
March of Whitesburg
Whitesburg adalah sebuah wilayah feodal yang menjadi gerbang barat dari Kerajaan Artchania. Di wilayah ini pula Kerajaan Artchania memiliki perbatasan dengan Kerajaan Cephareae. Sudah hampir tujuh tahun berlalu kedua kerajaan ini masih bersitegang. Konflik antara Kerajaan Cephareae dan Kerajaan Artchania telah lama memasuki konflik bersenjata dengan begitu banyak gelombang peperangan dengan skala ukuran yang terjadi dimulai dari pertempuran besar sampai pertempuran-pertempuran minor di perbatasan. Konflik awal dari peperangan antara dua kerajaan ini bermula ketika perebutan sumber daya di perbatasan. Ditemukan di kawasan barat daya terdapat kawasan yang memiliki konsentrasi dark coal dalam jumlah besar. Kedua kerajaan itu pun saling mengklaim dan berakhir dengan pertempuran berdarah. Seiring berjalannya waktu, konflik melebar dengan dengan bergabungnya Kerajaan Archantolia, sebuah kerajaan kecil di kawasan Archiberia yang berpihak kepada Kerajaan Artchania.
Kerajaan Cephareae adalah kerajaan yang berada di luar kawasan Archiberia dan memiliki ukuran lebih besar dari gabungan wilayah Kerajaan Artchania dan Kerajaan Archantolia. Ukuran kerajaan tersebut yang besar juga didukung oleh kemampuan militer mereka terutama kerajaan ini didukung secara logistik oleh Kekaisaran Gredonia. Dengan semua kondisi itu, memang Kerajaan Cephareae adalah musuh yang paling ditakuti oleh Kerajaan Artchania. Bahkan dampak peperangan antara kedua kerajaan tersebut jauh lebih masif daripada dampak peperangan antara Kerajaan Ibeltia dan Artchania dua tahun lalu.
Di perbatasan antara kedua kerajaan itu tepatnya di Whitesburg tempat konflik kedua negara itu terjadi merupakan salah satu perbatasan yang paling berdarah di antara seluruh perbatasan yang dimiliki Kerajaan Artchania.
Mungkin bisa dibilang 1/5 anggaran pertahanan Kerajaan Artchania habis demi menjaga perbatasan ini.
Benteng Aethborough adalah benteng terdepan yang menjadi penjaga perbatasan bagi Kerajaan Artchania. Benteng ini pula dikenal sebagai benteng kematian karena setiap harinya akan ada prajurit yang gugur dalam menjaga perbatasan. Terdapat banyak pertempuran kecil di antara Artchania dan Cephareae yang membuat militer tidak boleh melemaskan urat leher mereka di tempat ini.
Saat ini tak jauh dari gerbang benteng, terlihat mayat prajurit yang telah gugur berjajar dengan rapi dengan ditutupi oleh kain yang lusuh. Mereka adalah para prajurit yang tewas dalam pertempuran yang bermula pada dua yang yang lalu.
Saat itu sedang malam hari, tim patroli menemukan sekelompok pasukan musuh yang sepertinya adalah unit mata-mata yang sedang mencoba untuk memasuki wilayah Kerajaan Artchania.
Pertempuran pun terjadi dan setelahnya pertempuran susulan mulai bermunculan.
Tentunya pertempuran itu menghasilkan korban yang tidak sedikit.
Jadi pada hari ini semua orang yang telah gugur akan segera diistirahatkan.
Jika kondisi normal mereka akan mengubur orang-orang ini tetapi di benteng ini, mereka lebih memilih untuk membakar mayat teman-teman seperjuangan mereka.
Itu bukan tanpa alasan. Terlalu banyak yang mati di tempat ini menjadikan konsentrasi dark mana di wilayah ini semakin tinggi. Belum lagi tempat ini adalah kawasan di mana dark coal dalam jumlah besar ditemukan. Bukan tidak mungkin, bisa saja suatu hari nanti mereka harus melawan mayat teman-teman mereka yang telah gugur. Itu karena bukannya tidak mungkin pihak musuh memiliki magic caster seperti necromancer yang mampu membangkitkan undead.
