
Alex tidak pernah berpikir ini akan terjadi. Dia telah melupakannya dan dia menyesalinya. Untuk sekian kalinya Alex harus menghela napas. Untuk sekian kalinya ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan pasrah.
Kenapa aku melupakannya.
Kenapa aku harus mengalaminya.
"Hah ... aku benci berburu."
Jika dia tahu, dia akan memilih untuk tetap berada di Morhust. Namun sayangnya dia melupakannya.
Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, kini ia telah punya anak. Alex tidak boleh menunjukkan prilaku buruk di depan anaknya agar membuatnya memiliki alasan untuk tidak mengikuti agenda berburu.
"Sial."
Alex berada di kamarnya tepatnya dia duduk di sofa. Setelah ia kembali dari County of Morhust, bukannya langsung beristirahat, dia malah dipanggil oleh Harol.
[Persiapkan dirimu. Lusa kita akan berburu DAN JANGAN HARAP UNTUK KABUR KALI INI]
Alex merenungkan semua kesialannya hari ini. Dia bukannya takut untuk berburu, tetapi berburu harus mengeluarkan energi dan pergi ke hutan. Sudah jelas itu akan membuat tubuh berkeringat dan menyebabkan bau tubuh. Belum lagi gigitan nyamuk, serangga, bau kuda, ditambah harus selalu dekat dengan para ksatria.
Bukannya Alex sombong atau terlalu mysophobia tetapi kalian harus tahu, akibat kurangnya kesadaran kebersihan masyarakat di dunia ini, menyebabkan beberapa kebiasaan aneh terbentuk. Salah satunya adalah kebiasaan membudidayakan kutu di kepala. Kebiasaan yang tidak hanya tumbuh di masyarakat manusia tetapi hingga elves, dwarf, dan beastman juga melakukan hal yang sama. Khususnya beberapa tipe beastman yang sering menganggap kutu di kepala mereka sebagai makanan cadangan dikala susah.
Alex hanya takut jika dia terlalu dekat dengan semua orang itu akan menyebabkan dia akan tertular kutu juga. Setiap hari Alex selalu keramas. Selain itu ia juga selalu mengingatkan Merry dan Justin untuk keramas dan jangan pernah merawat kutu. Adapun ketika ia meminta orang lain untuk melakukan itu ....
[Hahahaha ... Sayangku, kamu tahu, kutu itu pembawa keberuntungan. Lihat, kutu yang gemuk ini, ini kesayangan ibu. Ibu menamainya Alex Kecil. Dia adalah pembawa keberuntungan, unyu,unyu, unyu, imutnya]-Clara.
[Temanku, itu sebabnya kau mudah sakit. Perbanyaklah merawat kutu. Itu akan membuatmu selalu sehat wal afiat]-Regis.
[Kutu adalah salah satu dari harga diri pria! Semakin banyak kutu, semakin jantan]-Winson.
[Kau mau kutu goreng? lumayan buat cemilan]-Harol.
Asuu dahlah. Lupakan orang-orang itu.
Kebengongan Alex terus berjalan hingga Justin mengetuk pintu.
"Tuanku, hamba membawa kue."
"Hmm ... masuklah Justin."
Justin meletakan secangkir teh dan potongan kue di meja. Alex kemudian dengan pelan mencicipi semuanya.
"Justin, apa kamu sudah makan?"
"Iya Tuanku."
"Apa Merry masih tidur?"
"Iya Tuanku."
__ADS_1
Saat mereka sampai ke mansion, Merry sudah tertidur. Awalnya ia ingin membawa Merry ke kamarnya tetapi siapa yang menduga ternyata Harol mendatangi kamarnya alih-alih memanggilnya di ruang kerja untuk membahas masalah berburu. Sehingga untuk tidak mengganggu tidur Merry, ia pun membawanya ke kamar gadis itu sendiri.
"Ah ... Justin, aku baru ingat, bagaimana dengan Rain?"
"Dia sudah berada di kamar, Tuan. Ia berbagi kamar dengan tiga budak lain. Dari laporan yang hamba terima, tidak ada sikap mencurigakan dari budak itu."
Justin terkadang masih sangat ragu dengan budak itu. Seorang budak yang berani mengangkat senjata kepada tuannya sendiri jelas merupakan ancaman yang nyata. Itu sebabnya dia seharusnya dihilangkan dari muka bumi. Sayangnya tuannya yang pengasih ini lebih memilih untuk memberi budak jahat itu kesempatan bertobat.
