
Surabaya, 10 November 1945.
Kembali kudengar sirine peringatan bahaya yang berbunyi pada tengah malam. Ini sudah kesekian kalinya pertempuran berdarah meletus di Surabaya. Sudah lebih dari 16.000 pejuang dan nyawa tidak berdosa gugur pada pertempuran ini. Kapankah ini berakhir. Namun apalah dayaku, aku hanyalah bocah pincang yang berusia 17 tahun. Aku kehilangan salah satu kakiku ketika aku berusia 14 tahun. Saat itu aku bermain kejar-kejaran dan tidak sengaja menginjak ranjau aktif peninggalan tentara nippon.
Namaku Reza Wahyu, seorang pribumi asli yang terus terkurung di rumah selama lebih 3 tahun. Semenjak aku kehilangan kaki kiriku, aku selalu takut mengambil langkah di luar. Aku memiliki seorang adik perempuan cantik dan kedua orang tua yang bertanggung jawab. Sayangnya mungkin ini terakhir kali aku melihat mereka.
*Ddddrrrrrrr ....
Aku mendengar suara pesawat tempur yang cukup keras. Ini aneh, tidak biasanya sebuah pesawat terbang di dekat perumahan kami. Baru sebentar aku berpikir alasannya, ibuku tiba-tiba muncul dengan membanting pintu. Aku tersentak kaget. Namun ia tidak peduli.
Ibuku sangat berkeringat dan matanya memerah. Sepertinya ia berlari ke kamarku. Ia mengangkat tubuhku yang masih tertidur di kasur dan meletakkanku di kursi roda. Ia pun bergegas membawaku kabur.
Rumahku memiliki tiga lantai dan awalnya kamarku terletak di lantai dua. Namun setelah bencana ranjau itu, kamarku pun dipindahkan ke lantai satu. Ibuku terus mendorong kursi rodaku hingga keluar rumah. Di jalanan malam itu, kulihat para warga berlari. Mereka kabur dari serangan pemboman pesawat-pesawat Inggris. Kami berlari melalui jalur evakuasi. Seharusnya semua akan baik-baik saja. Namun bencana tak diduga pun muncul.
Sebuah misil meluncur turun ke arah jalan. Namun misil itu tidak sendiri, beberapa kawan seperjuangannya juga muncul. Mereka berjatuhan di dekat kami.
*Boom!!
Salah satu misil mengenai sebuah rumah berlantai dua yang berada di dekat kami. Puing-puing bangunan berterbangan. Ibuku terkena puingan itu, ia jatuh. Aku berhenti dan berusaha membantunya. Ia terkena di bagian kepala dan langsung pingsan. Aku menyeretnya agar dapat pergi. Ia masih bernapas, tapi darah di kepalanya terus mengalir.
"Ibu ... ibu."
Aku berusaha memanggil beliau. Namun tidak ada jawaban. Aku memeluknya. Jika memang ia harus mati di sini, setidaknya izinkanlah aku menemaninya. Dan itu pun terkabul.
Sebuah bom dari salah satu pesawat pembom jatuh di dekat kami. Bom itu meledak dan menghancurkan semua. Aku dan ibuku terhempas dan tak tahu lagi ada di mana. Aku terhimpit oleh dinding-dinding rumah yang telah hancur. Aku tidak bisa lagi merasakan tanganku. Tubuhku semakin mendingin. Di bawah cahaya rembulan merah, aku terus memandang selama beberapa menit. Sebelum kehilangan kesadaran, aku mendengar teriakan "Merdeka!" Beberapa kali dan tak lama, aku menutup mata untuk terakhir kalinya.
***
Petrograd-Russia, 7 November 1917 (Gregorian).
Para Bolshevik kembali mengepung kota. Setelah mereka dan beberapa fraksi revolusioner lain berhasil mengkudeta Tsar Nicholas II, mereka pun kembali berhasil memakzulkan Perdana Menteri Alexander Kerensky. Namun apakah ada perubahan yang berarti pada hidup kami? Atau setidaknya hidupku?
Masa bodoh dengan perang saudara. Aku hanya ingin roti. Sudah lebih dari tiga hari mulutku tidak mengunyah apa pun. Hanya air lah yang masih bisa aku rasakan.
"Kitty ...."
Setidaknya aku masih memiliki seekor kucing yang selalu setia padaku. Ia terkadang membawa pecahan-pecahan roti di mulutnya dan memberikannya padaku. Namun sudah tiga hari ini kami tidak menemukan apa pun.
