
Alex melihat dengan yakin.
Tidak salah lagi ... dia memilikinya!
Sebelumnya Alex ragu akan pemikirannya itu. Namun perlahan ia merasa sangat yakin.
Equipment yang ia gunakan. Tidak hanya pisau, bahkan bajunya juga dialiri oleh dark mana
Berbeda dengan magic item yang hanya dialiri oleh kekuatan mana, sebuah item yang dialiri oleh dark mana memiliki efek yang begitu mengerikan. Terutama apabila item itu digunakan kepada lawan yang memiliki energi kehidupan berbeda, sebagai contoh adalah pedang suci yang dialiri divine force akan memiliki efek destruksi yang lebih kuat apabila yang ia lawan adalah demon atau undead. Sebaliknya, serangan dari dark mana memiliki efek destruktif yang lebih kuat apabila lawannya adalah makhluk hidup.
Alex sangat tahu, membuat senjata yang mengandung divine force dan dark mana itu sangat sulit. Setidaknya perajin yang membuat item jenis itu adalah seorang craftsman yang memiliki kemampuan yang setara dengan lesser gods. Ia ingat ketika Alex adalah archdeus yang melihat seluruh dunia, ia melihat seorang mortal yang telah berada pada fase demigod bernama Thorin. Thorin adalah craftsman terbaik dari semua demigod yang pernah ia lihat ketika Midgard berada pada Yggdrasil Era. Dia sangat tahu bahwa title Thorin bukan kaleng-kaleng. Thorin menyandang title The Supreme God of Ace Craftsman. Itu adalah title yang bahkan mampu membuat item sekelas Divine Class Item terbaik. Namun tentu saja jika tidak menghitung Title Dimensioner-nya yang mampu membuat item sihir dengan kelas apa pun secara bebas dan juga mengecualikan title The God of Unlife miliknya yang mampu membuat item terkutuk dengan kelas apa pun, kemampuan Sheol atau Alex adalah yang terkuat bahkan di kalangan para archdeus sekalipun.
Seharusnya item yang memiliki dark mana adalah item buatan demon atau para mage yang menggunakan dark mana. Tapi siapa dari kalangan makhluk di dunia ini yang bisa membuat item terkutuk itu? Hmm ... walaupun tidak sampai divine class item, tetap saja itu mengkhawatirkan.
Alex harus melupakan itu sesaat. Ia sekarang hanya harus fokus bertarung. Alex mengubah pola serangannya. Kali ini, dialah yang akan menjadi agresif.
"[Inferno Blanket]!"
Kedua lengan Alex diselimuti oleh api yang membara. Dengan mantra tingkat 6 ini, dia ingin mencoba seberapa kuatnya equipment musuh.
Alex berlari menuju Sylv. Dia mengarahkan tinju api kepada demon itu. Tapi Sylv dengan mudah mampu menepisnya. Sylv membuat serangan balik. Dia menghunus pisaunya. Alex menahan pisau itu dengan menggenggamnya menggunakan tangan.
"Apa?!"
Alex terkejut. Tangannya terluka ketika menggenggam pisau itu. Seharusnya dengan mantra [Inferno Blanket], tubuh Alex yang diselimuti api memiliki perlindungan yang kuat untuk menahan segala jenis serangan.
Alex pun menjauh. Dia harus menyusun ulang penilaiannya terhadap senjata Sylv. Senjata itu cukup kuat sehingga mampu melukainya.
"Fufufufu ... ada apa? Kamu terkejut? Hmmm ... ehh ... apa ini?"
Sylv memandang pisau yang ia gunakan untuk melukai Alex. Pisau itu mengeluarkan aura merah yang lebih terang dari sebelumnya. Tidak hanya itu, kini aura merah itu perlahan semakin terasa seperti warna darah.
"Rasa ini ... ini ... apa ini?! Kekuatan ini?! Darahmu! Haaaaahhh ... ini, aku ingin lagi!"
Sylv menikmati kekuatan yang muncul dari pisaunya. Ia tertawa seperti orang gila karena betul-betul bahagia.
Sial! Ternyata begitu. Pisau itu akan semakin kuat ketika menyerap darah dan bahkan meningkatkan kekuatan pemegangnya.
Alex kini tahu kekuatan senjata itu. Ia pun akhirnya tahu kenapa pisau itu sebelumnya terlihat sangat aneh.
"Sial!"
Alex mendecakkan lidah. Pisau itu telah melukainya artinya pisau itu pula telah mencicipi darah Alex, darah seorang Dewa Agung. Walaupun ini bukanlah wujud dewanya, tetap saja sebagian kecil kekuatan dewa yang Alex miliki masih mengalir di tubuh manusianya. Ini berbahaya! Jika ia tidak menghancurkan senjata itu, maka senjata itu akan menjadi senjata terkutuk terkuat di dunia. Apabila itu terjadi, keseimbangan akan hancur dan membuat Heaven harus kembali memunculkan hero atau saint. Alex pun akan menjadi terdakwa atas kasus penghancuran keseimbangan itu dan ia pun akan didesak oleh God Emperor dan Grand Alive untuk angkat kaki dari dunia mortal dan kembali ke Underworld.
Mata Sylv mengeluarkan sinar merah darah. Tubuhnya juga mulai mengalami perubahan. Urat-urat yang ia miliki menonjol keluar dan berubah warna menjadi merah seperti aliran lava. Tubuhnya membengkak. Ia tumbuh ... 2 meter- tidak, tapi lebih dari 3 meter. Wajahnya yang awalnya seperti gadis muda kini betul-betul berubah menjadi monster.
__ADS_1
"Rooaaarrrrr!!!"
Sylv mengeluarkan raungan luar biasa kuat. Raungan itu bahkan mampu membuat manusia biasa meninggal jika berada dalam jangkauan efeknya.
