THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
CAMISADO(5)


__ADS_3

Di hadapan Camellia, seseorang berpakaian serba hitam muncul entah dari mana. Orang itu pendek, tidak lebih tinggi darinya.


Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia orang dari kompleks ini? pikir Camellia.


Beberapa prajurit hendak mendekat untuk menyapa orang itu tapi mereka bergegas menjauh setelah mendengar tawa misterius dari orang itu.


"Fufufufu ...."


Semua orang bertanya-tanya, kenapa orang itu tertawa. Apa ia bahagia ketika melihat para prajurit berhasil membasmi undead? Tapi itu masih diragukan.


Ada apa ini?! Mungkin itulah pertanyaan yang muncul di benak mereka. Kenapa seseorang yang entah dari mana muncul dan mengeluarkan tawa yang menyeramkan.


"Manusia ... manusia ...."


Suara orang itu sangat jelek bagai suara mesin rusak. Itu membuat bulu kuduk semua orang berdiri.


Ada yang tidak beres, pikir Camellia.


Camellia bersiap untuk hal yang di luar kendali. Dia menggenggam erat pedang dua tangan miliknya. Teman-teman se-party-nya yaitu Rionard, Joseph, dan tentunya para prajurit yang mengikutinya juga mengambil sikap siaga.


Orang berpakaian hitam itu menurunkan kerudungnya. Nampaklah kini wajahnya yang ternyata seorang gadis berambut pirang pendek. Gadis itu mengeluarkan seringai dan di kedua tangannya, terdapat pisau pemotong daging.


"Daging .... manusia ... daging!"


Merasa sesuatu yang berbahaya akan menimpa mereka, para prajurit mengambil langkah siaga. Semua mempersiapkan senjata dan mantra. Para magic caster merasa sangat gugup, begitu pula dengan ranger. Mungkin kedua role inilah yang paling baik menaksir kekuatan lawan.


"Rooooaaaarrrrr!!!"


Gadis itu mengeluarkan teriakan nyaring. Itu membuat kuping jadi sakit, tapi setidaknya para prajurit itu bisa menahannya.


"Celaka! Serang! Serang!"


Warfoy selaku pemimpin dengan cepat mengambil inisiatif setelah melihat ledakan energi dari teriakan itu. Tidak salah lagi, lawannya kali ini jauh lebih kuat dari para amygdala.


Semua warrior  maju. Para ranger dan magic caster membantu dari belakang. Gadis itu tidak panik, ia justru mengeluarkan seringai.

__ADS_1


"Apa?!"


*wusuh wushhhh.


Camellia tidak mempercayai apa yang ia lihat. Gadis itu berputar, tapi putarannya tersebut sangat cepat mungkin seperti tornado. Dan setiap ada prajurit mendekat, tubuh mereka akan tercabik akibat serangan dari pisau daging yang ia pegang.


"Aarrgghhh!"


Para warrior  yang menyerangnya berteriak kesakitan. Mereka berusaha menjauh dari serangan gadis itu. Tapi ketika gadis itu selesai berputar, kedua pisau yang ia pegang mengeluarkan hawa dan cahaya merah darah.


Camellia tidak tahu nama ataupun kemampuan senjata itu. Tapi ia tahu, itu adalah senjata yang berbahaya. Gadis itu menghilang, tapi itu bukanlah akhir, itu adalah awal dari sebuah teror berdarah.


"Aaaaaaaa!!"


Seorang prajurit baru saja tewas dengan tubuhnya yang terbelah menjadi dua. Tidak hanya dia, satu persatu prajurit juga tewas. Teriakan dan bercak darah muncul di mana-mana.


Para ranger menjadi panik, mereka tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu. Teror tersebut masih terus muncul dan akan terus menghantui hingga para prajurit telah tewas.


Dalam kepanikan itu, para magic caster yang dipimpin  Warfoy segera melempar sihir tingkat 3.


“[Lionheart]!”


“Jangan gentar! Kembali dalam formasi. Lawan kita hanya satu orang,” teriak Warfoy.


***


Alex dan Rain bergegas menuju tempat ledakan energi kegelapan itu berada. Menggunakan mantra tingkat 3, [Fly]. Alex dengan penuh rasa percaya diri berada di depan. Rain menggunakan Wind Shoes milik Alex untuk dapat terbang juga. Berbeda dengan Alex yang merasa santai, Rain penuh rasa khawatir terus mengawasi kanan-kiri-atas-bawah-depan-belakang. Alasan dia khawatir cukup dapat diterima. Ini pertama kali bagi Rain untuk dapat terbang sehingga ia takut jika menabrak sesuatu.


Namun jika Rain sudah lebih banyak pengalaman, ia nantinya akan mengetahui, alih-alih rasa takut menabrak sesuatu atau jatuh dari langit, ia seharusnya lebih mengkhawatirkan kondisi di daratan. Mereka saat ini terbang, jadi mereka kini menjadi sasaran empuk bagi penembak jitu seperti archer ataupun crossbowman. Belum lagi kemungkinan serangan dari para magic caster yang menggunakan mantra jarak jauh dan AoE.


