
"Dan itu adalah Camoverussil, magic plan tingkat D yang digunakan oleh tuan muda untuk membuat sabun yang dikhususkan digunakan saat mencuci tangan sebelum makan."
"Di sana adalah Eucalyflos, magic plan tingkat E yang digunakan tuan muda sebagai salah satu bahan untuk membuat sesuatu yang disebut sebagai obat kumur."
Justin terus menjelaskan semua magic plan yang ia ketahui. Cukup menyedihkan bahwa semua pengetahuan ini berasal dari tuannya yang selalu memerintahkan Justin dan beberapa pelayan lain untuk membawa tanaman-tanaman ini. Jadi secara tidak sadar Justin telah menghafal nama dan manfaat semua magic plan itu.
Merry jelas tidak mengingat semua nama rumit magic plan yang dijelaskan. Namun ia sangat senang ketika mengetahui bahwa ayahnya merupakan orang yang sangat pintar dan berbakat dalam menciptakan berbagai ramuan.
Bagi Merry tidak ada yang lebih hebat dari ayahnya. Jika orang lain tidak bisa, maka ayahnya pasti bisa. Jika ayahnya tidak bisa, maka tidak ada satupun yang bisa melakukannya.
Merry kemudian melihat sesuatu yang menggumpal tak jauh dari tempat mereka. Sosok itu terlihat seperti lendir biru yang bergerak di antara semak-semak dan rerumputan. Dengan bentuknya yang oval, makhluk itu bergerak seperti siput dengan penuh ketabahan dan hikmat. Makhluk itu sangat santai seolah tidak memerdulikan apa pun di sekitarnya.
"Kak Justin, apa itu?"
Merry menunjuk sosok makhluk lendir itu kepada Justin.
Justin tidak perlu lama mengingat nama makhluk itu di memorinya. Ini adalah makhluk yang sangat terkenal, bukan karena tingkat bahayanya tetapi makhluk itu tekenal dengan jumlahnya yang sangat banyak di dunia.
"Nona, ini adalah slime yang merupakan magic beast kelas rendah," ucap Justin.
"Apa dia berbahaya?"
Merry bertanya dengan antusias. Jika dilihat dengan seksama, makhluk ini tidak terlihat menjijikan. Walau dikatakan sebagai lendir, tidak ada bekas cairan yang tersisa di sepanjang jalan yang ia lalui. Ini lebih terlihat seperti jelly yang berjalan daripada siput yang bergerak dengan melata.
"Tidak Nona, memang ada beberapa slime yang mampu menghasilkan cairan asam tetapi itu adalah slime yang telah berada lama di lingkungan yang penuh gas beracun seperti rawa. Biasanya slime tidak memiliki serangan berbahaya dan mereka pun hanya memakan dedaunan, air, udara, atau serangga kecil."
"Ooh!"
Desau ... desau ....
Bunyi dedaunan yang saling bergesekan terdengar. Itu adalah semak-semak yang bergetar tak jauh dari mereka.
Kelompok itu kemudian berhenti untuk mengawasi semak-semak itu.
Erline dengan sigap turun dari kuda dan langsung menarik pedangnya. Ia mendekati semak-semak yang bergoyang itu dengan pelan dan mantap.
Merry dan Justin gugup. Ini terlihat seperti di drama atau novel horror dimana makhluk menyeramkan tiba-tiba melompat dari semak-semak ke arah mereka.
Merry menelan ludah dan terus melihat dengan serius. Sementara Justin menggenggam tali kemudi lebih erat. Jika bahaya muncul, dia harus memacu kereta dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Erline yang berada paling depan sekaligus sebagai pelindung kedua orang itu langsung mengaliri magic sword-nya dengan aliran aura biru navy.
Semua orang menahan napas, semak-semak semakin bergoyang dengan keras ....
"Chikc ...."
Seekor tupai keluar dari semak dan langsung berlari ke pohon.
"Hah ...."
Semua orang menghela napas lega ternyata itu bukan sesuatu yang menakutkan.
"ARGH!"
Tiba-tiba sosok manusia yang dilumuri darah keluar dari semak-semak itu. Manusia kecil dengan darah yang telah membeku di bajunya dan beberapa luka yang masih belum mengering menghantui pemandangan.
