THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
MORHUST(5)


__ADS_3

Alex dan Regis masih melanjutkan inspeksi terlepas dari semua masalah yang baru saja terjadi.


"Justin, bawa dia."


Alex memerintahkan Justin untuk membawa budak barunya ke ruangan kesehatan.


"Baik, Tuan."


Tentunya Justin tidak sendiri. Seorang budak yang baru saja mengangkat senjata dan ingin menyerang tuannya tentu sangat berbahaya. Alex tidak mau ada resiko yang timbul kepada Justin sehingga ia meminta Regis untuk meminjamkannya dua orang knight agar dapat melindungi Justin.


Regis setuju dan malah menambahkan untuk mengikat kedua tangan budak itu sebelum membawanya pergi.


Alex sebenarnya tidak terlalu peduli jika budak itu jahat. Ia tertarik kepada budak itu hanya karena satu alasan yakni bakatnya. Sama seperti kemampuannya yang tidak bisa merasakan sakit, terdapat beberapa skill lain yang Alex miliki saat ini. Tepatnya Alex memiliki 3 skills yang tidak ter-benned, yaitu:


[Eyes of Esoteric], [Soul of the Almighty], dan [Link of Species].


Melalui [Eyes of Esoteric], Alex dapat melihat bahwa Rain memiliki aura dan mana yang berlimpah di tubuhnya. Bahkan walaupun budak itu belum pernah berlatih sihir ataupun martial art, tetapi potensinya memang sangat besar.


Itu sebabnya daripada langsung membunuh budak yang potensial itu jauh lebih baik untuk mengamankannya terlebih dahulu lalu menginterviewnya dengan beberapa pertanyaan. Adapun apakah budak itu akan tetap hidup atau tidak, itu tergantung dari jawabannya sendiri. Setidaknya Alex telah memberinya kesempatan untuk membuat dalil.


***


Di sekitar mulut tambang terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai asrama, gudang, dan kantor yang digunakan oleh seluruh tenaga kerja tambang.


Di salah satu kamar di asrama, Rain berbaring di ranjang tunggal sambil menatap langit-langit. Setelah lukanya diobati, ia kemudian diberikan kamar pribadi. Walau ia terlihat santai, tetapi kedua dan kakinya tangannya terikat.


Di tambang terdapat seorang alchemist yang bekerja sebagai dokter. Ia menyembuhkan para pekerja di tambang dengan membuat obat-obatan. Biasanya pasiennya adalah para penjaga atau karyawan tambang. Adapun budak hanya akan diobati ketika penyakit mereka sudah sangat krisis.


Rain kaget dengan semua pelayanan diberikan oleh orang-orang ini. Sebelumnya dia hanya akan tidur berdesak-desakan dengan budak lain di dalam gudang. Namun kenapa dia kini mendapat kamar pribadi?


Dia meragukan semua kenyamanan yang dia dapat karena mencoba menyerang Regis. Itu jelas mustahil.


Apa aku sudah berpindah tuan?


Rain mengingat semua percakapan di tambang. Ia sangat ingat ketika seorang pria tinggi dan tuannya sedang mendiskusikan dirinya. Pria itu ingin membelinya. Bukankah berarti sekarang dia bebas dari tambang ini?


Rain bingung apakah dia harus bersyukur atau khawatir. Dia senang dapat pergi dari tempat sialan ini tetapi dia takut masa depan apa yang akan ia alami dengan tuan barunya ini.


Berbagai simulasi terbayang di kepala Rain. Dia tidak tahu seberapa lama dia bertahan di kehidupan yang berat ini. Ketika ia masih termenung, pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pria dengan ditemani dua knight masuk ke kamarnya. Pria itu berambut silver dan 3 cm lebih tinggi darinya. Pria itu dan dua knight adalah orang yang membawanya ke ruang kesehatan. Pria berambut silver itu memancarkan ekspresi acuh tak acuh.


"Ikuti aku."


