
Sudah sehari Alex tinggal dalam dungeon ini. Ia bersama dengan Rain memutuskan untuk menetap di sebuah tempat yang memiliki banyak bebuahan dan magic plant lain.
Sepanjang hari keduanya hanya makan magic plant yang ada. Rata-rata di tempat ini memiliki magic plant tingkat C hingga D.
Berkat itu, Alex dan Rain bisa mendapat pertumbuhan yang cukup eksponen.
Alex memilih untuk memakan bebuahan yang memiliki efek untuk meningkatkan kuantitas aura dan mana. Itu karena Alex sebenarnya telah memiliki aura dan mana dengan kualitas yang sangat tinggi.
Sementara Rain memakan lebih banyak varian bebuahan mencakup buah yang memberi efek peningkatan kuantitas dan kualitas dari mana dan aura, penambah stamina dan daya tumbuh, hingga tanaman yang dapat menghilangkan racun dan kotoran di tubuh.
Namun terdapat satu hal yang membuat kesenangan ini berkurang yakni kotoran goblin yang melekat pada tubuh mereka.
Kotoran goblin yang telah lama mengering dan ditambah sihir [Anosmia] yang telah habis masa penggunaannya membuat semua kegembiraan ini menjadi tidak ada artinya. Terutama bagi Alex yang memiliki penciuman yang sangat tinggi.
Untunglah ketika mereka berkeliling, mereka menemukan sebuah danau yang bersinar.
Alex menggunakan daun raksasa dari tanaman tertentu sebagai wadah untuk mengambil air. Mereka mengambil air lalu membawanya ke tempat mereka tinggal. Disana Alex telah membuat sebuah bak yang terbuat dari batu.
Tentu saja Alex merasa bangga. Ini pertama kali dia menggunakan kekuatannya untuk menciptakan peralatan rumahan.
Mereka menggunakan air itu untuk membersihkan diri. Namun apa yang membuat terkejut adalah ketika mereka membasuh wajah mereka menggunakan air tersebut, seluruh rasa lelah mereka menghilang. Tidak hanya itu, luka baru akibat penggunaan pedang yang berlebihan selama latihan di dungeon juga menghilang.
Dungeon ini betul-betul sebuah harta karun.
Namun sayangnya mereka tidak bisa berkeliling di dungeon ini dengan tampilan manusia yang normal.
Setidaknya setelah mereka membersihkan diri, jika mereka ingin keluar dari tempat mereka tinggal menuju tempat lain dari dungeon, mereka harus mengolesi lagi kotoran goblin dan menutupi diri mereka dengan rerumputan jika tidak ingin diserang oleh para demihuman dan magic beast.
Pada malam hari, ketika Alex pergi ke danau, dia tidak sengaja bertemu dengan dua makhluk raksasa. Pertama adalah seekor ular hitam dengan duri-duri di tubuhnya bernama Erau. Makhluk lainnya adalah seekor kura-kura yang dipenuhi bebatuan di cangkangnya yang bernama Falka.
Kedua makhluk itu cukup bersahabat.
Karena senang dengan kedua magic beast itu, Alex memanggil Rain untuk menjalankan sebuah tugas.
Rain harus membersihkan mulut ular sementara Alex membersihkan lumut di tumbuh kura-kura.
Mereka melakukannya semalaman.
Walaupun bagi Alex yang merupakan archdeus menganggap pekerjaan yang dilakukan sangat aneh, tetapi dia tahu bahwa kedua makhluk ini adalah makhluk paling kuat di dungeon ini. Sehingga demi kemakmurannya ke depan dia harus memberikan simbol persahabatan.
Apa yang diharapkan Alex tidak sia-sia. Keduanya mendapatkan hadiah dari kedua magic beast.
Erau memuntahkan sebuah bola ungu kebiruan seukuran bola sepak kepada Rain.
Benda itu dikenal sebagai Orb of Wisdom. Ini adalah cara bagi makhluk sihir tingkat tinggi ke atas untuk mewasiatkan kekuatan mereka.
Jika Rain dapat mengerti dan memahami yang terdapat pada orb itu, dia dapat menggunakan kekuatan yang tidak sedikit.
Kemudian Farka, dia mengambil sebuah batu seukuran setengah lengan. Lalu dengan kukunya yang runcing, dia mengukir sebuah rune dan memasukkan mana dalam batu itu. Kini batu itu bisa dianggap sebagai magic item yang berisi wisdom dari Farka. Dia kemudian memberikan tablet batu itu kepada Alex,
Tentu saja Alex dapat membaca apa saja isi dalam tablet batu itu.
Batu itu bersikan daftar sihir es dan tanah tingkat ke 4 dan 3. Misalnya saja terdapat sihir es; [Ice Spear] ,[Frost Shield, [Flower of Cold ] dan sihir tanah; [Horn of Earth], [Mud Field], dan [Wallbreaker].
