THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
SPRING(5)


__ADS_3

Alex bergerak cepat ke tempat Harol. Dia tidak memperdulikan para pelayan yang menatapnya dengan kaget.


Harol terkejut ketika mengetahui anaknya tiba-tiba datang di ruang kerjanya. Walau tugasnya semakin berat akhir-akhir ini akibat memanasnya hubungan Kerajaan Artchania dan Kerajaan Ibeltia, serta ditambah oleh masalah internal, tidak menghalangi Harol untuk menyambut dan mendengarkan perkataan Alex.


Alex menjelaskan secara ringkas semua ide yang ia pikirkan ketika melamun di taman.


Harol tidak langsung menjawab. Dia menatap anaknya yang berdiri di depan meja sebelum akhirnya bertanya.


"Apa kamu sungguh ingin bertani?"


"Iya. Aku ingin ayah memberikanku lahan di pedesaan agar aku bisa bertani di sana."


"Tapi kenapa?"


"Ayah ... aku sama sekali tidak mendapat pendidikan akademi militer maupun universitas. Berbeda dengan Jared yang telah menjadi mahasiswa di akademi militer. Aku juga ingin mencari kesuksesanku sendiri. Aku ingin sukses sebagai seorang pemilik lahan yang kaya."


Harol tidak bisa berkata-kata ketika mendengar alasan dan melihat tekad dari mata anaknya. Warna mata Alex berbeda dengan semua mata anggota keluarga lain. Namun Harol dapat melihat dengan jelas bahwa mata itu mencerminkan tekad bulat seorang warrior sejati. Ini adalah tekad para ksatria yang tidak takut dengan apa pun.


Namun sayangnya ....


"Tidak ... itu tidak bisa dilakukan. Kamu harus tetap di sini."


Wajah Alex yang acuh tak acuh akhirnya mengerutkan kening. Sepertinya meyakinkan Harol jauh lebih sulit dari yang ia pikirkan.


Alex kembali berusaha meyakinkan Harol tetapi jawaban Harol masih tetap sama.


"Tidak ... kamu harus tetap di sini."


Harol tidak bisa mengabulkan permintaan Alex walaupun alasannya sangat masuk akal. Itu karena menurutnya Alex saat ini mengalami impotensi sehingga untuk memudahkan pengobatan dan perkembangan, Alex tetap harus berada di mansion.


Namun Alex tidak tahu itu. Tepatnya dia tidak tahu dampak yang timbul akibat pernyataannya sendiri sebagai seorang impoten. Bagaimanapun cepat atau lambat Alex akan menyesalinya.


***


Suatu malam Alex dan kedua anaknya akhirnya bergabung pada perjamuan makan malam keluarga di ruang makan. Ini sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Penyebabnya tidak lain adalah Harol yang sudah mulai melunak dan menerima kehadiran Merry dan Alven. Ditambah dengan Liana yang diam dan tidak lagi mengompori suasana akibat ia dalam mood yang baik. Tepatnya karena ia mengetahui bahwa Alex saat ini adalah impoten sehingga ia lebih baik tidak memperdulikannya dan juga karena Jared sudah pergi ke ibukota untuk menimbah ilmu semakin membuat Liana menjadi malas untuk mengomeli Alex. Jadi biarkan saja dan tidak usah pedulikan ketiga orang itu.


Semuanya makan dengan tenang tanpa banyak basa-basi. Namun tanpa diketahui orang lain, Harol melirik Clara dan memberikan isyarat melalui matanya. Clara memahami keinginan suaminya sehingga ia pun mengangguk dengan enggan.


"Alex, ibu ingin bicara denganmu setelah makan malam."


Alex yang mengunyah makanannya dengan penuh kekhusyukan memandang Clara dengan diam. Dia tidak langsung menjawab tetapi mengunyah makanannya beberapa detik sebelum akhirnya menelannya.


"Tentu."


Alex sama sekali tidak menyadari keganjilan yang terjadi di antara kedua orang tuanya.

