THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
THE SLAVE GIRL(1)


__ADS_3

Seorang prajurit melangkah maju dan menendang gadis budak yang telah berlutut. Budak itu terhempas ke tanah dan memeluk perutnya yang tertendang. Dia sama sekali tidak mengeluarkan rintihan tetapi tubuhnya bergetar menunjukkan kesakitan yang ia terima.


"Dasar Budak kotor! Beraninya kau mengganggu Tuan Muda."


Tidak ... tidak ... dia tidak menganggu. Aku cuma kaget kalian masih membawa spons kotor itu, pikir Alex.


"Apa kau tahu?! Tuan Muda adalah seorang bangsawan agung! Beraninya budak sepertimu merusak barang dari keagungannya."


Tidak ... tidak apa-apa. Toh dia sudah diomeli kan? Kenapa kau menendangnya tanpa minta izin dariku? pikir Alex.


Prajurit itu kemudian melangkah maju dan hendak menginjak-injak gadis budak itu. Dia sebenarnya tidak terlalu menganggap tindakan yang dilakukan budak ini cukup berat hingga harus dipukuli sampai mati. Awalnya dia tahu bahwa budak itu adalah properti seseorang sehingga merusak budak yang bukan miliknya akan menjadi tindakan merusak properti orang dan dapat mengarahkannya pada penuntutan di pengadilan. Namun setelah mendengar keluhan tuan muda, dia tentu menganggap ini kesempatan untuk mencari muka. Walaupun tuan muda ini bukanlah tuan muda yang digadang-gadang sebagai ahli waris, tetapi dia tetap seorang bangsawan tinggi. Jadi bahkan jika budak ini adalah milik bangsawan, dia tidak akan terkena getahnya jika tuan muda berada dipihaknya.


Alex ingin menghentikan orang ambisus ini. Dia tahu orang ini hanya ingin memeluk paha emas (ngejilat orang). Namun tindakannya yang tiba-tiba jelas mengejutkan Alex, dia tidak bisa tiba-tiba datang ke prajurit itu dan meneriakinya di depan umum. Itu akan menyebabkan orang yang ambisius ini kehilangan muka dan nantinya akan mengkhianatinya. Bagaimanapun Alex adalah orang yang menghargai seseorang yang memiliki ambisi.


"Hentikan!"


Alex menangkap gambaran seorang wanita berambut coklat berlari ke arah budak itu. Dia memeluk budak yang telah tidak berdaya itu dan dengan mata berlinang air mata, dia meneriaki prajurit.


"Apa kau seorang pria?! Apa kau begitu tega menganiaya seorang gadis lemah?!"


Gadis itu marah. Dia Memberi mata tajam kepada prajurit ambisius itu. Prajurit itu jelas tidak mundur dan meneriaki balik orang itu.


"Diam! Minggir kau bocah!"


Gadis berambut coklat itu tidak mundur. Sebaliknya, dia memberi tatapan menantang kepada prajurit itu. Adapun prajurit itu merasa ragu. Dia melihat bahwa gadis ini adalah orang yang merdeka (Warga Sipil) dan terlihat berasal dari kelas sosial menengah. Dia diam-diam melirik tuannya yang hanya melihat situasi dengan tatapan malas. Sepertinya tuannya tidak menganggap kejadian ini penting dan gadis yang baru bergabung ini juga terlihat tidak mengancam posisi tuan muda. Maka prajurit itu pun lebih berani dan mulai mengangkat pedangnya.


"Kyaa!!"


"Awas!"


Para penonton menjadi panik ketika mereka melihat pedang yang telah lepas dari sarungnya. Walau kejadian seperti ini sering terjadi, tetapi pembunuhan bukan hal biasa!


"Berhenti!"


Suara halus terdengar dari jauh.


"Ryana!"


Gadis berambut coklat yang masih memeluk gadis budak berteriak putus asa kepada temannya. Ryana yang memiliki pakaian putih dengan rambut pirang berjalan dengan anggun ke pusat kejadian. Dia pun berdiri berhadap-hadapan dengan prajurit itu dengan berani dan tanpa kegugupan, dia memperingati prajurit itu.


"Tuan Prajurit, mohon turunkan kembali pedang Anda. Jangan membuat tempat ini penuh dengan lautan darah."


"Beraninya kau menyuruhku! Siapa kau?!" teriak prajurit.


Ryana kemudian menggepalkan tangan kirinya dan meletakannya di dada kanannya. Kemudian tangan kirinya melukis udara seperti menggambar hexagon.


