THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
TRIP TO THE CAPITAL CITY(4)


__ADS_3

Karavan tidak langsung kembali bergerak setelah masalah serangan goblin selesai ditangani. Para prajurit yang terluka diobati terlebih dahulu. Sangat beruntung karavan ini bersama dengan para pendeta sehingga pengobatan gratis dapat dilakukan.


Selain High Priestess Feodora, terdapat empat priestess yang juga mengobati prajurit. Mereka menggunakan sihir penyembuh tipe divine tingkat 2, [Cure]. Para priest biasanya mampu menggunakan sihir tingkat 3 hingga 4, sementara High Priestess seperti Feodora dapat menggunakan sihir divine hingga tingkat 6. Adapun para discimpion (murid) dan serkon (pendeta muda) hanya mampu menggunakan sihir divine tingkat 1 hingga 2.


Luka-luka para prajurit tidak membahayakan sehingga sihir rendah sudah cukup. [Cure] adalah sihir yang mampu menutup luka ringan tetapi sobekan otot di dalam tubuh tidak dapat disembuhkan secepat kulit sehingga seseorang yang sudah diobati menggunakan [Cure] masih harus beristirahat untuk mencegah lukanya kembali terbuka.


Alex sebagai salah satu pemimpin perjalanan harus turun dan menunjukkan wajahnya kepada para prajurit. Bagaimanapun para prajurit itu rela mengorbankan diri mereka demi anggota Rumah Fertiphile.


"Merry, tetap di kereta, oke?"


Alex khawatir jika Merry melihat darah dan kematian beberapa makhluk hijau jelek ini akan membuatnya bermimpi buruk. Demi kebaikan anak itu, dia hanya harus melihat hal-hal indah dan damai.


Hah ... menjadi ayah sungguh sebuah pengorbanan.


Sheol (Alex) untuk sementara mengenang ayahnya. Ayah para archdeus, eksistensi yang sangat agung dan perkasa, bahkan semakin perkasanya, ia ingin memakan anak kandungnya sendiri.


Ayah bajingan. Lupakan, kami (archdeus) tidak pernah mengakui monster itu sebagai ayah!


"Oke, ayah."


Merry menjawab dengan tenang. Ketika ayahnya membalas dengan menganggukan kepala dan segera ingin keluar dari kereta, Merry meraih tangannya.


"Ayah, hati-hati."


Merry tidak melihat pertarungan itu karena ayahnya menutup matanya. Namun Merry dapat mendengar teriakan Erline dan pedang-pedang bersinggungan. Dia takut jika Erline gugur di medan perang tetapi dia lebih takut jika ayahnya yang baik hati ini tidur dalam keabadian (mati) di depan matanya sendiri.


Alex hanya mengacak-acak rambut gadis kecilnya sebelum ia keluar dari kereta.


Di luar, beberapa prajurit telah diperban dan diobati dengan sihir. Syukurlah tidak ada yang sekarat atau mengalami pendarahan hebat.


"Kalian sudah berjuang."


"Tuan Muda!"


Para prajurit yang mendengar suara Alex bergegas berdiri tegap dan berbaris rapi. Mereka sebenarnya tidak terlalu menghormati Alex mengingat dia adalah sampah tetapi loyalitas mereka terhadap House of Fertiphile menutupi ketidakpuasan itu.


"Beristirahatlah. Kita tidak terburu-buru," ucap Alex.


"Baik Tuanku!"


Para prajurit itu memberi salam.


"Tuanku!"


Justin berlari ke arah Alex. Napasnya sedikit terengah-engah karena kelelahan.


"Tuanku, apa Anda tidak apa-apa?"


Alex merasa itu pertanyaan konyol. Dia tidak ikut bertempur, jadi untuk apa dia terluka? Namun untuk tetap menjaga wajah Justin di depan umum, Alex tetap mengangguk.


Jika dia tidak bersama dengan Merry, maka sikap Alex akan kembali menjadi acuh tidak acuh.


"Justin, berdirilah di depan pintu kereta. Anakku ada di dalam, tolong jaga dia. Aku ingin bertemu ibuku."


"Baik, Tuanku!"


Alex pergi ke tempat ibunya. Selain Clara, terdapat Feodora, Erline, dan Ryana. Alex masih bisa memaklumi tiga orang itu tetapi Ryana? Kenapa wanita itu ada di sini?

__ADS_1


"Huh? Ah! Alex!"


Clara memanggil Alex sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Alex berjalan ke arah mereka sebelum akhirnya dia menyapa.


"Ibu ... Nyonya High Priestess Feodora, Nona Faihacea, Nona Rayself."


Alex masuk kepembicaraan.


"Jadi dengan ini saya rasa Baron of Gargerint sudah lama tidak melakukan pembersihan di wilayahnya sehingga para demihuman liar seperti goblin tumbuh dan berkembang biak dengan baik, Nyonyaku," ucap Erline.