"Bagus. Selalu ingatkan dia untuk mandi, keramas, dan menyikat gigi setiap hari. Ngomong-ngomong aku belum memintanya untuk menggunakan xylospongium sekali pakai kan?"
"Iya, Tuanku. Karena xylospongium yang dibawa selama perjalanan ke ibukota dan ke County of Morhust hanya cukup untuk Tuanku, Nona Muda Merry, dan hamba seorang, tidak memungkinkan untuk budak itu menggunakan xylospongium hanya untuk sekali pakai."
Alex kemudian memegang dagunya sebagaimana seorang sarjanawan berpikir. Ia kemudian memberi perintah untuk Justin.
"Justin, karena stock xylospongium kita telah habis, sebaiknya kamu membeli xylospongium baru. Jangan lupa beli untukmu dan Rain juga. Uangnya ada di laci, aku sudah menyiapkankan biayanya. Kalau tidak ada hal lain lagi, kau bisa pergi. Aku agak ngantuk sekarang."
"Baik, Tuanku."
Justin merasa bahwa tuannya akan segera tidur siang seperti biasa sehingga ia segera bergegas undur diri dari kamar Alex.
***
Pusat perdangan di Kota Fertihall memang nyaris tidak pernah sepi. Ribuan orang datang datang dan pergi tiap harinya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, dari petani hingga pejabat sekalipun ada di sini. Mungkin bisa dibilang pasar merupakan tempat intraksi publik yang paling demokratis saat ini di mana pergerakan dipengaruhi oleh ekuilibrium harga, alih-alih pendiktean yang dilakukan oleh negara.
Di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang dengan keanekaragaman ekspresi, terdapat dua manusia yang memiliki penampilan kontras sedang berjalan bersama. Pertama adalah seorang pria dengan rambut silver yang selalu tersisir rapi bahkan walau sedang tidak bertugas, ia masih sempat-sempatnya menggunakan pakaian formal yang membuat para pejalan kaki menjadi canggung. Sementara orang kedua adalah seorang berambut coklat dengan pakaiannya yang terlihat lebih kasual.
Kedua orang ini adalah Justin dan Rain. Dua orang ini mengemban misi untuk mendapatkan sikat bokong sebanyak mungkin. Ini adalah misi mulia, jika gagal, maka konseling 3 sks akan mendatangi mereka.
Rain tertekan secara mental akibat keheningan yang canggung ini. Ia hanya ingat Justin berbicara kepadanya bahwa tuan mereka ingin kedua orang ini pergi bersama untuk membeli banyak xylospongium.
Pada awalnya ia bingung, bukankah xylospongium di toilet masih bisa digunakan?
Namun siapa yang menduga Justin menjawab bahwa tuannya dan Nona Merry hanya menggunakan xylospongium sekali pakai.
Untuk pertama kalinya Rain mengerti apa artinya menghambur-hamburkan uang. Ia hanya memaklumi itu sebagai kebiasaan orang kaya. Namun siapa sangka dia harus membeli untuknya juga dan paling tidak terduga adalah dia harus menggunakan xylospngium hanya sekali pakai.
Untuk apa semua pemborosan ini? Apa semua budak milik bangsawan memang mendapat semua pelayanan seperti ini? Tapi ketika aku dibeli oleh baron, aku tidak pernah mengalaminya.
Rain hanya bisa menduga bahwa ini adalah kebiasaan tuannya. Bagaimanapun ketika ia resmi menjadi budak Alex, di hari itu juga dia mendapat semua fasilitas yang tidak pernah dia bayangkan.
Pertama adalah dia mendapat banyak set pakaian dan diwajibkan untuk mengganti pakaiannya setiap hari. Kedua, dia diwajibkan untuk mandi tiap hari. Ketiga, dia mendapat makanan yang cukup. Yah, yang ketiga memang cukup normal bagi budak-budak lain di Rumah Fertiphile, tetapi untuk baju baru? Ini jelas pelayanan ekstra. Teman kamar Rain hanya bisa menatapnya dengan tatapan iri dan cemburu.
Rumah Fertiphile memang memiliki banyak budak terutama budak pekerja yang merupakan pria. Namun tuan muda Alex hanya memiliki satu budak.
Mengingat semua kemudahan hidup barunya yang jauh lebih makmur dari sebelumnya, Rain hanya bisa tersenyum cerah dan sangat mensyukuri semua ini.
Sepertinya tuanku memang orang baik. Mungkin aku bisa memberi sumpah setiaku padanya?
