
Alex selalu menyukai hal-hal indah dan menenangkan. Sudah sangat lama dia menginginkan ketenangan yang fana ini. Pada saat dia dalam perwujudan archdeus, Sheol (Alex) harus selalu mengawasi pergerakan semesta. Dia memang bukanlah sang Pelindung yang mengatur alam semesta per nanodetik atau sebagai sang Pencipta yang melakukan interview kepada semua roh yang ingin dilahirkan setiap saat. Namun lebih dari itu, posisinya sebagai pemilik dua dunia (Underworld dan Empty) mendorongnya untuk melakukan hal lebih.
Sheol harus dapat mengawasi kuadriliun jiwa sesat yang disiksa di Hell, menjatuhkan kiamat kepada beberapa dunia, mengawasi barrier yang membatasi antara dunia, bahkan sampai harus membantu peradaban dengan memfirmankan ilmu pengetahuan. Ini sebabnya Sheol sangat menginginkan Armagedon terjadi.
Sheol kadang jengkel dengan kedua adiknya yang masih belum bosan bermain tuhan-tuhanan. Sejak awal seluruh dunia ini diciptakan oleh salah satu adik Sheol yaitu Almadeus ketika ia merasa bosan. Kalian tahu ... itu seperti seorang anak yang menginginkan mainan, jadi dia pun menciptakan berbagai kehidupan karena kebosanannya. Siapa yang tahu, adik bungsu Sheol, yakni Grand Alive menjadi cemburu karena kakaknya memiliki mainan baru. Grand Alive pun pergi kepada Sheol sambil menangis-nangis untuk dibuatkan mainan serupa.
Sheol yang hanya tidur sepanjang waktu jelas tidak mengerti tuntutan adik bungsunya ini. Btw, Grand Alive pada masa ini masih berwujud sebagai seorang anak berambut hijau bukan seorang pertapa tua. Namun Sheol adalah orang yang sabar, walau ia jengkel, ia akan selalu merawat kedua adiknya dengan sepenuh hati. Merekalah keluarga Sheol yang tersisa, belum lagi kedua adiknya itu terlalu bergantung padanya.
Mungkin pembentukan Lingkaran Kehidupan adalah suatu kehilafan Sheol. Awalnya dia ingin kedua adiknya sedikit mandiri dan bertanggung jawab. Jadi, dia membuat sebuah permainan sederhana yakni tentang menjadikan ketiganya sebagai tuhan yang mengatur semesta dengan tugas masing-masing. Almadeus sebagai pencipta semua benda di dunia ini, Grand Alive sebagai sang pelindung, dan ketika kedua orang itu menganggap mainan ini telah rusak, mereka pun membiarkan kakak mereka, Sheol untuk menghancurkannya. Semenjak itulah Sheol disebut sebagai sang Penghancur atau sang Maut.
Namun siapa sangka, permainan tuhan-tuhanan ini justru semakin kompleks. Kedua adik Sheol yang awalnya sangat manja kepadanya kini menjadi sosok yang berbeda. Grand Alive si bungsu, memutuskan untuk merubah wujudnya dari anak yang masih bau kencur menjadi sosok pertapa tua. Almadeus yang selalu riang dan menghangatkan hati berubah menjadi sosok yandere yang suka melihat makhluk-makhluknya menderita kemudian setelah ia puas, dia akan membantu makhluknya itu.
Dan Sheol .... dia hanya bisa melongo ketika melihat banyaknya mainan rusak dari kedua adiknya ini. Dia awalnya ingin mengatakan:
[Bagaimana kalau kita istirahat dulu?]
Secara implisit Sheol mengajak kedua adiknya untuk berhenti bermain tuhan-tuhanan. Artinya, ayo beri Armagedon kepada semua makhluk hidup.
Namun kedua adiknya malah menggelengkan kepala mereka. Sepertinya kedua orang itu masih ketagihan bermain tuhan-tuhanan. Tentu saja Sheol terkejut. Ini pertama kalinya kedua adiknya menolak ucapannya. Namun seperti yang diharapkan dari Sheol yang selalu mengalah, dia lebih memilih kembali ke kediamannya.
Tentu saja istilah 'Bemain Tuhan-tuhanan' hanya diketahui oleh ketiga archdeus. Bahkan immortal tingkat tinggi seperti Ainuhrim, Zeus, Michael, dan Lucifer sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya mereka adalah mainan para Yang Kuasa. Mereka selalu menganggap para Yang Kuasa adalah sosok yang sangat bijak, perkasa, dan mulia. Para immortal selalu menduga mereka diciptakan untuk menyembah para sosok Yang Kuasa. Namun mereka tidak sadar bahwa mereka adalah mainan yang bisa dibuang oleh para archdeus kapanpun.