"Kekuatan!!! Aku menginginkanmu! Aku ingin darahmu!"
Sylv tidak tahu siapa sebenarnya pria yang ia lawan. Ia belum pernah mendapat kekuatan sebesar ini sebelumnya.
Energi ini ... kekuatan ini, bahkan darah dari demon tidak sekuat ini. Tidak- bahkan rasanya pun berbeda. Darahnya manis ... fufufufufu ... aku ingin lagi!!
Sylv kembali meraung, otot-otot kakinya yang sudah sangat besar seperti tiang listrik membengkak. Sylv melompat ke atas. Dia pun meluncur mengarahkan tinju raksasanya kepada Alex.
"Oh ... sial?!"
Dari langit malam yang gelap, Sylv meluncur ke bawah dengan kecepatan luar biasa dan mengarahkan tinjunya ke arah Raizel.
*Punkk!!
Tinju dari monster seukuran 3 meter yang bernama Sylv itu sangat kuat. Bahkan sampai menimbulkan cekungan yang amat dalam di tanah dan Alex berada di tengah cekungan itu.
Alex masih berdiri, tapi ia menyilangkan kedua tangannya ke atas demi dapat menahan tinju Sylv.
"Hiya!!"
Duel jarak dekat kembali terjadi. Sylv terus menyerang menggunakan kedua pisau yang mengeluarkan aura merah. Dia menyayat ke segala arah. Alex yang merasa tidak memungkinkan bertarung dengan jarak jauh segera mengalirkan lebih banyak aura-nya di bilah pedangnya. Benturan antara senjata tajam tak terelakan. Mereka saling menyerang, saling menghunus, saling menusuk dengan sangat hebat. Alex terpukul mundur akibat kekuatan fisik dari Sylv yang amat besar.
"Hahahahahaha ... kau milikku!"
"Jangan harap! Hiaa!!"
Mereka terus mengadu serangan. Karena pisau Sylv lebih pendek, ia lebih sering terkena tebasan Raizel. Namun setiap lukanya sembuh seolah itu tidak ada apa-apa. Belum lagi tubuh besar dan energi yang gila pula, hal itu menguntungkan Sylv. Alex adalah orang yang sangat pandai menggunakan pedang tetapi lawannya ini memang tergolong susah apalagi Sylv sama sekali tidak memedulikan pertahanan dan terus menyerang secara membabi buta.
Hingga …
*break!
Magic Sword milik Alex patah. Senjata itu adalah high class item yang diberikan Harol kepadanya. Rusaknya senjata Alex menunjukkan seberapa kuatnya lawannya kali ini.
Hancurnya senjata Alex menyebabkan dampak yang sangat fatal.
Slash!
Sylv berhasil memberikan tebasan di tubuh Alex. Akibat aura Alex yang terkonsentrasi di pedangnya, tubuhnya menjadi kekurangan aura untuk membuat perlindungan. Magic Armor yang melindungi Alex hancur begitu saja.
Slash!
__ADS_1
Tebasan lain pun berdatangan. Seluruh Alex mulai tersayat oleh sayatan pisau Sylv.
Setiap luka dari Alex menyebabkan orang itu semakin kuat.
Sylv tertawa sangat kencang. Ia lalu menendang perut Alex yang sudah sempoyongan.
Alex terjatuh ke tanah dengan armor-nya sudah tidak lagi utuh.
Walaupun Alex tidak dapat merasakan sakit, tetapi tubuhnya goyah akibat pendarahan.
“Ada apa? Mengapa kamu tidak lagi sombong.”
Sylv bertanya sambil memberikan hinaan. Ia mendekati Alex dan dengan penuh rasa percaya diri memberikan senyum yang penuh akan hawa kematian.
“Sial!” ucap Alex.
Sekarang kondisi Alex sangat buruk. Ia telah memuntahkan darah. Tubuhnya terutama lengan dan perutnya terlihat berada pada kondisi terburuk.
“Jangan khawatir, aku tidak akan segera membunuhmu.”
Sylv dengan kekuatannya yang sangat besar menginjak salah satu kaki Alex. Ia dapat mendengar suara tulang patah.
“Ada apa ini, bahkan ketika kakimu patah, kamu tidak berteriak?” tanya Sylv.
Alex tidak menjawab tetapi ia terus menggeram kesal. Terutama ketika ia, sang archdeus berada pada kondisi seperti ini. Sayangnya sekarang ia hanya bisa mengeluarkan sihir tingkat 6 dan pengendalian aura-nya pun terlihat tidak dapat mengalahkan lawan di depannya.
“Sepertinya aku harus menghancurkan kesombonganmu itu,” ucap Sylv.
Sylv menginjak tangan Alex. Ia kemudian menendang Alex layaknya seperti menendang bola.
Alex terus terhempas. Tubuhnya semakin lemah. Pandangannya pun sudah semakin tidak jelas.
Sylv yang mulai merasa bosan segera mencengkram leher Alex dan mengangkatnya. Bahkan ketika tubuh Alex yang setinggi 1,86 cm terlihat kecil di hadapan tubuh monster setinggi 3 meter.
“Aku penasaran bagaimana kamu memiliki darah yang sangat nikmat. Namun sayangnya aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. Maka sekarang matilah!”
*Craack!
Suara guntur tiba-tiba terdengar. Tak lama, angin kencang yang membawa nuansa yang membuat bulu merinding dapat dirasakan.
Kumpulan awan hitam dan padat dengan hiasan petir yang menyambar dapat terlihat di langit-langit malam yang gelap.
Sylv melihat langit yang tiba-tiba berubah.
Sebelum akhirnya ia melihat dengan matanya sendiri, langit malam telah terbelah.
__ADS_1