"Apa semua goblin berhasil dibunuh?" tanya Clara.


"Maaf Nyonya, beberapa goblin lari ke utara hutan setelah mereka tahu pemimpin mereka telah kalah."


"Hoh ... itu berbahaya."


Semua orang sadar, kelompok demihuman seperti goblin harus dimusnahkan sepenuhnya jika terjadi konflik. Jika tidak, para goblin itu akan memendam dendam kesumat. Mungkin mereka tidak membalasnya kepada orang-orang yang melukainya tetapi mereka akan menyalurkan kemarahan kepada ras yang sama dengan orang-orang yang menyerang mereka.


Ada kemungkinan goblin-goblin ini akan menyerang para pedangan atau kafilah-kafilah lain di masa depan.


Namun ini berada di luar wilayah Count of Fertiphile sehingga mereka tidak dapat melakukan apa pun secara hukum. Apalagi posisi Clara bukanlah countess tetapi selir dari Harol sehingga ia tidak punya kekuatan politik yang cukup untuk menekan rumah bangsawan lain.


"Apa kita akan membiarkan mayat-mayat itu?"


Berbeda dengan yang lain, Alex malah bertanya mengenai nasib mayat-mayat goblin yang terbengkalai di tanah. Tentu saja, jika itu tidak dibersihkan maka akan menjadi sumber penyakit, bau, dan bahkan dapat menjadi undangan bagi makhluk buas. Namun apakah masyarakat di sini mengerti? Tentu saja tidak! Bagi mereka, hanya makhluk humanoid yang layak dikubur karena mereka percaya bahwa tuhan itu berwujud seperti mereka (human, elf, dwarf) sehingga munculah human supremacy yang menginginkan kedaulatan penuh di seluruh benua.


"Kita akan meninggalkan mereka atau Alex punya saran?" tanya Clara dengan lembut.


Alex tidak menyukai keleletan pikiran para orang-orang ini. Sehingga ia pun bertanya.


Perkataan Alex memang benar, biasanya tubuh-tubuh demihuman, heteromorphic, dan demonoid dapat dijadikan sebagai bahan-bahan obat-obatan atau senjata. Sehingga mereka dapat dijual dengan harga tinggi. Sayangnya goblin tidak memiliki keistimewaan dan harganya pun terlalu murah.


"Tidak buruk ,walau harganya murah jika Alex mau kita bisa membawa mayat-mayat itu. Apakah ada yang keberatan?"


Clara bertanya kepada yang lain. Semua orang setuju, bagaimanapun siapa yang tidak mau uang.


"Yah, itu ide bagus Nak Alex. Aku akan menggunakan mantra tingkat 3 [Saintaldehide] untuk mencegah pembusukan," ucap Feodora.


"Terimakasih Nyonya High Priestess."


Alex memberi nilai plus bagi Feodora karena dia wanita tua yang bisa menggunakan otaknya. Benar, jika banyak orang yang berpikir priest hanya dapat menggunakan sihir penyembuh, maka sadarlah bahwa itu sebuah kebodohan.


Sejak awal sihir terkuat itu bukanlah dari tipe arcane ataupun spritual dari para penyihir, tetapi sihir divine dari para priest karena sihir itu adalah sihir yang memohon pertolongan makhluk-makhluk abadi (Immortal) yang kekuatan makhluk-makhluk itu disebut deusvoulic.


Akhirnya, beberapa prajurit yang tidak terluka dibantu beberapa pelayan pria mengumpulkan mayat-mayat goblin yang bertebaran di tanah. Banyak diantara mereka khususnya wanita yang melihat merasa mual. Karena serangan yang tidak terduga itu, perjalan mereka tertunda sehari akibat mental beberapa wanita menjadi terganggu setelah melihat mayat-mayat yang ditumpuk menjadi gunung. Sangat berbahaya bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan, kemungkinan para pelayan akan muntah hingga demam sangat mungkin terjadi bila kondisi mental mereka tidak baik.


Karavan itu membangun tenda tidak jauh dari tempat perkelahian terjadi. Hari sudah malam tetapi beberapa prajurit masih terlihat berpatroli.


Adapun Alex, dia tidak bisa tidur akibat ketidaknyamanan di tubuhnya. Ia tidak bisa merasakan sakit, perih, ataupun gatal. Namun rasa pengap dan gerah masih bisa ia alami.


Sial!


Alex melihat anak gadis kecilnya yang tertidur lelap. Gadis itu tidak terganggu walau sudah beberapa hari tidak mandi. Sepertinya daya tahannya masih kuat.


Alex memutuskan untuk keluar dari tendanya. Ia berharap angin malam dapat meringankan suhu tubuhnya yang pengap ini.