"Salam Prajurit terhomat. Perkenalkan, saya adalah Ryana Lanceia Rayself, seorang discimpion dari Sekolah Teologia Fertihall."

__ADS_1


"Rohaniawati!"


Para pejalan kaki yang menonton kejadian ini terkejut. Jika noble adalah golongan yang memiliki otoritas di daerah, maka rohaniawan adalah kaum yang mampu melakukan impeachment pada bangsawan yang semena-mena atas nama tuhan. Ini jelas sangat menarik ketika melihat dua kekuatan besar di puncak sosial saling berbenturan.


Prajurit itu akhirnya membeku. Dia tidak bisa lagi melakukan improvisasi. Sebodoh-bodohnya dia dalam pelajaran sosiologi, tetapi dia tahu bahwa para rohaniawan bukanlah golongan biasa yang bahkan sangat disegani bangsawan.


"Cukup."


Alex kemudian mengambil alih. Dia awalnya hanya mengamati untuk melihat bagaimana prajurit itu menggunakan otaknya. Jika dia cukup naif untuk tetap ngotot memukul budak itu bahkan ketika seorang calon pendeta mengungkapkan identitasnya, maka orang itu tidak pantas dipertahankan. Namun melihat bagaimana akhirnya prajurit itu perlahan mundur dan tidak secara terang-terangan mengungkapkan inferioritasnya demi mempertahankan wajahnya dan tuannya, tidak mungkin Alex tidak senang. Prajurit itu adalah seseorang yang cukup berguna. Alex akan menandainya sebagai salah satu prajurit yang akan selalu ia bawa. Adapun untuk improvisasinya yang tiba-tiba, Alex akan menegurnya. Soal seberapa intim kepercayaannya, itu tergantung bagaimana prajurit itu mengambil hatinya.


Alex dengan didampingi Justin berjalan mendekati Ryana. Kemudian Alex memberikan senyum cerah dan melakukan sapaan kebangsawanan.


"Senang bertemu denganmu Nona Rayself. Saya adalah Alexander Ivanov Fertiphile, anak tertua dari Count of Fertiphile."


Lacey yang masih memeluk budak kesakitan itu tersentak. Dia sudah mendengar desas desus bahwa anak tertua count adalah sampah. Ia awalnya tidak mau suudzon sebelum melihatnya secara langsung. Namun setelah ia melihat bagaimana ia meng-handle bawahannya yang agresif ini, Lacey dan para hadirin yang mendengar hanya bisa menyetujui kabar burung yang beredar.


Lacey mengangkat pandangannya ke arah Ryana akibat ia sama sekali tidak mendengar balasan dari temannya ini. Lacey terkejut melihat Ryana yang tiba-tiba memucat, pupil matanya membesar dan ia terlihat berkeringat.


Sial! Dia kambuh.


"Ryana!" Lacey berteriak untuk kembali menyadarkan temannya.


Ryana tersentak dan kembali kekesadarannya. Dia kemudian menundukkan kepalanya.


"Suatu kehormatan bagi hamba untuk bertemu dengan Tuan Muda Tertua dari Keluarga Fertiphile."


Ryana agak ragu untuk melihat Alex, tetapi secara perlahan masih mengangkat kepalanya.


Tentu saja kedua wanita ini tahu apa yang dimaksud oleh Alex. Bagaimanapun kedua murid wanita ini bukanlah tuan dari sang budak sehingga intervensi keduanya dianggap sebagai kekerasan dan mengganggu properti yang disengketakan.


"Tuan Muda, saya mengerti Anda marah karena tindakan kami yang sepihak ini. Namun bagaimanapun tuan dari budak ini masih belum terlihat. Saya harap Tuan Muda dapat memaklumi keegoisan kami dengan melindungi propertinya."


"Apa Anda adalah ahli waris untuk properti ini?" ucap Alex sambil menunjuk budak itu.


Ryana membeku. Dia memang bukan ahli waris bahkan mengenal tuan budak ini saja tidak pernah. Namun dia tidak boleh kalah dalam argumennya.


"Bukan itu masalahnya Tuan Muda. Anda seharusnya mempertimbangkan keselamatan budak ini. Dia masihlah manusia yang harus dilindungi."


"Negara tidak pernah memandang budak sebagai subjek hukum. Undang-undang menyatakan budak dan hewan ternak adalah objek hukum."


Tentu saja Sheol sebagai archdeus tidak pernah menyetujui peraturan konyol ini yang sangat mendeskriminasi makhluk hidup. Namun untuk kali ini, dia akan memanfaatkan ketidakadilan yang ada hanya untuk memberikan keadilan.