__ADS_1


Setelah mereka selesai makan, Alex membawa kedua anaknya ke kamar.


"Ayah, ayah tidak tidur bersama kami?" tanya Merry.


Alex tersenyum kemudian menjawab:


"Ayah akan bertemu dengan nenek, jadi ayah mungkin sedikit terlambat. Tapi Kak Al akan menemani Merry jadi jangan takut, oke?"


Alex melirik kedua anaknya dengan wajah seramah mungkin. Keduanya mengangguk, walau mereka sangat ingin tidur bersama Alex tetapi mereka tidak ingin menyusahkannya.


Alex memberikan kecupan selamat malam sebelum akhirnya berjalan keluar.


Wajahnya yang tersenyum kini berganti dengan wajah tanpa ekspresi.


Tanpa diduga, Alen telah berdiri di depan pintu kamar Alex.  Jika ini adalah orang lain tentu mereka akan kaget. Sayangnya Alex memiliki skill  [Eyes of  Esoteric] sehingga ia dapat mengetahui bahwa Alen telah lama menunggunya.  Alex tahu kemungkinan besar dia akan mengantarnya menemui Clara tetapi Alex tidak mengerti kenapa Alen harus melakukan itu. Alex bukanlah tamu dan lagian ini bukan pertama kalinya Clara memanggilnya sehingga seharusnya Alen tidak perlu mengantarnya.


"Tuan Muda, hamba akan memimpin jalan."


"Hm."


Alex hanya mengangguk tanpa ekspresi. Ini sangat berbeda dengan wajah ramahnya kepada kedua anaknya.


Alen memimpin jalan tetapi anehnya mereka tidak pergi ke arah kamar Clara melainkan menuruni tangga. Namun Alex tidak terlalu memperdulikannya karena berpikir bahwa Clara berada di ruang berbeda.


Sontak saja Alex berhenti dan bertanya kepada Alen dengan waspada.


"Kenapa kita ke sini?"


Alen berhenti berjalan kemudian memutar tubuhnya ke belakang di mana Alex berada.


"Tuan Muda, Nyonya Clara dan Tuan Count telah menunggu."


"Apa? Mereka berada di sana?"


Alex mengerutkan kening seolah menunjukkan ketidakpercayaan. Dia tahu Alen bukanlah seorang penjahat. Ia adalah seorang pelayan senior sekaligus kepala pelayan di Rumah Fertiphile. Kesetiaannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun tetap saja menuntun seseorang ke tempat yang jarang dilalui pada malam hari bahkan walaupun ini masih di kediamannya bukankah itu masih mencurigakan?


Apalagi Alex tahu bahwa Alen adalah seorang assassin yang memiliki dua energi supranatural. Hal ini semakin memperkuat kewaspadaan Alex. Bahkan walau Alex saat ini mampu menggunakan mantra tingkat 2 dan memiliki beberapa gerakan martial art, dia masih tidak dapat menjamin keselamatannya jika harus melawan pria di depannya yang memiliki usia lebih dari empat kali miliknya.


"Tuan Muda, hamba hanya diberi perintah untuk membawa Anda ke sini. Tolong ikuti hamba."


Wajah Alen yang terlihat normal membuat keraguan dalam hati Alex.


Alex pun menggunakan [Eyes of Esoteric] untuk memeriksa aliran aura dan mana milik Alen. Namun semua terlihat normal, tidak terlihat adanya pengaktifan signifikan dari kedua kekuatan itu. Alex sesaat menghela nafas lega karena sampai sekarang Alen terlihat tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Namun dia tidak dapat tenang begitu saja. Saat ini Alex menghadapi dilema tentang apakah dia harus terus mengikuti Alen atau tidak.


Jika kedua orang tua Alex memang memanggilnya kemari maka seharusnya Alex harus mematuhinya. Namun jika ini memang jebakan maka ini akan sangat berbahaya. Alex tidak bisa selamanya berpikir, terlalu sedikit informasi saat ini. Dia tidak menemukan jawaban apapun sehingga satu-satunya solusi adalah mengikuti Alen untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Baiklah, tolong pimpin jalan."


