THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
CONVINCE ME(3)


__ADS_3

Joan dan kelompoknya  kembali ke penginapan setelah melakukan pertemuan dengan Regis.


Mereka telah gagal meyakinkan Regis, sehingga tidak ada alasan lagi bagi Joan untuk berlama-lama di county ini.


Joan tidak tahu harus kemana lagi mereka meminta pertolongan. Berdekatan dengan wilayah ini mereka akan sampai ke Duchy of Sandwealth tetapi mereka tahu dengan kondisi duchy saat ini mustahil untuk dapat meminta bantuan.


Sementara untuk daerah lainnya seperti Count of Hildalion, itu berasal dari koalisi lain, sayangnya Otilia masih belum punya kerjasama dengan counties tersebut. Adapun untuk county yang berada pada koalisi politik di parlemen lainnya terletak cukup jauh dari Otilia.


Jadi Joan berpikir, untuk saat ini mereka lebih baik pergi ke County of Fertiphile untuk menjumpai Clotildy.


Apalagi setelah mendengar penjelasan dari Regis tentang bagaimana Count of Fertiphile yang sangat membenci fief war cenderung tidak akan menjawab surat permohonan mengenai fief war . Sehingga biasanya perwakilan dari negara pengirim akan menunggu berbulan-bulan lalu kembali dengan tangan kosong.


Joan masih belum mendengar kabar dari Clotildy yang ditugaskan untuk bernegosiasi dengan Fertiphile jadi besar kemungkinan nona mudanya saat ini masih berada di sana.


Joan tidak tega meninggalkan nona mudanya sendirian dan terus menunggu harapan palsu.


Jadi dia setidaknya memutuskan untuk bertemu dengannya.


Mereka berangkat dua hari kemudian.


Butuh 5 hari bagi mereka untuk sampai dari Haderborg, ibukota County of Morhust menuju Fertihall, ibukota County of Fertiphile.


Ketika mereka dapat melihat gerbang kota, mereka mengibarkan bendera kebangsawanan Otilia. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah utusan resmi.


Tentunya sebelum mereka masuk kota, mereka masih menjalani pemeriksaan dan pendataan.


Seorang penjaga gerbang bertanya kepada mereka dengan sedikit ragu.


"Mengapa kalian melewati jalur ini? Bukankah Otilia berada di sana?"


Prajurit ini menunjuk selatan.


Joan hanya menjelaskan secara singkat bahwa mereka berkunjung terlebih dahulu ke Morhust. Dia tidak memberitahu lebih detail lagi.


Prajurit itu hanya mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk.


Berbeda ketika dengan kesannya di Haderborg, kesan Joan ketika pertama kali melihat kota ini cenderung biasa saja.


Kota ini memang lebih besar daripada  Ibukota Otilia tetapi itu tidak seglamor dari Haderborg.


Namun apa yang menarik dari kota ini adalah karena county ini merupakan salah satu produsen senjata sihir terbaik di kerajaan, bisa dibilang adalah hal normal para prajurit akan berjalan-jalan sambil memakai armor berkualitas baik.


Tidak hanya itu, harga senjata sihir seperti magic armor dan magic sword  jauh lebih murah daripada di tempat lain sehingga  Joan bisa melihat cukup banyak kelompok petualang yang singgah di tempat ini hanya untuk membeli senjata berkualitas baik dengan harga murah.


Joan dan Clotildy sering mengirim surat kepada satu sama lain. Hal itu untuk membagi informasi dan keadaan mereka saat ini.


Joan membuka surat dua bulan lalu. Surat itu memberitahukan lokasi tempat kelompok Clotildy tinggal.


"Shining Golden Pavilion ...."


Secara acak, Joan bertanya kepada seorang pedagang wanita yang sedang menjual manisan olahan rumah tangga.


Sayangnya wanita itu tidak tahu tetapi di saat-saat seperti dia mempromosikan jualannya.

__ADS_1


Awalnya Joan menolak tetapi di bawah arus promosi dan diskon besar-besaran pada akhirnya dia mengalah.


Namun setelahnya mereka tersesat.


Seharusnya mereka menanyai lokasi paviliun kepada penjaga gerbang.


Joan kemudian bertanya kepada orang lain lagi.


"Oh itu, kalian hanya perlu  lewat kanan lalu lurus ke depan lewat jalan utama. Kemudian jika kalian melihat bangunan tertinggi, maka itulah dia."


Joan berterima kasih kepada orang itu.


Mereka mengikuti arahan jalan yang diberikan hingga sampai pada tempat yang digambarkan.


Bangunan tertinggi di jalan utama. Lalu mereka juga dapat melihat papan nama yang bertuliskan Shining Golden Pavilion.


Mereka masuk dan seperti yang mereka harapkan, penginapannya sangat mewah.


Mereka mencoba bertanya pada resepsionis.


