat dalam penggunaan yaitu pengguna harus memiliki kelas seirei.
Seirei merupakan salah satu kelas dalam role Magic Warrior. Kelas ini kerabat dari kelas di role Magic Warrior lain seperti eques dan paladin.
Namun yang membedakan dari ketiganya adalah eques adalah warrior yang menggunakan sihir tipe arcane, sementara paladin adalah warrior yang menggunakan sihir tipe divine. Adapun seirei adalah warrior yang menggunakan sihir tipe spiritual.
Note:
Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai:
-Magic Warrior dan Kelas-kelasnya, baca: ARCHPEDIA: Introduce about Roles
-Jenis-jenis sihir, baca: ARCHPEDIA: The Difference Between Miracle and Magic
Pedang Barnard kini memancarkan api biru yang berarti telah berisi kekuatan spirit bernama Vyn.
Ia menghunus pedangnya menghasilkan gelombang shockwave yang sangat kuat. Bahkan menyebabkan Farka harus menutup matanya.
"Yah, dia terhempas, seperti yang diharapkan dari makhluk raksasa," ucap Barnard.
Farka memberi serangan balasan. Dia memuntahkan [Ice Spear] ke arah Barnard.
Namun sayangnya Bernard dapat menahannya dengan menggunakan pedang.
Kali ini Barnard mendekat.
Berbeda dengan Erau si ular, Farka adalah kura-kura yang lambat sehingga Barnard tidak perlu khawatir dengan serangan cepat. Namun karena Farka memiliki tubuh yang jauh lebih keras daripada tubuh si ular, maka Barnard membutuhkan tenaga ekstra untuk menyerang.
Sayangnya itu hanya memberikan bekas kikisan di tubuh Farka.
"Wow, dia memiliki cangkang yang keras."
"SSSSHHHHH!!"
Berbeda dengan pertempuran Farka dan Barnard yang cenderung lambat. Pertempuran antara Erau dengan lima manusia lain justru lebih berdarah.
Erau sangat kesakitan.
Melihat itu, Farka pada akhirnya memutuskan menggunakan salah satu kartu trufnya.
Marsh Turtle Farka kembali membuka mulutnya kemudian sesaat sebelum serangan muncul.
"Semuanya, bersembunyi di belakangku!"
Kali ini Barnard berteriak kepada anggotanya. Dengan cepat semua orang yang melihat proses Erau terbakar mulai berlari ke belakang tubuh Barnard.
Casting Farka selesai. Dari mulutnya muncul cahaya kebiruan yang cukup terang. Setelahnya, ia lalu memberikan sebuah serangan dengan AoE yang sangat luas.
Serangan itu adalah sihir tingkat 5 [Ice Burst]. Mantra ini adalah serangan andalan dari Marsh Turtle Farka. Seluruh ruangan ini dan bahkan permukaan danau membeku. Sebenarnya sihir ini memiliki AoE berjarak 100 meter.
Melihat bahwa sihir itu dapat menyerang anggotanya, Barnard memutuskan untuk menancapkan pedangnya ke bawah.
Seketika ledakan mana dari pedangnya berbenturan dengan hawa dingin dari serangan Farka.
Hal itu menyebabkan tempatnya dan teman-temannya berpijak tidak membeku.
Kekuatan dari Farka tidak hanya menyebabkan ruangan membeku, [Whirlfire] menjadi lemah sehingga dengan mudah Erau dapat menghancurkannya.
"Apa masih ada yang bisa menyerang?" tanya Barnard.
"Aku sudah menggunakan seluruh mana-ku," ucap Atlya.
"Aku juga," ucap Lilac.
Lilac telah menggunakan semua batasannya dalam memberikan dua mantra tingkat 5. Jika dia memaksakan diri hanya akan memberi efek buruk baginya.
Selain kedua magic caster, para warrior yaitu Arlenne dan Urien telah kehabisan aura. Sementara Cilvy telah kehabisan panah.
Pada kondisi demikian maka Barnard harus melawan dua beastman legacy class sendirian.
__ADS_1
"Kalau begitu, kalian pergi ke tempat yang aman."
Sebelum Barnard mendapat jawaban, dia langsung berlari menuju tempat Farka.
Namun Erau menghadangnya.
Dengan sigap, Barnard menghunuskan pedangnya ke kepala Erau.
Walaupun Erau terluka, dia memiliki tubuh yang kuat terutama kepalanya. Dia sangat percaya diri terutama ketika dia berhadapan dengan lima orang sebelumnya. Kelimanya kesusahan untuk memberi tancapan pedang di kepalanya.
Sayangnya Barnard berada pada level yang berbeda dari teman-temannya.
Dia dengan menggunakan kekuatan Vyn dapat menancapkan pedangnya ke kepala Erau.
Lalu dia memutar pedangnya.
"SSSSSSHHHHH!!!"
Erau mendesis kesakitan. Pupil matanya hampir naik ke atas.
Tentu saja Farka tidak membiarkan begitu saja.
Walaupun lambat, dia bergerak menuju Erau sambil memuntahkan tombak es.
Namun tombak itu dihalangi oleh pancaran mana yang luar biasa melimpah.
mana tersebut membentuk perisai biru menyala yang menghalangi tombak es.
"Matilah!"
Mana yang berasal dari pedang kini berubah menjadi api biru yang menghanguskan kepala Erau.
Ular itu terus menggerakan kepalanya. Walaupun Barnard terombang-ambing di kepala ular raksasa itu tetapi pegangannya tidak mengendur. Pedangnya masih kuat tertancap di kepala sang ular.
Pada akhirnya Erau mati dengan api biru yang menyala di kepalanya.
Melihat Erau mati, Farka menjadi murka.
Dia tidak akan melepaskan manusia itu begitu saja.
Marsh Turtle Farka kembali membuat serangan. Kali ini dia menyerang dengan sihir tingkat 4 berelemen tanah, [Horn of Earth].
Dari bawah tanah, tiba-tiba dari bawah lapisan es di atas tana muncul tanah yang meruncing dan mengeras bagai tombak dengan ukuran sekitar 2 meter. Serangan itu mengarah ke Barnard dan teman-temannya tetapi hanya dengan sekali hempasan pedang yang menghasilkan showave, semua tombang tanah itu hancur.
Barnard melompat ke atas cangkang kura-kura.
Lokasi itu merupakan titik buta bagi Farka. Dia hanya bisa menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Barnard menancapkan pedangnya.
Sama seperti yang ia lakukan kepada Erau, Barnard mengumpulkan seluruh mana Vyn pada satu titik kemudian memberikan dorongan kuat menyebabkan mana itu meledak.
Api biru membakar cangkang kura-kura tetapi Farka masih selamat karena cangkang tebalnya.
Namun apa yang tidak dia tahu adalah Barnard menyerang menggunakan serangan berbeda.
Dia menggunakan serangan ini hanya untuk memperdalam tancapan pedangnya.
Ketika sampai pada suatu titik, Farka dapat merasakan konsentrasi mana dalam jumlah besar ada di ujung pedang manusia itu.
Namun sudah terlambat.
"Aktif!"
Boom!!
Dari dalam, tubuh Franka meledak. Sebelum ia hancur berkeping-keping, Franka melihat sosok makhluk yang penuh rumput muncul dari salah satu lorong.
Sponskar, apa yang kamu lakukan di sini?
__ADS_1