
Sementara para serkon sedang sibuk dengan tugas keseharian mereka, di tempat para petinggi kuil sedang berkumpul karena sesuatu.
Saat ini di dalam ruangan tempat bersemayamnya sosok yang menjadi pemimpin spiritual dalam Kerajaan Artchania, Sri Paduka Pontifex Eliarius Xavier Augustus, Pontifex of St. Castelius' Pontheum sedang mengadakan pertemuan beberapa orang penting salah satunya yaitu Feodora Angela Lucydire sang High Priestess of Presbhenon of Fertiphall.
Feodora datang jauh-jauh dari Fertiphile untuk memenuhi perintah dari surat yang dikirim kepadanya dari pihak pontheum.
Feodora mengetahui apa yang ingin dibahas di sini. Itu mengenai kondisi Ryana, salah satu serkon dari Fertiphile.
Sebagai pihak pertama yang mengetahui tentang kondisi Ryana, tentunya pendapat Feodora menjadi sangat dibutuhkan.
Namun apa yang tidak diketahui Feodora adalah sebuah surat yang diberikan oleh pihak Pontificia kepada mereka.
Sebelumnya akibat ketidakmampuan kuil di Kerajaan Artchania dalam mengobati Ryana, pada akhirnya pihak kuil dalam hal ini pontheum memberikan laporan kepada Pontificia atau dengan kata lain menghubungi Pontifex Maximus yang berkedudukan di Parthenon.
Cukup lama mereka menunggu balasan. Hingga akhirnya sekarang mereka menemukan sebuah harapan baru mengenai Ryana.
Alasan mengapa kuil sangat terobsesi dengan kondisi wanita itu adalah karena penyakitnya yang sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti. Itu membuat kuil yang memiliki peran sebagai lembaga keagamaan dan sekaligus sebagai lembaga penelitian memiliki ketertarikan secara akademik terhadap penyakit itu.
Namun alasan kenapa hari ini di ruangan sang pontifex cukup heboh adalah karena selain Ryana, sepertinya pihak kuil mendapat kabar yang juga tidak kalah baik.
Bersamaan dengan surat yang dikirim oleh pihak Parthenon, terdapat surat lain yang dilayangkan.
Isi surat itu adalah mengenai penyakit dari salah satu putri kerajaan.
Itu sebenarnya adalah surat yang ditujukan kepada pihak istana tetapi mau tidak mau istana harus merangkul pihak kuil terutama ini ketika pada kondisi ini pihak istana lah yang sebenarnya membutuhkan bantuan.
Kehadiran orang-orang dari pontheum diharapkan nantikan akan mempermudah segala urusan bersama pihak parthenon.
"Berdasarkan surat-surat ini, kita akan membawa Ryana ke Yizantine. Kita juga bersiap untuk membawa obat untuk Her Royal Highness Regina," ucap salah satu priest yang ada di sana.
Semua orang mendengarkan dalam diam. Pontifex yang saat ini duduk di singgasana sucinya juga ikut menyimak. Ia mengelus jenggotnya yang panjang seolah sedang berpikir.
Kemudian dia bertanya,
"Bicara mengenai masalah putri kerajaan, bukankah sebelumnya kita sudah melaporkan penyakit sang putri? Apa Parthenon sudah memberitahukan penyakit yang diderita sang putri?"
__ADS_1
"Tidak My Holiness, Parthenon sama sekali tidak mengatakan apa pun."
Priest yang membaca surat itu melaporkan kepada pontifex.
"Jadi mereka hanya memberikan obat tetapi tidak memberitahukan penyakit apa itu? Aku mengerti mengapa istana sepertinya cukup putus asa dan berusaha mendekati kita."
Pontifex bertanya dengan nada sarkas. Walaupun Pontifex Maximus adalah pemimpin bagi para pontifex tetapi bukan berarti mereka harus manut begitu saja dengan ucapan pemimpinnya. Banyak kasus dimana seorang pontifex keberatan dengan perintah dari Pontifex Maximus. Umumnya untuk mencegah penurunan paksa yang dilakukan oleh Pontifex Maximus terhadap seorang pontifex, sang pontifex yang bermasalah akan berusaha mendapat dukungan dari para rex pontifex. Rex pontifex adalah para pemimpin pontheum yang disebut sebagai kuil skismatik. Kuil skismatik memang setara dengan kuil agung tetapi mereka memiliki beberapa otoritas khusus yang bahkan tidak dapat diganggu gugat oleh Pontifex Maximus.
Pada akhirnya mereka tetap melanjutkan pembahasan walaupun cukup banyak hal yang mengecewakan dalam surat ini. Kali ini mereka memutuskan untuk menjadwalkan keberangkatan Ryana dan pengambilan obat Putri Regina.
"Sampai sekarang pihak istana sedang menunggu keputusan kita," ucap priest yang sebelumnya memberikan laporan kepada semua orang.
"Kami mempertimbangkan bahwa akses laut adalah yang paling aman untuk dilalui daripada akses darat," lanjutnya.
"Hmm ...."