Alex sebenarnya tidak membutuhkan semua mantra ini tetapi untuk tidak mengecewakan niat baik dari Farka, dia menerimanya dengan senyum.
Alex adalah archdeus jadi dia mengerti rasa superioritas dalam memberi.
Sebagai eksistensi yang terkuat para archdeus akan marah ketika berkat yang mereka berikan ditolak oleh para makhluknya. Ini seperti memberi tantangan bahwa 'Yah, apa yang kamu berikan itu bagus tapi aku tidak memerlukannya' atau 'Yah, gimana ya, kamu memberiku sampah jadi aku tolak.'
Jadi singkatnya Alex mengerti rasa superior dari kedua magic beast ini dalam memberikan sesuatu, Mereka tidak mau pemberian mereka ditolak.
Jadi kedepannya Alex berpikir untuk memberikan tablet batu ini kepada Rain atau Alven untuk dipelajari.
Pada saat ini entah mengapa Alex merasa gelisah.
Dia merasa terdapat sesuatu yang sangat ganjil.
Dia melihat Rain yang pergi menuju danau.
Jadi Alex bangkit dari tempatnya dan mengambil jalan yang sama.
Dia tahu apa ini, dia pernah mengalaminya sebelumnya. Bagi para makhluk hidup, perasaan yang saat ini dia alami dikenal sebagai insting.
Dan instingnya berkata bahwa akan ada masalah kedepannya.
__ADS_1
Apa yang mereka lihat di depan mereka adalah pemandangan yang sangat mengejutkan.
Ruangan yang sebelumnya diisi oleh stalaktit dan stalagmit mana kini berubah menjadi hamparan es. Tidak hanya itu, danau yang mampu menghasilkan cahaya kini menjadi telah berubah menjadi danau beku.
Di tengah ruangan itu, mereka melihat mayat seekor ular raksasa yang dilahap oleh api biru dan pecahan bebatuan dan tulang di mana-mana.
Di tengah kekacauan itu, enam orang dengan berbagai ukuran berdiri dengan penuh kepuasan.
"Sial! Ada lagi!"
Alex dapat mendengar dan melihat seorang wanita berambut merah pendek berteriak sambil menunjuk ke arah mereka.
"Bukan bukan! Kalian salah paham."
Sebelum Alex sempat membalas, Rain telah merespon terlebih dahulu.
"Hoh, manusia? Apa yang kalian lakukan di sini?"
Orang tertinggi dan kelihatan sebagai yang tertua maju mendekati Alex dan Rain. Kemudian yang lain mengikutinya dari belakang.
Rain melirik Alex untuk bertanya apa yang akan mereka lakukan.
Alex hanya memberi isyarat mata. Dia menyuruh Rain untuk melepas penyamarannya.
"Jadi hanya seorang remaja."
Barnard yang melihat orang itu melepas rumput di wajahnya bergumam. Dia kemudian melirik kepada orang yang lebih tinggi.
Benar saja, untuk orang yang lebih tinggi adalah seorang pria. Pria muda itu memiliki tinggi yang sama atau mungkin sedikit lebih tinggi darinya.
"Alex!"
Lilac tiba-tiba berteriak.
Semua orang kini memandangnya. Bahkan Alex memandangnya dengan penuh tanda tanya di wajahnya.
Lilac tidak memperdulikan pandangan teman-temannya yang diarahkan kepadanya.
Dia berjalan mendekati Alex sambil memberi sapaan anggun.
"???"
Melihat Alex tidak ada respon, Lilac mengerucutkan bibirnya dengan kecewa.
"Lilac, kamu kenal dia?"
Kini Barnard yang mewakili anggota Orion yang lain bertanya.
Lilac memandang Barnard sambil mengipasi rambut purple-nya dengan sengaja.
"Paman, kamu tidak ingat pria yang kutemui di butik di musim panas lalu?"
".... Tidak. Ini pria ke berapa yang kau incar?" Barnard bertanya dengan polos.
"Paman!"
Jika mereka keluar, dia akan menendang kaki paman dahulu.
"Oh aku ingat. Itu pria yang kita temui bukan?si pria tampan dari butik! Cilvy, kamu ingat juga kan?"
Arlenne kini berteriak kaget. Namun sayangnya Cilvy hanya menggelengkan kepalanya.
"Ingatanku agak samar. Mungkin aku pernah melihatnya," ucap Cilvy.
Alex hanya menonton perseteruan orang-orang itu. Dia berpikir cukup dalam untuk mengingat siapa wanita ini.
Archdeus sebenarnya tidak pernah lupa tetapi sayangnya kapasitas otaknya sebagai manusia saat ini kini memberi nerf yang luar biasa terhadap kemampuan mengingat milik Archdeus yang absolut.
