THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
KEEP CLEAN(1)


__ADS_3

Ini adalah malam sebelum kepulangan Alex ke rumah. Liana dengan anggunnya duduk di sofa merah dengan rangka emas. Ia meminum teh dengan jari kelingking yang  naik. Ia berada di kamarnya. Walau hanya dia yang terlihat tetapi bukan hanya dia yang ada di sana.


"Bagaimana?"


Liana berbicara dengan udara kosong. Namun sebuah siluet hitam perlahan muncul di depan mejanya dengan berlutut. Siluet itu berasal dari sosok seseorang berjubah hitam yang menutupi seluruh tubuh termasuk wajahnya.


"Dia akan datang besok siang. Kami masih menganalisis perkembangannya. Segera kami akan melaporkan kepada Anda hasilnya."


Orang berjubah hitam itu memberi laporan singkat.


Dia adalah seorang assassin  yang merupakan tipe yang sangat pandai dalam menyelinap, mencuri, ataupun membunuh dengan senyap. Ada beberapa tipe assassin seperti thief, saber, dan reaper.


Liana dengan acuh tak acuh memberikan perintah singkat.


"Tetap amati dia. Jika dia memiliki hal yang akan mengancam posisi suksesi warisan maka segera laporkan."


"Baik Nyonya!"


"Pergi!"


Sosok itu perlahan mulai memudar dan menghilang di udara. Liana memandangi udara kosong dan dia mendengur.


"Heh ... seorang sampah tetaplah sampah."


Liana menganggap bahkan jika Alex mendapat nilai bagus dalam pelatihan, dia tidak akan cukup mengancam posisi Jared. Bagaimanapun barak sangat berbeda dengan Akademi Militer.


"Ah ... benar, setahun lagi Jared akan masuk ke Akademi."


Liana tersenyum cerah. Seberapa beruntungnya dia punya anak seberbakat Jared yang bahkan mampu masuk ke Akademi Militer dengan undangan tanpa seleksi. Dia bisa membayangkan lima tahun kemudian setelah Jared lulus, maka potensinya dibandingan Alex ibarat langit dan bumi.


"Yah ... Alex, mari lihat bagaimana kau akan menanggungnya."


Liana menyeringai dan kembali meminum tehnya. Ia sedang dalam suasana hati yang baik tidak peduli dengan kedatangan sampah keluarga.


***


Alex akhirnya bisa menghirup aroma yang telah lama ia rindukan.


Rumah!


Ia akhirnya bisa mencapai mimpinya.


Tidur!


Dan ia pula bisa meraih keinginannya.


Cake!


"Justin!"


Justin dengan sabar berdiri di samping tuannya. Ia masih menyambut tuannya dengan senyum seramah mungkin.


"Justin! Kue!"


Seperti yang diduga.


"Tuan Muda menginginkan cake dan teh!"


Justin berteriak pada dua pelayan wanita yang jauh di belakang mereka. Keduanya memberi hormat dan pergi mengambil yang diperintahkan.


Kedua orang ini sedang berada di halaman taman rumah. Tempatnya luas dan indah, banyak bunga dari merah, kuning, putih, dan biru bermekaran. Setiap hari taman ini akan selalu dirawat dengan baik. Alex duduk di kursi dengan rangka besi hitam dan dengan meja berbahan kayu yang memiliki motif alami. Alex menggunakan pakaian santainya, sebuah jubah longgar  berwarna krim bermotif coklat  disertai dengan kain yang dilipat rapi. (bayangin jubah para filsuf yunani)


"Justin!"


"Yeah Tuan Muda?"


Apalagi!


Justin harus bersabar dengan semua ini. Selama tuan mudanya tidak ada, dia diperintahkan sebagai pelayan Jared. Selama itu, ia mengalami penghinaan yang belum pernah ia alami sebelumnya.


[Ada apa dengan makanan ini? Kau ingin membuatku muntah?!]

__ADS_1


[Bawakan pedangku!]


[Bantu aku latihan! Angkat perisaimu!]


[Sial! Besihkan bajuku! Ambil itu ... ambil ini]


[Panggil si ...]


Dia awalnya tidak menyadari seberapa beruntungnya dia sebelumnya. Untuk pertama kalinya ia bersyukur memiliki tuan yang pemalas dan lemah.  Itu sebabnya ketika ia akhirnya bertemu dengan tuannya setelah terpisah satu semester, ia hampir menangis bahagia. Untungnya seperti biasa, Justin tahu bagaimana mengendalikan wajahnya yang bermartabat.