Para prajurit muda terlihat mulai mengangkat mayat-mayat teman seperjuangan mereka lalu menumpuknya di tumpukan kayu bakar dalam jumlah besar.
Minyak dituangkan di sana. Lalu seorang pria muda berambut hitam sedang membawa sebuah obor di tangannya.
Dengan wajah tegas tanpa berkedip, dia membakar tumpukan mayat itu.
__ADS_1
Api raksasa terlihat membara, seolah memakan mayat-mayat yang menjadi sumber bahan bakarnya.
Ini seperti tempat peristirahat terakhir para kesatria Dewa Lareal sang dewa api atau sering disebut sebagai dewa perang. Mereka menyembah dan beriman kepada sang dewa api akan terlahir dari hembusan api dan dikuburkan pula dalam api yang membara.
"Jared, kemarilah Sir Pyrodicus memanggilmu!" teriak seorang prajurit muda.
Jared atau nama lengkapnya adalah Jared Alger Fertiphile anak kedua dari Count Fertiphile. Jared kini telah berusia 18 tahun dan dia baru saja lulus dari akademi militer. Selama di akademi, Jared telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam ilmu pedang. Seperti yang diharapkan kepada keturunan Fertiphile.
Itu sebabnya, salah seorang ksatria senior kerajaan bernama Sir Pyrodicus Severus Capitinax tertarik menjadikannya sebagai muridnya. Mendapat didikan langsung dari salah satu ksatria terkuat jelas kebanggaan tersendiri.
Namun siapa yang menyangka, seketika setelah Jared lulus dari akademi, ia langsung ditugaskan ke perbatasan paling berbahaya di kerajaan.
Sudah dua setengah bulan Jared berada di sini. Sepertinya dia sudah mulai terbiasa. Pada awalnya tentu saja dia mendapatkan shock karena tinggal di kawasan yang paling tidak stabil. Dia sering terkena insomnia akibat suara pertempuran yang terkadang terdengar dari balik dinding kastil, sering mengalami diare karena mengkonsumsi makanan aneh, dan bahkan harus penuh dengan luka karena mendapat pelatihan ekstrem.
Namun kini Jared telah berhasil setidaknya menyesuaikan diri dari itu semua hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Itu adalah waktu yang cenderung sangat cepat untuk dapat menyesuaikan diri.
Jared dengan dituntun oleh prajurit muda bernama Fruel berjalan menuju tempat Sir Pyrodicus berada.
"Hah ... sial, akhir-akhir ini makan yang kita dapat jauh lebih buruk dari biasanya," keluh Fruel.
Fruel telah banyak kehilangan berat badan. Sebelum berada di tempat ini, dia adalah seorang ksatria muda yang memiliki tubuh yang makmur tetapi kini berkat makanan yang seperti kotoran telah membuat berat badannya jatuh. Itu bukan karena efek makanan yang diberikan tetapi karena selera makannya yang nyaris tidak ada lagi.
Fruel Adelphonsus Granadia berasal dari House of Granadia. Dia adalah putra tertua dari Count Granadia dan tentunya digadang-gadang menjadi pewaris count Granadia.
Fruel adalah senior Jared di akademi tetapi dia dikirim di tempat ini dengan selisih jarak yang tidak terlalu jauh dengan Jared. Sebelumnya Fruel berada di ibukota sebagai ksatria dalam unit polisi militer. Namun dia sempat melakukan kesalahan dengan secara tidak sengaja membuat marah anak seorang bangsawan agung.
Jika mengingat hal tersebut, Fruel tidak bisa menahan emosinya, ia terkadang akan meninju sesuatu untuk melampiaskan semua kemarahan di dalam dirinya.
Seperti sekarang, entah kenapa dia tiba-tiba teringat dengan wajah bangsawan sialan itu.