"AAAA!"
Reflek Merry berteriak karena pemandangan yang menakutkan itu. Erline yang juga terkejut dengan sosok itu ingin langsung memberikan tebasan pedang. Namun sosok berdarah itu telah tumbang terlebih dahulu sebelum diserang. Sosok yang tengkurap di atas tanah itu masih memiliki gerakan lemas tetapi ia tidak dapat bangun dan terus mengerang kesakitan.
Semua orang sadar, ternyata itu bukan monster tetapi seorang anak laki-laki yang terluka parah.
Hari-hari ketika Merry dipukuli oleh mantan tuannya, hari ketika keperawanannya direnggut tanpa tanggungjawab, hari ketika ia harus mengalami pelecehan verbal dan seksual dari mantan tuannya adalah kondisi yang tidak kalah menyedihkan dari anak ini.
"Kak Erline, tolong bantu dia," ucap Merry.
Namun Erline menggelengkan kepalanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh dari anak ini. Ini semacam ketidakstabilan energi.
Pada usia semuda ini dia sudah memiliki kuantitas mana sebanyak ini? Selain itu anak ini punya stabilitas sirkulasi mana yang rusak. Tapi kenapa? Sangat mustahil bagi seorang anak kecil mengalami ketidakstabilan mana.
Ia punya firasat bahwa akan buruk jika berurusan dengan anak ini. Bahkan walaupun Erline adalah pengguna aura, dia bisa merasakan gelombang mana di tubuh anak itu. Dari pengetahuan yang ia miliki, mustahil seorang anak memiliki mana sebanyak ini. Itu menandakan ada dua hal yaitu apakah anak ini memang sangat berbakat atau dia sebenarnya makhluk sihir yang sedang menyamar.
"Tidak Nona Muda. Ini berbahaya. Sangat mungkin anak ini membawa parasit mematikan yang dapat menyebar atau dia hanyalah umpan dari makhluk yang lebih kuat. Bisa juga dia sebenarnya bukan manusia tetapi monster yang dapat berubah wujud seperti manusia."
Erline memberikan berbagai resiko yang mungkin dapat terjadi apabila mereka membantu anak ini. Ini bukan tanpa landasan teori. Sebagai lulusan Akademi Militer, Erline telah lama dididik untuk selalu waspada. Selain itu, memang banyak kejadian dimana makhluk yang terlihat seperti korban ternyata adalah seekor predator.
"Tapi ...."
"Erline benar Nona. Bahkan bila anak ini tidak bermaksud untuk melukai kita, tetapi bisa saja di tubuhnya memiliki sesuatu seperti magic beast tipe parasit atau bahkan sihir kutukan yang menular."
__ADS_1
Justin memotong ucapan Merry yang terlihat masih ingin menyelamatkan anak itu.
Ia memang tidak dapat merasakan energi yang bergejolak dari anak ini. Namun ia sangat memperhatikan ucapan Erline. Ia memang tidak dekat dengan wanita ini tetapi setidaknya ia tahu, postur dan nada suara Erline sangat serius. Jelas kesatria ini sangat waspada terhadap anak ini.
Bagaimanapun, bagi Justin prioritas utamanya adalah keselamatan tuan mudanya. Bahkan bila ada kondisi dimana seluruh Keluarga Fertiphile berada dalam bahaya dan dia hanya bisa menyelamatkan satu orang, Justin pasti akan langsung menyelamatkan tuan mudanya tanpa berpikir dua kali. Dia tidak mau segala resiko berbahaya muncul di dekat tuan mudanya.
Dengan pemikiran yang sangat protektif itu, tanpa Justin sadari sendiri mungkin dia adalah orang ke-4 yang telah terkena Alex Complex. Namun sayangnya Justin belum menyadari sifat protektifnya kepada sosok tuan mudanya.
Adapun Merry melihat anak itu dengan penuh simpatik.
Jika membantu seseorang bisa seberbahaya itu, kenapa ayahku mau menyelamatkanku? Kenapa dia ingin mengambil resiko seperti itu hanya untukku? Bagaimana jika keselamatannya terancam karena diriku?