Baik aku ataupun Kitty tinggallah tulang dibungkus kulit. Ada yang bilang jika wanita sudah tidak memiliki apapun setidaknya ia bisa menyerahkan tubuhnya, tapi apa ada yang mau pada tubuhku saat ini. Sudah pasti tidak.
__ADS_1
Berbeda dari mereka yang tinggal di pusat bisnis, aku dan beberapa orang lain tinggal di daerah kumuh yang sering banjir dan kotor. Namaku adalah Lyudmila Dushenka, seorang gadis berusia 16 tahun yang hidup tanpa kisah kasih orang tua.
Mungkin hari ini aku sedikit beruntung. Sebuah truk bantuan dari fraksi Bolshevik datang membagikan roti. Jika bukan karena suara truk dan suara teriakan "Roti, tanah, dan perdamaian!" Yang berulang kali terdengar, aku pasti tidak akan tahu keberadaan mereka.
Aku bersama ratusan warga berdesakan untuk mendapat bantuan makanan itu. Cukup lama, tapi setidaknya aku dapat dua buah roti. Kuharap Kitty mau memakan satu.
Di perjalanan, aku berpapasan dengan seorang pria tua yang juga cukup kurus. Dia memandang makananku sejak awal. Aku tahu dia kelaparan tapi aku dan kucingku juga mengalami hal yang sama. Namun hal yang tak dikira-kira terjadi. Orang itu berusaha merebut roti-rotiku. Kami terlibat perkelahian hingga akhirnya si orang tua itu memukul kepalaku dengan sebuah bata. Kepalaku berdarah dan aku pun tak sadarkan diri. Semenjak itu dunia yang kulihat selalu hitam.
***
Tokyo, 12 Juli 2030.
Salah satu konsol game-play MMORPG terkenal baru saja mengeluarkan series terbarunya. Aku adalah seorang bocah SMA berumur 18 tahun, bernama Matsuoka Natsuki. Well, aku adalah salah satu pro-gamer terbaik di Jepang. Untuk game MMORPG kesukaanku adalah Savior II. Itu adalah game dengan VR terbaik dan memiliki lebih dari 50 juta pengguna aktif di seluruh dunia. Nah, saat ini Savior II yang dikembangkan oleh kingsyion Corp. telah meluncurkan versi terbarunya yaitu Savior III dan aku pun telah memesannya dua hari yang lalu, jadi seharusnya sebentar lagi bakalan sampai. Aku ini selalu menjadi seorang beta tester untuk game MMORPG dan aku akan memberikan semua resensi mengenai game itu ke dalam blog milikku.
Selagi menunggu kedatangan Savior III, aku mencoba kembali memainkan Savior II. Di game itu aku sudah berada di level maks dan semua quest telah tercapai. Yah, chara-ku juga tergolong sultan jadi terkadang aku membagi-bagi gold dan item bagi yang membutuhkan.
Sore pun datang, akhirnya barang yang kutunggu-tunggu pun sampai. Karena cukup lama bermain Savior II, aku pun memutuskan untuk memainkannya nanti malam, tepatnya setelah makan malam.
Yah ... karena aku mendapat penghasilan dari bermain game, orang tuaku tidak terlalu marah jika aku terus bermain tapi tetap saja mereka terkadang mengatakan sesekali keluar, kek atau apalah.
Nah, sudah waktunya. Aku meng-unboxing Savior III. Tampilannya kece abis dan terlihat lebih berkelas. Warna silver dan dark sangat serasi sehingga terlihat menawan. Terdapat sebuah helm yang telah terintegrasi dengan Savior III. Helm itu disambungkan melalui kabel ke mesin utama. Aku memakainya dan bersiap menghidupkannya.
"Loh? Inikan dewi agung Elysia? Dia menjadi icon penyambutan nih?"
Aku tahu, Dewi Agung Elysia merupakan karakter yang muncul pada Savior I dan dia dikisahkan sebagai sang esa dalam game ini. Sebelum aku hendak menekan play, muncul sebuah papan notifikasi yang isinya seperti ini:
"Player, selamat, Anda terpilih sebagai hero di Midgard. Apa Anda ingin menjadi hero di sana?"
"Ya/Tidak."
Midgard? Apa itu? Apa mungkin dunia baru dari Universe-nya Savior? Karena tidak merasakan ada hal yang aneh dan aku menganggap itu hanyalah event semata, aku pun memilih "Ya!" Kemudian perubahan terjadi. Duniaku gelap dan aku pun tak tahu lagi entah di mana.