Bahkan immortal hanya dianggap mainan oleh para archdeus, apalagi dengan mortal. Namun tetap saja, kenapa masih ada mortal yang selalu menganggap mereka sebagai satu-satunya yang benar. Dengan perspektif mereka sendiri, seolah merekalah yang menentukan Tuhan itu ada atau tidak. Mereka menolak segala bukti keberadaan Tuhan dengan berbagai argumentasi yang mereka anggap rasional, menjadikan mereka sebagai atheis yang menganggap bahwa Tuhan adalah suatu subjektivitas atau hanya tercipta karena imajinasi masyarakat. Bukankah itu konyol?
__ADS_1
Tidak masalah jika mereka menjadi atheis karena ingin mencari kebenaran ilahi. Namun jika mereka menjadi atheis hanya karena gaya hidup atau karena menganggap bahwa ini adalah masa dimana sains adalah keberadaan yang jauh lebih dipercaya daripada kehadiran kekuatan adikodrati, atau diperparah dengan menjadikan kemanusiaan di atas ketuhanan jelas merupakan kekeliruan.
Padahal semua dunia di Univorsum memiliki satu kesamaan yakni adanya pewahyuan dari utusan-utusan langit agar semua orang menjadi beriman dan percaya tentang keberadaan tuhan (dewa-dewa administrator). Artinya pada awalnya masyakat memiliki setidaknya tiga pandangan sebelum utusan langit muncul yaitu mereka tidak tahu apa itu 'Tuhan', atau mereka tahu istilah 'Tuhan' tetapi mereka tidak mengakuinya, atau mereka menyembah sesuatu yang salah. Jika atheis adalah keberadaan yang tidak mengakui Tuhan, bukankah berarti itu sama saja dengan memunculkan pandangan kolot dalam peradaban yang telah dibangun dengan susah payah.
Walau pada kenyataannya tuhan (dewa administrator) bukanlah Tuhan (archdeus) tetapi Tuhan telah memberikan kesempatan kepada tuhan untuk menciptakan berbagai agama yang merupakan derivasi dari Teologi Triarchdeustheism. Alasan kenapa Tuhan (archdeus) tidak menurunkan Teologi Triarchdeustheism kepada mortal karena mereka (archdeus) ingin membuat ajang perlombaan antar tuhan (Dewa Administrator) dalam merekrut umat mortal dengan menciptakan berbagai agama yang berbeda. Tuhan (archdeus) akan menilai agama mana yang memiliki umat yang paling religius di antara yang lain. Jadi agama yang dipilih oleh Tuhan, maka umat dan tuhan agama tersebut akan mendapat derajat yang lebih tinggi di sisi Tuhan.
Ini memang terlihat seperti mempermainkan kehidupan makhluk banyak, tetapi apakah archdeus peduli? Tentu saja TIDAK! Semua ciptaan mereka adalah mainan yang bisa dibuang sehingga jika tidak ingin dibuang maka lebih baik ikuti aturan yang dibuat oleh para archdeus dengan patuh!
Apapun itu, dalam pandangan archdeus, mainan yang rusak tidak layak untuk dirawat.
Dari jendela, Alex bisa melihat dua sosok anak-anak sedang bermain kejar-kejaran di halaman. Wajah kedua orang itu terlihat sangat penuh kegembiraan.
Alex sedikit bimbang dengan bocah bernama Alpha. Dia melihat bocah ini tidak berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Namun ia merasa sangat aneh ketika anak semuda ini mengalami deviasi mana.
"Kecuali ...."
Alex membuat beberapa hipotesis.
Pertama, bocah bernama Alpha adalah penyihir yang berinkarnasi menjadi anak-anak tetapi masih memiliki memori dari kehidupannya terdahulu. Banyak kasus mengenai hal ini. Kebanyakan mereka yang mengalami ini adalah orang-orang yang dipilih oleh Surga atau mungkin beberapa dewa bodoh melakukan kesalahan seperti tidak sengaja membunuh orang yang salah atau sebagainya.
Kedua, Alpha adalah seorang regressor alias orang yang berasal dari masa depan. Banyak kasus dimana Surga memberikan kesempatan kepada makhluknya untuk kembali ke masa lalu dan diberi kesempatan kedua. Namun biasanya itu adalah seorang pahlwan atau orang yang nantinya akan menjadi pahlawan.