Justin menatap budak baru tuannya dengan perasaan benci dan hina. Bagaimana tidak, ia melihat dengan kepalanya sendiri ketika bajingan ini mengarahkan pedang kepada tuannya. Pada saat itu Justin berada di barisan belakang sehingga ia tidak sempat memblokir serangan. Jika bukan karena Tuan Muda Regis, maka tuannya mungkin ....

__ADS_1


Memikirkan kejadian buruk itu, Justin menggeretakkan giginya. Bahkan Justin yang sangat pandai menahan emosinya menjadi sangat marah ketika ia melihat bajingan itu malah diselamatkan oleh tuannya.


Dia menyerangmu, tuanku. Kenapa Anda ingin menyelamatkannya?


Justin mengutuk budak kurang ajar ini berkali-kali dalam benaknya. Ia ingin menghajarnya dan mengkulitinya hidup-hidup tetapi ia tidak ingin melanggar perintah tuannya.


Agar Rain dapat berjalan, salah satu knight melepas ikatan kakinya tetapi ikatan untuk tangannya masih tetap terikat.


Justin memimpin jalan diikuti oleh Rain dan kedua knight di belakang. Tentu saja Justin tidak takut diserang. Walau ia tidak memiliki role dan class, tetapi ia pernah mendapat pelatihan bela diri. Bagi pelayan Rumah Fertiphile diwajibkan untuk mendapat pelatihan martial art dasar.


Justin mendapat perintah untuk membawa budak itu menemui Alex. Adapun tuannya saat ini sedang duduk malas di sofa yang berada di kamar. Setelah mendengar ketukan pintu, Alex mengizinkan mereka masuk.


"Tuan Muda."


Justin memberi hormat kemudian disusul oleh kedua knight. Kemudian kedua knight menekan bahu Rain untuk membuatnya berlutut.


"Hmm ...."


Alex hanya menatap dalam diam semua sanjungan yang ia terima. Kemudian dia memfokuskan pengelihatannya kepada budak barunya.


Hmm ... memang sangat pontensial!


Aura yang belum pernah terasah di tubuh Rain memancar dengan ganas seperti gelombang laut dan aliran mana ditubuhnya sangat padat dan teratur.


Alex tahu bahwa loyalitas akan muncul dengan sendirinya jika kedua pihak memiliki rasa saling percaya, menghormati, dan menguntungkan. Terlebih dahulu ia harus mengenal karakter budak ini dan apa yang ia inginkan.


"Sebutkan namamu."


Untuk memberi kesan terhormat, Alex memberikan nada acuh tak acuh kepada Rain.


Efek itu berhasil. Rain sesaat teringat suara dingin yang ia dengar sebelumnya ditambang. Ia tidak bisa tidak gugup.


"N-nama hamba Scrips, Tuanku."


"Apa itu nama budakmu? Apa kamu memiliki nama asli?"


Rain masih menjawab tanpa tahu arah pembicaraan. Namun ia tersadar ini pertama kalinya ia mendengar seorang tuan bertanya tentang nama aslinya.


"Nama hamba yang rendah ini adalah Rain Kyle, Tuanku."


"Kenapa kamu menyerang kami?"


Rain tidak menjawab. Lebih tepatnya dia tidak tahu ingin menjawab apa. Dia menyerang karena ingin membunuh mereka. Namun kenapa dia ingin membunuh? Tentu saja karena ia membenci mereka. Ia benci orang-orang yang memaksa dan memperbudaknya untuk bekerja di tempat sialan ini. Namun ia tidak mungkin mengatakan semua ini kepada Alex.

__ADS_1


"Hamba saat itu tersulut emosi, Tuanku. Hamba bersalah dan berdosa telah menyerang Tuanku."


Alex tentu saja tidak mempercayainya. Dia sudah mendapat laporan bahwa budak ini menyerang seorang penjaga dan mengambil pedangnya sebelum akhirnya berlari ke tempatnya dan Regis seperti orang gila. Ada kemungkinan budak ini memiliki dendam kepada Regis.