Namun Alex memikirkan cara lain.
Dia melihat aliran mana wanita itu. Kemudian dia mengingat semua wanita yang ia temui dengan aura yang serupa.
Sangat sedikit wanita yang memiliki mana yang ia temui. Setidaknya dia hanya mengingat High Priestess Feodora, Ryana, Lacey, Francess dan ....
Oh wanita dari ibukota.
__ADS_1
"Lilac?" tanya Alex.
"Oh kamu mengingatnya!"
Lilac tersenyum sambil melompat-lompat sayangnya dia memakai armor jika tidak oppai-nya pasti sangat aktif.
"...."
Dia mulai lagi.
Teman-temannya khususnya Arlenne dan Cilvy mendesah melihat kelakuan mesum temannya.
Benar, mereka kini ingat.
Seorang pria bernama Alex pernah masuk ke dalam list mangsa Lilac. Namun dia tidak pernah lagi menemukan pria itu sampai mereka pergi dari ibukota.
Selama masa-masa itu, Lilac kehilangan jati dirinya sebagai seorang playgirl. Dia malah berubah jadi sad girl.
Setiap kali Lilac mengingat pria itu, dia akan termenung dan terkadang bergumam.
'Dia (Alex) memiliki seorang anak. Aku penasaran apakah istrinya jauh lebih cantik dariku.'
'Apa menurutmu pria itu menyukai kopi atau minuman manis?'
'Jika dilihat dari tingginya, dia pasti memiliki ukurang yang tidak kecil. Istrinya sangat beruntung.'
"Oke, oke baiklah. Kalian semua kenal dengannya tapi tetap saja aku ingin bertanya. Siapa kamu dan apa yang kalian berdua lakukan di sini?" tanya Barnard.
Barnard kini mengendalikan situasi. Dia memancarkan mana intimidasi kepada Alex dan Rain. Artinya jangan coba-coba berbohong.
Rain tertekan dengan aura itu sehingga dia mundur dengan gemetar.
Adapun Alex dia masih tetap berdiri diam tidak menjawab.
"Hoh kamu bisa menahannya. Mengapa tidak kupikirkan sebelumnya. Kalian memasuki dungeon hanya berdua. Jadi seharusnya kalian adalah seseorang yang memiliki kekuatan!" ucap Barnard.
Alex menolak untuk menjawab.
Pertama, dia tidak suka diintimidasi terutama dengan kekuatan dan kualitas mana yang menyedihkan ini. Kedua, dia tidak suka nada bicara Barnard.
Tapi aku tidak yakin apakah dapat mengalahkannya.
Alex dapat melihat aliran mana yang dimiliki Barnard. Itu terlihat sangat kuat untuk seukuran manusia. Selain itu, Alex dapat melihat kekuatan makhluk supranatural di pedang raksasa yang ada di punggung Barnard.
Jika mereka bertarung, sudah dipastikan dengan kekuatan Alex sekarang, Alex hanya akan menjadi bubur bagi Barnard.
"Hoh, jadi tidak mau menjawab?"
Barnard memberikan senyum sinis. Kemudian dia menarik Sword of the Panthera dari punggungnya.
"Paman!"
Lilac berteriak untuk menghentikan Barnard tetapi itu hanya dibalas dengan mata sinis pria tua itu.
Lilac langsung terdiam. Dia tahu, ketika mata pamannya seperti ini, itu artinya jangan ganggu.
Lilac memberikan pandangan penuh minta maaf kepada Alex. Seberapapun besar rasa kerinduan Lilac kepada Alex tetap saja dia masih lebih takut dengan kemurkaan pamannya.
"Hentikan! Apa yang kamu lakukan kakek tua!"
Vyn tiba-tiba keluar dari pedang Barnard sambil berteriak marah. Sword of the Panthera langsung kehilangan cahayanya.
"Apa, aku hanya menggertaknya," ucap Barnard.
"Pak tua sialan, hentikan! apa yang kamu lakukan! Apa kamu tidak merasakannya!?"
"Merasakan apa?"
Barnard bertanya dengan wajah bodoh.
Orang lain tidak dapat melihat maupun mendengar suaran Vye. Sehingga percakapan antara dia dan Vyn tidak dapat didengar oleh yang lain sehingga Barnard hanya akan terlihat berbicara dengan udara kosong.
Namun tentu saja, baik itu wujud dari Vyn maupun suaranya dapat dilihat dan dimengerti oleh Alex melalui dua skill-nya yaitu [Eyes of Esoteric] dan [Link of Specieses].
"Aku tidak percaya orang bodoh sepertimu bisa menjadi seirei! Dengar bodoh, sekarang gunakan mata ketigamu dan lihat jiwanya!"
__ADS_1