THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
ARCHENTIOCH(4)


__ADS_3

Ryana hadir pada Upacara Kedewasaan Alex. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya ketika ia melihat Alex.


Jantungnya berdetak lebih kencang dan ia tidak dapat memalingkan pikirannya dari pria itu.


Ini belum pernah dialami oleh Ryana. Baginya, ia sering menjadi pusat perhatian semua orang tetapi ia tidak pernah mengalami fluktuasi emosi. Namun ketika ia dan Alex saling menatap, seketika pikiran Ryana menjadi kosong.


Ryana telah berumur 15 tahun. Dia sudah menjalani Upacara Kedewasaan yang diselenggarakan di Presbhenon of Fertihall.


Ia juga memakai jubah upacara yang sama seperti Alex pada masa itu. Jubah itu sangat panas dan pengap. Ia tahu itu sangat tidak nyaman. Namun ketika ia melihat Alex memakainya, ia hanya dapat termenung dalam waktu yang lama.


Sebagai seorang yang telah dewasa, tentunya ia sudah mengerti beberapa hal. Kondisi paling logis ketika ia mengalami semua itu adalah ....


Aku jatuh cinta?


Hanya itu yang mampu ia tangkap dari semua perubahan emosionalnya. Namun ia mengalami perasaan inferiotitas terhadap Alex.


Bahkan bila aku mencintainya, kami mustahil bersama.


Ryana seolah telah mendapat hidayah dalam hidupnya. Ia selama ini menderita. Ia tidak tahu kenapa tubuhnya seaneh ini. Walau ia selalu tersenyum tetapi di hatinya ia merasa terluka.


Namun ketika ia menyadari sosok Alex, ia hanya bisa merasakan gejolak hangat dalam dirinya. Seolah ia telah disucikan dari segala dosa. Ia hanya memandang pria pesolek itu tetapi ia tahu, pria itu bukanlah berasal dari dunianya.


Mustahil kami bersama, dia berada di dunia yang berbeda denganku. Diriku adalah sosok yang kotor sementara dia masih sangat murni dan suci.


Ryana tidak bisa tidak memikirkan hal kotor kepada Alex. Namun ini berbeda dari yang lain. Jika biasanya dia akan takluk pada nafsu birahinya, tetapi ketika memikirkan hal cabul itu kepada orang-orang seperti Alex, tentu saja Ryana merasa bersalah dan membenci pemikiran itu. Ia tidak mau mengotori Alex. Baginya, Alex adalah sosok bersih seperti kertas yang belum pernah tersentu oleh tinta. Itu sebabnya ia membenci otaknya yang terus meneriaki permintaan untuk berzina.


Dalam diri Ryana, ia mengkategorikan pria menjadi dua kelompok. Namun sayangnya, Alex berada pada kelompok yang paling ia segani.


Bagaimanapun Ryana hanya dapat mencintai Alex dari jauh. Alex adalah obsesi cinta tak terbalaskan baginya.


♤♤♤


Esoknya, Ryana melakukan aktivitasnya sehari-hari. Dia bangun pagi dan mulai mencuci muka dan gosok gigi.


Ia saat ini menginap di asrama yang dikelola oleh pihak Pontheum. Asrama ini lebih besar dari asrama tempat ia tinggal di County of Fertiphile. Selain itu, semua fasilitasnya lengkap.


"Hei Lacey, cepat bangun."


Ryana membangunkan sahabatnya yang sangat pemalas ini. Lacey adalah orang yang sangat malas bahkan semakin malasnya, dia bisa tidur 23 jam sehari. Jika bukan karena aktivitas sebagai calon pendeta dan kehidupan sosial, maka Lacey kemungkinan besar bisa menjadi sosok yang digadang-gadang sebagai reinkarnasi dari dosa malas.


"Hah? Sudah pagi?"


Lacey berusaha membuka matanya yang berat. Namun gravitasi kasur masih terlalu kuat untuk membuatnya terjaga.


"Hahh ...."

__ADS_1


Ryana menjadi geram dengan kebiasaan temannya. Dia lalu naik kekasur dan menendang-nendang tubuh Lacey.


"Hei-hei bangun! Cepat sarapan!"


"Uuhh ... iya-iya, bentar lagi. 5 menit lagi."


Ryana menjadi semakin kesal. Ia pun memutuskan untuk mendorong Lacey jatuh dari tempat tidur.


"Cepat bangun dan cuci wajahmu!"


Lacey hanya bisa mengembungkan pipinya dan bangkit dengan pelan. Ia mengucek-ucek matanya dan pergi turun ke lantai satu.


Asrama ini memiliki beberapa sumur galian di luar gedung. Sumur-sumur itu digunakan sebagai sumber air untuk mencuci, gosok gigi, dan cuci muka. Namun sangat jarang air digunakan untuk keramas apalagi untuk mandi.


Setelah kedua orang itu pulih dari rasa kantuk, mereka bergegas menuju kantin asrama. Seperti yang diharapkan dari asrama ibukota, makanannya sangat banyak dan mewah.


Mereka mengambil steak daging, roti tawar, salad, dan madu. Kemudian mereka duduk di tempat yang sama.


"Hei, kenapa kau makan terburu-buru?"


Lacey melihat ekspresi Ryana yang tertekan. Ia merasa bahwa temannya ini makan sangat cepat seolah sudah terlambat masuk sekolah.


"Aku harus menemui High Priestess Feodora pagi ini."