Alex dengan santai berjalan-jalan di sekitar pemukiman mereka. Masih ada beberapa penjaga yang berpatroli. Dia berjalan sambil memandang bintang-bintang. Kemudian ketika dia melihat beberapa rasi, dia mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Kenapa Heaven memberitahu kedatanganku? Bagaimana jika fallen datang dan menyerang Underworld?"


Alex dapat membaca astrologi. Dia awalnya tidak menyadari berita kedatangannya melalui bintang karena dia selalu berada di rumah dan jarang keluar pada malam hari. Alex hanya membuat hipotesis bahwa Heaven adalah pihak yang memberitahukan kedatangannya ke Midgard melalui bintang. Jika itu Underworld, sangat tidak mungkin. Mereka pasti akan menutup informasi untuk mencegah serangan dari fallen.


Adapun tujuannya ....


Apa mereka sedang memperingatkan Hereafter atau umat mereka? Tapi aku di sini sedang liburan bukan menjadi orang yang membawa kiamat.


Alex betul-betul kesal dengan Heaven. Bukankah mereka yang mimintanya untuk liburan? Sekarang orang-orang itu menganggapnya sebagai pembawa bencana dan memperingatkan seluruh makhluk hidup di Midgard?


Yahh apa pun itu tidak masalah. Selama tidak ada fallen yang tinggal di Midgard, berita ini tidak akan menyebar ke mereka (fallens).


Alex lebih memilih untuk tenang dan tidak mempersalahkan hal kecil ini. Bagaimanapun selama dia tidak mengamuk, dia bisa hidup tenang di sini.


Sfx: Suara langkah kaki.


Suara itu kecil, jika bukan seseorang dengan role ranger pasti akan susah mendengarnya. Namun Alex yang memiliki pendengaran di atas rata-rata dapat mengetahui itu adalah langkah kaki yang sepertinya sedang berlari.


Hanya ada satu orang, dan dia sepertinya sedang buru-buru.


Alex penasaran. Dia bukanlah seorang yang mau ikut campur dengan urusan orang lain. Namun saat ini dia tidak ada kerjaan sehingga menguntit mungkin bisa membawa beberapa kepuasan padanya.


Alex dengan hati-hati namun pasti mengikuti orang yang berlari itu. Dia mampu menjaga jarak dan bersembunyi dari orang itu. Semakin lama Alex semakin mendekat sampai akhirnya dia dapat mengetahui orang yang ia ikuti.


Ia adalah seorang yang memiliki rambut pirang panjang, gaun putih, dan dengan tas punggung.


Ryana? Kenapa dia di sini?


Ryana tidak menyadari kalau dia diikuti. Dia terus masuk ke dalam hutan dengan tenang seolah dia tidak takut diserang binatang liar.


Dia terus berjalan, instingnya membawanya terus ke dalam hutan. Sudah hampir dua jam dia berjalan, keringat membasahi kening dan lehernya. Napasnya juga sudah berat tetapi ia tidak menyerah. Sampai  ....


"Ketemu!"


Ryana melihat api unggun besar di tengah hutan. Di sana, makhluk-makhluk hijau terlihat mengitari api itu. Ini bukanlah tarian kebahagiaan, para goblin sedang melakukan upacara pemakaman kepada teman-temannya yang tewas. Berbeda dengan manusia yang mengubur mayat, para goblin lebih memilih untuk membakar mayat.


Tidak semua mayat teman-teman mereka bisa dibawa, bahkan beberapa goblin yang melarikan diri pada akhrinya mati karena terluka parah. Selama malam berduka ini, para goblin jantan akan melakukan tarian api sebagai bentuk duka cita, sementara wanita akan masuk ke gua untuk menangis sampai pingsan. Dalam upacara ini mereka akan terus membunyikan sumpah untuk membalaskan dendam teman-teman mereka yang terbunuh.


"Roar! Roar!"


Seekor goblin menyadari kedatangan Ryana. Satu persatu dari mereka mulai berkumpul  dan  mengepung wanita itu. Namun ....


Ryana tidak mundur. Napasnya semakin berat dan wajahnya semakin merah.


"!!!"


Tiba-tiba aroma kuat masuk ke hidung semua goblin bahkan hingga ke gua. Baik goblin jantan dan betina tidak bisa bergerak. Namun ini lebih berdampak pada goblin jantan. Napas mereka juga berat dan mereka mulai mengeluarkan liur.


Tidak ada satupun goblin yang menyadari apa nama aroma ini. Namun Alex mengetahuinya. Ia juga mencium aroma ini tetapi ia tidak terpengaruh seperti goblin. Alex terkejut dan ia melihat Ryana dengan pandangan kosong.


B-bagaimana mungkin?! 


Ini Pheromone?!


 


 

__ADS_1


__ADS_2