Melihat Ryana yang tidak dapat membalas argumennya, Alex dengan murah hati memberikan solusi.


"Aku bukanlah orang yang semena-mena tetapi tindakan budak ini telah merusak propertiku (xylospongium) dan tentu saja tanggung jawab atas kerusakan itu dialihkan kepada tuan dari budak ini. Aku ingin tuannya menemuiku di White Tulip Cafe. Apa Anda keberatan untuk menjadi mediator?"


"Tidak Tuan Muda, saya senang dengan kebijaksanaan Anda."

__ADS_1


"Kalian berdua, jaga budak itu."


Alex menunjuk dua pengawalnya, salah satunya adalah si pengawal ambisius. Kemudian Alex pun pergi diikuti Justin ke kafe yang terletak agak jauh dari lokasi mereka berada. Para penonton yang mengerumuni mereka perlahan terbelah untuk memberikan gerombolan itu jalan. Melihat bahwa keadaan sudah tenang dan tidak adal hal menarik lagi, para penonton bubar satu per satu.


Melihat kepergian dua orang itu dan diikuti oleh dua pelayan dan dua prajurit, Ryana kemudian mengalihkan perhatiannya kepada gadis budak yang masih berada dipelukan Lacey. Tidak seperti sebelumnya, napas gadis itu telah kembali stabil dan ia juga telah sadar.


"Aku sudah memberinya [Simple Cure] selagi kalian mengobrol,"ucap Lacey.


[Simple Cure] adalah mentra tingkat 1 dan terendah dalam rumpun mantra penyembuh tipe divine. Mantra ini tidak dapat menyembuhkan secara instan, tetapi setidaknya dapat mengurangi rasa sakit untuk sementara dan jika gunakan terus-menerus akan mempercepat proses penyembuhan luka.


"Hei apa kamu tidak apa-apa?"


Ryana bertanya pada budak itu dengan senyum lembut. Budak itu malu-malu sebelum menganggukan kepalanya. Dia sebenarnya terbiasa untuk dipukuli atau ditendang oleh tuannya sehingga jika ditanya baik-baik saja, maka ia hanya akan menjawab iya karena pada dasarnya dia tahu akan segera sembuh.


Ryana kemudian menepuk pelan kepala budak itu sebelum ia kembali bertanya.


"Siapa namamu?"


Budak itu malu-malu dan enggan pada awalnya. Dia sangat tidak menyukai namanya. Sebagai seorang budak, secara otomatis mereka akan memiliki dua identitas. pertama adalah identitasnya sebagai dirinya; kedua adalah identitasnya sebagai budak. Jika seorang budak ditanya tentang namanya maka dia harus memberikan nama panggilannya (identitas budak) yang diberikan tuannya padanya bukan identitas dirinya.


Tentu saja Ryana dan Lacey tidak tahu itu karena mereka tidak pernah berinteraksi dengan budak sebelumnya.


"B*tch." Jawab budak itu dengan suara pelan.


Ryana dan Lacey hanya bisa saling memandang dan berpikir, Apa orangtua bocah ini sehat?


Kedua prajurit itu tidak mendengar tetapi dapat membaca gerakan bibir budak itu. Mereka terbatuk dan yakin alasan utama dari budak ini bukanlah untuk pekerjaan tetapi sesuatu yang lebih energik. Merasa mereka telah membuang terlalu banyak waktu, salah satu prajurit berkata dengan sopan.


"Kita sudah terlalu lama, tuan muda sudah lama menunggu."


Ryana menyadari itu dan mengangguk. Dia kemudian dengan perlahan bertanya.


"Dimana tuanmu?"


Budak itu menggigil. Dia tidak berani membayangkan bagaimana tuannya akan merespon kejadian ini.


Merasakan ketakutan budak ini, Ryana hanya tersenyum pahit dan berkata;


"Tenang kakak akan melindungimu."


"Kakak juga akan melindungimu. Jangan khawatir," ucap Lacey.


Budak itu akhirnya dengan enggan mengangguk. Namun karena ia masih kesakitan dan kesulitan berdiri, Lacey menggendongnya di punggung. Sambil berjalan, dia pun bertanya pada Ryana dengan berbisik di telinganya.


"Kenapa kamu kambuh? Bukannya ini baru tiga hari?"


Ryana menggelengkan kepalanya dan balas berbisik di telinga Lacey.

__ADS_1


"Ini bukan kambuh, aku merasa terpesona."


Ryana, Lacey, budak, dan dua prajurit yang ditugaskan untuk mengawasi mereka pun pergi ke tempat tuan dari b*tch!


__ADS_2