Ketiga, deviasi mana yang dialami oleh Alpha kemungkinan besar dari suatu paksaan eksternal. Alex tahu, banyak mortal yang ingin memiliki kekuatan secara instan. Biasanya mereka akan memakan obat-obatan seperti pil. Tindakan mengonsumsi obat-obatan untuk meningkatkan mana banyak dipraktikan oleh para pengguna Mazhab Oriental. Alasannya sederhana, disebabkan mereka lebih terfokus dalam meningkatkan harmoni antara alam, tubuh, dan mana, menyebabkan mereka kehilangan kemampuan mengendalikan mana secara Intelligence. Memang EQ dan SQ juga memengaruhi kemampuan seseorang dalam menggunakan mana. Namun kehadiran IQ sangat penting dalam laju perkembangan mana secara kualitas. Menciptakan teori-teori tentang metode terbaru melatih mana adalah hal penting.
__ADS_1
Semakin efektif dan efesien suatu teknik pelatihan sangatlah penting dalam meningkatkan mana secara kuantitas dan kualitas. Tentu saja, jika dibandingkan dengan Mazhab Babylonial yang sangat memuja-muja pentingnya IQ, jelas Mazhab Oriental yang terlalu konservatif jauh tertinggal secara metodologi. Selain itu, Mazhab Oriental yang mengharuskan adanya harmoni antara tiga unsur (alam, tubuh, dan mana) telah menjadi suatu yang sangat membatasi seseorang dalam berlatih mana. Akibatnya seorang bermazhab oriental yang disebut sebagai Kultivator disebut sebagai orang-orang yang terpilih dan jumlah mereka jauh lebih sedikit daripada pengguna Mazhab Babylonial.
Alex tidak bisa menemukan jawaban pasti dari penyebab deviasi mana yang dialami oleh Alpha. Namun ia tahu, cepat atau lambat deviasi mana ini akan semakin parah. Alpha mungkin tidak merasakan dampaknya saat ini karena telah diberi pengobatan sementara oleh Feodora. Namun jika pengobatan lanjutan tidak kunjung diberikan, maka potensi kematian akan semakin besar.
Alex mungkin dapat menemukan beberapa bahan dari magic plan yang mampu menyembuhkan deviasi mana. Namun pertanyaan berikutnya, apakah Alex wajib melakukan itu? Jika memang Alpha adalah orang yang nantinya sangat penting bagi dunia, maka nasibnya akan memengaruhi banyak orang. Jika keberadaan seperti Alex yang tidak terikat oleh takdir ikut campur dalam kehidupan Alpha, bukankah nantinya nasib banyak orang akan berubah? Bukankah itu berarti mengganggu harmoni dunia?
Namun Alex mungkin bisa mengabaikannya. Bagaimanapun keadaan yang membuatnya turun ke dunia fana bukanlah keinginannya tetapi keinginan Almadeus. Artinya, para archdeus harus mau memaklumi kehilafannya dalam mengganggu kehidupan.
Namun, apakah nilai Alpha sebegitu pentingnya bagi Alex sehingga ia harus melalukan itu?
"Hmm ... tapi orang yang membawanya ke sini adalah Merry sementara nasib Merry telah kuubah. Bukankah itu berarti nasib Alpha juga berubah? Sepertinya aku telah melakukan multiplier."
Sudah terlambat untuk menyesali ini. Nasib Alpha jelas telah bergeser akibat campur tangan Merry. Itu berarti karena nasib Alpha sudah bergeser, maka tidak ada alasan bagi Alex untuk tidak menolongnya.
"Bukankah bocah itu bilang dia tidak memiliki keluarga?"
Alex teringat percakapannya dengan Alpha beberapa hari yang lalu. Alpha secara jujur mengatakan bahwa dia tidak tahu keluarganya.
Tiba-tiba pikiran oportunis Alex menyala. Jika anak berpotensi seperti Alpha berada di bawah sayapnya, bukankah itu sangat menguntungkan? Jika Alex akhirnya berada pada masa-masa tua, dan jika dia telah mengadopsi Alpha sebagai anak angkatnya, bukankah ketika Alpha dewasa dia akan merawat Alex dengan sangat baik?
Apalagi ini adalah seorang laki-laki! Berbeda dengan perempuan yang semua harta pribadinya dilebur atas nama suami, keberadaan anak laki-laki sangat penting sebagai penerus patriark keluarga. Sehingga kesempatan merawat orang tuanya jauh lebih besar daripada anak perempuan yang pasti sibuk merawat anak dan suaminya.
Alex tersenyum. Jika dirawat dengan baik, mustahil Alpha tidak akan sukses. Jika Alpha telah dewasa, setidaknya dia mungkin akan menjadi seorang penyihir elit. Uangnya pasti banyak, jadi Alex tidak perlu takut untung kehilangan uang ke depannya.
__ADS_1
Alex mengeluarkan senyum bisnisnya. Dia sepertinya telah menemukan produk investasi yang lebih terjamin daripada Merry.