Alasan hanya mereka berdua yang pergi cukup sederhana. Berdasarkan kesaksian Rionard, kelompok pasukan yang dipimpin oleh Warfoy sedang dibantai oleh seorang gadis dengan kekuatan menakutkan. Warfoy adalah penyihir yang mampu mengendalikan sihir tingkat enam. Apabila orang itu bisa membuat Warfoy kalah, maka dia adalah lawan yang serius. Tidak ada di kelompok pasukan Alex yang mampu menghadapinya kecuali dia sendiri. Itu sebabnya dia bergegas kesana berdasarkan petunjuk dari Rionard. Sementara anak buahnya dari kelompok yang sebelumnya ia pimpin harus kembali ke kamp untuk mengevakuasi penduduk dan mengobati orang-orang yang terluka.


Rain melihat ke depan, tepatnya ke tempat di mana pandangan Alex terfokus. Rain melihat sebintik cahaya kecil di antara perumahan itu. Ia tahu, itu bukanlah cahaya sembarangan, tapi itu adalah cahaya yang berasal dari mantra serangan.


"T-Tuan ...."

__ADS_1


"Kamu benar, kita akan ke sana," ucap Alex sambil menunjuk cahaya redup itu.


Rain menelan ludahnya. Ia harus siap untuk semua hal. Terutama mungkin dia nantinya harus bertarung. Rain merasa sekarang dia tidaklah lemah sehingga ia pasti dapat setidaknya menghadapi orang yang dapat mengancam mereka.


Mereka sampai di tempat pertarungan tadi berada. Di sana terlihat seorang gadis kecil sedang membantai para prajurit. Puluhan organ manusia tercerai berai di tanah. Darah merah kental juga telah membasahi tanah.


Rain dan Alex bersembunyi di atap salah satu rumah. Mereka merangkak layaknya sniper dan memandang momen pembantaian dari atas.


Rain melihat satu per satu prajurit tewas dengan sangat sadis.


Tunggu ... sepertinya aku pernah melihat orang itu.


Rain melihat seorang prajurit yang bersenjatakan magic sword sedang dicekik oleh sang demon. Prajurit itu adalah seorang pria, dia tewas setelah gadis itu memotongnya dengan sebilah pisau yang mengeluarkan aura berwarna merah. Lalu melempar tubuh prajurit itu di tumpukan mayat.


Rain terus memandangi kejadian itu. Ia akan bergerak hanya apabila tuannya mengatakan demikian. Namun sejak mereka datang, Alex hanya diam melihat keadaan. Sementara para prajurit itu tewas satu per satu.


Alex melihat tumpukkan mayat manusia yang telah rusak. Tubuh mereka penuh luka sobek dan organ dalam mereka berceceran ke luar.


Ohh ... bukankah itu prajurit yang berbicara dengan Tuan?


Alex melihat Joseph di antara tumpukan mayat itu atau lebih tepatnya, Joseph adalah salah satu mayat di sana. Pria itu tewas dengan mata melotot dan dengan kepala yang nyaris terbelah menjadi dua.


Tidak hanya Joseph, Rain juga mengenal satu mayat lagi. Itu adalah Warfoy, sang magic caster yang memimpin pasukan dari serikat penyihir. Warfoy tewas dengan salah satu tangannya yang telah puntung.


Sementara Rain melihat dengan tatapan ngeri dan takut, Alex mengamati keadaan dengan sangat tenang.


Mereka semua tewas dengan luka sobek dan luka tusukan. Hmm ....


Alex berpikir, apakah mungkin gadis kecil ini tidak mampu menggunakan sihir. Ia sempat berpikir bahwa gadis kecil yang membantai pasukannya adalah seorang demonoid. Demonoid adalah entitas yang mampu mengeluarkan energi kehidupan negatif setidaknya memiliki jumlah dark mana yang tidak sedikit di tubuhnya sehingga mampu menggunakan sihir, bahkan bila mereka tidak berbakat menjadi penyihir dan lebih memilih menjadi warrior, mereka masih bisa menggunakan sihir. Itu sebabnya para demonoid atau bahkan elf dapat menggunakan sihir. Mereka adalah dua jenis makhluk yang paling sering berinteraksi dengan kekuatan supranatural. Tentunya keduanya memiliki perbedaan krusial, dimana elf mendekatkan diri kepada mana alam sementara demonoid mendekatkan diri kepada dark mana. Namun terlepas dari itu, meskipun dalam ras mereka terdapat orang yang bukanlah role penyihir, tetapi hampir semua orang itu dapat menggunakan sihir. Adapun yang tidak bisa, kemungkinan akibat kutukan atau masalah lainnya.


Namun terlepas apakah gadis ini seorang demonoid atau tidak, terdapat satu variabel lain. Ada kemungkinan gadis itu hanya bermain-main. Itulah hal yang paling masuk akal menurut Alex.


Eh? Bukannya dia ...


Alex melihat satu-satunya prajurit yang masih tersisa. Alex tidak pernah melupakan wanita itu. Ia adalah orang adalah wakil ketua tim oleh anggota-anggotanya. Namun kini wanita itu terlihat tidak berdaya.

__ADS_1


"Ayo kita selamatkan dia."


Suara tuannya mengejutkan Rain. Ia berpikir bagaimana mereka berdua dapat melawan monster kecil itu. Namun pada akhirnya Rain tetap mengikuti perintah tuannya.


__ADS_2