***
Koloni Alpha 0023, 15 Elderan 942 (Kalender Galaktika).
Sudah lebih 900 tahun lalu semenjak matahari berubah menjadi bintang merah dan Bumi tak lagi layak dihuni. Umat manusia yang tersisa berusaha untuk bertahan hidup dan akhirnya mereka sampai pada satu tahap yaitu menjelajahi angkasa. Sekarang penerus para pejuang umat manusia itu adalah kami. Kami terdiri dari empat koloni besar yaitu Alpha, Beta, Gamma, dan Omega. Koloni Alpha dan Beta adalah koloni dengan kekuatan militer terkuat karena mereka berada di barisan perang paling depan. Kita tidak sendiri atau lebih tepatnya, manusia tidaklah sendiri di semesta ini. Ada satu makhluk berakal yang hidup jauh di luar sana. Kami menyebutnya Biontomon. Mereka adalah serangga raksasa yang berakal dan mampu menciptakan peradaban sendiri.
Sayangnya mereka bukanlah makhluk yang ingin bekerjasama. Sejak awal mereka selalu ingin mendominasi dan menguasai makhluk yang lebih lemah dari mereka dan mereka menganggap manusia tergolong sebagai makhluk lemah itu. Maka selama bertahun-tahun perang antara biontomon dan manusia terus terjadi. Aku sebagai salah satu penjaga garis depan dan namaku adalah Letnan Beatrice von Coburgsavoia.
__ADS_1
"Letnan! Kita harus mundur. Para serangga telah berhasil menyerang Alpha Victoria dan S-Vieta IX."
Seorang prajurit melapor padaku. Saat ini kami sedang berperang dengan para serangga berakal itu. Namun sepertinya ini akan menjadi hal yang susah.
"Bagaimana dengan yang selamat?" tanyaku.
"Alpha Victoria sudah dikonfirmasi bahwa semua telah gugur. Namun untuk S-Vieta masih terdapat beberapa regu di dalam."
"Kita harus menyelamatkan mereka. Siapkan tim."
"Baik!"
Aku pun bergerak sebagai ketua tim penyelamat. Kami terdiri dari 50 orang yang merupakan pilot robot tempur. Yah, ini sudah zaman automata, jadi pilot meccha itu sangat penting.
"Letnan! Satu kapsul evakuasi terlihat sedang diserang oleh seekor biontomon."
Aku mendapat laporan dari anak buahku melalui radio. Aku pun meminta untuk mengirim lokasi kapsul itu berada.
Aku bergegas menyelamatkan para kru yang berada dalam kapsul evakuasi itu. Aku menembak para serangga itu menggunakan laser dan misil. Makhluk itu pun hancur.
Aku bergegas mendorong kapsul penyelamat itu menggunakan kekuatan robot yang kukendalikan. Namun hal yang tidak terduga muncul.
Seekor monster raksasa yang terlihat adalah merupakan makhluk cyborg (Cybernetic Organism/Organisme Sibernetik) muncul di belakangku. Ukuran makhluk itu setara dengan mothership milik kami. Makhluk cyborg raksasa itu memiliki mulut seperti raflesia, dia memekarkan mulutnya, lalu sebuah cahaya muncul. Aku tahu apa itu.
Itu serangan! Aku dengan sekuat tenaga menjauh tapi itu tidak sempat. Dengan usaha dan saat-saat terakhir, aku pun mendorong kapsul penyelamat itu sekuat tenaga agar setidaknya mereka dapat selamat.
*Boom!!
Aku terkena ledakan. Semua dari tubuhku dan tubuh dari meccha-ku hancur tak tersisa.
***
Setelah semua yang terjadi pada kami, akhirnya kami pun tiba-tiba berada di tempat yang asing. Kami sampai di sana dalam keadaan tak sadarkan diri dan kemudian perlahan satu per satu dari kami pun terbangun.
Kami melihat sekeliling. Yang kami tahu, kami saat ini berada di ruangan luas yang berisi para orang-orang aneh yang memakai jubah dan tongkat. Hanya ada beberapa dari mereka yang terlihat tidak memakai jubah tapi pakaian yang mereka gunakan cukup aneh.
Kami bangkit dan hanya terdiam sambil melihat seorang wanita tersenyum kepada kami. Dia terlihat riang dan cukup cantik. Setelah ia memberikan senyuman kepada kami berempat, wanita itu pun berbicara pada kami.
"Selamat datang wahai para heroes terhomat. Selamat datang di Kekaisaran Artemice."
__ADS_1