THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
ALEX V. NIGHTORB(1)


__ADS_3

Tidak terasa hampir dua musim telah berlalu.


Pepohonan yang rindang kini berubah menjadi gersang.


Dedaunan yang hijau kini menjadi kuning.


Para petani mulai memanen tanaman mereka yang telah ditanam selama musim semi.


Kini semua orang bersiap menghadapi musim gugur.


Jika musim dingin dipercaya sebagai musim penghapusan dosa oleh Dewa Cearael (Dewa Kegelapan) dan musim semi adalah musim pemberkatan dari Dewa Elirael (Dewa Matahari), sementara musim panas adalah musim penuh kemenangan yang diberikan oleh Larael (Dewa Api), maka musim gugur adalah musim penuh syukur yang dihadiratkan kepada Lithrael (Dewa Bumi).


Di sebuah villa mewah yang berdiri kokoh di pedesaan yang kumuh,


Merry Itziel Alexandreia saat ini hanya bisa tertidur lemas di kamarnya.  Setelah Alex pergi, ia dibawa kembali ke villa sehingga rahasianya sebagai vampire tidak diketahui orang lain.


Wajahnya kini menjadi pucat dan bibirnya terlihat kering.


Sebelum kepergian Alex ke Otilia, ia memberikan stok darahnya yang cukup banyak kepada Merry. Seluruh darah itu disimpan di dalam botol sihir yang umumnya digunakan sebagai wadah ramuan sihir. Sehingga darah Alex akan tetap terjaga kesegarannya.. 


Jadi selama Alex pergi, seharusnya Merry tidak akan kehabisan stok darah untuk diminum.


Sayangnya sudah hampir dua minggu dia kehabisan stok darah.


Pada awalnya, Justin yang juga mengetahui kondisi Merry mencoba memberikannya darah dari hewan ternak. Namun Merry bahkan tidak mau mengendus darah itu.


Ini membuat Justin frustasi.


Dari hari ke hari kondisi Merry semakin terlihat tidak baik.


Bahkan orang lain yang berada di villa pada akhirnya menyadari kondisi Merry yang tidak sehat.


"Apa yang harus kita lakukan? Kondisi Nona Merry masih belum membaik."


Rain, salah satu bawahan Alex berbicara dengan panik kepada orang-orang.


Saat ini semua orang sedang rapat darurat di ruang makan karena khawatir dengan kondisi Merry.


"Bukankah seharusnya kita membawanya ke kuil? Mengapa kita harus terus membiarkannya seperti ini?"


Francess Khaterine Winbirth bertanya dengan gugup. Ia adalah teman Ryana yang saat ini bekerja sebagai florist di perkebunan magic plant milik Alex.


"Tidak! Itu tidak bisa dilakukan!" ucap Justin.


"Mengapa kau terus menolak untuk membawa Nona Merry ke kuil? Lihat, karena terus menundanya kini kondisinya sekarang tidak baik!"


Erline memukul meja. Kini ia berteriak marah kepada Justin. Erline adalah seorang ksatria wanita yang menjadi pelindung Clara. Namun sekarang ia lebih banyak ditugaskan kepada Alex bahkan hingga sekarang.


"Ah ... itu k-karena ...."


Justin tidak dapat memberikan jawaban dengan baik. Namun ia tahu membawa Merry ke rumah sakit hanya akan membawa masalah baru.


Justin adalah satu-satunya orang selain Alex yang mengetahui kondisi Merry. 


Jika kuil mengetahui Merry kini adalah seekor half-vampire maka anak itu akan dimusnahkan oleh pihak kuil.


Tidak sengaja mata Justin yang penuh dengan keraguan bertemu dengan pandangan Alven.


Alven sama sekali tidak mengetahui kondisi Merry. Namun hanya dengan kontak mata yang sekilas, dia dapat merasakan Justin saat ini sedang melindungi Merry dari masalah yang lebih buruk.

__ADS_1


"Aku pikir apa yang dikatakan Kak Justin benar. K-kita sebaiknya menunggu ayah kembali," ucap Alven.


"T-tapi ..."


Erline tidak bisa membalas ucapan itu.


Alasannya adalah dua hal.


Pertama, walaupun Alven adalah anak adopsi Alex, dia sekarang telah menyandang anggota keluarga Bangsawan Alexandreia. Walaupun Erline memberikan sumpah setianya kepada Rumah Fertiphile, tetapi bukan berarti dia bisa menganggap remeh ucapan Alven. Terlebih ini menyangkut kondisi Merry yang merupakan masalah internal Keluarga Alexandreia itu sendiri.


Rain juga tidak setuju dengan ucapan Alven. Namun sama halnya dengan Erline, dia tidak memiliki posisi untuk berbicara. 


*Uhuk! *uhuk!


Tiba-tiba suara batu kering terdengar jelas dari balik pintu kamar Merry.


Dengan paksa, pintu kamar itu dibuka.


Merry yang masih terbaring lemah kini mulai terus batuk.


Bibirnya yang kering dan kulitnya yang terlihat jauh lebih pucat sekarang.


Bahkan tubuhnya pun mengalami demam.


"Kita tidak punya waktu lagi! Kita harus membawanya ke kuil!" 


Kali ini Erline berteriak marah.


Ini sangat berbeda dari dirinya dahulu yang terlihat dingin dan meremehkan orang lain.


Bagaimanapun Erline bisa dikatakan sebagai salah satu teman pertama Merry.