Sadar atau tidak, Rain merasa aman dan damai ketika ia menjadi budak Alex. Sampai sekarang tidak ada tugas yang diberikan padanya. Bahkan semakin menganggurnya, dia bahkan secara sukarela bekerja di kebun bersama dengan budak pekerja lain. Padahal dia memang tidak mendapat kewajiban melakukan itu karena tuannya adalah Alex bukan Harol. Sehingga yang bisa memerintahnya hanya Alex seorang.
__ADS_1
Tidak terasa kedua orang itu akhirnya sampai di kios xylospongium. Kios ini adalah kios terbuka yang terletak di trotoar. Dalam misi ini mereka harus membeli setidaknya 120 xylospongium. Tuannya memberikan mereka 15 koin emas, jumlah yang cukup fantastis untuk membeli xylospongium. Bahkan masing-masing dari mereka mendapat 2 koin emas sebagai uang saku. Seberapa murah hatinya tuannya itu. Kedua orang ini jelas merasa sangat bersyukur dengan kedermawanan sang tuan.
"7 koin perunggu?!"
Justin berteriak setelah bertanya harga 1 xylospongium.
Adapun sang penjual adalah seorang pria gemuk yang sebenarnya lebih cocok sebagai penjual daging. Selain xylospongium, ia juga menjual akar-akar untuk sikat gigi dan aneka ramuan pengharum toilet. Untuk informasi, segala jenis gel untuk mandi dan keramas adalah hasil ciptaan Alex setelah berbagai percobaan. Dia menciptakannya karena tidak adanya produksi barang yang serupa akibat pandangan masyarakat yang masih tabu dengan mandi sehingga sampai sekarang pasar untuk barang sejenis sabun dan sampo tidak pernah ada.
"Apa tidak bisa turun? Kau ingin merampok kami, Pak?"
"Tidak bisa Dek, udah harga pas."
"4 koin perunggu, Pak."
"Aduh Dek, kalo segitu modal aja gak dapat, Dek."
"Pak, kami mau borong loh, Pak. Kasih diskon kek."
"Aduh, Dek. Bapak juga lagi susah, sekarang lagi musim perang bangsawan. Harga-harga pada mahal semua."
Justin jelas tidak mau mempercayai perkataan penjual ini begitu saja. Dia berbeda dengan Alex yang bertanya harga terus langsung beli tanpa nawar. Bagi Justin, tawar-menawar harga adalah skill untuk bertahan hidup. Sebagai tangan kanan setia Alex, ia harus selalu memberi keuntungan bagi tuannya.
"4 koin perak, Pak. Kalau gak mau yaa udah. Ayo pergi Rain."
"Eh, oke."
Rain yang melihat sesi tawar menawar keduanya dengan bengong hanya dapat mematuhi Justin dengan patuh. Kalau dipikir-pikir ini pertama kalinya Justin memanggil namanya.
Adapun penjual tersebut terlihat sedang berpikir.
Kalau 4 koin perunggu sebenarnya masih untung juga sih.
Penjual itu melihat dua calon pembeli yang sudah semakin menjauh. Bergegas dia keluar dari kios terbukanya dan langsung berteriak untuk memanggil kedua orang itu.
"Dek, Dek, sini sini. Harganya 4 perunggu!"
Justin yang mendengar bahwa mereka dipanggil oleh si penjual langsung memberi senyum kemenangan. Dia langsung kembali ke kios.
"Gitu donk, Pak."
Penjual itu hanya bisa tersenyum masam.
Setelah semua xylospongium di keluarkan dan dihitung, Justin mengeluarkan kantong uangnya. Penjual itu hanya memiliki 60 xylospongium. Setelah mendapat harga yang sesuai dan diberi potongan harga sebesar 10% karena memborong, Justin membayar 2 koin emas, 1 perak, dan 6 perunggu.
Namun mereka lupa. Karena banyaknya jumlah barang yang ingin dibeli, mereka jelas membutuhkan kereta. Sayangnya ketika pergi ke pasar, mereka hanya berjalan kaki.
Justin menepuk jidatnya karena merasa malu dengan kelalainnya ini. Jika dia memperhitungkan ini, maka lebih baik membawa kereta barang.
"Rain, carikan kereta sewaan. Kita tidak mungkin bisa membawa semua ini kalau hanya jalan kaki," ucap Justin
__ADS_1
"Baik."
Rain kemudian bergegas berlari. Dia mematuhi perintah Justin tanpa bertanya. Rain sadar dengan posisinya, bagaimanapun masih terdapat perbedaan yang sangat jelas antara seorang budak dan seorang pelayan.