"Apa kamu membenci tuanmu sebelumnya?"


"Tuanku ...."


Rain bingung untuk menjawab apa. Dia hanya dapat menundukkan pandangannya ke bawah. Takut melihat orang yang bertanya padanya. Ia takut pernyataannya akan membuatnya kehilangan kepala. Jauh lebih baik untuk diam walau ia tahu konsekuensinya pasti sangat parah.


Alex bisa merasakan ketakutan dari budak ini. Tentu saja sejak kapan pencuri mengakui dirinya sebagai seorang pencuri? Alex merasa bahwa sudah cukup untuk memberi kesan mendominasi. Mungkin saatnya menjadi lembut seperti bagaimana ia menghibur Merry.


"Hah ... jangan takut. Aku tidak tahu apa alasanmu membenci mantan tuanmu. Aku pastikan aku tidak akan seperti dia. Namun aku tetap berharap kamu dapat memberitahuku alasan ketidaksenanganmu padanya."


Rain dapat merasakan bahwa suara itu sedikit lebih rendah dan kurang memancarkan perasaan dominasi seperti sebelumnya. Secara refleks Rain mengangkat kepalanya untuk melihat tuan barunya.


"Hamba ...."


Rain menelan ludahnya. Walau ia merasa kalau tuannya ini sepertinya cukup stabil, ia tetap takut untuk menjawab dengan jujur.


"Hah ...."


Mendengar ******* lelah tuannya, Rain merasa merinding. Ia menduga tuannya telah berada pada batas kesabarannya. Ia segera menjawab dengan cepat.


"Hamba tidak mendapat makanan di tempat ini, Tuanku. Hamba kurang tidur dan hamba bekerja tanpa henti."


Dalam sekali napas Rain sudah memberi semua keluhannya. Ia merasa lebih lega tetapi masih khwatir dengan respon pihak lain.


"Begitukah? Jika aku tidak memperlakukanmu seperti itu apakah kamu akan tetap menyerangku nantinya?"


"Hamba tidak berani, Tuanku."


Tentu saja bagi Rain jika ia mempunyai kesempatan atau kesabarannya telah habis, ia mungkin akan membunuh tuannya. Ia tidak peduli, ia tidak memiliki loyalitas pada semua tuan brengseknya ini. Ia hanya ingin bebas, ia tidak ingin bekerja sebagai kuda lagi.


Alex tentu saja tidak menyadari niatan budak itu. Jadi hanya mengangguk.


"Baiklah, aku dapat menjamin bahwa aku akan merawatmu lebih manusiawi daripada tuanmu sebelumnya. Namun aku bukanlah orang yang berasal dari tempat ini. Saat ini aku tinggal di rumah mantan tuanmu. Aku harap kamu dapat menyimpan kebencianmu padanya dan tidak melakukan tindakan implusif. Aku hanya mengingatkan, aku telah menyelamatkanmu sebelumnya tetapi aku tidak dapat melakukannya untuk kedua kali."


Rain mendengar semua perkataan tuannya. Ia tersadar memang benar jika orang ini tidak menghentikan semua kekacauan itu, ia pasti telah terbunuh dengan pedang yang tertancap di dadanya. Semakin Rain memikirkannya semakin ia merasa bahwa perkataan orang ini memang masuk akal. Ia juga tidak ingin menimbulkan masalah lagi. Ia masih menghargai hidupnya di atas dendam yang ia miliki. Ia dapat merasakan bahwa posisi mantan tuannya dan tuan barunya ini sangat jauh di atasnya. Terlalu beresiko untuk menghunus pedang kepada mereka saat ini.


"Baik Tuanku. Hamba mendengar dan melaksanakan semua perintah dari keagunganmu."


"Bagus, sekarang kamu bisa pergi," ucap Alex.

__ADS_1


__ADS_2