"Selama aku pergi, apa kamu mandi setiap hari?"


Sial! Ini inspeksi!


Senyum Justin tiba-tiba runtuh.


Bagaimana mungkin ada manusia yang bisa mandi setiap hari! Aku bukan ikan!


Justin tidak mungkin meneriaki apa yang ada di benaknya. Walau ia dapat berbohong tetapi ia tidak ingin melakukannya. Bagaimana mungkin pelayan setia seperti dia berani memikirkan hal itu. Namun jika dia mengatakan kebenaran, dia akan mendapatkan sesi konseling dua sks.


"Justin?"


Alex agak tidak sabar dengan jawaban Justin. Dia sekarang telah cukup akrab dengan karakteristik anjing kecilnya ini. Jika dia tidak segera menjawab berarti dia mengalami dilema. Wajah Alex menegang.


Justin mengetahui perubahan suasana tuannya. Dia bergegas berlutut dan dengan panik berteriak.


"Maafkan aku Tuan! Maafkan hamba yang kotor ini! Hamba tidak bermaksud melanggar perintah Anda."


Alex menatap Justin dengan tajam. Suaranya berubah menjadi dingin dan dipenuhi intimidasi.


"Lalu kenapa kau tidak rajin mandi?"


"I-itu ...."


Aku malas, sumpah!


Tentu saja Justin tidak mengatakan itu. Sebenarnya selain ia malas, banyaknya tugas yang ia dapat dari Jared membuat dia sering lupa waktu.


Ini bukanlah kebohongan tetapi Justin mengatakannya dengan beberapa bumbu kesedihan mendalam.


"Hmm ... siapa yang menyuruhmu melakukan semua pekerjaan itu?"


Justin tiba-tiba tersedak. Jika dia mengatakan semua ini disebabkan oleh Jared, bukankah berarti dia seperti mengadu domba tuannya. Namun karena air telah tumpah, dia harus mengatakan semuanya.


"Selama Tuan Muda pergi, hamba ditugaskan kepada Tuan Muda Jared. Beliau sering berpergian dan aktif melakukan pelatihan."


Alex memandang dalam diam sebelum akhirnya dia memalingkan wajahnya dari Justin.


"Yeah benar, dia orang yang proaktif berbeda denganku yang seperti kerbau yang pasrah disembelih."


Justin merasa seolah dia baru saja memandingkan tuannya dengan orang lain.


Tidak ... bukan itu! Yeah kamu memang tidak bisa dibandingkan dengan orang seperti dia tetapi setidaknya kamu lebih manusiawi!


Justin masih berlutut dengan kaku. Pandangannya masih jatuh ke tanah, ia tidak berani melihat wajah tuannya saat ini.


"Sudahlah , lupakan. Aku kehilangan mood, segera berdiri! Aku harap kamu tidak lupa lagi untuk mandi. Jika tidak, aku yang akan memandikanmu.


"Baik Tuan! Terimakasih banyak atas keagunganmu."


Justin kembali berdiri tetapi ia lebih kaku dari sebelumnya. Sulit dipercaya dia berhasil lepas dari kemarahan tuannya ini. Mungkin ini karena para dewa membantunya lepas dari masalah ini.


Tidak lama, dua pelayan wanita tiba menyajikan beberapa potongan kue dan secangkir teh di meja. Alex memulai dengan memotong kue yang penuh krim dan satu stroberi di atasnya. Dengan menggunakan sendok, ia mulai memakannya, potongan demi potongan.


"Hmm ... seperti yang diduga, manis itu memang berkah tuhan yang turun di bumi," ucap Alex.


"Anda benar Tuan. Rasa manis dan keindahan adalah berkat Tuhan  yang jatuh ke bumi."


"Yeah, tapi kamu masih melupakan beberapa."


"Apa itu Tuan?"

__ADS_1


"Tidur dan boker juga kenikmatan yang diberikan tuhan kepadamu."


"...." Justin memberikan ekspresi rumit pada Alex.


 Apa-apan?!


"Ah ... ngomong-ngomong tentang boker, stock xylospongium-ku habis. Bisa kau membeli yang  baru? Kamu bisa membeli untukmu juga, aku yang akan membayarnya."


Seketika Justin kembali kaku dan wajahnya pucat. Nah, Alex tidak melewatkan perubahan wajah itu. Dia menyipitkan matanya dengan curiga.