Merry biasanya tidak mau keras kepala. Dia biasanya akan selalu mengangguk. Mungkin dia bisa menjadi seorang tiran kepada ayahnya tetapi jika bersama orang lain, Merry akan selalu mengangguk dan mengalah. Namun kali ini dorongan hati dan perasaan kemanusiaan yang ia miliki mendorong keberaniannya mencuat ke permukaan. Ia hanya tidak ingin melihat sosok anak kecil itu mati di depan matanya. Merry telah melawati banyak ujian kehidupan di usia mudanya ini tetapi di waktu bersamaan ia mendapat segala kenikmatan ketika ia bersama ayahnya.
Merry tidak ingin membagi ayahnya pada orang lain. Ia ingin ayahnya hanya akan melihat dirinya sebagai objek paling dia cintai. Bagi Merry, segala jenis perasaan rakus dan pelit ia tujukan hanya ketika kasih sayang ayahnya diberikan kepada orang lain. Bagi Merry, hanya dialah yang berhak mendapat kasih sayang ayahnya. Dia telah lama menderita sehingga ia merasa bahwa ayahnya adalah hadiah dari Surga yang hanya diberikan kepadanya dan menjadi miliknya.
Namun itu bukan berarti dia tidak punya hati untuk melihat seseorang menderita. Ia masih punya hati untuk membantu orang lain. Merry adalah anak baik yang tetap menjadi seorang yang memiliki rasa kemanusiaan yang besar di hatinya.
"Aku mau dia diselamatkan. Ini perintahku sebagai anak dari Alexander Ivanov Fertiphile."
Suara Merry bergetar karena ia berusaha menahan kegugupan dan rasa takutnya ketika mengeluarkan perintah kepada kedua ini. Ia berasa seakan ingin menangis.
Untunglah Erline maupun Justin tidak melanggar perintah itu. Mereka memang bisa melanggarnya karena secara de jure, Merry bukanlah anak kandung dari Alex, bukanlah darah keturunan bangsawan Fertiphile, dan dianggap bukan bagian dari House of Fertiphile. Sehingga praktis kedua orang ini berhak tidak mematuhi perintah itu. Namun mereka tidak ingin gadis itu sedih. Gadis kecil ini adalah kesayangan tuan muda tertua mereka. Walaupun Erline tidak memiliki loyalitas kepada Alex tetapi loyalitasnya kepada Clara sangat besar.
Erine tahu jika Alex sedih maka Clara akan sedih pula. Sehingga untuk mencegah itu, memang tidak ada salahnya mematuhi perintah Merry. Adapun Justin lebih sederhana lagi, jika karena mereka tidak mematuhi perintah Merry menyebabkan gadis itu sedih dan menangis kepada tuan mudanya, maka itu berarti akan membuat tuan mudanya berpikir bahwa dia (Justin) meremehkan kedaulatannya dalam mengadopsi anak.
Namun walau itu memang akan membuat tuan mudanya kecewa, tetapi itu jauh lebih baik daripada mereka membawa resiko keselamatan bagi tuan mudanya.
"Baik Nona Muda. Namun kita harus memeriksa orang ini apakah dia aman atau tidak. Selama pemeriksaan, saya harap Nona dapat menjaga jarak dan tidak membiarkan tuanku mendekatinya," ucap Justin.
"Iya, tentu saja Kak Justin," ucap Merry.
"Bagaimana jika kita membawanya ke orang-orang kuil. Kebetulan orang-orang kuil ada di sini. Kita bisa meminta mereka menyembuhkan sekaligus memeriksa anak ini," ucap Erline.
Kedua orang lainnya setuju. Jadi dengan sigap, Erline menggendong anak seusia Merry itu seperti membawa tiang kayu bangunan atau membawa karungan beras. Ia lalu meletakkan anak itu di atas kudanya dan Erline kemudian naik sambil memeluk anak kecil itu agar tidak terjatuh dengan satu tangan. Sementara tangan lainnya memegang tali kemudi kuda.
Erline tidak terlalu peduli bagaimana dia membawa anak ini. Jika anak ini mati karena metode dia membawanya salah, maka itu sudah ajal dari anak tersebut.
Mereka pun memutuskan kembali dengan cepat ke mansion.
__ADS_1