__ADS_1
"Sial, jika aku bertemu dengannya lagi, aku betul-betul akan membunuhnya," ucap Fruel.
"Sudahlah, sebaiknya kau lupakan saja."
Jared yang berjalan di sampingnya hanya bisa memberikan nasehat singkat.
"Bagaimana bisa aku melakukan itu! Kau tahu, seberapa tidak malunya si bajingan itu! Dia mengancamku di pengadilan kebangsawanan karena karena aku meninju wajah jeleknya itu ....."
Fruel terus saja berceloteh kepada Jared. Sementara Jared hanya bisa menghela napas pasrah dengan semua ini. Sudah berkali-kali dia mendengar cerita orang ini.
".... dan kau, orang itu! Si bajingan Morhust beraninya dia meninjuku hanya karena seorang pelacur rendahan!" lanjut Fruel .
Ternyata orang yang dibicarakan oleh Fruel tidak lain adalah Regis, putra tertua Count Morhust. Singkatnya kedua orang itu berkelahi di sebuah rumah bordil mewah di ibukota hanya karena seorang pelacur. Keduanya berebutan untuk mendapatkan pelacur yang disebut-sebut sebagai pelacur tercantik di ibukota.
Tentu saja ini menjadi hal konyol terutama ketika Fruel yang sedang mabuk mengancam Regis yang juga mabuk dengan menunjukkan posisinya sebagai seorang ksatria dari satuan polisi militer.
Kemudian masalah diperpanjang ketika Regis mengajukan keluhan di kantor polisi militer terhadap perbuatan Fruel. Polisi militer yang jelas memiliki citra yang harus dijaga dengan cepat mendisiplinkan Fruel dengan mengirimnya ke perbatasan ini.
Awalnya Rumah Granadia berusaha menghalangi tetapi siapa yang menyangka bahwa Morhust ikut campur dalam keputusan pendisiplinan ini.
"Sial, dia juga menggunakan koneksinya untuk memastikan aku dibawa ketempat ini. Ah! Benar, dari yang kudengar, dia meminta keluarga bangsawan baru yang bernama Alexandreia untuk mengirimku kemari. Bukankah itu keluarga bangsawan baru itu dibentuk oleh saudaramu?"
Fruel mengetahui semua itu setelah mendengar kabar dari ayahnya sendiri, Count Granadia yang mengatakan Alexandreia menggunakan koneksinya dengan perdana menteri untuk memastikan dia dikirim ke sini.
"Jangan sebut namanya!" teriak Jared dengan kesal.
Kali ini Jared lah yang marah. Dia sudah muak mendengar semua pencapaian saudaranya itu ketika berada di akademi. Dimulai dari konflik Otilia-Canadia, Isolasi Canadia, sampai pengangkatannya menjadi seorang count.
Apa yang dirasakan oleh Jared kali ini bukanlah kemarahan biasa tetapi kemarahan yang timbul akibat perasaan gelisah. Tidak hanya gelisah, ia juga kesal sekaligus iri dengan pencapaian saudara tertuanya itu. Ia merasa dirinya saat sedang berjuang mati-matian di jalan seorang ksatria sementara saudaranya mendapat berbagai prestasi tetapi tetap mendapatkan menikmati kehidupan aristokrat.
Dia kini menyadari bahwa kakaknya bukan lagi bangsawan sampah. Orang itu memiliki potensi untuk menjadi seorang penguasa. Apa yang dirasakan Jared tidak lebih dari rasa khawatir akan kekalahannya dalam suksesi warisan. Karena ia tahu, ayahnya bukanlah tipe orang yang suka membagi harta dengan rata kepada anak-anaknya. Ayahnya adalah tipe orang yang akan memberikan semua yang dia miliki kepada orang yang paling kuat dan yang paling memiliki kemampuan sebagai seorang penguasa. Jadi jika dia sampai kalah maka baik itu dia, adiknya, dan bahkan ibunya akan kehilangan semua kemewahan yang mereka nikmati dari Rumah Fertiphile.
__ADS_1