Pontifex berpikir bahwa itu memang tidak buruk. Ketika mereka menggunakan jalur darat, mereka harus melewati beberapa negara dan masalahnya bukannya tidak mungkin di tengah jalan mereka sangat mungkin menghadapi masalah dimulai dari masalah perampokan hingga terjebak di tengah peperangan.
Belum lagi memikirkan barang yang mereka bawa untuk mengobati Putri Regina sudah dipastikan adalah ramuan tingkat tinggi dan sangat mungkin bahwa informasi mengenai ramuan itu telah bocor yang membuat mereka akan berada pada target seseorang atau sekelompok orang.
Kali ini Feodora bertanya dengan ragu. Sebagai orang yang berasal dari wilayah tenggara kerajaan, ia pernah mendengar bahwa di Teluk Kaltik, aksi perampokan yang dilakukan oleh bajak laut sering terjadi. Terutama ketika satu-satunya orang di kerajaan yang memiliki akses ke lautan tidak terlalu memperdulikan angkatan laut dan keamanan pantai mereka.
Selain itu, berkat wabah yang diderita di Canadia, akses transportasi terutama pelabuhan yang menjadi satu-satunya akses ke lautan tidak lagi bisa digunakan selama dua tahun terakhir.
"Untuk akses ke pelabuhan sepertinya kita harus menunggu kebijakan dari kerajaan. Bukankah sebentar lagi penguasa Canadia yang baru akan dilantik? Saya yakin dia akan kembali membuka pelabuhan yang menjadi urat nadi perekonomian negara. Bahkan jika pembukaan pelabuhannya masih terlalu lama, kita bisa menggunakan pelabuhan negara tetangga sebagai akses awal menuju laut," ucap priest itu.
"Sementara untuk menghadapi bajak laut sepertinya lebih baik daripada menghadapi bandit yang tidak terhitung jika menggunakan jalur darat. Selain itu menggunakan jalur laut juga lebih cepat dari hemat. Kita semua yang ada di sini tahu, melakukan perjalanan dari jalur darat ke Yizantine bisa memakan waktu bertahun-tahun." lanjut priest tadi.
Alasan itu cukup masuk akal. Jarak antara Laurentia Barat dan Laurentia Selatan sangat jauh. Jika menggunakan kereta kuda untuk kesana ibarat melakukan perjalanan darat dari Prancis ke India menggunakan kuda. Itu bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Jadi pada akhirnya Feodora mengangguk setuju. Kemudian setelah melihat respon positif dari Feodora, pontifex pontifex juga menyetujui saran itu karena melihat tidak ada lagi yang memberikan masukan tambahan. Dia juga menambahkan mengenai waktu keberangkatan.
"Baiklah karena kita sepakat untuk mengirim orang-orang kita melalui jalur laut, maka sekarang kita hanya perlu menunggu kapan pelabuhan Canadia kembali dibuka," ucap pontifex.
Tentunya semua pembicaraan dalam ruangan itu tertutup dan rahasia. Mereka memprioritaskan keamanan di atas segala hal.
__ADS_1
Pertemuan itu cukup lama dan tidak terasa, ketika pintu pertemuan masih tertutup rapat, para serkon yang berada di halaman kini sudah tidak ada lagi.
Mereka telah menyelesaikan tugas mereka dan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
***
Ryana dan Lacey saat ini berada di kamar mereka.
Setelah kerja bakti selesai, mereka bergegas membersihkan wajah dan tangan mereka yang kotor.
Karena dalam budaya mandi umumnya masih tabu, baik Ryana, Lacey, dan para serkon lain tidaklah membersihkan keringat mereka dengan mandi.
Beberapa orang hanya memilih mengganti pakaian mereka dan menggunakan parfum untuk mengurangi bau tidak sedap akibat keringat.
Sementara ada pula yang menaburkan bedak di tubuh mereka untuk menghilangkan keringat lengket sebelum kemudian menyemprotkan parfum di sekujur tubuh mereka.
Kali ini Ryana dan Lacey mengenakan pakaian berbeda. Ini adalah jubah pendeta yang jauh lebih formal dari sebelumnya.
Walaupun dikatakan tidak ada aktivitas keagamaan penting pada hari ini, tetapi sebagai serkon mereka harus siap sedia.
Pada kenyataannya mereka harus tetap memberikan pelayanan terhadap kuil dengan baik entah itu dalam arti menjaga kebersihannya hingga persiapan upacara keagamaan yang maksimal.
"Ah, akhirnya! Ryana ayo kita ke perpustakaan!"
Lacey dengan semangat mengajak temannya untuk pergi ke perpustakaan pontheum. Sebagai seorang serkon, mereka tetap harus menjaga kemampuan akademik mereka. Itu adalah hal yang penting jika mereka semua ingin menjadi seorang priest.
Namun temannya tidak menjawab. Ia justru meringkuk di atas kasur.
Lacey yang melihat itu menjadi khawatir dan segera mengecek keadaannya.
Lacey dengan hati-hati mengawasi temannya ini. Ia menyadari Ryana sudah kembali berkeringat dan nafasnya juga terdengar berat. Tiba-tiba Ryana mengangkat kepalanya dan mata kedua orang ini bertemu.
Lacey segera mengetahui apa yang salah dengan temannya ini.
Dia kambuh! pikir Lacey.
__ADS_1