Resepsionis itu melihat perlengkapan yang dibawa oleh Joan yang terlihat tidak jauh berbeda dari beberapa pelanggannya. Jadi dia berpikir bahwa orang-orang ini berasal dari kelompok yang sama. Jadi dia mencoba menghubungi nomor kamar Clotildy untuk mengkonfirmasi keberadaan tamu.


Clotildy terkejut ketika mendengar dari resepsionis bahwa Joan datang ke tempat mereka.


Dia sedikit malu untuk bertemu bawahannya dengan tampilannya yang lesu saat ini. Namun ini tidak mungkin bisa lagi disembunyikan.


Seperti yang diharapkan.


Putri dari sang countess yang sering disebut sebagai sang malaikat kini kehilangan cahaya kecantikannya.


"Nona ..."


Joan ingin mengatakan sesuatu tetapi perkataannya seakan tersangkut di ujung lidahnya.


Clotildy hanya tersenyum pasrah sambil mengatakan;


"Yah, inilah kami sekarang."


Joan ingin mengatakan sesuatu tetapi Clotildy berusaha mengalihkan topik.


"Kalian pasti lelah setelah berhari-hari dalam perjalanan. Istirahatlah dulu di tempatku. Aku akan membuka kamar untuk kalian. Oh iya, ngomong-ngomong apa kalian lapar? Makanan disini sangat enak."


Sebenarnya mereka ingin mengatakan jika makanannya enak, mengapa tubuhmu kehilangan begitu banyak berat badan?


Namun tentunya mereka tidak mau menanyakan hal seperti itu yang dapat membuat nona muda mereka lebih malu lagi.


Pada akhirnya tidak ada yang mengatakan apa pun.


Joan mengikuti perkataan Clotildy. Dia beristirahat di kamar nona mudanya. Dia juga sebenarnya cukup lelah bepergian.


Kemudian Joan tertidur.


Joan bermimpi buruk saat ini, dalam mimpinya countynya telah berubah menjadi lautan api. Countess dan Clotildy diarak keliling kota dengan pakaian hina sebelum di gantung di tengah kota.

__ADS_1


Pada akhirnya ia melihat sosok siluet sedang duduk di singgasana Otilia dengan tawanya yang mengerikan.


"Nona Orbelin, Nona Orbelin, bangun ..."


Joan terbangun dari mimpinya. Dia dibangunkan oleh seorang knight wanita.


"Nona, My Lady  mengundang Anda untuk makan malam."


"Baik terima kasih. Kamu bisa pergi."


Setelah mengucapkan itu, Joan bangkit lalu menutup pintu kemudian melepas pakaiannya. Dia kemudian mandi.


Ketika dia sampai di lounge, Joan telah berpakaian rapi. Rambutnya yang kusut selama perjalanan kini telah kembali lembut.


Clotildy memintanya untuk duduk semeja dengannya.


Joan yang merupakan bawahan sebenarnya tidak bisa makan semeja dengan nonanya tetapi karena perintah, dia hanya patuh.


Mereka tidak membicarakan hal-hal yang cukup rahasia di sini. Bagaimanapun lounge adalah tempat yang ramai tidak hanya diisi oleh mereka tetapi juga dari pelanggan lain.


Jadi mereka hanya mengisi perut tanpa membicarakan pokok cukup penting.


Lalu setelahnya, Joan meminta untuk berbicara empat mata dengan Clotildy di kamarnya.


Pada pembicaraan itu, Joan menceritakan kronologi dia bernegosiasi dengan Tuan Muda Tertua Regis.


"Jadi apa yang ingin dikatakan Tuan Muda Tertua Morhust adalah dia berpendapat bahwa Count Fertiphile adalah orang yang tidak mau terseret dalam arus fief war dari pihak bangsawan manapun. Jadi nona ..."


Joan ragu mengucapkan kalimat terakhir. Namun melihat kondisi nonanya saat ini dia harus mengatakannya walaupun itu pahit.


"Nona, sebaiknya kita harus menyerah dengan Fertiphile."


Clotildy tidak langsung  menjawab. Dia hanya memberi senyum masam.


"Aku tahu, aku juga berpikir itu pada awalnya. Namun saat ini aku masih mau berusaha."


"My Lady, saya tidak mau mengatakan ini tetapi Nonaku juga harus memperhatikan kesehatan. Saya khawatir dengan kesehatan Anda."


Clotildy tiba-tiba menggenggam kedua tangan Joan.


"Nona ...?"


"Joan, aku masih ingin percaya bahwa kita berhasil setidaknya menemui count ... tidak, saat ini yang berkuasa adalah anak tertua count, jadi ada kemungkinan kan, anak count memiliki sifat yang berbeda? Setidaknya aku ingin mengambil semua peluang mungkin terjadi."


"Nona ...."


Pada akhirnya air mata Joan tak terbendung lagi.


"Joan, kamu percaya kan padaku?"


Air mata Joan terus mengalir di pipinya, hingga membuatnya terisak.


"Iya Nona, bawahanmu yang setia ini akan selalu berada di sisimu."

__ADS_1


__ADS_2