"Jangan bilang kau juga-"


Sial! Ketahuan!


Sebelum Alex menyelesaikan kalimatnya, Justin sudah kembali berlutut dan berteriak putus asa.


"Maafkan aku, Tuan. Hamba tidak mematuhi perintah Anda untuk mengganti xylospongium setiap kali digunakan."


Prak!


Meja dibanting. Kali ini kesabaran Alex sudah mencapai batasnya. Ia berdiri dengan tiba-tiba sehingga kursinya jatuh. Dua pelayanan wanita yang berdiri di belakang ke duanya bergegas berlari dan menegakkan kursi kembali.


"Tuan Muda tolong tenang."


Kedua pelayanan wanita itu juga berlutut mengikuti Justin di depan mereka.


Justin menelan ludahnya dan matanya terpaku pada wajah Alex yang sangat marah. Ia belum pernah melihat kemarahan Alex seperti ini sebelumnya. Apakah hanya karena pembersih bokong dia akan kehilangan pekerjaannya? Jelas dia tidak akan membiarkan itu terjadi!


"T-tuanku, tolong maafkan hamba."


"DIAM!"


"!!!"


Suara dalam itu sangat mengerikan membuat tubuh Justin dan kedua pelayan wanita itu merinding. Justin berkeringan dingin, dia kini tidak dapat lagi menyembunyikan ketakutan di wajahnya. Matanya bergetar dan mulutnya berusaha ingin mengeluarkan suara memohon kemurahan hati tuannya. Namun suasana dan tekanan yang ia terima dari Alex membuat mulutnya kering dan tidak dapat membuat satupun suara.


"Apa kamu sebegitu joroknya?"


Alex tidak bisa tidak memberi tatapan jijik. Jika itu orang lain maka Alex tidak akan memaksanya. Namun seseorang yang telah berada di bawah sayapnya haruslah mematuhi perkataan dan pandangannya.


"Justin, aku kecewa."


Justin memejamkan matanya dengan kesedihan. Dia tidak pernah membayangkan pembersih bokong belaka mampu membuat kredibilitasnya hancur di mata tuannya.


Xylospongium sialan!


Justin mengutuk siapapun dia yang menciptakan pembersih bokong jahat ini.


"Katakan Justin, apa kau sebegitu beraninya tampil di hadapanku dengan najis yang melekat di tubuhmu? Apa kau sebegitu beraninya memberiku kue dengan tubuhmu yang kotor itu? Apa menurutmu aku serendah itu?"


Tubuh Justin seolah menyusut ketakutan ketika ia mendengar itu. Ia tidak  pernah memikirkan hal itu sebelumnya tetapi ia tidak berani mengatakan kalau dia adalah orang yang bersih (secara fisik).


"T-tidak Tuanku."


Walau suara Justin serak dan matanya berkaca-kaca, Alex sama sekali tidak menunjukkan pelonggaran emosinya. Kemarahannya tetap meluap.


Apa kau tidak pernah berpikir kenapa kau bisa tetap di sampingku? Apa kau tidak pernah berpikir kenapa aku selalu menjauhi para pelayan lain, saudara-saudaraku, ayah, dan bahkan ibuku? Apa kau tidak berpikir alasanku memerintahkan koki untuk selalu mencuci tangannya setiap kali membuatkan makanan untukku? Tentu saja karena mereka jorok! 


Bisa dibilang di rumah ini, tidak! Bahkan diseluruh dunia ini (Midgard), hanya Justin yang mampu berada sebegitu dekatnya dengan sang Mahakuasa. Alex tidak bisa memikirkan seberapa berani dan tidak tahu berterimakasihnya orang ini padanya.


"Justin, ikuti aku."


Alex pergi tanpa melihat Justin dan kedua pelayan wanita. Dia dengan pandangan angkuh berjalan menjauh dari mereka.


Justin berdiri dan mengikuti Justin dari belakang tetapi tidak seperti hari-hari biasa, dia menjaga jarak lebih jauh dari Alex. Firasat Justin terus berteriak bahwa ini adalah sesuatu yang buruk tetapi demi menenangkan tuannya, dia tetap mematuhi apa diperintahkan. Adapun Alex, dia sedang berpikir untuk memberikan disiplin kepada bawahnya yang nakal ini.


Apa yaa hukumannya? Saya mencium hmm ...  aroma yang gk sedap nih. Apa yaa??


 


 

__ADS_1


__ADS_2