Ia dan gadis itu telah banyak menghabiskan waktu satu sama lain.


Ketika ia melihat Merry yang saat ini sedang terbaring lemah membuat hatinya sakit. Seolah ia merasa Merry adalah saudarinya sendiri.


Justin dan Alven masih menolaknya tetapi kali ini penolakan mereka menjadi semakin lemah terutama keraguan yang muncul setelah melihat kondisi Merry.


Berbeda dengan Justin yang tahu penyebab kondisi Merry, Alven sama sekali tidak mengetahui penyebab Merry seperti ini.


Jika karena keputusannya membuat nyawa Merry menjadi terancam, dia tidak akan pernah mengampuni dirinya sendiri.


"Aku-"


Ucapan Alven terpotong disebabkan seorang pelayan datang dengan tergesa-gesa.


"Tuan Muda Tertua Fertiphile kembali!"


***


Di tengah jalan pedesaan yang berbatu, sebuah pawai militer bergerak dengan kompak.


Semua orang menunggangi kuda dengan beberapa di antaranya mengangkat bendera Kebangsawanan Fertiphile.


Pawai ini dipimpin langsung oleh anak tertua dari count Fertiphile yaitu Alexander Ivanov Fertiphile atau sekarang namanya adalah Baron Alexander dari Alexandreia.


Setidaknya terdapat seratus lima puluh  prajurit yang menjadi anggota pawai militer ini. Tentu 90% dari mereka adalah para prajurit non-role. Rombongan militer itu sedang mengiring perjalanan Alex menuju desa tempat bawahannya berada.


Di sana warga desa melihat dengan penuh takjub.

__ADS_1


Semua mata anak-anak bersinar berseri-seri menunjukkan ketertarikan mereka.


Bahkan dapat didengar suara teriakan bocah yang ingin menjadi seorang tentara.


"Jika aku besar nanti, aku akan menjadi seorang ksatria!"


Setelah perjalanan jauh akhirnya mereka sampai.


Alex langsung disambut oleh para bawahannya seperti pelayan tua vila, Rain, Justin, dan lain-lain.


Pada awalnya pawai ini akan menjadi pawai besar-besaran dimana seluruh prajurit akan mengiring Alex karena kemenangannya dalam fief war di Otilia dan prestasinya mendapat gelar baron.


Namun itu ditunda karena melihat kondisi kerajaan dan county saat ini. Dengan kondisi kerajaan yang sedang berperang, dan keuangan county yang tidak baik-baik saja akibat inflasi dan  ketidakstabilan nasional akibat fief war di berbagai daerah bangsawan lainnya membuat Alex sekalu interim governor membatalkan acara untuk dirinya sendiri.


Pada akhirnya, dia hanya bisa kembali ke villa kecilnya dengan membawa beberapa orang.


Otto dan Alen tidak bisa pergi. Otto yang merupakan pemimpin Otoritas Keamanan County Fertiphile menjadi sibuk dengan berbagai tugas yang telah ia tinggalkan selama mengikuti fiefwar. Alen pula sibuk dengan berbagai urusan politik dan manajemen county.  


Namun itu tidak menjadi masalah bagi Alex.


Apa yang terpenting saat ini adalah dia telah kembali dan melihat semua orang yang dalam perlindungannya sehat, kecuali ....


"Apa? Merry sakit?" ucap Alex.


Tanpa melihat ekspresi khawatir bawahannya, Alex segera masuk ke kamar Merry.


Ia hanya mengizinkan Justin masuk bersamanya lalu memerintahkan Justin untuk mengunci pintu.


"Sayang ... bangunlah, ayah sudah kembali."


Alex memanggil Merry tetapi gadis kecil itu tidak menanggapi.


Ia menyentuh kening gadis kecilnya.


Panas sekali.


"Justin, bawakan aku pisau."


Justin segera membawa pisau buah yang berada tidak jauh dari mereka. Itu adalah pisau yang ia bawa bersama dengan bebuahan segar untuk dimakan. 


Alex mengambil pisau itu dan mengalirkan aura.


Aura merah segera mengelilingi bilau pisau itu. 


Alex kemudian menyayat pergelangan tangan kirinya dengan menggunakan pisau yang telah dialiri aura itu.


Ia menyerahkan pisau itu kepada Justin. Lalu dengan menggunakan tangan kanan, ia mengangkat kepala Merry dengan lembut kemudian meletakkan pergelangan tangan kirinya yang telah terluka di dekat bibir gadis itu.


Walaupun cukup lama tetapi perlahan Merry mulai menanggapi.


Ia mulai mengendus kecil seolah menemukan aroma yang sangat harum.


Lidah merah muda kecilnya mulai terulur dan menjilat pelan darah yang keluar dari pergelangan Alex.


Perlahan jilatan itu mulai semakin cepat hingga pada akhirnya Merry membuka matanya.


Pupil matanya yang berwarna merah darah memantulkan cahaya matahari dengan terang.


Dia langsung mengeluarkan taringnya dan menggigit pergelangan Alex.

__ADS_1


Gigitannya sangat kencang dan bahkan Merry mengeluarkan geraman seperti seekor kucing yang menggeram marah ketika makanannya ingin direbut hewan lain.


Gigitan Merry terlihat cukup menyakitkan tetapi Alex tidak merasakan rasa sakit sebagaimana sifatnya sebagai inkarnasi dari archdeus. Ia hanya tersenyum lembut dan mengelus rambut gadis kecilnya dengan tangan kanannya.


__ADS_2