Jika itu orang lain mereka pasti bingung. Kenapa seorang discimpion bisa membuat janji untuk bertemu dengan seorang sekelas High Priest? Namun untuk Lacey, ini adalah hal bisa jika itu menyangkut Ryana.


"Ya."


Ryana hanya membalas dengan lemas. Dia merasa sangat lelah sekarang. Dia sudah sangat malu dan menderita karena penyakitnya. Ia berharap ia bisa sembuh.


♤♤♤


Feodora melihat Ryana dengan tatapan khawatir. Mata high priestess ini merah akibat ia terus menangis meratapi penderitaan muridnya yang malang.


Ryana ... seorang wanita cantik dan terlihat normal. Memiliki sikap elegan dan berkarisma. Senyumnya seperti bunga yang bermekaran dan suaranya bak musik yang menenangkan.


Namun siapa yang sangka bahwa wanita sempurna ini ternyata memiliki penyakit. Sebuah penyakit aneh yang sangat-sangat aneh. Di sepanjang hidup Feodora, ia belum pernah melihat penyakit ini.


Sebuah penyakit yang membuat penderitanya mengalami Kelaparan Seksual terus menerus.


Feodora kini hanya bisa berharap kepada sang Pemimpin Agama Hexatheisme di Kerajaan Artchania, Pontifex Eliarius.


Ryana melakukan pengobatan sehari setelah Upacara Kedewasaan Alex. Ini dilangsungkan di ruang tertutup dengan hanya 8 orang yang tahu.


Ia sudah melakukan banyak hal selama ritual di Pontheum ataupun di Presbhenon. Selama ritual di Pontheum, pontifex sudah memberinya banyak pengobatan.

__ADS_1


Mereka awalnya menduga penyakit Ryana berasal dari sihir kutukan. Mereka pun memberi banyak jenis sihir suci tetapi tidak ada tanda kutukan yang terangkat.


Kemudian mereka memberi pengobatan moderat hingga ekstrem seperti memintanya meminum air mani pria muda yang telah dimantrai sihir divine untuk menekan Kehausan Seksualnya. Namun tidak ada yang berhasil.


Namun Pontifex Eliarius tidak menyerah. Ia memberi semua perhatian dalam kasus ini. Dia tidak pernah mendengar atau melihat penyakit serupa dengan penyakit ini sebelumnya.


"Pergilah berlutut."


Eliarius meminta Ryana untuk berlutut di lantai yang telah dilukiskan sebuah lingkaran sihir raksasa yang terbuat dari goresan batu mana.


Ryana berlutut ditengah-tengah lingkaran sihir. Banyak rune yang tergambar di sana. Sebagai discimpion, dia tidak terlalu mengerti rune ini karena ini adalah rune yang sangat rumit.


Eliarius mendekati Ryana. Ia membawa pisau kecil di tangannya.


"Apa kamu bisa menahannya?"


Ryana mengangguk. Ia tahu prosedur ini. Ini adalah salah satu ritual paling ekstrem dan berbahaya dalam kepercayaannya. Namun ini memiliki manfaat yang sangat besar.


Eliarius hanya bisa tersenyum pahit melihat tekad wanita ini. Wanita yang baru dewasa ini berani melakukan Ritual Pengusir Setan Agung.


"Baiklah, kita mulai."


Semua orang gugup setelah mendengar ucapan Eliarius.


Eliarius memegang rambut Ryana dan menariknya ke belakang sehingga kening wanita itu menghadap ke atas. Kemudian dengan pisau yang telah di panaskan, Eliarius membuat lambang hexagon di kening wanita itu.


"Aaaarrrrrrggggrrrrhhhh!!!"


Ryana berteriak kesakitan. Ia ingin mendorong pisau yang mengukir kepalanya menjauh. Namun kedua tangannya terikat. Selain itu Eliarius memberinya sihir yang membuatnya tidak dapat bergerak.


Setelah selesai, Eliarius menjauh dari lingkaran dan mulai membaca mantra. Para high priest termasuk Feodora juga mengucapkan mantra yang sangat panjang.


Lingkaran sihir itu bersinar beberapa menit. Cahaya dari lingkaran itu menerangi wajah Ryana yang memerah dan memiliki luka dikeningnya yang berbentuk hexagon.


Cahaya itu bukan hanya sebagai penerang. Namun cahaya itu menyebabkan rasa yang amat perih bagi tubuh Ryana. Seolah seluruh tubuhnya penuh luka dan kemudian ia disirami air garam.


"Aaarrrrrrghhh!! SAKIT!! Tolong!!"


Ryana berteriak kesakitan. Semakin sakitnya, dia sampai terkencing dan menyebabkan jubahnya basah. Teriakan dan penderitaan itu terus berlangsung selama beberapa menit selama lingkaran sihir masih menyala.


Pontifex dan Para High Priests merasa sangat kasihan dengan wanita muda ini. Namun ia memang harus menanggung semua rasa sakit itu. Ini adalah cobaan yang diberikan ketika melaksanakan ritual pengobatan sakral ini.


Setelah cahaya lingkaran sihir itu hilang, Eliarius membuka matanya. Semua orang yang membaca mantra juga hanya bisa terkaget.


Wajah Eliarius menjadi kaku dan hanya mampu memelototi Ryana dengan terkejut.

__ADS_1


"M-Mustahil, i-ini bukan k-kutukan?!"


__ADS_2