Alen menunduk dengan hormat kepada Alex. Ia kembali memimpin.


Lorong ini masih sama seperti lorong pada umumnya. Namun karena berada di tempat yang kurang strategis di tambah kamar-kamar yang berada di sini kosong, menyebabkan pencahayaan lebih redup dari lorong pada umumnya di mansion. Selain itu dinding lorong pun tidak memiliki hiasan lukisan. Ini tidak lain untuk menghemat pengeluaran dari penggunaan magic lamp dan interior lainya.


Sebenarnya terdapat tempat yang lebih menyeramkan di mansion yaitu ruang bawah tanah. Ruang bawah tanah Rumah Fertiphile sebenarnya terdiri dari beberapa tingkatan. Tingkatan paling atas biasanya sering digunakan sebagai gudang ataupun tempat pelatihan pedang. Namun semakin masuk ke bawah, sisi gelap Rumah Fertphile akan terlihat karena disana adalah tempat penjara bawah tanah dan tempat penyiksaan.


Jika mereka betul-betul turun ke tempat di mana penjara bawah tanah berada, Alex tanpa pikir panjang akan mengambil langkah seribu. Tidak masuk akal ada orang tua yang membawa anaknya yang berbakti ke penjara. Adapun jika memang ada yang melakukannya, maka itu perlu dipertanyakan.


Untunglah apa yang dipikirkan Alex tidak terjadi. mereka tidak mengambil tangga yang mengarah ke penjara bawah tanah. Alen membawanya ke sebuah kamar dengan pintu sederhana. Alex dapat melihat aura familiar dari balik pintu dengan menggunakan kemampuannya. Alex menghela nafas lega. Itu memang Harol.


Alen membuka pintu dan mempersilahkan Alex masuk terlebih dahulu.


Di dalam ruangan tersebut, di bawah cahaya dari magic lamp yang bergelantung di langit-langit terlihat dua sosok familiar sedang duduk di kursi kayu sederhana. Di depan kedua orang itu terdapat tiga cangkir yang berada di atas meja kayu sederhana.


"Ayah, Ibu," sapa Alex.


Bersamaan dengan sapaan Alex, pintu telah ditutup oleh Alen.


Suasana menjadi hening dan sedikit mencekam.


Walau Alex tidak terlalu peka terhadap emosionalitas tetapi dia menyadari bahwa kondisi di ruangan ini cukup berat. Ini sangat aneh, ini sangat berbeda dengan Clara yang selalu riang ketika bertemu dengan Alex ataupun Harol yang selalu jaim sebagai seorang ayah. Namun kini suasana di ruangan ini terasa sangat berbeda seperti biasanya.


"Alex, kenapa berdiri saja? Ayo duduk."


Alex hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Clara. Ini terlalu mencurigakan, kedua orang tuanya membawanya ke sini pada malam hari. Belum lagi hawa ruangan yang terasa sangat berat dan murung.


Pasti ada yang disembunyikan!


"Alex?"


Clara bertanya lagi kepada Alex. Kali ini Alex menyahut dan duduk di kursi kosong.


Baik Clara dan Harol sesekali menatap Alex dengan pandangan rumit tetapi mereka berusaha menyembunyikannya.


"Alex, bagaimana kabarmu hari ini? Ibu dengar dari ayahmu kalau teknik berpedangmu semakin baik?"


Alex hanya mengangguk. Lagian dia tidak terlalu suka membahas hal seperti itu.


Belum lagi Clara yang sebenarnya terlalu memaksakan topik yang dia sendiri tidak mengerti.


Namun di antara semua topik dia harus menahan membahas topik yang paling sensitif saat ini.


Tidak ada perkembangan yang terjadi bahkan setelah hampir sepuluh menit berlalu.

__ADS_1


__ADS_2